
"Aku mau kita sudahi semuanya."
"Dinda kamu jangan bercanda, ini berhubungan dengan hati dan jangan main - main."
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Memangnya kata maafmu bisa mengembalikan semuanya?"
"Katakan apa yang harus aku lakukan? Dan aku harap persahabatan kita tidak berakhir sampai disini."
"Persahabatan??? Persahabatan kita dengan berakhirnya hubungan Siska dan Tommy berakhir pula persahabatan kita. Dan satu lagi aku mau minta ganti rugi atas apa yang sudah kalian lakukan kepada Siska" ucap Mama Siska.
"Ganti rugi?" ulang Mama Dinda.
"Ya ganti rugi dengan menyerahkan ke Siska 90 dari harta kekayaanmu."
"Kamu mau meras aku?Jadi, selama ini Siska bertahan bersama Tommy karena harta kekayaannya?"
"Bisa di katakan begitu."
Mama Dinda pun menatap wajah Mama Siska, "Baiklah jika itu yang kamu mau." Mama Dinda pun mengeluarkan benda pipihnya dari dalam tas kemudian memiankan jarinya di atas sana.
Tut... Tut...Tut...
.
.
.
"Siang Nyonya?" sapa orang di seberang.
"Siang Pak. Saya mau minta tolong, tolong cabut semua saham - saham yang sudah kita tanam di perusahaan Gunawan group dan seluruh barang yang sudah kita kirimkan ke perusahaan Gunawan group tolong tarik kembali dan pastikan seluruh perusahaan menarik saham - sahamnya dan tidak ada perusahaan mana pun mau bekerja sama lagi dengannya."
Mendengar ucapan itu Mama Siska merasa terancam, "Apa yang kamu lakukan Dinda?"
Sambil tersenyum tipis, "Melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Aku permisi pulang." ucap Mama Dinda kemudian berdiri dan meninggalkan rumah itu, sementara Mama Siska sendiri kini diam mematung di tempatnya duduk dan hampir tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar dan sebentar lagi berkat perbuatannya dia akan jatuh miskin bahakan sudah di pastian bangkrut dan gulung tikar.
.
.
.
"Gawat Pak," ucap sang sektretaris datang setengah nafas tersengal - sengal efek berlari keruangan Pak bos.
"Apa yang terjadi?" tanya Pak Gunawana pada sekretaris nya itu.
"Gawat Pak perusahaan Kita terancam bangrut Pak dan terancam gulung tikar." ucap sekretarisnya.
"Bangkrut, gulung tikar apa maksudmu?"
"Perusahaan Pratama group dan yang lainnya menarik sahamnya dari perusahaan kita dan seluruh barang yang telah mereka kirimkan kekita harus kita kirim balik sekarang."
"Pasti ada yang tak beres. Oh iya blok semua kartu kredit Anak ku dan Istriku! Nanti kalau aku sudah bilang aktifkan, baru aktifkan kembali," ucap Pak Gunawan kemudian berlalu pergi dari hadapan sekretarisnya begitu saja dan berniat dalam hati untuk pulang kerumah.
.
__ADS_1
.
.
"Mah ... Mah."
"Apa sih Pah datang - datang langsung teriak - teriak? Bukannya mengucap salam." ucap sang istri yang datang dari dalam.
"Tak usah berpura - pura. Apa yang sudah kamu lakukan? Ini pasti perbuatan kamu kan?"
"Maksud Papa apaan?"
"Tidak usah pura - pura. Apa yang sudah kamu lakukan, ha.....?"
"Mama tidak melakukan apa - apa Pah." ucap Mama Siska sambil merapikan pakaian, sanggulan, perhiasan mulai dari telinga, leher, jari - jari tangan, dan gelang.
"Bohong." ucap Papa Gunawan dengan nada tinggi.
"Kamu tau efek dari perbuatanmu seluruh saham yang sudah tertanam di perusahaan kita telah di tarik semuanya dan sebentar lagi kita akan jatuh miskin hanya dalam hitungan menit."
Mama Siska pun menatap wajah sang suami, "Mama tidak mau jatuh miskin. Dan bukankah ini ide Papa untuk meminta ganti rugi 90% dari dari harta kekayaan Prtama? Bagaimana teman - teman arisan Mama jika mereka tau kalau Mama sekarang jatuh miskin? Papa harus memikirkan nasip Mama dan Siska."
Kata - kata sang istri tidak di gubris sang suami, "Papa harus menemui Dinda." ucap sang suami kemudian berlalu pergi meninggalkan sang istri. Begitu pula sang istri yang kini tengah siap untuk berkumpul geng sosialitanya.
