
Note : Terima kasih untuk yang sudah menyumbang Vote untuk IP. Maaf tidak bisa membalasnya...🙏🏻🙏🏻🙏🏻 Terima kasih untuk yang masih setia mendukung IP hingga hari ini IP masih bisa Up itu karena komentar positif dari kalian semua yang tak dapat author sebutkan satu persatu. Maaf untuk komentar - komentarnya kagak author balas tapi yakin dan percayalah author tetap baca komentar keren kalian. Intinya tanpa Anda semuanya author receh ini bukanlah apa - apa.
...*************...
Setelah melepas pelukan, "Bunda, Nabila pergi dulu mau kedokter kandungan untuk memeriksa kandungan Nabila."
"Baiklah sayang hati - hati di jalan tetap jaga kesehatan, biar nanti saat lahiran tubuh kamu tetap sehat dan kuat, dan dede bayinya juga sehat. Jangan lupa mimum susu dan vitamin yang sudah di anjurkan oleh dokter," ucap Bunda Irene sambil mengelus perut Nabila.
Kemudian Bunda Irene menatap pria yang kini berdiri di samping Nabila kemudian memegang tangannya, lalu berucap, "Pria tampan berhati mulia tolong jaga putri saya dan cucu saya, anggap mereka keluargamu sendiri, lindungi dan sayangi dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri," ucap Bunda Irene seraya tersenyum yang seolah - olah di paksakan, air matanya pun kini ikut menentes di kedua mata indahnya.
Sambil menepuk - nepuk tangan Bunda Irene, "Itu sudah pasti Nyonya anda tidak perlu khawatir untuk itu in sya allah mereka berdua aman bersama saya, karena dia sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri dan siap mati demi menjaga keamanan mereka."
"Bolehkah saya memelukmu?" tanya Bunda Irene.
"Tentu Nyonya."
Mereka pun berpelukan kemudian beralih memeluk Nabila.
"Bunda yang sehat dan semoga panjang umur biar lain kali jika kita bertemu Bunda dapat melihat cucu Bunda."
Sambil memegang pipi sang putri, "Iya sayang Bunda akan berdo,a kepada Tuhan agar Bunda di beri umur hingga 1000 tahun lagi hanya untuk melihat cucu Bunda hingga Bunda memiliki generasi ke tujuh."
"Aamiin Bunda. Nabila pamit dulu, Assalamualaikum," seraya mencium punggung tangan Bunda Irene, Ayah Bima, dan semua orang yang ada di sana.
Mereka hanya bisa menatap dalam diam kepergian Nabila dan Adrian hingga tubuh mereka menghilang di balik lorong yang terakhir. Kini mereka duduk kembali ketempat semula.
Didalam ruangan, kini Adam duduk di samping pembaringan sang Istri dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan. Dia duduk termenung seolah - olah raga tanpa nyawa. Kejadian beberapa menit lalu kini kembali menghiasai rongga di kepalanya.
"Apakah anak yang di kandungnya anakku atau bukan? Siapa laki - laki yang bersamanya? Apakah dia selingkuhannya dan Ayah dari bayi yang di kandungnya?"
Tiba - tiba kembali kepalanya pusing dan merasakan mual dan muntah, dia pun segera bangun dari duduknya dan berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"Hoek ... hoek ... hoek ...." isi perut tadi pagi semuanya keluar.
"Ada apa denganku?" ucapnya dalam hati.
Kini dia sudah kembali dan duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamar itu sambil merebah kan dirinya di sana. Kejadian beberapa menit yang lalu kembali menghiasi hati dan kepalanya.
Dengan menghembuskan nafas secara kasar, "Untuk apa aku mengingat wanita murahan itu, toh dia juga bukan istri ku lagi."
Kini Nabila dan Adrian sudah tiba di ruangan dokter Najwa, "Kalian apa kabar?" tanya dokter Najwa dengan menyunggingkan senyum.
"Alhamdulillah dok kami berdua baik." ucap Adrian sambil tersenyum pula.
