ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 127. KOMENTAR POSITIF KALIAN ADALAH SEMANGAT KU


__ADS_3

Kini Nabila dan Adrian sudah tiba rumah sakit. Mereka pun segera masuk kedalam dan menelusuri lorong demi lorong dan banyak dari para kaum hawa yang menatap kagum pada pria satu ini bahkan mereka berani berandai - andai untuk menjadi kekasih dari pria ini.


"Wah kereeennn banget sih ... kalau misal rumah sakit ini memiliki dokter satampan dia aku juga mau saban hari sakit, bahkan sakit selamanya pun aku rela. Apa lagi jika sempat di jadikan yang kedua," ucap salah satu pengunjung rumah sakit.


"Eh neng ngaca ... woi dan jangan halu loe kagak lihat wanita yang di samping nya itu lebih cakep dia tau dari pada loe."


Dan masih banyak lagi pujian kekaguman untuk Adrian baik dari pengunjung rumah sakit atau pun karyawan rumah sakit terkhusus para suster - suster cantik.


Lorong demi lorong telah mereka lewati dan tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Hanya saling tatap menatap lalu tersnyum kemudian kembali lagi menghadap kedepan.


Di lorong terakhir beberapa langkah kedepan tiga wanita dan dua pria yang di kenal Nabila kini duduk di kursi besuk pasien sambil bercerita dan entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, ada rasa sakit, kecewa dan entahlah rasa apa lagi namanya author tidak tau menggambarkanπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ya mereka adalah keluarga Dharmawangsa dan Widjaya. Lama Nabila tertegun dalam lamunan terdiam tanpa bicara dan bertanya - tanya siapa gerangan yang sakit.


Ketika hendak berbalik pergi tangannya tiba - tiba di pegang oleh Adrian.


Dengan tersenyum, sambil menggeleng, "Hadapi mereka aku yakin Nabila yang sekarang berdiri disampingku saat ini bukanlah Nabila yang rapuh, Nabila lemah. Nabila yang berdiri saat ini disini adalah Nabila yang kuat, Nabila lemah sudah lama mati bersama kenangan pahit dan buruk dan hanyut bersama ombak di pantai saat pertama kali kita bertemu kamu harus yakin dan percaya kamu punya kekuatan untuk itu dan kekuatan itu ada pada bayi yang kamu kandung dan jangan lupa kalau aku akan selalu bersamamu."


"Baiklah." ucapnya lirih.


"Ayo kita kesana hadapi mereka."


Mereka pun berjalan kesana hingga tinggal beberapa langkah Nabila pun kembali berdiri dan diam mematung, pada saat itu pula Bunda Irene menoleh kesamping dan melihat seorang wanita muda, berperut buncit tersenyum padanya.


Bunda Irene pun berdiri dan berjalan mendekati wanita itu, "Nabila?"


Bunda Irene pun tiba - tiba memeluknya dan menghujani ciuman demi ciuman kepada sang putri yang sudah lama menghilang dan akhirnya mereka bertemu di rumah sakit ini.


Setelah melepas pelukan, "Kamu dari mana saja sayang, apa kamu baik - baik saja, apa makan, tidur, mandi, bla ... bla ... bla ... sama seperti di rumah kita?" ucap Bunda Irene memberondong pertanyaan pada Nabila.


Sambil tersenyum, "Nabila tidak dari mana - mana Bund dan Nabila berada di tempat yang sangat nyaman, hangat, dan di kelilingi oleh limpahan kasih sayang dari orang - orang yang rela menerima apa ada nya Nabila tanpa harus menuntut Nabila begini dan begitu."


"Apa maksud kamu?" tanya Nyonya Luciana yang tiba - tiba berdiri di belakang Bunda Irene di susul yang lainnya.


"Apa maksud kamu wanita mandul?" ulang Nyonya Luciana yang kini berdiri di samping Bunda Irene dan belum memperhatika perut Nabila yang membuncit.

__ADS_1


Ayah Bima, Akbar dan Bu Yana hanya bisa diam membisu memperhatikan perdebatan di antara mereka. Mereka lebih memilih cari aman dari pada harus berurusan dengan Nyonya Luciana yang terhormatπŸ˜‚πŸ˜‚


"Jaga mulut Anda Nyonya!" kini Adrian ikut menimpali.


"Wah ... wah ... sekarang dia punya bodyguard di gajih berapa kamu sama wanita mandul itu?" ujar Nyonya Luciana dengan nada mengejek.


"Sekali lagi Nyonya saya ingatkan untuk jaga bicara anda. Anda tidak melihat wanita yang anda katakan mandul ini yang sekarang berdiri di samping saya ini sedang mengandung!"


Deg...


Deg...


Deg...


Seketika mata mereka tertuju pada perut Nabila yang memang nampak membesar.


"Waooooow hebat pergi dari Adam belum hamil, eh tau ... tau ... bertemu di sini perut dah buncit saja tuh. Berapa tarifmu setiap malam dan laki - laki mana yang sudah meniduri mu hingga hamil." ucap Arumi dengan pedasnya yang kini sudah duduk di atas kursi roda tak jauh dari mereka, sementara Adam hanya bisa tersenyum kecut melihat wanita yang pernah dulu menghiasi hari - harinya kini berdiri di hadapannya dalam keadaan hamil dan itu membuatnya sangat kecewa dan tidak bisa terima.


