ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 121.


__ADS_3

Selepas Dokter Najwa dan Abee pulang, dibawah alam sadar kini Nabila duduk di salah satu taman yang sangat indah pohon rimbun di mana - mana, bunga bermekeran dan mengeluarkan bau yang sangat harum, serta di pertegas dengan kehadiran kupu - kupu yang kini datang lalu hinggap silih berganti.


"Bagaimana kamu bisa sampai disini?" tanya Pria dewasa yang tak lain cinta pertama dan laki - laki pertama yang Nabila kenal dalam hidupnya dialah yang biasa di sebut dengan Ayah.


Nabila pun menoleh kearah asal datangnya suara, "Ayah."


Sang Ayah pun berjalan mendekat, "Kenapa kamu bersedih sayang?"


Kini air matanya gugur satu persatu membasahi pipinya, dia pun berdiri dan menghambur kepelukan sang Ayah, "Ayah Nabila kangen." kini dengan laju air mata yang kian tak terbendung lagi.


Sang Ayah pun memeluknya, dan mencium pucuk kepala sang anak dan menenangkannya, "Sudah sayang, jangan menangis lagi kebahagiaan sedang menunggumu berbahagia lah dan jangan menoleh lagi kebelakang kamu berhak bahagia bersama orang - orang yang selalu mendukungmu dan selalu menyayangimu. Jaga baik - baik cucu Ayah, habis gelap pasti terbitlah terang, teruslah melangkah kedepan dan berbahagialah." ucap sang Ayah kemudian menghilang di balik kabut tebal yang membawanya bersama hembusan angin yang menerpa wajah sang Anak.


Perlahan - lahan mata Nabila bergerak kemudian terbuka. Samar - samar terlihat dan dapat di pastikan jika saat ini dia berada di ruangan, bukan seperti di dalam mimpi.


Mama Yulia yang melihat itu dia pun segera memanggil Adrian yang kebetulan sedang berada di luar, "Adrian, Adrian, dia sadar."


Adrian pun segera memeriksa tubuh Nabila ketika sudah berada di dalam dan sudah berdiri di samping tempat tidur Nabila.


"Semua normal."


"Syukurlah Nak, kamu sudah siuman." ucap Mama Yulia.


"Maaf Nyonya Nabila ada di mana?"


"Nak tidak usah panggil saya Nyonya, panggil saja saya dengan sebutan Mama sama seperti Adrian karena mulai hari ini Mama sudah anggap kamu sebagai anak Mama." ucap nya seraya memegang tangan Nabila.


"Terima kasih. Nyonya ... eh salah maaf, Mah bisa bantu Nabila bangun! Nabila mau duduk bosan tiduran terus." ucap Nabila seraya tersenyum.


Dengan cekatan dan penuh perhatian dan kasih sayang Mama Yulia pun membantu Nabila untuk bangun dan duduk.


"Terima kasih Mah," ucap Nabila malu - malu.


Kruyukkkk....


Kruyukkkk....


Kruyukkkk....


Mama Yulia dan Nabila sama - sama menatap perut Nabila yang kini sedang berbunyi dan meminta untuk segera diisi.


"Kamu lapar sayang?"

__ADS_1


Nabila hanya mengangguk, "Hummmm...."


"Katakan pada Mama kamu mau makan apa nanti Mama memasak untukmu?" ucap Mama Yulia pada Nabila dengan penuh kelembutan dan kasih sayang dan mata kini dengan berkaca - kaca.


Nabila yang melihat itu, "Kenapa Mama menangis?"


Mama Yulia pun segera membersihkan matanya dengan punggung tangannya, "Mama tidak menangis, air mata Mama air mata bahagia. Kini Mama punya putri cantik pengganti putri Mama yang sudah pergi meninggalkan Mama lebih dulu."


"Maksud Mama?"


"Ah ... sudah lah lupakan saja. Kamu mau makan apa biar Mama memasak untuk kamu?"


"Tidak usah repot - repot mah, Nabila bisa masak sendiri," ucap Nabila sungkan dan sungguh tidak ingin untuk merepotkan orang lain termasuk orang yang baru saja menolongnya.


"Tidak usah sungkan. Kamu istirahat saja, kamu butuh banyak istirahat biar bayi kamu tidak ikut lelah sama seperti Ibu yang sedang mengandungnya." ucap Mama Yulia seraya menggenggam tangan Nabila.


Nabila yang mendengar itu entah mau bahagia atau sedih mendengar berita itu.


Sambil memegang perutnya yang masih terlihat rata, "Apa Mah Nabila hamil?"


"Iya Kamu hamil dan sudah tri semester pertama."


"Bagaimana mungkin Nabila hamil Mah sementara Nabila sedang haid?"


"Dimana keluarga kamu?" tanya Mama Yulia.


