ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 40.


__ADS_3

Aku pun pergi meninggalkan mereka dengan hati yang hancur dan terluka.


"Bik ... susul Nabila ke kamar nya!"


Bik Asih pun pergi meninggalkan mereka dan menyusul Nabila di kamarnya.


"Apa - apaan kamu Akbar? Kenapa kamu lebih membela Nabila dari pada Ibu?"


Akbar pun menyentuh pundak sang Ibu, "Bu ... sudah lah mau sampai kapan Ibu akan seperti ini? Coba deh Ibu fikir bagaimana kalau di posisi Nabila pada saat itu adalah Akbar atau Arumi, kira - kira apa yang akan Ibu lakukan?" ucap Akbar berusaha setenang mungkin agar emosi sang Ibu tidak semakin menjadi - jadi.


Dengan tersenyum sinis, "Ho ... ho ... sudah mulai berani rupanya kamu ceramahin Ibu ya? Apa kamu sudah bosan untuk tinggal di rumah ini? Atau kamu sudah bosan menikmati fasilitas apa yang sudah Ibu berikan untuk kamu?"


"Ibu maksud Akbar bukan seperti itu, tapi...."


"Sudah lah Ibu tidak membutuhkan ceramahmu," ucap sang Ibu seraya berlalu pergi dan masuk kedalam kamarnya kembali.


Akbar hanya bisa membuang nafas secara kasar.


...Di lantai 2...


Aku kini duduk di lantai di samping tempat tidurku sambil menekuk kedua lututku menangis, menangis, dan menangis hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini. Aku kecewa sungguh sangat kecewa, sakit hati? Jangan di tanya lagi karena sudah pasti sangat sakit.


Kenapa Ibu sangat tega memperlakukan aku seperti ini, panas dipipiku sungguh masih sangat terasa.


Kini Bik Asih sudah berada di lantai 2 dia pun segera masuk kedalam kamar anak majikannya itu. Bik Asih pun duduk di samping Nabila seraya mengusap - usap kepala gadis malang itu, "Sudah Non sudah jangan menangis lagi Bibik tau kalau Nabila saat ini pasti sangat sakit dan sedih. Non jangan pernah membenci Ibu ya."


Aku pun mengangkat wajahku dan menoleh kearah Bik Asih, masih terus menangis dan sesegukan, "Bik mau sampai kapan Ibu membenciku? Apakah Nabila mirip seperti pembunuh?"


Masih terus mengusap punggung anak majikannya itu, "Non ... Ibu sebenarnya tidak pernah Ibu membenci Non walau pada awalnya seperti itu, Ibu hanya belum bisa menerima kenyataan ini, Ibu perlu waktu untuk menerima kenyataan."

__ADS_1


Sambil terus mengeluarkan air mata dan sesegukan, "Lalu sampai kapan Nabila akan menunggu Ibu bisa menerima Nabila kembali seperti dulu."


"Entah lah Non bibik juga tidak tau."


Aku pun memeluk Bik Asih, "Makasih Bik, makasih atas nasehatnya.


"Sama - sama Non," sambil terus mengusap lembut kepalaku.


...Di tempat yang lain....


Adam kini sudah tiba di rumahnya. Setelah memarkir mobilnya dia pun segera masuk kedalam dengan hati yang sedang bertabur bunga - bunga.


"Eh ... kamu sudah pulang, dari mana saja seharian ini?" tergur sang Nenek yang kebetulan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


Adam pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke asal datang nya suara.


"Wah ... apa yang terjadi dengan cucuku? Kok tiba - tiba memperlakukan wanita tua nan renta ini semanis begini?"


"Isss ... Nenek curigaan aja deh."


Dengan tertawa kecil, sambil mengelus punggung tangan sang cucu, "Sayang ... wanita tua ini adalah nenekmu, dan wanita tua ini mengenalmu bukan baru hari ini tapi sudah bertahun - tahun wanita tua ini mengenalmu."


Adam pun berdiri, "Nenek Adam kekamar dulu ya gerah mau mandi nanti malam saja kita lanjutkan lagi perbincangannya setelah makan malam. Kebetulan Adam ada sedikit pengumuman untuk kita semua." ucap Adam seraya berlalu pergi dari hadapan sang Nenek.


**********


Setelah cukup tenang dan sudah tidak menangis akhirnya aku pun memutuskan untuk mandi.


"Bi Nabila mau mandi."

__ADS_1


"Silahkan Non barang kali aja setelah mandi fikiran Non jadi tenang, dan badan kembali fresh."


Kini aku sudah berada di dalam kamar mandi dan segera melakukan ritual mandiku.


"Segar," gumam ku dalam hati.


...Hidup harus mengalir seperti air, apapun rintangannya air akan tetap mengalir. Waktu ibaratkan seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya karena air yang telah mengalir akan terus mengalir pergi dan tidak akan pernah kembali....


Episode selanjutnya : Menikah.


Coba saya mau tanya di jawab ya : Panggilan sayang untuk Nabila dan Adam :



Pipi dan Mimi


Baby dan Honey.


Atau ada masukan. silahkan.



...❤❤❤...


...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, dan terima kasih untuk like mode kalem. Maaf komentar - komentar kalian tidak aku balas satu persatu. Untuk yang promo monggo promo tapi no spam promo, lalu like karya aku dan tinggalkan jejak di kolom komentar biar aku berkunjung balik ke karya keren anda semuanya. Terima kasih, semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan....


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


...❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2