"Mau ngobrol dulu sambil bernostalgia atau kita langsung pada inti pembahasan?" ucap dokter Najwa seraya menatap Nabila dan Adrian bergantian.
Adrian dan Nabila pun hanya bisa saling tatap menatap, kemudian tersenyum kikuk, "Bagus nya saja gimana dok." ucap Nabila.
"Baiklah. Mari kita tho the poin aja karena sepertinya Nyonya Adrian sedang kelelahan efek perjalanan jauh. Dokter Najwa pun memulai dengan pengecekan tekan darah, tinggi badan, berat badan dan terakhir pencatatan kisaran persalinan baru yang terakhir kita akan melakukan USG untuk melihat apa kah bayi kamu tunggal atau kembar, laki - laki atau perempuan."
__ADS_1
Kini Dokter muda itu pun memulai melaksanakan kewajibannya sebagai dokter, dan tahapan pemeriksaan pun sudah rangkum semua. Tinggal pemeriksaan akhir yaitu USG.
"Mari." ucap dokter Najwa dan mengajak Nabila untuk berdiri lalu kemudian menuntunnya ke ranjang pemeriksaan untuk berbaring.
Adrian hanya bisa diam memaku menyaksikan itu ada sebuah gejolak yang menggelora yang timbul di dalam hati nya dan tak lupa kegugupan kini turut menghampirinya juga.
Kini Nabila sudah berbaring, dan dokter Najwa pun siap melakukan tugasnya. Dia pun menoleh kebelakang, "Adrian kamu ngapain duduk di sana? Kamu tidak mau melihat anakmu dan tidak mau melihat jenis kelaminnya?"
Deg....
Deg....
Deg....
Kembali jantung Adrian berdetak dengan kencangnya serasa ingin melompat keluar dari tempatnya. Namun lagi - lagi dia hanya bisa diam mematung tak menanggapi kata - kata dokter Najwa.
"Adrian," panggil Dokter Najwa dengan nada tinggi.
Adrian pun tergagap, "Ya ada apa?"
"Sini."
Adrian pun berjalan dengan sangat lambat dan tak lupa kegugupan kini turut meliputinya lantaran ini adalah pengalaman pertama baginya bersama wanita yang bukan istrinya.
"Lambat benar sih jalannya," ucap dokter Najwa protes.
"Dari dulu hingga sekarang ternyata bawel mu tidak berubah ya." ucap Adrian kini bernada sewot.
"Nah Adrian, Nabila ini adalah calon anak - anak kalian. Anak kalian kembar dan tampak bagian bawah ini adalah jenis kelamin mereka berdua. Dan jenis kelamin mereka berdua adalah laki - laki dan perempuan."
Adrian terharu entah apa yang membuatnya terharu hingga membuat matanya nampak berkaca - kaca, begitu pula dengan Nabila dengan mata yang kini sudah nampak menangis tanpa mereka sadari tangan mereka kini saling bertautan hingga beberapa menit lantaran mereka terbawa dalam suasan haru ketika sadar mereka pun buru - buru menarik tangannya.
Beberapa saat kemudian kini mereka sudah kembali duduk di tempat semula.
Sambil tersenyum, "Wah Adrian aku tidak menyangka ternyata kamu bisa mencetak keturunan kembar."
Adrian hanya menyunggingkan senyum sebagai jawabannya dia tak tau harus berkata apa.
"Terima kasih dok," ucap Nabila yang tiba - tiba mengucapkan terima kasih.
"Lain kali ajarkan aku ya resep membuat bayi kembar," lagi - lagi dokter Najwa menggoda Adrian dan mengira wanita yang sekarang duduk di sampingnya sekarang adalah istrinya.
"Oh ya sebelum kita berpisah, aku mau nanya nih sama kamu. Kamu kapan pindah kesini atau kamu tidak jadi pindah lantaran istri kamu sedang hamil? Aku tau momen yang sangat menggembirakan dan walaupun besok atau lusa masih bisa hamil tapi momen hamil seorang ibu, anak pertama dan kedua itu kesan nya berbeda - beda dan bagi calon Ayah pasti tidak mau melewatkan momen kebersamaan si ibu dan si calon anak. Apa benar begitu?"
