
Kini aku dan Tuan Adam sudah tiba di tempat tujuan. Setelah mobil terparkir kami pun segera turun dan berjalan masuk beriringan. Hari ini Tuan Adam mengajak ku kepantai. Kini aku dan Tuan sudah tiba di pinggir pantai, walaupun bukan hari minggu dan hari libur tapi di pantai ini tetap ramai di kunjungi oleh para pengunjung dan pelancong baik dalam maupun luar negri.
"Nabila ... mmm salah maksudnya Mi π tunggu dulu ya disini, Pipi mau kesana. Sebentar doang kok tunggu di sini jangan kemana - kemana!" ucap Tuan Adam seraya berlari kecil kemudian menjauh lalu menghilang dari pandangan mataku.
"Dasar manusia aneh," ucap ku lirih. "Apa tadi dia baru saja memanggilku dengan panggilan sayang?" ujar ku bertanya pada diri sendiri. Aku pun hanya senyum - senyum sendiri.
Tidak butuh waktu lama, kini dia sudah kembali dengan membawa karpet ditangan satunya sementara tangan yang lainnya membawa keranjang yang jika di kira - kira makanan kali ya isinyaπ.
Setelah dekat, "Hai ... maaf apa aku terlalu lama meninggalkanmu seorang diri di sini?"
"Aku hampir saja di culik orang," ucapku menggodanya dan menatap wajahnya.
Dia pun membalas tatapan mataku lalu kemudian berucap, "Pria mana yang berani menculik dan mengganggu wanita ku, aku tidak akan segan - segan menghancurkannya dan membuatnya tersiksa di sisa akhir hayatnya."
"Aku hanya bercanda."
Dengan memberinya seulas senyum dibibirku, "Tidak masalah Tuan, Tuan pergi tidak begitu lama."
"Oh ... syukurlah kalau begitu."
Ketika selesai berucap seperti itu dia pun segera menggelar tikar dan meletakkan seluruh bawaannya di atas tikar.
Setelah sama - sama duduk, "Bagaimana apa kamu menyukainya?" tanya Tuan Adam seraya menolehku sepintas lalu tatapannya kembali lurus kedepan.
Aku pun menoleh, "Suka Tuan," jawab ku.
__ADS_1
Dia pun menoleh kearahku, "Ucapkan sekali lagi kalimat terakhirmu!"
"Yang mana?" tanya ku.
"Suka Tuan," jawabnya.
Lalu dia pun kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku tidak mau mendengar mu lagi memanggilku dengan nama itu. Jika, aku sampai mendengarnya lagi setelah kita menikah aku tidak akan segan - segan menghukum mu," ucapnya dengan senyum devilnya.
Aku hanya menganggukan kepalaku tanda mengerti.
Setelah sama - sama terdiam dan menikmati makanan yang di bawanya, "Mi ... kita jalan ke sana yuk," ajaknya sambil menunjuk kedepan seraya berdiri dan mengulurkan tangan nya ke arahku. Aku pun menatap tangan yang terulur, lalu beralih menatap wajahnya, diapun menganggukan kepalanya dan akupun menyambutnya.
Setelah sama - sama berdiri tanpa sadar kami pun berjalan bergandengan tangan menyusuri ke indahan pantai yang kini telah tersaji di depan mata.
"Tuhan aku meminta kebahagiaan ini jangan hanya sampai disini, tapi seterusnya hingga aku kembali kepangkuanmu. Aamiin," do,aku dalam hati.
Angin mengembus dengan sepoi - sepoi menyapu wajah cantikku, dan menerbangkan sebagian rambutku yang terurai indah. Dengan sigapnya diapun menangkap sebagian rambutku yang beterbangan lalu menyelipkan di daun telingaku. Aku terharu dengan perhatian kecil darinya.
"Terima kasih."
Setelah cukup lama menyusuri tepian pantai kami pun sama - sama berhenti.
"Coba deh kamu teriak sekencang - kencangnya keluarkan seluruh amarah yang ada di dalam hatimu!" ujar Tuan Adam.
"Aku sedang bahagia Pipi, jadi amarah apa yang harus aku keluarkan," ucapku malu - malu ketika menekankan kata Pipi.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia dengan hanya mendapat perhatian kecil seperti ini dariku?"
"Bagiku ini bukan perhatian kecil Pipi, ini perhatian yang sangat besar dan terima kasih atas waktu untuk hari ini."
"Apa kamu menyukainya?"
"Tentu. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya."
"Syukurlah jika Mimi menyukainya."
"Kebahagiaan yang paling sempurna adalah kebahagiaan bersama orang yang sederhana, tapi memperlakukan ku dengan cara istimewa." ucapku dalam hati.
"Kemudian jiwa ku melihatmu dan berkata akhirnya aku menemukanmu setelah ku mencari mu sekian lama," gumam Tuan Adam dalam hati.
"Sebelum kita, aku tidak mengerti apa itu bahagia. Sebelum kita bersama aku juga tidak mengerti apa itu cinta. Namun setelah takdir mempertemukan kita, aku tahu apa itu bahagia karena cinta." gumam Tuan Adam dalam hati.
"Dapatkah kamu dan aku menjadi kita selamanya, meskipun cinta bukanlah udara, tapi kamu tetap menjadi nafasku, bahagiaku saat melewati suka duka denganmu," gumam ku dalam hati.
...β€β€β€...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar dan terima kasih untuk like mode diam. Untuk yang promo monggo promo tapi no spam promo ya. Lalu like karya ku dan tinggalkan pesan di kolom komentar nanti aku berkunjung balik ke karya keren anda - anda semuanya. Terima kasih semangat, mari saling mendukung, dan tetap jaga kesehatan....
...ππ»ππ»ππ»...
...β€β€β€...
__ADS_1