
Kini Adam dan Nabila sudah berada tiba di rumah. Sebagian barang mereka sudah di antar kelantai atas dan sebagian lagi masih ada di lantai bawah.
Diruang keluarga kini mereka telah berkumpul sambil membeberkan oleh - oleh apa yang mereka bawa dari kota Seribu Sungai.
Di atas meja rupa - rupa kain sasirangan, rupa - rupa dodok / wajik, gelang khas martapura, amplang ikan tengiri dan masih banyak lagi.
Bunda Irene, Ayah Bima dan Nyonya Luciana hanya bisa membelalakkan matanya melihat oleh - oleh dan cemilan yang sengaja di tata di atas meja yang jika di perhitungkan cukup di bagi - bagi satu RTπππ.
"Adam Nabila kalian serius ini bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanya Bunda Irene dengan nada keheranan dan tak percaya.
Dengan tersenyum, "Bun, ini sebagian akan kita makan dan sebagiannya lagi mau Nabila beri teman Nabila namanya Widya Bundanya Rama, trus ada Riski dan lupa nama istrinya πππ selain itu Nabila juga mau memberikan oleh - oleh ini kepada Al dan Rey lupa nama dedenyaππ, karyawan Widjaya Group dan sebagian nya lagi mau kasih Ibu, Arumi dan kakak Akbar. Abee dan Najwa, Shofi dan Farzan πππ Dan masih banyak lagi yang jika di sebutkan satu persatu bakal jadi panjang jalan ceritanyaππ."
"Dari mana kamu kenal mereka?"
"Nabila kenal mereka dari dunia haluπππβπΌβπΌβπΌ Bun,"
"Dunia halu dunia yang bagaimana itu?" tanya Bunda Irene antusiasnya dan belum menyadari jika dunia halu itu hanyalah dunia imajinasi para author keren menumpahkan ide - ide cemerlang mereka dalam bentuk sebuah novel.
"Sudah - sudah jangan ribut lagi, mari kita cicipi satu - satu jajanan khas kota seribu sungai." Nenek Luciana menyela.
"Nabila kapan - kapan ajak Bunda ke dunia halu ya."
Tanpa merasa bersalah dan berdosa, "Ok Bunda nanti deh Nabila ajak Bunda ke dunia halu."
Ketika sedang asyik - asyiknya menikmati jajanan khas Kalimantan Selatan tiba - tiba Adam merasakan mual dan pingin muntah, dia pun segera berlari kebelakang, sepeninggal Adam pergi, mereka semua pun berdiri dan menyusul Adam kebelakang.
Dengan wajah panik, "Habibi kamu kenapa?"
Wajah panik tidak hanya di rasakan Nabila namun begitu pula dengan Bunda Irene, Ayah Bima dan tak kalah paniknya Nyonya Luciana, "Apa yang sakit sayang katakan pada Nenek?" ucap sang Nenek sambil memijat tengkuk sang cucu.
Adam hanya geleng - geleng kepala. Setelah merasa lebih mendingan, "Nenek, Bunda, Ayah, Adam kekamar dulu ya istirahat."ucap Adam kemudian melangkah pergi, kemudian disusul Nabila di belakang.
Semua yang ada di sana hanya saling berpandangan dan kemungkinan juga sedang bertanya - tanya ada apa dengan si Adam.
Di kamar Adam langsung membersihkan diri terlebih dahulu lalu kemudian menuju ketempat tidurnya yang sudah beberapa minggu tidak dia tempati bersama sang Istri.
__ADS_1
Kini Adam sudah beristirahat di atas pembaringan, sementara Nabila sendiri masih setia menemani sang suami sambil memberikan pijatan - pijatan lembut kesetiap tubuh sang suami.
"Habibi kita kerumah sakit ya? Habiba takut kamu kenapa - napa."
Namun hanya gelengan kepala yang di berikan Adam, "Tidak usah istrirahat sebentar juga pasti dah baikan lagi."
"Tapi...."
"Tidak ada tapi - tapian. Mending sekarang kamu temani aku tidur disini," ucap Adam seraya menepuk tempat tidur yang kosong di sebelahnya.
Nabila pun menurut, tapi belum juga dia merebahkan tubuhnya tiba - tiba pintu di ketuk dari luar,
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk."