Sambil tersenyum, "Bu dokter santai saja, aku bukan orang yang begitu. Dan aku pasti datang dan bergabung dengan rumah sakit yang wooooow ini. Aku masih bisa kan pulang kerumah sekali - kali, biar momen dengannya tak terlewatkan." ucap Adrian sambil menaik turunkan alisnya.
"Pak dokter bisa aja."
Setelah mendapatkan resep dan bercakap sebentar urusan pekerjaan mereka pun pamit keluar lalu menuju apotik untuk menebus vitamin - vitamin kehamilan.
__ADS_1
Diruang rawat
Arumi sudah bangun dari tidurnya dengan lirih dan manjanya, "Yang bangunkan!"
Dengan sigap Adam pun melayaninya.
"Yang haus!"
Dengan sigap Adam pun mengambilkan air minum yang ada di atas nakas di samping tempat tidur sang Istri.
Pada saat mereka tengah asyik bercengkrama sambil bersendagurau Nyonya Luciana pun datang dari arah pintu luar dan langsung menghampiri dimana pasangan suami istri itu sedang bersenda gurau.
Plak...
Plak...
Tamparan kanan dan kiri telah Nyonya Luciana hadiahkan kepada cucu menantu kesayangannya. Arumi hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan di sana nampak stempel jari - jari bekas tangan Nyonya Luciana.
"Nenek." bentak Adam.
"Nenek kenapa Arumi di tampar?" tanya Arumi yang masih merasakan kepanasan pada pipinya dan masih memeganginya.
Dengan kemarahan yang kini sudah mencapai puncaknya, "Kamu mau tau alasannya kenapa aku tampar kamu?"
"Iya Nek Arumi mau tau apa alasannya."
"Kamu bodoh atau idiot atau apa?" ucap Nenek Luciana seraya mendorong kepala Arumi dengan jari telunjuknya.
"Nenek cukup!" Bentakan dari sang Cucu tidak menyurutkan kemarahan yang kini sedang membara dan berkobar di dalam hati Sang Nenek.
Sambil menunjuk wajah sang cucu dengan jarinya, "Kamu berani membentak Nenek? Yang seharusnya diam adalah kamu. Jadi diam lah sebelum gigimu Nenek lepas semuanya," ancam Nyonya Luciana.
"Dan kamu," ucap Nenek Luciana sambil menatap tajam ke arah Arumi, "Apa maksud kamu minum obat halusinasi? Kamu mau membunuh cucu - cucu ku haaaa ... ? Apa kamu sudah bosan jadi menantuku? Baru juga satu bulan kamu jadi menantuku sudah berulah, katakan kalau kamu tidak mau dan sudah bosan? Masih banyak wanita yang jauh lebih cantik, baik berada di luar sana yang mau menikah dengan Adam."
Arumi yang mendengar itu hanya bisa membukatkan matanya karena rasa - rasanya dia tidak pernah melakukan bahkan tidak pernah minum obat sejauh ini.
Dengan berdalih, "Nenek apa yang nenek tuduhkan pada Arumi sama sekali Arumi tidak pernah melakukannya."
Dengan sorotan mata tajam, "Tidak usah bersilat lidah. Tinggalkan katakan Ya atau Tidak."
"Tidak."
"Kalau bukan kamu, lantas siapa? Kamu masih waraskan? Tidak mungkin obat itu bisa masuk sendiri ke tubuhmu tanpa ada perantaranya."
"Bu ada apa ini ribut - tibut?" kini Ayah Bima ikut menimpali yang kini sudah berdiri tak jauh dari mereka di susul Bunda Irene di belakangnya.
...❤❤❤❤❤❤❤...
...TERIMA KASIH, JANGAN LUPA BANTU VOTE YA BIAR AUTHOR SEMAKIN BERTAMBAH BERSEMANGAT.🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤❤❤...