ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 152. CLBK 16. Komentar positif kalian semangat ku Up.


__ADS_3

Kini Tommy sudah tiba di halaman rumahnya. Sambil Pak supir taksi membantu Tommy untuk membawa barang - barangnya mengingat Varo saat ini ada di dalam gendongan Tommy.


Tommy pun berjalan masuk kedalam rumah. Mama Dinda yang menyaksikan sang Anak pulang, Mama Dinda pun menyambutnya.


"Assalamualaikum sayang. Baru pulang?"


"Waalaikumsalam Mama. Iya Mah Tommy baru aja pulang. Bagaimana kabar Papa dan Mama selama Tommy pergi?"


"Seperti yang kamu lihat." Mama Dinda pun menatap tangan sang putra yang kini menggendong seorang bocah yang tidur, "Siapa dia? Jangan bilang kalau kamu habis menculik anak."


"Maaf Mas ini di letakkan di mana ya?" tanya Pak supir yang sejak tadi berdiri di samping Tommy.


Sambil menoleh ke arah supir taksi itu."Letakkan saja di lantai."


...Pak supir itu pun meletakkan kelantai kemudian pamit undur diri....


Mama Dinda pun berjalan mendekat, "Sayang katakan sama Mama anak siapa ini? Atau jangan bilang kalau kamu sudah menikah diam - diam tanpa sepengetahuan Mama dan Papa."


Sambil tersenyum, "Mana mungkin Tommy akan melakukan itu."


"Lalu anak siapa ini?"


"Mama nyanya nanti aja ya. Tommy capek nih gendong Varo."


"Oh namanya Varo. Ya sudah buruan antar kekamar kamu, nanti Mama yang bawa ini barang."


Mereka pun berjalan bersama menuju lantai dua di mana kamar sang anak berada.


Kini Tommy sudah berada di kamar, dengan hati - hati meletakkan Varo di atas tempat tidurnya kemudian menutupi Tubuh mungil Varo dengan selimut hingga dadanya.


Sambil menepuk pelan bahu sang Anak, "Sayang kamu hutang penjelesan sama Mama? Katakan siapa dia?"


Sambil tetap pandangan matanya tertuju pada Varo yang masih tidur dengan pulasnya, kemudian menatap wajah sang Mama, "Mah ini Varo yang pernah Tommy ceritain ke Mama waktu itu."


Sambil menunjuk ke arah pembaringan, "Apa berarti anak kecil itu anaknya Arumi?"


Sambil mengangguk, "Hmmmmmmm...."


"Apa orang tuanya tau kalau anak mereka ada bersama kamu?"


Sambil menggeleng, "Arumi tidak tau Mah kalau Varo ada sama Tommy."


"Astaga Tommy kamu yang benar saja. Ini tuh sudah sore apa kamu tidak memikirkan hati Orang tuanya yang sudah pasti cemas bukan main mencari anaknya kesana kemari. Mama tidak mau tau kamu harus bertanggung jawab atas kekacauan yang kamu buat ini."


"Iya Mah pasti Tommy akan bertanggung jawab."


"Berarti Arumi sudah menikah ya semenjak kamu tinggal pergi di 4 tahun yang lalu?" ucap sang Mama.


Sambil menggeleng, "Tommy juga tidak tau apakah Arumi sudah menikah atau belum. Tapi melihat Varo sepertinya Tommy melihat diri Tommy ada di dalam sana."

__ADS_1


Setelah sama - sama terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing akhirnya Tommy memberanikan diri bertanya ke Sang Mama, "Mah, andai kata Tommy mau lemar dan menikah dengan Arumi, Apa Mama akan memberikan Tommy ijin dan restu."


"Nanti Mama fikirkan. Mama keluar dulu mau kedapur menyiapkan makan malam." ucap Mama Dinda kemudian berlalu pergi sementara Tommy selepas Mama Dinda pergi dia pun segera menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


...🍄🍄🍄🍄🍄...


Kini Akbar sudah kembali dengan raut wajah yang kurang baik - baik saja. Arumi yang melihat sang Kakak masuk kedalam rumah pun langsung menghadang dengan berbagak macam pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Mana Varo?"


Namun sang Kakak hanya diam dan tidak tau harus menjawab dengan apa. Arumi pun mengulang kembali pertanyaannya.


"Kakak mana Varo?"


Sambil menunduk lesu, lirih namun masih jelas di telinga Arumi, "Maafkan Kakak. Kakak tidak menemukan Varo."


