ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 125. KOMENTAR POSITIF KALIAN ADALAH SEMANGAT KU


__ADS_3

Sebelum masuk ke up berikutnya. Ijin kan author berterima kasih nih untuk yang sudah memberikan like dan komentar untuk IP hingga masih bisa up sampai sekarang. Dan terima kasih juga untuk yang sudah memberikan dukungan berupa Vote, semoga kedepannya IP semakin memberikan cerita yang menarik dan bisa memuaskan kalian semua. Tanpa kalian IP bukan lah apa - apa. Sekali lagi makasih dan saling mendukung ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻.


...❤❤❤❤❤...


"Disana tidak ada apa - apa," ucap Nenek menenangkan.


Arumi pun melihat ketempat yang tadi dan disana memang sudah tidak ada apa - apa dan lampu pun dalam keadaan menyala.


"Mungkin kamu kecapean dan sudah waktunya untuk istirahat," ucap Bunda Irene menenangkan.


"Lalu bagaimana dengan Adam?" tanya Arumi yang masih duduk di lantai.


Dengan tersenyum, "Ada Bunda , Ayah dan Nenek yang menunggunya untuk pulang. Naiklah!"


Arumi pun berdiri kemudian berlalu pergi. Bunda Irene dan Ayah Bima hanya bisa tersenyum puas.


"Ini belum seberapa sayang." ucap Bunda Irene dalam hati.


Di kamar kembali lagi Arumi menjerit histeris tatkala melihat cermin nya bertuliskan "Aku akan datang menuntut balas."


"Aaaaaaaaaaaaaa, Bunda, Ayah, Nenek tolong...."


Mereka pun berlari kelantai 3 di mana kamar Adam berada. Setelah sampai di kamar mereka mendapati Arumi duduk di lantai dengan mata di tutup dengan telapak tangannya, Nenek Luciana pun mendekat dan memengang bahu Arumi, seketika Arumi terkejut, dengan tubuh bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran, "Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku, aku salah maafkan aku, maafkan aku." ucap Arumi di luar kesadarannya.


"He .. he sayang ini nenek bukan pembunuh."


Arumi pun perlahan - lahan membuka matanya dan langsung memeluk Nenek Luciana, dan menangis tersedu - sedu di pelukan sang Nenek, "Nenek Arumi takut, Arumi takut."


" Cup ... cup ... cup sayang di sini tidak ada apa - apa kamu aman sekarang."


"Nenek Nabila."


"Wanita mandul itu tidak ada disini yang ada hanya kita."


"Disana." ucap Arumi menunjuk ke arah cermin.


Mereka semua pun menoleh ke arah di mana Arumi menunjuk, tapi di sana tidak ada apa - apa.


"Sekarang kamu istirahat, kamu kelelahan nenek tidak ingin ada apa - apa pada cucu Nenek," ucap sang Nenek kemudian membantu Arumi berdiri dan menuntunnya kearah tempat tidur kemudian membantu untuk berbaring.


Ketika sang Nenek ingin pergi tapi tangannya di tahan oleh Arumi, "Nenek disini aja temani Arumi!" pinta Arumi.


"Hmmmmm...."


Bunda Irene dan Ayah Bima pun meninggalkan kamar itu dan kembali kekamarnya sendiri.


Di kamar


"Bunda belum puas, ini belum seberapa akan ada lagi kejutan dari aku tunggu saja."


"Bunda memang hebat, Ayah salut sama Bunda. Pelakor macam Arumi baiknya kita bumi hanguskan dari muka bumi. Karena dia yang sudah membuat menantu kita pergi dan tidak kembali lagi kesini." ucap Ayah Bima.

__ADS_1


Bunda Irene pun menatap tajam kearah sang suami, "Bukan hanya Arumi yang menyebabkan kepergian Nabila tapi Ibu kamu yang bermulut keterlaluan yang selalu mengatai Nabila mandul. Lagi pula belum tentu Nabila yang salah, siapa tau Adam yang tidak bisa membuat Nabila hamil dan memberika kita keturunan," ucapan Bunda Irene.


Sekejab kata - kata Bunda Irene ada benarnya menurut sang suami.


"Hmmmm bagaimana kalau Adam kita bawa pergi periksa kedokter?"


Bunda Irene pun berjalan mendekat ke arah sang Suami, "Bunda setuju Yah apa lagi akhir - akhir ini Adam juga sepertinya kurang sehat. Ayah perhatikan tidak sepertinya rambut Adam semakin hari semakin menipis. Lalu cara kita membawanya kesana bagaiman? Kan Ayah tau sendiri Adam alergi rumah sakit." ucap Bunda Irene gusar.


Sambil merangkul pundak sang Istri, "Nanti deh Ayah pikirkan bagaimana caranya."


