
Kini mereka sudah berada di meja makan. Nabila melayani sang suami dengan sangat baik dan telaten. Beberapa pasang mata hanya bisa menatap kagum dengan aksi sang menantu. Mereka pun makan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara.
************
"Bu kenapa sih tidak cari pembantu saja? Arumi capek setiap hari harus mengerjakan pekerjaan rumah. Atau paling tidak ajak Nabila untuk kembali tinggal di rumah ini bersama suaminya, kan lumayan tuh Arumi tidak harus mengerjakan ini dan itu sendirian mana Arumi harus kerja lagi," ucap Arumi protes sambil menata makanan di atas meja makan.
Sang Ibu nampak memikirkan permintaan sang Anak, "Lalu, cara nya bagaimana agar si Nabila mau kembali kerumah ini lagi?" tanya sang Ibu seraya menatap wajah sang anak.
Mereka tampak terdiam dengan pemikiran masing - masing, hingga terlintas ide di kepala Arumi.
"Bu," teriak Arumi spontan dan membuat sang Ibu terkejut dan menoleh ke arah sang Anak.
"Rumi kamu kebiasaan deh ngagetin Ibu. Kalau Ibu jantungan bagaimana?"
"Iya ... iya ... maaf."
"Apa rencanamu?"
Arumi pun menceritakan ide apa yang ada di benaknya kepada sang Ibu dengan sedetail mungkin, sang Ibu hanya bisa mangguk - mangguk mendengar penuturan sang anak dan menyimak setiap kata - kata yang dilontarkan dari mulut sang Anak.
"Bagaimana dengan ide Arumi?"
Sang Ibu pun mangguk - mangguk, "Tidak terlalu buruk idemu."
__ADS_1
Mereka pun memancarkan senyum bahagia di wajahnya.
"Bu ayo kita makan! Nanti nasi dan lauk pauknya keburu dingin."
Mereka pun makan malam dengan tenang tanpa ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu menjadi teman makan malam mereka. Beberapa saat kemudian, "Oh iya kakak kamu kemana kok tidak ikut makan malam dengan kita?" tanya sang Ibu seraya melap bibirnya dengan tisu.
"Oh ... itu kakak makan di awal tadi karena katanya banyak tugas kantor yang menunggunya di kamar."
"Oh ...." sang Ibu hanya ber oh ria saja seraya berdiri dan berlalu dari hadapan sang Anak.
**************
"Jadi bagaimana perjalanan bulan madu kalian? Pasti sangat menyenangkan," ucap sang Nenek menyelidik.
Adam pun tersenyum menanggapi ucapan sang Nenek, "Pasti dong Nenek menyenangkan, iya kan habiba?" tanya Adam kepada sang Istri yang kebetulan duduk di sampingnya seraya meraih tangan sang Istri lalu mengecupnya.
Bahagia itu mudah, hanya perlu hidup sederhana dan apa adanya. Bahagia itu sederhana, apa yang membuatmu tersenyum jangan lepaskan. Bahagia itu sangat sederhana, menghargai apa pun yang di raih walau sekecil apapun.
Bahagia itu sederhana bersyukur dengan apa yang kita miliki, bukan dengan apa yang orang lain miliki. Bahagia itu sederhana masih di berikan waktu untuk berkumpul bersama orang - orang yang kita cintai. Bahagia itu sederhana saat kita bisa melihat senyum orang tua.
Bahagia itu sederhanan, sesederhana hari - hari yang kita lalui bersama dilingkupi tawa yang terbalut dalam rasa semesta dan cinta. Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat orang yang kita sayangi bahagia. Bahagia itu sederhana, tersenyum dan selalu bersyukur dan bahagia itu sederhana yaitu ketika kita menjadi alasan orang tua untuk tersenyum.
*************
__ADS_1
...Keesokan harinya....
Di meja makan sang anak dan sang Ibu sedang membicarakan kembali tentang rencana yang sudah mereka sepakati selamam.
"Jadi, kapan kita akan melancarkan aksi kita ini?" tanya sang Ibu di sela - sela sarapan paginya.
"Aksi apa Bu?" tanya Akbar yang datang dari Arah depan dan duduk di kursi yang masih kosong yang ada di samping sang Ibu.
"Aksi apa Bu?" ulang Adam seraya mengambil roti dan mengolesnya dengan selai kacang kesukaannya.
Sang Ibu berusaha senormal mungkin agar sang Anak tidak curiga dengan rencana mereka. "Ah ... itu aksi pangakas rumput di depan dan belang rumah, kan kamu tau sendiri apa - apa harus Ibu semua yang melakukannya dengan sendiri."
Akbar hanya mangguk - mangguk sebagai jawabannya, lalu kemudian dia pun bertanya, "Apa perlu Akbar cari pembantu untuk Ibu? Ya itung - itung untuk membantu meringankan pekerjaan Ibu di rumah ini."
"Tidak perlu," ucap sang Ibu dan Arumi bersamaan. Akbar pun heran dan menatap wajah sang Adik dan Ibu bergantian.
"Apa maksud kalian tidak perlu?"
"Maksud Ibu, Ibu masih sanggup kok mengerjakan ini semuanya kan kalau pake pembantu pasti mengeluarkan uang untuk membayar upah pembantu, tapi kalau ibu yang melakukannya kan tidak perlu mengeluarkan uang dan uang bayar pembantu lumayan bisa di gunakan kelain. Misal untuk belanja tas, baju, sepatu untuk Ibu."
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, terima kasih untuk like mode kalemnya maaf kagak membalas komentar - komentar kalian satu persatu. untuk yang promo monggo promo tapi no spam promo, lalu like karya aku dan tinggalka jejak di kolom komentar biar aku berkunjung balik kekarya keren anda semuanya. Terima kasih, semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan....
__ADS_1
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...