
...Assalamualaikum...
...****************...
Malam ini Kirana tampak gelisah dipembaringannya, dan dia pun sudah tak sabar untuk menantikan hari esok. Diapun masih memikirkan siapa gerangan orang baik yang mau mendonorkan matanya kepadanya. Namun dia tak mau terlalu ambil pusing, yang terpenting sekarang dia bisa melihat dulu seperti tujuh tahun yang lalu.
...💝💝💝...
Hidup adalah campuran dari sinar matahari dan hujan, air mata dan tawa, kesenangan dan rasa sakit. Ingat lah, tidak pernah ada awan yang tidak bisa di tembus oleh matahari. Dalam hidup ini, jadilah seperti matahari kamu mungkin terbenam, namun besok kamu akan terbit kembali. Bangkit dan bersinar."
...💝💝💝...
Keluarga Widjaya sudah berada dirumah sakit. Kirana sudah dalam penanganan dokter. Keluarga menunggunya dengan cemas, takut jika operasi pencangkokan mata Kirana gagal. Sebelum suster medorong brankar Tiara keluar kamar menuju ruang operasi, surat - surat yang sudah dia tulis beberapa hari yang lalu sudah dia titip kedokter yang selama ini merawatnya dirumah sakit.
Waktu berjalan begitu cepat, operasi pencangkokan mata telah selesai dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang ditunggu - ditunggu oleh Kirana. Perban dimatanya akan dibuka, tim dokter, kedua orang tua Kirana, sepupu, Opa Oma, dan kakak Kirana sudah berada dirumah sakit.
Perban akhirnya dibuka, samar - samar penglihatan Kirana mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, sosok kedua Opa dan Omah, Kakak dan Kakak sepupunya. Kirana tersenyum, semakin lama semakin jelas, "Ayah, Bunda, Kirana dapat melihat kalian beruda." gembira sekali suara Kirana.
__ADS_1
Sudah seminggu Kirana berada dirumah sakit, dan hari ini Kiarana sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah. Kirana kerap kali menatap pintu kamar yang dia tempati berharap orang yang ditunggu tiba, sesuai dengan janjinya satu tahun yang lalu akan datang menemani Kirana saat akan pencangkokan mata jika sudah menemukan mata yang cocok dengan Kirana. Tapi hingga saat ini, dia tidak datang menemui Kirana seperti janjinya satu tahun yang lalu.
Sebelum beranjak pergi, dokter yang menangani Tiara mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku bajunya dan menyerahkan ke Kirana begitu pula dengan Chandra. Tapi, Chandra belum sempat membuka surat Tiara, dia harus segera pergi karena ada panggilan darurat dan surat untuknya di simpan nya kedalam saku bajunya kemudian melangkah pergi dengan tergesa-gesa.
Dengan tangan gemetar Kiaran menerima amplop dari Tiara kemudian membuka lalu membacanya.
Assalamualaikum, Wr. Wb
Kirana sahabatku.....
Jangan menangis membaca surat ini, karena saat itu aku sudah tiada di dunia yang sama denganmu. Ini tak adil bagi kita, aku pergi sebelum sempat mengucapkan kata-kata perpisahan untukmu. Takdir yang mengatur semua ini, agar kamu tidak menangis atas kepergian ku. Jangan salahkan keadaaan, jangan salahkan tuhan yang memberiku umur yang singkat. Aku yakin Dia sangat menyayangiku dan menginginkan kebahagiaan yang lebih untukku dengan cara menjemputku kembali. Kamu orang yang kesannya sombong dan cuek dulu nya ternyata tak sejahat yang aku fikirkan. Bersahabat denganmu, aku bagaikan menemukan separuh diriku dalam orang lain. Sebenarnya ada satu hal yang aku rahasiakan dari mu adalah tentang penyakitku. Dari dulu aku tidak pernah bercerita tentang penyakitku kepada siapapun karena aku takut mereka akan meninggalkanku. Sebisa mungkin aku menutupinya darimu, namun akhirnya terbongkar ketika aku sudah meninggal kan dunia ini. Disaat kamu tau semuanya , tentangku dan tentang penyakitku kamu tenang mendengar kan ceritaku meskipun kesedihan jelas tergambar di matamu. Semakin hari keadaanku semakin memburuk. Dokter bilang kanker ku sudah masuk stadium akhir. Aku terdiam mendengar penjelasan dokter. Aku tak mampu berkata apa - apa. Aku hanya bisa menangis dan membayangkan apa yang akan terjadi dengan ku. Aku tidak ingin berpisah dari orang-orang yang aku sayangi. Tuhan akan menjemputku dan ini terlalu cepat untukku. Kita hanya mengobrol lewat telepon, itupun sangat jarang. Aku sengaja tidak menceritakan penyakit ku sama kamu. Disaat-saat terakhir ku, kuatkan diri ini menulis surat ini untukmu. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain duduk lemas diatas kursi roda dengan sisa-sisa nafas terakhir ku. Ku telah pasrahkan diri pada-Nya....
Meskipun aku telah pergi dari sisimu, tapi rasa sayang ku ke kamu tidak akan pernah berubah. Kamu sahabat terbaikku yang pernah aku punya. Kamu tempat ku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka.
Kirana......
Ku tahu saat kamu membaca surat ini, kamu sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untukmu karena hanya itu yang bisa aku berikan. Jaga mata itu seperti kamu menjaga persahabatan kita. Meskipun aku kesakitan, aku tetap tersenyum dan tidak pernah mengeluh, karena orang bilang sakit adalah penggugur dosa. Percayalah, Tuhan telah menyiapkan surga yang indah untukku disana. Kenang lah aku sahabatku, kenang aku dengan caramu sendiri. ikhlaskan kepergian ku. Ganti air matamu dengan untaian do,a. Selipkan namaku disetiap penghujung sholatmu agar aku damai disisi-Nya.
__ADS_1
Segitu dulu ya Kirana, maafkan aku karena harus pergi meninggalkan mu. Terimakasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup didunia ini. Sampai ketemu suatu saat nanti. Aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life. Muaaaaaaaaaccccccccchhhhhhhhhhh.
Wassalam.
Sahabat mu,
Tiara
Tanpa disadari Kirana telah meneteskan air mata dan membasahi surat Tiara. Kirana benar - benar tidak menyangka kalau Tiara akan pergi secepat ini. Kirana merasa bersalah, Kirana fikir Tiara sengaja menjauh karena tidak ingin bersahabat dengannya, tapi pendapat Kirana keliru. Tiara melakukan ini semua demi menjaga perasaan Kirana. Kirana salah menilai, bahkan disaat-saat terakhir pun, dia masih kumpulkan sisa - sisa tenaga nya untuk menulis surat untuknya.
Sembari memeluk surat itu, "Selamat jalan sahabatku, aku kan kenang kamu selamanya. Semoga mendapat kan tempat yang indah disisi-Nya."
TERIMAKASIH
!
__ADS_1