Nampak dari pintu Nenek, Bunda, dan Ayah berjalan masuk beriringan sambil membawa teh hangat di tangan Bunda Irene.
"Bagaimana keadaanmu sayang," ucap Bunda Irene sambil meletakkan gelas di atas nakas di samping tempat tidur.
"Adam tidak apa - apa."
Dengan menatap tajam ke arah Nabila, "Bagaimana sih cara mu menjaga suami mu? Mengurus satu orang saja kamu tidak becus," dengan naga geramnya.
"Sudah ... sudah ... jangan bertengkar lagi." lerai Ayah Bima.
Nyonya Luciana pun mendengus kesal.
...ππππππ...
Kini yang di tunggu Mama Dinda pun akhirnya datang juga. Seorang wanita cantik, tinggi, putih dan seksi jalan berlenggang lenggok memasuki pekarang rumah yang entah tahun berapa dia terakhir menginjakkan kakinya di rumah keluarga pratama tapi itu tidak terlalu penting untuk diingat yang terpenting sekarang dia akan bertemu dengan cinta monyetnya yang sampai sekarang masih tetap bertahtah di hatinya.
Ting nong ... ting nong Bel berbunyi.
Dengan wajah sumringah, "Wah itu pasti dia yang datang."
__ADS_1
Mama Dinda pun berjalan keluar dari dapur menuju pintu utama. Dari jauh Mama Dinda dapat melihat wanita yang sudah sejak lama di tunggu - tunggunya.
"Sayang...." ucap manja mama Dinda seraya berjalan mendekat kearah wanita muda itu.
"Tante...."
Mereka pun berpelukan, kemudian cipika cipiki dan melepas rindu. Setelah pelukan mereka lepas, "Tante apa kabar? Makin cantik saja?"
"Ah kamu bisa aja. Cantik dari mana. Nih lihat kulit tante sudah pada keriput semuanya."
Mama Dinda pun menatap wanita muda itu dari kepala hingga kaki, "Wah sayang ternyata aslinya lebih sangat cantik dari pada foto yang di media sosial itu ya."
Dengan tersenyum, "Ah tante bisa aja. Oh ya tan, Tommy mana kok nggak kelihatan dari tadi."
"Oh Tommy masih kerja dan bentar lagi dia pulang. Ayo masuk sayang sampai lupa menyuruhmu untuk masuk."
Mereka pun berjalan masuk berdampingan sambil bergandengan tangan.
"Mami kamu mana kok tidak ikut bareng kamu kesini?" tanya Mama Dinda seraya mendudukan bokongnya di ikuti dengan Siska dan duduk di sofa yang sama.
"Mami hanya nitip salam buat tante katanya sampaikan kata maafnya karena tidak bisa gabung dengan tante, maalum lah tante baru pulang dari perjalanan jauh."
Dengan tersenyum, "Ya ya ya...."
Ketika mereka sedang asyik - asyik nya bercengkrama bunyi klakson mobil di halaman membuyarkan keasyikan mereka berdua.
"Mungkin itu Tommy yang datang," ucap Mama Dinda dan dianggukan kepala oleh wanita cantik itu.
"Tante, tante siska berdiri di samping pintu ya mau ngasih kejutan untuk Tommy." ucap Siska dan mendapat anggukan dari Mama Dinda.
Setelah mesin mobil mati dari dalam mobil pun keluar Arumi dan Tommy yang sesuai dengan janjinya akan menjemput Arumi dan akan mengajaknya makan siang bersama keluarga nya dan memang di luar sepengetahuannya kalau sang Mama juga mengundang teman masa kecilnya namun Tommy hanya menganggapnya teman dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun, karena Tommy hanya akan mencintai Arumi wanita yang sudah mampu menggembok alias mengunci pintu hatinyaππ lewat pertemuan tak di sengaja di restoran kala itu.
Walau dulu waktu mereka masih sama - sama kuliah luar Negri Tommy sempat menyukainya Tapi seiring berjalannya waktu dan mengetahui sifat dan kepribadian siska yang menurutnya doyan gonta ganti pasangan dia pun sebisa mungkin mengubur dalam - dalam rasa cinta itu untuk wanita itu dan lebih memilih tinggal di indonesia.
...ππππππππ...
__ADS_1
...TERIMA KASIH...
...ππππππππ...