Kini malam semakin larut dan mereka pun sudah berada di alam mimpi.


...*****************...


Di lain tempat Nabila kini tengah asyik menatap bintang - bintang di langit sambil menaikan tangannya ke atas seolah - olah ingin menggapainya, Adrian yang menyaksikan itu hanya bisa senyum - senyum melihatnya.


"Andai kata Winda masih ada di sini, aku tidak akan kesepian seperti sekarang." ucap nya dalam hati.


Adrian pun berjalan mendekat, "Hemmmm..."


Deheman Adrian membuat konsentrasi Nabila pada bintang - bintang di langit buyar seketika.


Kini Adrian berdiri tepat di samping Nabila dan ikut menatap keatas langit,


Habis minum kopi


lanjut makan sayur bayam


gak ketemu kamu sehari


...Nabila : Bila dingin sedang mengusik...


...sepuluh kata di terjang salju...


...jika angin bisa berbisik...


...kusuruh ia katakan 'I miss you."...


...Adrian : Sebelum menutup pintu...


...Tolong bangunkan adikmu...


...cita - cita ku cuma satu...


...hidup bahagia bersama kamu...


...Nabila : Sebatang bakau di tancap paku...


...Serdadu india didendangkan lagu...


...tidak kah engkau lihat mataku...

__ADS_1


...Seribu cinta sedang menunggu...


"Kamu pintar juga ya berpantun?" tanya Adrian.


"Hanya kebetulan tau."


"Mari kita duduk di kursi itu sejak tadi aku perhatika kamu berdiri di sini!"


"Hmmmmmm...."


Mereka pun berjalan menuju kursi yang ada di teras rumah.


Kini mereka sudah duduk di teras rumah, hanya saling diam dan membisu dan kadang - kadang bertemu pandang lalu kemudian membuang muka.


Author, "Apakah mereka sedang grogi?"🤔🤔🤔


Setelah cukup lama terdiam, "Hmmmm..." ucapnya bersamaan.


"Kamu duluan," ucapnya lagi bersamaan.


Kemudian tertawa bersama - sama.


"Hmmmmm.... Nabila aku boleh meminta sesuatu tidak sama kamu," ucap Adrian to the poin.


"Hmmmmm katakanlah."


"Baiklah aku akan mengatakannya tapi kamu jangan marah."


"Baiklah tapi katakan dulu apa keinginanmu?"


"Hmmmm boleh tidak aku mengelus perutmu?" ucap Adrian malu - malu.


Nabila pun tersenyum, "Eluslah!"


Adrian pun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan kedepan Nabila kemudian jongkok di sana dan dia pun mulai mengelus perut Nabila yang kian sudah nampak membesar, "Hallo sayang kamu laki - laki atau perempuan? Kamu sendiri atau berdua? Kamu keluarnya kapan?"


Seketika bayi - bayi itu menendang - mendang tanda dia merespon, Adrian pun mengangkat wajahnya dan menatap Nabila, "Dia bergerak."


Dengan tersenyum, "Iya mas Nabila merasakan itu."


"Semoga orang - orang yang sudah menyia - menyiakan mu, menduakan mu menyesal di kemudian hari," do,a Adrian dalam hati.


Sambil tetap mengelus perut Nabila, "Wah anak - anak manis yang pintar ya dalam perut Bunda, jangan buat Bunda kerepotan, jadilah anak - anak yang manis yang kelak akan membuat Bunda kalian senang dan bahagia."


Dengan masih jongkok di depan Nabila, "Aku sudah tidak sabar menanti hari esok. Aku ingin segera melihat mereka apa mereka perempuan atau laki - laki, mereka berjumlah satu atau dua. Tapi jika mereka laki - laki akan aku jadikan dia dokter sama seperti aku tapi jika dia perempuan aku akan mendukungnya biar seperti Bundanya, seorang seniman yang terkenal dan karyanya sudah diakui dimana - mana." ucap Adrian.


Ada rasa sesak yang diam - diam menjalar kerelung hatinya yang paling dalam. Dimana dia seharusnya berbahagia bersama sang Istri tercinta justru tragedi itu yang membuat mereka harus berpisah untuk selamanya di mana benih - benih cinta baru saja tumbuh di rahim sang istri namum malang tak dapat di tolak mungkin ini lah jalan yang memang harus mereka tempuh.


"Andai kata wanita yang ada di hadapanku saat ini adalah istriku mungkin akulah pria yang paling bahagia di muka bumi ini. sudah cantik, baik hati, dan orang yang sudah melukainya semoga menyesal di kemudian hari."


...❤❤❤❤❤❤...

__ADS_1


...Bantu Vote ya. Terima kasih...


...❤❤❤❤❤❤...


__ADS_2