ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 139. CLBK 3


__ADS_3

Di rumah sederhana nan penuh kehangatan kini Arumi sudah sibuk berkutat di dapur. Kini dirinya harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus mengandalkan orang lain. Dengan cekatan Arumi memotong lalu meracik bumbu masakan yang hendak dia masak.


Selang beberapa saat kini Arumi sudah menumis bumbu itu dan beberapa saat kemudian kini masakan Arumi sudah matang dan dia pun segera menyajikan di atas meja.


"Sayang, Kakak sarapan sudah siap nih ayo sarapan!" teriak Arumi dari arah dapur.


Beberapa saat kemudian kini yang di tunggu Arumi pun datang dengan si kecil Alvaro yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya dan sang Kakak yang sudah lengkap dengan setelan jasnya. Kini mereka sudah duduk dan sudah memulai sarapannya. Di sela aktivitas sarapan,


"Dek ... apa kamu tidak ada rencana ingin menikah lagi dan memberikan Ayah sambung untuk Varo?" tanya Akbar seraya menatap wajah sang Adik.


Arumi yang ketika di tanya sedang menyuap makanan kemulutnya, dia pun terbatuk dan isi di mulutnya semuanya keluar secara paksa, "Uhuk .... uhuk ...."


Alvaro yang melihat itu pun menyodorkan gelas minumnya kearah sang Mama, "Minum dulu mah!"


Arumi pun menerimanya, "Makasih Sayang."


Setelah minum dan merasa agak baikan, Arumi pun menatap tajam kearah sang Kakak, "Kakak jangan membahas yang tidak - tidak di depan Varo."


Akbar pun menoleh ke arah sang ponakan, "Varo sayang mau punya Ayah kan?"


"I....."


Namun belum sempat Varo melanjutkan ucapannya, Arumi pun memotongnya, "Kakak apa - apaan sih, berucap seperti itu kepada Varo. Varo tidak butuh apa - apa selagi Arumi masih bernyawa dia tidak akan kekurangan satu apa pun."


"Mama dan Paman kenapa jadi bertengkar?"


Seketika mata Arumi dan Akbar sama - sama menatap ke arah Varo, "Mama tidak bertengkar sayang."


"Iya sayang Mama dan Paman tidak bertengkar. Ya sudah buruan habiskan sarapan mu nanti Paman antar kamu kesekolah," ucap Akbar sambil mengusap - usap kepala ponakannya itu.


Beberapa saat kemudian kini mereka sudah menyelesaikan sarapan dan siap melakukan aktifitas masing - masing.


...🍨🍨🍨🍨🍨🍨...


"Pagi - pagi sudah lesu aja tuh wajah. Ada apa dengan mu?" tanya Mama Dinda sambil menyiapkan sarapan untuk putra semata wayangnya itu.


Tommy pun duduk di salah satu kursi yang sudah dia tarik dan menerima sarapan yang sudah di siapkan oleh sang Mama.


"Makasih Ma."


Kini Mama Dinda pun duduk di kursi di samping sang Anak. Sambil sarapan sambil di selingi percakapan - percakapan ringan, "Ada apa? Apa kamu bertengkar dengan Siska?"


Tommy pun menggeleng, "Lalu?" tanya sang Mama.

__ADS_1


Sambil meletakkan sendok dan garpunya kepiring dan menatap wajah Mamanya, "Ma, Tommy mau mencari Arumi, Tommy merasa sangat bersalah pada Arumi. Apa lagi jika Arumi sempat melahirkan anak Tommy. Tommy mau menebus semua kesalahan Tommy di masa lalu dan berjanji tidak akan menyia - nyiakan dia lagi."


"Lalu bagaimana dengan Siska?"


"Entahlah Mah, yang penting untuk saat Tommy mau mencari Arumi dulu dan soal Siska nanti Tommy urus."


"Kamu yakin sayang?"


"Yakin Mah, Tommy ingin memastikan apakah Arumi melahirkan anak Tommy atau tidak."


"Ya sudah jika itu keputusanmu Mama hanya bisa mendo,akan yang terbaik untuk mu. Maaf ini semua gara - gara keegoisan Mama yang menyangkut pautkan kisah asmara mu bersama kisah asmara Kakak mu sekaligus masa lalu Mama."


