
Kini Nabila sudah kembali keteras rumah setelah beberapa saat masuk kedalam bersiap - siap sekaligus meminta ijin kepada Ibu dan Nenek mertua. Mereka mengijinkan tapi dengan satu cacatan pergi jangan berlama - lama, dan Bunda Irene pun memberikan Nabila beberapa lembar uang untuk membelikan sang besan buah - buahan.
Kini Nabila dan Arumi sudah di jalan dan sudah singgah di minimarket untuk membeli beberapa jenis buah yang berbeda untuk sang Ibu yang katanya sedang sakit keras.
Tidak lama kemudian kini mereka sudah memasuki halaman rumah bergaya klasik pada umumnya, penggunaan pilar penyangga berukuran besar yang terbuat dari bahan beton membuat rumah ini terlihat kokoh.
Rumah di dominasi warna putih namun menggunakan bahan kayu warna coklat untuk pintu, aksen garis jendela dan pintu garasi membuat tampilan rumah ini menjadi tidak monoton.
Setelah Arumi memarkir mobil Nabila pun segera turun dan berjalan ke arah pintu utama untuk segera masuk, kini Nabila sudah di dalam dan diikuti Arumi di belakang.
Ada rasa rindu dengan rumah ini, foto - foto dirinya bersama almarhum sang Ayah, Ibu, dan kedua kakak - kakaknya masih terpajang cantik di ruang tamu dan keluarga dan di atas - atas lemari hias lainnya.
Sejenak Nabila berhenti di salah satu sudut ruangan dan meraba - raba wajah yang ada di salah satu figura foto itu, ada kerinduan yang tiba - tiba menyerangnya dan itu sangat membuat dadanya terasa sesak, bahkan hampir sulit untuk bernafas, "Ayah...." ucapnya lirih.
__ADS_1
Nabila pun tanpa sadar mengambil dan memeluk lalu mencium foto itu hingga berkali - kali, dan menumpahkan segala kerinduannya kepada sosok yang selama ini dia panggil dengan sebutan Ayah.
Arumi yang berdiri tak jauh dari nya, pun berjalan mendekat dan mengusap - usap bahu saudaranya itu, "Sudah - sudah kita semua juga merasa kehilangan, bagaimana pun dia adalah sosok laki - laki pertama yang kita kenal di dunia ini dan laki - laki pertama juga yang kita cinta di dunia ini," ucap Arumi yang kali ini dengan di barengi kutulusan dan segenap rasa di hati, bohong jika dia tidak merasakan hal yang sama dengan Nabila, walau bagaimana pun juga kepergian sang Ayah cukup membuatnya syok dan terpukul. Walau peristiwa itu sudah terbilang lama.
Mereka pun berbelukan untuk saling memberi dukungan dan saling menguatkan. Selang beberapa saat, sambil melepas pelukan dan menyapu air mata dengan jari - jari tangannya, "Ayo kita kekamar untuk segera menemui Ibu. Ibu pasti bahagia melihat kamu ada di sini."
"Ayok."
"Tok ... tok ... tok ...." suara ketukan pintu dari luar.
Dengan suara pelan dan parau, "Masuk."
"Ceklek," suara pintu terbuka.
__ADS_1
Nabila pun langsung berhambur kepelukan sang Ibu dengan air mata yang kembali menetes dari kedua mata indahnya. Ada rasa kasihan melihat sang ibu yang kini telah tergeletak tak berdaya di atas pembaringan. Dengan wajah pucat seperti orang anemia, wajah yang selama ini Nabila kenal cantik dan tidak suka apa adanya kini, kini berubah menjadi hitam putih seperti negatif film.
Setelah memeluk sang Ibu dengan cukup lama, Nabila pun bangun dan duduk di sisi tempat tidur di mana sang ibu saat ini telah terbaring lemah tak berdaya.
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah hadir memberikan like dan komentar dan terima kasih untuk like mode diamnya, maaf koamentar - komentar kalian tidak aku balas satu persatu - persatu. Untuk promo monggo promo but no spam promo lalu like karya aku dan tinggalkan jejak di kolom komentar nanti aku berkunjung balik ke karya keren anda semua....
...Terima kasih, semangat, dan mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
__ADS_1