Nabila hanya menunduk, "Jika sudah saatnya Nabila akan menceritakan semuanya ke Mama."


"Sudah, sudah... makannya kapan jika kita berada di sini terus mengobrol? Kasihan Nabila sudah kelaparan sejak tadi." ucap Adrian.


...Kini mereka sudah berada di dapur....


...****************...


Hari sudah beranjak sore Adam pun pulang kerumah, Kini Adam sudah di rumah dan langsung menuju kamarnya dan mencari keberadaan istrinya tapi tidak juga di temukan.


...Di lantai bawah....


"Bun, mana Nabila?"


Sambil menutup majalah yang kini sedang dibacanya dan meletakkan di atas meja, "Bukan nya Nabila sama kamu?"

__ADS_1


Dengan wajah frustasi, "Nabila tidak bersama Adam. Maksudnya Nabila pulang lebih dulu tadi siang."


"Ada apa ini ribut - ribut?" tanya Nyonya Luciana yang datang dari dalam.


"Nabila kemana Nek?" tanya Adam.


Sambil mendudukan tubuhnya di atas sofa, "Kan kamu suaminya. Kemana perginya Nabila sudah pasti kamu yang tahu."


"Coba hubungi ponselnya?"


Adam pun segera merogoh kantong celananya, sesaat kemudian Adam pun segera menghubungi nomor ponsel sang Istri namun sedang berada di luar jangkauan. Hingga berkali - kali Adam menghubunginya namun tetap saja ponsel sang istri berada di luar jangkauan.


Frustasi ya saat ini Adam sedang frustasi hingga malam kini sudah menyapa tapi Nabila juga belum menampakkan batang hidungnya. Kini mereka sudah gelisah, Bunda Irene hanya bisa menangis memikirkan nasip menantunya itu yang kini tak di ketahui di mana berada.


"Sudah dong Bun jangan nangis terus! Jika sampai besok pagi Nabila tidak juga pulang nanti Ayah lapor kepolisi." ucap sang suami menenangkan.


Dengan pedasnya, "Ngapain juga cari menantu yang tak berguna seperti Nabila, wanita mandul yang tak bisa memberi kita generasi penerus. Bukankah lebih baik menghilang biar Adam bisa menikah lagi dan memberi kita cucu."


"Bu," ucap Ayah dengan tegasnya.


"Memang benar kan yang Ibu bilang." ucap sang Ibu tidak mau mengalah sambil menatap sang anak dengan tatapan mematikan.


"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan ini tapi Adam harus mengatakan ini cepat atau lambat." kini Adam ikut bicara sambil menatap wajah, Bunda, Ayah dan Neneknya bergantian.


"Cepat katakan ada apa!" ucap sang Nenek.


Nampak Adam kini berfikir dan ragu untuk mengatakan, dia takut dan ragu untuk mengatakan kebenaran tentang Arumi yang kini sedang mengandung anaknya.


Sambil membuang nafas secara kasar, "Arumi hamil."


Semua orang yang ada di sana nampak terkejut dengan penuturan sang Anak. Tapi tidak dengan Nyonya Luciana, entah ini berita baik atau berita buruk dengan mendengar kata "Hamil" Nyonya Luciana justru tersenyum.


"Nenek akan melamar kan dia untuk menjadi istrimu." ucap sang Nenek dengan penuh bunga - bunga di wajahnya dan seolah - olah sudah melupakan perbuatan yang di perbuat Arumi pada Nabila.


"Bu, Ibu tidak boleh membuat keputusan sepihak? Bagaimana dengan Nabila? Apa ibu pernah memikirkan perasaan Nabila dan apakah Nabila akan setuju jika Adam menikahi saudaranya sendiri. jika Nabila tau tentang rencana Ibu apa ibu bisa membayangkan betapa sakit dan hancurnya dia, apa lagi dengan saudaranya sendiri harus berbagi suami, tempat tidur dan semuanya." bela Bunda Irene karena sejujurnya Bunda Irene tidak sependapat dengan ibu mertuanya itu jika posisi Nabila di ganti dengan Arumi si manusia badak bercula satuπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Kenapa kamu membela dia? Dia sudah memberikan apa untuk keluarga kita? Dan Ibu akan mencabut nama dia dari daftar warisan dan menggantinya dengan Arumi bahkan jika perlu Adam harus menceraikan nya Jika Nabila tidak mau dan rela untuk berbagi suami bersama dengan saudaranya dan bukankah dia harus bersyukur dan berterima kasih pada Arumi berkat dia kita mendapatkan penerus. Jika dia tidak rela juga tinggal angkat kaki dari rumah ini dan kata cerai adalah jalan takhir untuk hubungan mereka. gampangkan."


...πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘...


__ADS_2