Dengan masih menahan gejolak air mata yang kini seakan - akan ingin tumpah tatkala mendengar kata - kata sang kakak yang seperti tamparan untuknya. Tapi, dia tetap mencoba untuk tetap bertahan dan tegar di hadapan semua orang dan tidak ingin terlihat lemah di mana harga dirinya sebagai wanita yang telah diinjak - injak.


Arumi terselut emosi dengan hati - hati dia pun berdiri dan ingin menghampiri Nabila, Namun seorang suster datanga menegur mereka, "Maaf Tuan dan Nyonya jika ingin ribut tolong jangan disini. Banyak pasien disini yang butuh ketenangan dan jika ingin melanjutkan perdebatan kalian silahkan cari lapangan yang luas untuk menuntaskan perdebatan kalian. Yang menang alhamdulillah, yang sakit pintu rumah sakit ini terbuka lebar untuk yang K.O.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. ucap suster itu kemudian berlalu pergi.


Namun teguran suster itu mereka tanggapi bagai angin lalu. Kini Adam sudah mengepalkan kedua tangannya dengan mata memerah menahan emosi yang sudah berada di ubun - ubun dan terhasut dengan kata - kata "Pelacur."


"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu bisa berbuat seperti ini sama aku. Aku kira kamu wanita dan istri baik - baik tapi nyatanya kita bertemu di sini dan keadaan kamu sudah seperti sekarang, kamu memang murahan."


Deg....


Deg....


Deg....


Hati Nabila sakit seperti terhujam ribuan paku - paku kecil dan tepat mengenai sasaran yaitu jantungnya. Namun dia masih tetap menampilkan senyum terbaiknya demi untuk terlihat tegar, "Aku memang murahan karena kamu yang mengajarkan aku untuk menjadi murahan dan saya rasa murahanku lebih terhormat dari pada murahan kalian yang nampak tak punya malu bermesraan di dalam kantor dan melakukan hubungan yang dilarang dalam agama bersama dengan wanita yang bukan muhrim bukan kah wanita seperti itu lebih pantas di sebut sebagai pelacur?"

__ADS_1


Lagi - lagi Arumi tersulut emosi dan ingin menghadiahkan sesuatu kepada sang Adik namun Adam lagi - lagi melarangnya.


"Kenapa kamu larang - larang aku? Apa kamu masih menyukai wanita pelacur itu? Ucapka talak untuk dia!" geram Arumi dengan mata melotot dan merah.


Namun Adam lagi - lagi diam dan membisu. "Kenapa diam? Apa kamu masih menyukainya? Wanita yang sudah mengkhianatimu?"


Namun lagi - lagi Adam hanya diam tak bergeming.


Dengan kesal, "Oh ... ok baiklah, aku akan pergi dan tidak akan mengijinkan mu untuk bertemu anakmu. Kakak bawa Arumi pergi dari sini!" Akbar baru saja akan menuruti permintaan sang Adik, Namun Adam tiba - tiba angkat bicara walau sebenarnya berat dan mulutnya tidaklah sejalan dengan kata hatinya karena dari lubuk hatinya yang paling dalam Adam masih sangat mencintai sang istri dan masih menginginkan Nabila sebagai istrinya lalu bagaimana dengan Arumi????


Dengan pelan tapi pasti, "Baiklah, aku talak kamu dan mulai hari ini kamu bukan istri ku lagi," ucap Adam dengan lantangnya dan itu membuat orang yang ada disana dan mendengar itu syok termasuk Bunda Irene dan Ayah Bima begitu pula dengan yang lainnya. Arumi hanya bisa tersenyum puas mendengar kata - kata itu dan serasa ingin melompat - lompat kegiranganπŸ˜‚πŸ˜‚.


"Kondisi mu sedang tidak baik - baik saja. Ayo aku antar kamu kekamar!' ucap Adam seraya berlalu pergi dan mendorong kursi roda sang istri dan menjauh dari sana.


Kini yang di tahan sejak tadi akhirnya menetes juga dari kedua mata indah Nabila. Namun dia masih berpura - pura untuk tegar dan menyembunyikan semua kesedihannya di balik senyum manis yang palsu walau sudah ada air mata yang membuktikan kerapuhannya.


Bunda Irene pun memeluk Nabila, "Sayang maafkan anak Bunda. Jaga kandungan mu baik - baik jangan sungkan untuk datang kerumah Bunda jika kamu butuh sandaran hati untuk bercerita dan menumpahkan segala keluh kesahmu.


Nabila pun makin mempererat pelukannya, "Bunda jangan lupa kalau anak yang Nabila kandung adalah Anak Adam yang berarti cucu Bunda."


Sambil mengangguk, "Iya sayang Bunda tau dan Bunda pasti ingat dan biarkan orang - orang yang menilaimu salah dapat ganjaran setimpal lewat tangan authorπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚."


...❀❀❀❀❀❀❀❀❀...


...TERIMA KASIH dan JANGAN LUPA BANTU VOTE YA πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»...


...❀❀❀❀❀❀❀❀❀...


Oh iya author mau promo nih dukung ya guys



...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...😊😊😊😊😊...


__ADS_2