
...Hidup itu seperti roda. Kadang kita ada di atas, kadang kita ada di bawah. Hidup bagai sekotak coklat entah rasa apa yang akan kita dapatkan. Hidup juga seperti cuaca, Hari ini bisa hujan, besok bisa hujan. Tapi, kamu tidak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah wujud keseimbangan....
...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...
Di tempat yang lain Tommy sudah berada di rumah dan sekarang sedang bercengkrama sore bersama Mama dan Papa nya di taman belakang rumah.
"Bagaimana kabar perusahaan apa kah semuanya baik - baik saja?" tanya sang Papa mengawali pembicaraan.
"Alhamdulilah Pa sejauh ini perusahaan aman - aman saja."
"Tom, kapan kamu bawa calon menantu kerumah ini?" tanya sang Ibu to the poin. Tommy pun menatap wajah sang Ibu kemudian tersenyum, "Secepatnya akan Tommy bawa kerumah ini untuk memperkenalkan kepada Mama dan Papa."
Sang Papa dan Mama pun saling memandang satu sama lain hingga akhirnya menatap sang Anak, Tommy hanya bisa bergedik ngeri melihat tatapan kedua orang tuanya.
"Kenapa Mama dan Papa mantap Tommy dengan tatapan mata seperti itu?"
Tiba - tiba sang Papa tertawa terbahak - bahak, "Ha ... ha ... ha ... ternyata anak kita sudah dewasa ya Mah sekarang. Buktinya dia sudah menetapkan hatinya pada satu wanita yang dia sukai."
"Ngomong - ngomong kapan kamu bawa kerumah buat mengenalkan pada kami?" tanya sang Mama seraya menggoda putra satu - satunya itu.
"Secepatnya Mah akan Tommy bawa kerumah."
"Baiklah Papa tunggu."
__ADS_1
Kini hari sudah berganti dengan malam.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di kediam Dharmawangsa, semenjak Arumi bangun dari tidur sorenya dan sekarang mereka sudah nampak berkumpul di meja makan untuk makan malam, Arumi nampak ceria dan bahagia dan tak henti - hentinya bibir bersenandung riang. Sang Kakak dan Ibu sampai - sampai bingung dan heran melihat tingkah laku sang Adik.
Sang Kakak pun berdiri dan berjalan ke arah sang Adik yang kini tengah asyik menyiapkan makan malam dan meraba jidat sang adik dan membandingkan suhu tubuh mereka berdua.
"Tidak panas," ucap Sang Kakak.
Arumipun menepis dengan kasar tangan sang Kakak, "Kakak apa - apaan sih. Arumi sehat - sehat saja." kemudian Arumi pergi menuju meja makan sambil membawa piring di tangannya meninggalkan sang Kakak yang masih berdiri keheranan di sana.
Setelah meletakkan piring - piring nya di atas meja kemudian dia pun duduk diikuti sang kakak.
Arumi pun menatap wajah sang Ibu, "Ibu mau tau aja atau mau tau nya pake banget."
Mendengar ucapan sang Adik, Akbar pun menjitak kepalanya yang kebetulan duduk di kursi sebelahnya, "Auwwww ... sakit kak." ucap Arumi sambil memegang kepala yang habis kena jitakan sang Kakak.
"Makanya kalau ngomong yang benar," sambil meletakkan makanan kepiringnya kemudian mengunyahnya.
Arumi hanya cengar cengir mendengar ocehan sang Kakak. Ibu yang melihat ke akuran ke dua anak - anaknya hanya bisa tersenyum dan berdo,a dalam hati semoga mereka selamanya bisa seperti ini saling menjaga, melindungi satu sama lain. Mereka pun makan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
...Sementara di tempat yang lain....
Di meja makan, semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Setelah mengambil makanan masing - masing mereka pun makanan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara.
Beberapa saat kemudian. Kini mereka sudah menyelesaikan makan malamnya dan kini sudah berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara di televisi.
Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya kesunyian dan kebisingan suara televisi yang menjadi teman setia mereka. Nyonya Luciana pun membuka pembicaraan, sambil menatap Nabila yang kini duduk tepat di sofa yang ada di hadapannya. "Nabila ... bagaimana hasil pemeriksaannya tadi siang?" tanya Nyonya Luciana to the point.
Nabila pun menatap wajah Bunda Irene, Bunda Irene yang kebetulan terlebih dahulu menoleh ke arah Nabila hanya bisa menganggukan kepala tanda katakan saja yang sebenarnya.
Setelah mendapat kode itu, Nabila mun menatap wajah Nyonya Luciana lalu kemudian menggelengkan kepala, "Nabila minta maaf Nek Nabila belum bisa memberi Nenek keturunan seperti yang Nenek harapkan," ucap Nabila seraya menundukkan kepalanya.
Ada guratan kesedihan yang terpancar di wajah Nyonya Luciana begitu pula dengan Nabila dan semua anggota keluarga.
Nyonya Luciana pun menghembuskan nafasnya secara kasar kemudian menatap Nabila dan Adam bergantian.
"Baiklah, Nenek beri waktu kalian beberapa bulan jika dalam waktu beberapa bulan kalian belum bisa memberi nenek keturunan, kalian harus patuh dan taat setiap kata - kata yang nenek ucapkan atau kalian mau pilihan kedua silahkan tinggalkan seluruh fasilitas apa yang sudah nenek berikan untuk kalian terutama kamu Adam dan segera tinggalkan rumah ini tanpa membawa apa - apa dari sini." ucapan Nyonya Luciana sukses membuat siapa saja tak berkutik dengan ucapannya itu.
Ayah Adam yang mendengar itu sungguh sangat terkejut dengan ucapan sang Ibu.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...