ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 118. Up setengah hati versi 4


__ADS_3

...NO BULLY...


Kini Tommy sudah di dalam kamar dan sudah berada di atas pembaringan setelah sebelumnya membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya sebagi umat muslim.


Sambil merebahkan dirinya di atas pembaringan dan pikirannya menerawang jauh kejadian beberapa tahun silam. Ternyata sang Kakak sungguh sangat mencintai Arumi bahkan rela mati demi mengakhiri derita batin yang dideritanya dengan cara bunuh diri. Sementara dilain sisi kini dia dilema sekarang apa yang akan dia lakukan antara memilih kedua orang tuanya atau memilih Arumi yang saat ini tengah mengandung anaknya buah cinta mereka akibat kesalahan yang tak sengaja mereka perbuat.


...KILAS BALIK...


...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Satu bulan setelah kejadian itu, kini tubuh Arumi sedikit agak berisi dan porsi makannya sangat meningkat drastis, bahkan sang Kakak yang melihat perubahan pada sang Adik hanya bisa menatapnya heran dan bertanya - tanya ada apa dengannya? Sementara sang Ibu jangan di tanya, Bu Yana juga pernah muda dan pernah merasakan yang namanya mengandung dan tanpa harus membawanya kedokter dia sudah pasti bisa menebak kalau sang Anak pasti sedang mengandung apa lagi bukan hanya sekali dua kali Bu Yana mendapati sang Anak menatap penuh arti kalender yang ada di atas nakasnya dan mual dan muntah ketika pagi menjelang dan waktu - waktu tertentu yang tidak bisa di tebak.


Ditambah lagi beberapa hari yang lalu ketika Arumi sedang tidur siang tanpa sengaja Bu Yana masuk kedalam kamar sang anak dan membuka laci nakas Arumi dan di sana dirinya mendapati test pack dengan garis dua. Bu Yana pun segera memoto test pack itu lewat ponsel Arumi yang kebetulan tidak pakai pengaman lalu mengirimkan pada Tommy hasil test pack tersebut.


...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...


"Kenapa semua terjadi padaku? Aku harus apa sekarang dan harus bagaimana?" ujar Tommy dalam hati. Dia tahu persis bagaimana watak sang Mama, jika sudah berkata A selamanya akan jadi A, lain hal nya dengan sang Papa yang lebih mengerti dan mengalah sama anak - anaknya bukan berarti sang Ayah orang yang lemah dan selalu mengalah hanya saja ada kalanya dimana dirinya harus mengalah.


Ting ... ting ... ting ...


Ponsel Tommy berdering di atas nakas di samping tempat tidurnya. Dia pun segera meraihnya ternyata setelah di lihat di layar di sana tertulis wanita pujaan hatinya,


"Arumi ❤❤,"


Dia pun segera membuka pesan dari sang pujaan hati.


...ARUMI ❤❤...


..."Sayang lagi ngapain ??"...


Krik....


Krik....

__ADS_1


Krik....


Krik....


...ARUMI ❤❤...


..."Sayang kamu lagi ngapain sih kok pesan aku nggak di balas?"...


Krik...


Krik....


Krik....


"Kemana sih dia?" ucap Arumi dalam hati sambil membuang sembarang ponselnya hingga akhirnya Arumi pun tertidur.


...Skip...


Semenjak komunikasi terakhir yang tak di respon Tommy, kini Tommy sama sekali tidak pernah menghubungi Arumi bahkan hanya untuk sekedar membalas pesan singkat dari Arumi. Bahkan sejak kejadian disiang hari itu kini Tommy bak hilang di telan bumi bahkan kedua orang tuanya pun tak tau kemana pergi nya sang anak. Bahkan untuk meninggalkan pesan pun tak ada.


Bahkan kehamilan Arumi pun sudah di ketahui oleh keluarga Pratama namun Mama Dinda tetap tak menggubrisnya. Bahkan hasilnya nihil dan menemui hasil buntu.


