
"Sabar toh sayang, bentar lagi juga dia pasti pulang," ucap sang Ibu menenangkan sang Anak.
Tidak lama kemudian dari luar pagar rumah masuk lah mobil yang sangat mewah, mobil jenis limosin berhasil menarik perhatian mereka, mereka pun bertanya - tanya siapa sebenarnya pemilik mobil ini.
Mobil itupun berhenti tepat di depan teras rumah, lalu keluarlah dari dalam mobil seorang laki - laki yang belum terlalu tua berpakaian jas lengkap dan berjalan membuka pintu mobil, "Silahkan Nona."
"Terima kasih," ucapku seraya keluar dari dalam mobil.
Ibu, Arumi dan Akbar yang menyaksikan itu ada rasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Nabila."
"Bapak mau singgah dulu?" tanya ku basabasi.
"Tidak usah Non lain kali saja. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Selepas dia pergi ku langkahkan kakiku keteras rumah. "Assalamualaikum," Niat hati ingin mencium punggung tangan ibuku, namun tanganku di tepisnya secara kasar. "Dari mana saja kamu? Seharian ini tidak ada kabar?" tanya Ibu dengan nada membentak.
__ADS_1
"Tapi ... tadi pagi kan Nabila sudah minta ijin Bu sebelum pergi."
Seraya melipat kedua tangannya di dada, "Jadi, berhubung sudah minta ijin. Jadi tidak usah pulang kerumah geto? Atau jangan - jangan kamu habis mojok di hotel lagi? Coba liat penampilanmu, seperti orang yang tak bermartabat." ucap Arumi dengan nada judes, jutek nya.
"Astagfirullah kak, kakak ngomong apa sih. Jangan menilai orang dari pakaian yang dia kenakan."
"Lalu seharian ini kamu dari mana saja?" tanya sang Ibu dengan mode kalemnya.
"Nabila dari rumah Tuan Adam Buk."
"Itu tadi mobil Nyonya Luciana Nenek Tuan Adam."
"Nabila permisi masuk dulu?" ucapku kemudian berlalu pergi dari hadapan mereka semuanya.
"Kalau neneknya memiliki mobil sebagus dan semahal itu, lalu bagaimana dengan cucunya? Pasti kehidupanku akan sangat nyaman jika menjadi istrinya? Seluruh kebutuhanku pasti akan tercukupi tanpa harus susah payah mendapatkannya dan aku bisa shoping setiap hari jika menjadi istrinya dan memiliki barang - barang limited idition" ucap Arumi lirih tidak sadar dengan kata - kata yang barusan dia ucapkan. Ibu dan kak Akbar pun menoleh ke arah Arumi. Arumi yang heran mendapat tatapan itu, dia pun bertanya, "Ada apa kalian menatap ku begitu?" seraya berjalan kekursi yang ada di teras dan mendudukan bokongnya di sana.
"Aku tidak perduli nantinya dia adalah suami saudaraku atau bukan tetapi aku harus bisa merebutnya dan mendapatkan apa yang dia punya," gumam Arumi dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Ibu dan Akbar yang memperhatikan itu sempat bertanya - tanya ada apa dengannya, tapi setelah mendengar kata - kata Arumi sebelumnya mereka yakin ada rencana yang sedang dia pikirkan.
Didalam rumah kini aku tengah sibuk dengan aktifitasku, tidak ada kata lelah dalam kamusku walau cukup muak dan bosan dengan semua ini. Tapi, aku bisa apa. Pembantu? Ya pembantu lebih cocok dan pantas untuk aku sandang dari pada anak.
Tidak perlu memikirkan jalan hidup yang mungkin berbeda dengan orang lain, yang harus aku ingat adalah setiap orang setiap orang memiliki jalan hidup yang tidak sama. Jadi, jangan pernah ada kata lelah untuk menjalaninya. Meski ku putuskan untuk tetap bertahan, namun kadang kala ada rasa lelah memaksa ku untuk pergi.
"Ya Allah, letakkan lah hati hamba pada hati yang tepat karena hamba telah merasa lelah bersama dengan orang yang tak pernah menganggapku ada."
...❤❤❤...
...Assalamualaikum. Selamat pagi teman - teman author maupun yang bukan author. Terima kasih karena sudah mendukung karya saya yang masih jauh dari kata sempurna. Terima kasih karena kalian sudah berkenan mampir memberikan like dan komentar dan maaf karena komentar - komentar kalian tidak saya balas. Untuk yang like mode kalem terima kasih ya. Untuk yang ingin promo monggo promo tapi like dulu ya punya saya, lalu tinggalkan jejak di kolom komentar nanti saya berkunjung balik ke karya keren anda semuanya....
...Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
__ADS_1