
Layak nya drakor korea kesukaanku mungkin ini lah yang sekarang terjadi padaku. Menari dan bernyanyi. Orang - orang yang ada sekarang di ruang tamu hanya bisa melongo dan tepuk jidat melihat aksi yang aku tunjukan.
Beberapa saat kemudian...
Mereka pun bertepuk tangan, entah karena suaraku yang bagus atau mereka sedang bertepuk tangan akibat kebodohan apa yang sudah aku lakukan.
"Ok ... sebelum saya persilahkan duduk, kamu jangan duduk dulu."
"Baik nyonya."
"Kamu bisa masak?"
"Bisa Nyonya."
Nyonya Luciana pun berdiri, "Ayo ikut saya kebelakang!"
Semua mata hanya bisa melongo tak percaya menyaksikan kepergian kami berdua.
"Ayo kita ikuti mereka!" ajak Bunda Irene kepada suaminya dan Ghea.
Mereka pun berdiri dan menyusul aku dan Nyonya Lucia kebelakang.
Dibelakang.
Kini Nyonya Lucia sudah duduk di kursi meja makan sementara aku berdiri di sampingnya.
Sambil memainkan jari lentiknya di atas meja makan, "Kamu bisa masak apa?"
"Apa saja bisa walau tidak terlalu pintar?"
"Coba buatkan saya teh."
"Baik Nyonya."
Aku pun kemeja dapur dan mencari keberadaan gula dan teh tapi untungnya tidak sulit untuk menemukan mereka ( gula dan teh ).
"Ibu apa - apaan sih? Kita ini tidak sedang cari pembantu ibu," protes sang anak ketika sudah tiba di dapur dan duduk di kursi samping sang Ibunda tercinta.
__ADS_1
Sang Ibu pun menoleh, serta tersenyum ramah, seraya memegang bahu sang anak "Kamu tenang saja, dia akan baik - baik saja. Kamu cukup melihat apa yang akan aku lakukan padanya."
"Maksud Ibu?" bunda Irene ikut menimpali.
Namun tidak ada jawaban dari sang Ibu mertua.
...Sesaat kemudian...
Kini aku sudah kembali dengan nampan berisi satu buah teh di dalam nampan. Lalu meletakkan di atas meja tepat di hadapan Nyonya Lucia.
"Ini Nyonya teh nya silahkan di minum."
Dengan masih berwajah sangar kesan tak bersahabat, "Kamu bisa masak apa?"
"Apa saja bisa walau tidak pandai."
"Ok ... di kulkas sudah ada bahan makanan silahkan kamu memasak, saya ingin kamu memasak menu rumahan saja. Tidak perlu masak yang waow cukup empat sehat lima sempurna."
"Baik Nyonya."
Kini aku sudah sibuk dengan aktifitasku memasak menu sederhana.
...Di tempat yang lain....
...Di ruang tamu...
"Rum ... kamu masih lama tidak pulang kerjanya?" tanya sang Ibu dari seberang telepon.
"Memangnya Nabila kemana Bu?" ujar Arumi menjawab dari seberang telepon.
"Wanita yang tempo hari datang menjemput Nabila kerumah tadi pagi."
"O...." Arumi hanya beroh ria dari balik telepon.
"Sudah dulu ya Bu Arumi lagi sibuk."
"Baiklah."
__ADS_1
Sambungan telepon pun terputus.
*******
Di tempat yang lain kini, aku sudah menyelesaikan masakanku dan sudah menatanya di atas meja sedemikian rupa. Aku juga tidak tau apa maksud dari semua ini. Menu yang aku masak semua serba ala rumahan. Ada sayur bening, ikan goreng, ayam goreng, sambal peras jeruk nipis, tahu dan tempe goreng, terong rebus ditambah kacang panjang, kemangi, kol, dll.
Setelah semua tersaji di atas meja, aku pun segera menuju keluar dimana sekarang mereka telah berkumpul.
Setelah tiba di sana, "Maaf Nyonya makanan nya sudah tersaji di atas meja."
"Hmmmm ... baiklah ayo kita pergi mencicipi masakan kamu!" ujar Nyonya Lucia seraya berdiri dan diikuti Bunda Irene, Ayah Bima, dan Ghea.
Kini mereka sudah di meja makan. Setelah duduk, "Nabila ini semua masakan kamu?" tanya Nyonya Luciana heran serta tidak percaya kalau wanita yang sekarang berdiri di sampingnya ini mempunyai keterampilan masak yang menurutnya hebat. Kemudian Nyonya Luciana bertanya lagi, "Yakin makanan ini bisa di makan?"
"Maksud Nyonya?" tanya ku tak mengerti dengan maksud dari pertanyaannya.
Seraya melipat kedua tangannya di meja, lalu menoleh ke arah Ku, "Barang kali aja kamu sudah mencampurkan sesuatu ke dalam makanan ini. Kan secara pasti kamu kesal dengan saya, karena sejak tadi kamu seolah - olah saya kerjai kan? Ayo ngaku?" seraya menunjuk muka ku.
Dengan masih mencoba menahan amarah, "Nyonya mana mungkin saya berani melakukan hal itu terhadap anda dan orang yang semua hadir di sini," ucap ku menunduk dan hampir menangis.
"Bu ... Ibu ... sudah kita lagi berhadapan dengan makanan tidak boleh berdebat di meja makan," sang menantu mengingatkan.
Ayah yang hampir frustasi gara - gara kelakuan sang Ibunda pun ikut bicara, "Ibu sudah dong apa Ibu tidak malu sama Nak Ghea dari tadi hingga sekarang selalu saja meribut kayak kucing dan tikus. Seharus nya Ibu bisa berkenalan dengan Nabila lebih jauh lagi, bukan malah membuat Nabila seperti pembantu di rumah ini," ucap sang Anak menekankan pembantu seakan memberikan makna tersendiri bagi Nyonya Luciana.
Sang Ibu pun melototkan matanya menghadap sang Anak, "Kamu berani melawan ibu? Apa kamu tidak sayang dengan rumah dan yang lainnya. Jika besok atau lusa Ibu tarik semuanya? Apa kamu sudah siap hidup di jalanan jadi gelandangan? Ha ...." Bentak sang Ibu.
Aku yang sedari tadi hanya diam dan jadi penonton setia pada pertunjukan itu, "Sudah Tuan, Nyonya jangan berdebat lagi. Ayo makan keburu sebelum makanan yang sudah terhidangkan dingin."
Aku pun melayani Nyonya Luciana dan membantunya mengambilkan nasi serta lauk pauk kepiring nya. "Silahkan," ucap ku mempersilahkan.
Diikuti dengan Tuan Bima, Nyonya Irene dan Ghea.
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar dan terima kasih juga untuk like dari mode diam. Maaf kagak bisa membalas komentar kalian satu persatu. Untuk yang ingin promo monggo promo tapi sebelum itu monggo like punya ku dulu. baru silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar, nanti aku balik berkunjung kekarya keren anda - anda semuanya....
...Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung....
__ADS_1
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...