Dengan nampak frustasi dan lingkaran hitam di area matanya, "Apa yang akan kita lakukan sekarang Bu? Arumi takut. Perut ini makin hari makin akan membesar Arumi tidak mau melahirkan tanpa seorang suami dan anak Arumi tanpa memiliki seorang Ayah. Bagimana ini Bu?" kini dengan derai air mata yang kian membuat miris bagi siapa saja yang melihatnya.


Sambil mengusap bahu sang Anak, "Tenang - tenang biarkan Ibu berfikir dengan jernih. Jangan menangis lagi." ucap sang Ibu menenangkan sang anak.


Setelah terdiam sama - sama hingga beberapa saat, "Aha ... ibu ada ide." dan suara spontan membuat Arumi terkejut dan memegangi dadanya, "Ibu bisa nggak jangan buat Arumi terkerjut. Kalau Arumi jantungan bagaimana?"


Sambil tersenyum geli, "Iya ... iya maaf Ibu nggak sengaja." ucap sang Ibu menyesalinya.


"Apa Ibu sudah dapat solusinya?" tanya Arumi penuh harap.


Bu Yana pun mulai menceritakan ide konyolnya itu. Arumi yang mendengarkan itu hanya bisa mangguk - mangguk tanda mengerti dengan apa yang diucapkan sang Ibu.

__ADS_1


...***************...


Di sisi lain kini Nabila lagi - lagi harus menerima kenyataan pahit dimana setelah berbulan - bulan tidak mendapatkan tamu bulanan tapi pagi ini nyatanya dia mendapatkannya juga.


Dengan menunduk wajah sedih dan kini dengan mata yang berkaca - kaca sambil sesekali menyeka air matanya yang jatuh dari pelupuk matanya, Adam pun berusaha menghiburnya, "Sabar habibah mungkin belum rejeki kita untuk memiliki momongan di tahun pertama pernikahan kita."


Nabila hanya mengangguk walau dia tau pasti ini akan sangat mengecewakan sang suami terkhusus untuk Nyonya Luciana, Bunda dan Ayah mertuanya. Dengan cepat berita ketidak hamilan Nabila di dalam rumah ini tersebar hingga ketelinga Nyonya Luciana, Bunda dan Ayah.


...Di ruang keluarga....


"Sekarang apa lagi alasan yang akan kamu katakan pada Nenek, tentang ketidak hamilnya Nabila?" tanya Nenek dengan tidak bersahabat dan dengan wajah yang kecewa karena harapan dan cucu menantu satu - satunya tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Widjaya.


Nabila hanya bisa menunduk sedih tapi untungnya sang suami selalu setia mendampinginya baik dalam suka maupun duka seperti saat ini.


"Maafkan Nabila Nek." ucap Nabila di antara isak tangisnya.


"Apa kamu bilang? Maaf. Apa dengan kata maaf kamu bisa memberikan Nenek keturunan? Apa dengan air matamu itu dapat merubah segalanya? Hah...." gertakan itu membuat Nabila dan semua yang ada di sana terkejut bahkan suaranya menggelegar hingga di penjuru ruangan.


"Mau sampai kapan Nenek akan menunggu kalian memberi Nenek cucu? Menunggu Nenek mati dulu? Menunggu Nenek tidak ada di dunia ini lagi? Katakan kalian ada di pilihan mana?"


"Bu sudahlah." ucap Sang anak menenangkan sang Ibu.


"Sudah katamu? Apa dengan kata sudah urusan terselesaikan? Dan Ibu dapat cucu?"


Semua orang terdiam, dan kali ini Bunda Irene dan Ayah Dias tidak bisa berkata apa - apa.


Dengan menghembuskan nafas secara kasar, "Baiklah Nenek kasih kamu pilihan tinggalkan Nabila dan menikahlah lagi atau keluar dari rumah ini dan ingat kalian hanya akan kembali dan nenek terima di rumah ini jika kalian sudah memberikan apa yang nenek mau dan ingat fasilitas nenek tarik semua tapi nenek akan berbaik hati dengan mu, kamu masih boleh bekerja di perusahaan tapi memulai dari nol dan mulai sekarang kamu bukan lagi Ceo di perusahaan Widjaya grup."


Note : teng palu di ketuk tanda vonis sudah jatuh kepada Adam dan Nabila😂😂😂


...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...


__ADS_2