Tulang berulang Arumi serasa lepas semua dari persendiannya tatkala mendengar jawaban sang kakak. Sambil tersungkur kelantai dan menangis sejadi - jadinya sambil memukuli lantai dengan tangannya, "Varo ... hiks ... hiks ... kamu di mana Nak."


Akbar pun berjongkok dan memeluk sang adik.


"Sabar dan berdoa semoga Varo tidak apa - apa."


...🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄...


Kini Tommy sudah selesai mandi. Dia pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Pada saat sudah berada di luar Tommy pun mendapati Varo sudah duduk di atas tempat tidur.


Tommy pun tersenyum dan berjalan kearahnya kemudian duduk di tempat tidur. Sambil menatap wajah sang pangeran kecil, "Apa kamu mau mandi?"


"Tunggu bentar ya, Om pakai baju dulu."


Sesaat kemudian kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar mandi. Tommy membantu Varo mandi. Varo sangat bahagia hari ini. Tapi sayangnya dia bahagia bersama orang lain. Andai kata Tuhan mau mengabulkan do,a Varo mungkin Varo akan berdo,a ingin memiliki Ayah seperti Tommy.


Varo sambil mandi sambil melamun menatap wajah Tommy yang kini membantunya memakai sabun mandi, dan shampo. Tommy yang tidak melihat ada pergerakan dari Varo pun menatap wajahnya dan menggerak - gerakkan tangannya di depan wajah Varo.


"Varo ... Varo ...."


Dengan refleks, "Iya Yah. Eh salah maaf."


"Coba Om mau dengar sekali lagi kata - kata di awal!"


"Hm ... anu ... itu ... maafkan Varo Om. Varo terlalu senang untuk hari ini, Om sudah membelikan Varo baju, mainan dan membawa Varo main kewahana bermain. Varo seneeeeeeng banget Om." sambil memeluk dan menitikan air mata.


"Jagoan Ayah kenapa menangis?"


"Hiks ... hiks ... hiks ... Varo rindu Ayah. Tiap Mama di tanya mana Ayah, Mama selalu bilang Ayah lagi sibuk dan bentar lagi pulang. Tapi hingga saat ini Ayah tidak pulang - pulang."


Sambil melerai pelukan dan mengahapus air mata Varo, "Anak laki - laki tidak boleh menangis, jika Varo mau, Varo boleh kok memanggil Om dengan sebutan Ayah."


Dengan wajah berbinar, "Sungguh?"

__ADS_1


Sambil mengangguk, "Sungguh."


Sambil melompat kegirangan, "Asyikkkk Varo punya Ayah. Makasih Ayah," ucap Varo sambil mengecup pipi kiri dan Kanan Tommy.


Tommy pun mengusap rambut dan mendaratkan kecupan di pipi kiri dan kanan Varo, "Sama - sama sayang."


...🍨🍨🍨🍨🍨...


Kini Varo sudah memakai pakaiannya dan sementara ini dia duduk di sofa bersama Tommy yang ada di dalam kamar itu.


Sambil membelai rambut Varo, "Sayang apa kamu punya no Hp yang bisa di hubungi kerumah mu, untuk mengabarkan ke orang tuamu kalau kamu bersama Ayah."


Sambil menepuk jidatnya, "Yah Varo lupa ngabarin Mama. Pasti Mama sementara ini sangat khawatir dan pasti sedang mencari Varo ke mana - mana."


"Tunggu bentar ya Yah Varo ambil tas dulu." varo pun berdiri dan berjalan kearah meja untuk mengambil tasnya.


Sesaat kemudian, Varo pun menyodorkan sebuah kartu nama yang selalu dia bawa kemana - mana. Tommy pun menerima nya dan segera meraih ponselnya yang ada di atas meja.


Tommy pun segera menekan nomor - nomor itu lalu menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Tut ... tut ... tut ...."


"Hallo," sapa orang di seberang.


"Siapkan tebusan 1 M, Jika anakmu ingin selamat jangan sekali - kali menghubungi polisi!"


Dengan tergagap, "S_siapa kamu dan k_kamu mau apa?"


"Aku mau kamu dan anak mu menjadi milikku."


"Kamu jangan gila. Di mana anak ku berada?"


"Mau tau aja atau mau tau benget?"


"Mau tau pake banget."


"Tanya sama author, Varo di umpetin di mana?"


"Authornya nggak akan jawab jika aku bertanya ke dia."


"Tenggelamkan."


"Ide cemerlang."


Author : Kalian berdua aku pecat jadi pemain istri pilihan silahkan ambil gajih kalian ke mimin.😂😂😂😂.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2