Sambil menggenggam tangan sang Mama, "Sudah lah Mah masa lalu hanya lah masa lalu, nggak usah lagi di kenang yang penting sekarang Mama sudah merestui hubungan Tommy dan Arumi."


Sambil mengangguk, "Iya sayang, Mama merestui hubungan kalian."


"Makasih ya Mah."


"Sama - sama sayang."


...🎂🎂🎂🎂🎂🎂...


Kini Vano sudah tiba di sekolah.


Sambil mensejajarkan tinggi dirinya dan anaknya, "Sayang, belajar yang pintar ya, jangan nakal, apa yang di bilang Mom di sekolah di turuti. Mama pergi dulu kalau sudah pulang nanti Mama jemput. Trus tanda pengenal kamu jangan pernah di lepas biar nanti kalau ada apa - apa siapa saja yang menolongmu akan dengan mudah menghubungi Mama ok."


Selepas sang Mama pergi Varo pun masuk kedalam kelas.


Tit ... tit ... tit ... ( Bel berbunyi ).


Satu persatu siswa dan siswi berlarian dan masuk kekelas masing - masing. Di kelas A kini Mom Dona sedang mengajar.


"Assalualaikum anak - anak."


"Waalaikumsalam Mom."


"Anak - anak coba kumpul PR nya Mom mau koreksi hasil kerja tangan kalian!"


Anak - anak pun segera berdiri dan mengeluarkan PR mereka dari dalam tas dan kemudian membawa kemeja Mom mereka dan meletakkan di sana lalu kemudian kembali duduk di tempat semula.


Setelah semua duduk, "Anak - anak tidak lama lagi sekolah kita akan menyambut hari Ayah, Mom harap Ayah - ayah kalian dapat berpartisipasi dalam menyukseskan acara kita ini dan ada beberapa lomba yang akan Ayah dan anak ikuti salah satunya membuat surat untuk Ayah dan membaca kan di depam kelas. Apa ada pertanyaan mengenai acara hari Ayah?"


Vano pun angkat tangan, "Mom bagaimana kalau tidak punya Ayah?"

__ADS_1


Sambil berjalan mendekat, "Memangnya Ayah Vano kemana?"


Vano bukannya menjawab malah menunduk dan menangis, Mom Dona pun berjongkok, sambil mengelus kepala Vano, "Vano sayang kenapa menangis?"


Dengan suara parau, "Vano tidak punya Ayah Mom, Kalau Vano nanya ke Mama tentang Ayah, Mama tidak mau menjelaskan tentang keberadaan Ayah Vano."


Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, "Sayang, tanpa Ayah juga bisa kok. Misal Vano punya Paman, ajak paman pun tidak masalah."


Dengan wajah berbinar, "Sungguh?"


Sambil mengangguk, "Iya sayang."


"Makasih Mom."


Sambil tersenyum, "Sama - sama sayang."


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Apa perlu aku antar kamu keruangan mu yang ada di lantai atas?" tanya Adrian ketika mereka sudah tiba di klinik kecantikan dokter Adrian dan kebetulan satu gedung dengan Galeri sang Istri.


"Tidak perlu mas, pasti sudah banyak pasien para kaum hawa yang menunggu mu di dalam."


Sambil menggoda sang Istri, "Apakah istriku ini sedang cemburu?"


Sambil membuang wajahnya kelain arah, "Ih apaan sih GeEr banget deh kamu mas."


"Masa?"


"Iya."


"Oh ya sudah kalau begitu aku selingkuh saja bagaimana?"


Dengan melototkan mata, "Coba saja kalau berani aku tidak akan segan - segan meninggalkan mu bersama si kembar."


Sambil meraih tangan sang Istri, "Ya nggaklah aku hanya mencintaimu, dan akan selamanya mencintaimu hingga maut memisahkan kita berdua."


"Janji?"


"Iya sayang aku janji."


Mereka pun masuk kedalam dan berpisah ketika mereka sudah berada di depan pintu lift karena sememangnya ruangan mereka tidak lah searah.


...🍔🍔🍔🍔🍔...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...🍔🍔🍔🍔🍔...


__ADS_2