...🍔🍔🍔🍔🍔🍔...
Di pusat perbelanjaan kini Siska dan teman - temannya sedang happy - happy berbelanja sambil makan. Sementara dia sendiri belum tau
"Tenang semuanya silahkan ambil sesuka hati kalian seperti biasa gue yang bayar."
"Wah kamu memang sahabat yang baik Sis tiap hari traktir kami semua." ucap salah satu teman - temannya.
"Tapi kan Sis itu milik nyokap dan bokapnya bukan milik calon laki lo."
"Tapi kan sama saja, milik bonyoknya sekaligus milik nya juga."
Kemudian mereka pun tertawa sama - sama. "Ha ... ha ... ha ..."
Setelah sama - sama tertawa kini mereka kembali sama - sama terdiam.
"Hmmmmm Sis bagi tips dan resep dong bagaimana caranya biar dapat calon laki tajir? Bosan nih dapat gebetan yang miskin mulu deh."
"Mau tau?" ucap salah satu sahabat mereka.
"Hmmmmm...."
"Nikah saja sama yang punya pesugihan. Di jamin harta lo kagak akan ada habis - habisnya dan kata 'Miskin' diam - diam akan minggat dari kehidupanmu."
Sambil meninju lembut lengan sahabatnya, "Sialan lo."
Mereka kembali tertawa bersama - sama, "Ha .. ha ... ha ...."
...🎂🎂🎂🎂🎂🎂...
Sudah seminggu lamanya Kirana menghilang. Jiwa Nabila selama seminggu ini tidak lah stabil. Kadang - kadang menangis, tertawa atau bahkan diam saja. Dan lebih mirisnya lagi dia pun harus kehilangan calon bayi mereka.
"Adrian berbuatlah sesuatu untuk menolong istrimu." ucap Mama Yulia yang sungguh tidak tega melihat sang menantunya kini ibarat tubuh tanpa raga.
__ADS_1
"Adrian harus melakukan apa Mah? Bukankah Mama sudah melihat selama seminggu ini Adrian juga sudah usaha namun hasil tetap sama."
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini pada Nabila?"
Sambil mengangkat bahu, "Entah lah Mah. Setahu Adrian Nabila tidak memiliki musuh."
"Apa perlu kita bawa Nabila kerumah sakit jiwa?"
"Sepertinya tidak perlu Mah, toh dia juga tidak melukai dan juga tidak berusaha menyakiti dirinya sendiri. Yang penting selalu di dampingi, di hibur in sya Allah pasti dia bisa kembali seperti dulu."
Sambil menepuk pelan pundak sang anak, "Baiklah Mama serahkan semuanya sama kamu."
"Terima kasih Mah."
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Tommy dan Varo kini berada di sebuah taman sambil menikmati es krim tanpa sepengetahuan Arumi.
"Pangeran Papa, kapan acara hari Ayah?"
Pandangan kedepan sambil menikmati es krim di tangannya, "Papa datang ya padahari itu."
Tommy pun mengacak - acak rambut Varo, "Pasti dong sayang papa akan datang."
Sambil tersenyum, "Makasih pah."
Sambil menganggukan kepala, "Sama - sama sayang."
"Di hari Ayah apa yang akan Varo persembahka?"
"Varo akan berpuisi untuk Papa."
"Puisinya dah ada belum."
Sambil menggeleng, "Belum ada pah."
"Ya sudah anak papa yang semangat ya membuat puisinya dan semoga nanti menang. Aamiin."
"Aamiin. Papa hadir ya!"
"Tentu sayang."
...🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄...
Hari - hari yang di lalui Kirana sungguh sangat sempurna dan anak - anak mana pun akan iri melihatnya. kerinduan dan ingin pulang kerumahnya pun kini sudah tidak pernah dia sebutkan lagi seperti saat hari - hari pertama dia menginjakan kakinya di rumah ini.
Kirana sekarang ada berada di meja makan bersama sang Oma dengan di kelilingi sepuluh Baby sister yang siap melayani Nona kecil mereka.
"Kirana sayang buruan di habiskan sarapannya! Ntar terlambat loh sekolah nya," ucap sang Oma di sela - sela aktifitas sarapannya. Ya Kirana sudah di sekolahkan disana di TK yang paling bergengsi dan TK papan atas yang hanya orang - orang tertentu yang dapat bersekolah di sana.
"Iya Oma."
Sarapan telah selesai. Masing - masing sudah memiliki tugas. Ada yang hanya sekedar membawakan tas untuk Nona Mudanya, menggandeng tangan untuk si Nona muda, atau bahkan hanya sekedar membawakan bekal untuk si Nona muda.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...