ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 154. CLBK 18. Komentar positif kalian semangatku Up.


__ADS_3

Setelah cukup lama mereka bermain, Varo pun mengingat sesuatu dan dia pun memunta persetujuan dengan sang Ayah.


"Ayah."


Mama Dinda dan Tommy pun sama - sama menatap Varo.


"Apa sayang? Apa Varo butuh sesuatu?"


Varo pun menggeleng lalu mengingat dan akan memanfaat kan momen ini untuk meminta Tommy mendampinginya pada saat hari Ayah.


"Ayah."


Dengan tersenyum, "Apa sayang apa kamu butuh sesuatu?"


Lagi - lagi Varo menggeleng.


"Lalu?" Mama Dinda menimpali.


Dengan menarik nafas dalam - dalam lalu membuangnya secara perlahan, "Ayah, hari Ayah sudah dekat, Varo mau Ayah datang menemani Varo pada saat hari itu?"


"Memangnya Ayah Varo kemana?" tanya Mama Dinda penuh selidik dan hati - hati.


"Varo tidak tau Nek Ayah Varo mana. Karena jika Mama di tanya Mama tidak akan menjawab tentang di mana keberadaan Ayah Varo."


"Sungguh malang nasibmu Nak."


Sambil menoleh ke arah Tommy, "Ayah mau kan menemani Varo pada saat hari Ayah?"


"Iya sayang Ayah akan datang dan menemanimu pada saat hari Ayah."


Mama Dinda tidak mau kalah dengan sang Anak. "Nenek juga akan hadir di hari Ayah untuk menyaksikan cucu Nenek yang ganteng ini berlomba?"


Varo pun menoleh ke arah Mama Dinda, "Kok nenek tau kalau akan ada lomba di sekolah Varo pada hari itu?"


"Varo sayang jangan lupa nenek juga pernah bersekolah loh dan tiap tahun akan ada lomba hari Ayah. Tapi, kini Ayah nenek sudah nggak ada di sini. Dia sudah tenang bersama Tuhan, pemilik dari segala apa yang bernyawa di bumi ini."


"Kita bisa pergi tengokin Ayah nenek tidak? Varo ingin berjumpa dengan Ayahnya Nenek."


Tommy dan Mama Dinda pun saling berpandangan kemudian kembali menatap Varo, "Bisa sayang. tapi jangan sekarang ya besok - besok saja."


"Ok Nenek."


Mereka pun masuk dalam kamar masing - masing dan siap berpetualang ke alam mimpi.


...🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄...


Hari kemarin


Bagaimana pun baik dan buruknya


itu telah berlalu


Hari ini adalah waktunya


Untuk melihat langit yang biru yang cerah


Selamat pagi dunia.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Kini Varo sudah siap dengan seragam sekolahnya begitu pula dengan Tommy yang sudah nampak tampan dengan stelan jas warna hitam senada dengan warna sepatunya.


"Wah ... Ayah tampan sekali." puji Varo.


"Masa sih? Anak Ayah juga tampan."


"Terima kasih Ayah."


Kini Tommy dan Varo sudah berada di meja makan bersama dengan Mama Dinda. Mama Dinda pun kini melayani kedua pangeran yang kini duduk di hadapannya.


Sambil menyodorkan piring kearah Tommy dan Varo yang sudah berisi lauk dan pauk.


"Makan yang banyak."


"Terima Nenek."


"Terima kasih Mah."


Mereka pun sarapan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu yang menemani mereka pada saat sarapan.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Di tempat yang lain kini Adrian pun sudah siap untuk kerumah sakit di An Hospital.


"Bunda Ayah berangkat dulu ya." ucap Adrian seraya memberikan kecupan di kening sang istri.


Kini Adrian jongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan si kembar, sambil mengusap kepala sang, "Sayang jaga Bunda dan Nenek ya di rumah selama Ayah pergi bekerja," ucap Adrian kepada Anak laki - lakinya.


Sambil tersenyum, "Ayah jangan khawatir, sudah menjadi tanggung jawab Candra sebagai anak laki - laki, akan melindungi Bunda, adek dan Nenek."


"Iya Ayah."


Mereka pun mencium punggung tangan Adrian bergantian.


"Hati - hati di jalan Nak." ucap Mama Yulia melepas kepergian sang anak.


...Kini mereka sudah kembali masuk kedalam rumah....


