
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka tiba di restoran terdekat dengan kantor di mana Arumi bekerja. Mereka kini sudah duduk di dalam yang langsung menghubungkan pemandangan luar. Mata mereka pun saling bertemu kemudian menyunggingkan senyum kecut. Setelah lama terdiam, Arumipun membuka percakapan.
"Apa yang mau anda bicarakan dengan saya?" ucap Arumi dengan bahasa formalnya.
"Bagaimana kalau kita sambil makan dan minum? Ini kan sudah masuk makan siang?" ucap Mama Dinda menawarkan makan siang kepada Arumi. Arumi pun menyambut baik tawaran Mama Dinda.
"Baiklah."
.
.
.
Sambil menikmati makan siangnya mereka sambil mengobrol.
Dengan menatap wajah Mama Dinda, "Sekarang katakan apa maksud Anda mengajak saya ketemuan disini?"
Sambil tersenyum tipis, "Santai dan tidak usah terlalu formal berbicara sama saya, anggaplah kita teman lama yang baru berjumpa kembali."
"Tidak usah berbasa basi, jika tidak ada yang perlu di bicarakan maka saya akan kembali bekerja." ucap Arumi yang kini sudah siap untuk berdiri.
Melihat Arumi berdiri, Mama Dinda pun mencegahnya, "Tunggu. Silahkan duduk kembali!"
Arumi pun menurut. Mama Dinda pun mulai mengutarakan maksudnya mengajak Arumi ketemuan.
"Saya ingin minjam Varo selama satu bulan." ucap Mama Dinda to the poin.
__ADS_1
Mata Arumipun terbelalak tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Mama Dinda.
Dengan sinisnya, "Anda fikir Varo barang?"
Dengan tergagap, "Bu_bukan begitu maksud saya?"
"Lalu?"
"Saya cuman mau pinjam dan tidak pake alasan."
Dengan berusaha setenang mungkin, "Nyonya apapun alasan anda, Varo tidak akan saya serahkan kepada Anda. Walau saya tau anda adalah Neneknya tapi di mana anda waktu saya mengandung Varo dan membutuhkan tempat untuk berlindung dan bernaung?" kini air mata Arumipun turut berbicara.
Sambil menyapu air matanya dengan jari tangannya, "Sudah lah Nyonya karena sampai kapan pun Varo tidak akan saya serahkan sama anda." ucap Arumi kemudian berdiri dan berjalan keluar dari restoran.
Mama Dinda pun segera menyusulnya, "Tunggu!"
Mama Dinda kini sudah berdiri di hadapan Arumi, "Katakan berapa uang yang kamu butuhkan agar Varo kamu serahkan pada saya?"
Arumi pun makin tidak mengerti dengan jalan pemikiran Mama Dinda yang mengukur semuanya dengan uang.
"Maaf Nyonya saya tidak butuh uang anda." ucap Arumi kemudian berlalu pergi meninggalkan begitu saja Mama Dinda yang masih berdiri diam mematung.
Sambil senyum menyeringai, "Aku sudah memintanya secara halus dan lembut tapi kamu seakan - akan menjualnya sangat mahal. Baiklah aku mau lihat sejauh mana kamu bisa mempertahankan Varo," ucap Mama Dinda pada dirinya sendiri.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Kini siang sudah berganti malam....
__ADS_1
...Di ruang keluarga....
Sambil berjalan mondar mandir, "Pokoknya Mama tidak mau tau kamu harus membawa Varo kerumah ini dan memperkenalkan Varo pada Siska."
"Mah, mau sampai kapan Mama akan begini? Mah biarkan Tommy memilih jalan hidup Tommy sendiri dan biarkan Tommy menikahi Arumi."
"Tidak bisa kamu harus menikah dengan Siska bagaimana pun caranya. Kamu dengar sendiri kan kalau Mama sudah berjanji pada kedua orang tua Siska kalau pernikahan ini akan tetap di lanjutkan."
Tommy pun berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri sang Mama kemudian berlutut di kaki sang Mama sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Mah restui hubungan Tommy dengan Arumi. Selama ini Tommy tidak pernah meminta apapun sama Mama tapi kali ini Tommy akan meminta dan semoga Mama mau mengabulkannya." ucap Tommy dengan tegarnya menahan air matanya agar tidak terjatuh membasahi pipinya.
Mama Dinda pun menunduk dan hendak membantu Tommy berdiri namun Tommy enggan berdiri dia tetap.pada pendiriannya. Setelah melakukan tawar menawar antara Ibu dan anak itu akhirnya Mama Dinda menyerah.
"Baiklah Mama merestui hubungan kalian. Lalu bagaimana dengan Siska?"
"Nanti kita kerumahnya dan membicarakan ini dengan jelas sejelas jelasnya. Tommy pun berdiri dan memeluk sang Mama, "Makasih Mah."
"Sama - sama sayang."
...🍒🍒🍒🍒🍒...
"Sudah yuk sayang kalian masuk kamar bobo duluan. Kan kata Ayah tadi siang kalau Ayah akan mengajak kita besol kekota jalan - jalan."
"Baik Bunda," ucap si kembar bersamaan kemudian membereskan mainannya kedalam keranjang dan menaronya kembali ketempat semula.
GUYS DAH DULU YA MO PERANG DULU. KUNJUNGANKU BESOK AJA YA KEKARYA KEREN KALIAN. BYE....
__ADS_1