...🍟🍟🍟🍟🍟🍟...


Tommy dan Varo sudah berada di dalam mobil.


"Ayah terima kasih ya."


Sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya, "Terima kasih untuk apa?"


Sambil menoleh, kearah Tommy, "Terima kasih untuk semuanya."


Sambil mengusap kepala Varo dengan tangan yang satunya, "Sama - sama sayang. Jika Varo bahagia, Ayah pun juga turut bahagia."


"Ayah besok atau lusa kita masih bisa seperti ini kan?"


"Tentu sayang..."


"Terima kasih Ayah."

__ADS_1


Kini mobil yang di kemudikan Tommy sudah masuk tempat di mana Varo sekolah.


Tommy pun turun dari mobil dan segera mengitari mobil untuk membuka kan pintu untuk pangeran kecil. Ketika pintu mobil sudah terbuka, "Terima kasih Ayah."


"Sama - sama sayang."


Pada saat yang bersamaan Arumi pun tiba di sekolah dan menarik paksa tangan Varo dari Tommy.


"Awwwww ... Mama sakit," ucap Varo meringis kesakitan ketika Arumk mencekal dengan sangat kuatnya tangan sang anak yang satuny dan Itu membuat Tommy terkejut tatkala tautan tangannya dengan Varo terlepas.


"Varo sudah Mama pesankan sama kamu untuk tidak dekat - dekat orang itu." ucap Arumi sambil menunjuk Tommy.


Varo pun mengikuti arah telunjuk Arumi kemudian kembali menatap wajah Arumi, "Mama, Ayah orangnya baik kok. Tidak jahat seperti yang Mama katakan."


Sambil mautkan kedua alisnya, "Ayah?"


"Iya Mah mulai kemarin Om itu telah resmi menjadi Ayah Varo."


Sementara Tommy yang mendengar itu merasa kegirangan tiada terkira karena Tommy sudah berhasil merebut hati Varo.


"Varo kamu punya Ayah, Mama punya suami dan Varo jangan mengada - ada dengan menyebut om itu sebagai Ayah Varo."


Baru saja Tommy kegirangan dengan kata - kata Varo sebelumnya tapi mendengar kataa - kata Arumi beberapa saat yang lalu kini wajahnya benar - benar berubah menjadi pias dan pucat pasih.


Dengan terisak, "Kalau begitu katakan di mana Ayah Varo berada dan kalau perlu hadirkan Ayah Varo sekarang di hadapan Varo!"


Arumi nampak kesal dengan kata - kata Varo dan Arumi tidak tau harus menjawab apa.


Ting ... ting ... ting .... ( Bel berbunyi )


Bel yang tiba - tiba berbunyi nampak menyelamatkan Arumi dalam situasi yang tidak menguntungkannya sama sekali.


Dengan mengusap air mata sang pangeran, "Sekarang Anak Mama masuk ke dalam kelas ya!"


"Iya mah." sambil mencium punggung tangan sang Mama dan kemudian mencium pipi kanan dan kirinya.


Varo pun lewat di hadapan Tommy, "Ayah Varo masuk dulu kedalam kelas ya."


Sambil tersenyum dan membukukkan badan nya sedikit, "Anak Ayah belajar yang rajin dan benar ya."


"Syiaaapppp Ayah." Varo pun mencium punggung tangan sang Ayah.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Di kantor Siska sudah lebih awal datang dan sudah berada di lantai 13 sambil berjalan mondar - mandir dan menggerutu karena sudah jam segini sekretaris si bos belum juga datang padahal waktu sudah menunjukan jam 8 lewat. Tommy pun ikut - ikutan ghaib dan belum menampakkan batang hidungnya, bukankah seharusnya dia datang lebih awal dari pada karyawannya.


Tidak lama kemudian nampaklah lift terbuka dan nampak lah Arumi berjalan ke arah meja dan kursi yang sudah menjadi miliknya selama beberapa hari ini.


Siska yang melihat itu nampak marah ketika melihat tas Arumi di dudukan di atas meja sekretaris.


"Eh OB lancang juga ya kamu datang - datang langsung naik di lantai 13, mana pakaiannya rapi banget lagi. Mana seragam OB kamu?"


Namun Arumi memilih diam dan mengabaikan Siska dan seolah - olah menganggap Siska tak ada di sana.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2