ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 165. CLBK 29


__ADS_3


...Satu jam kemudian....


Kini Nabila telah sadar dari obat bius namun keadaannya sungguh sangat memilukan dan setiap saat selalu menanyakan anak kedua nya itu.


"Hiks ... hiks... hiks.... Kirana sayang kamu di mana Nak? Bunda kengen. Kirana balik ya."


Dengan sabar dan penuh kelembutan serta kasih sayang, "Cinta sabar, dan tenang kasihan si dede kalau kamu terus - terusan begini. Kirana pasti di temukan dan semua nya akan baik - baik saja."


Namun hanya air mata jawaban atas kata - kata sang suami. Sementara keluarga Widjaya sama sekali tidak mengetahui perihal ini.


"Sudah sayang, jangan menangis terus kasihan dedek bayinya nanti ikut - ikutan nangis di dalam sana," ucap Mama Yulia ikut menenangkan. Chandra sendiri hanya bisa ikut menangis seperti sang Bunda tanpa harus mengerti apa sebenarnya yang terjadi.


"Bunda jangan menangis lagi," bujuk sang Putra sambil memegang tangan sang Bunda.


"Kirana...."


Mama Yulia pun menatap wajah sang Anak, "Adrian sudah ada kabar belum dari teman kamu?"


Dengan membuang nafas secara kasar, "Belum Mah."


"Kamu yang sabar ya."


"Hmmmmmmm...."


Hanya kata - kata itu yang keluar dari mulut Adrian.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Kirana dan suruhan si Mak lampir kini telah tiba di rumah. Di dalam gendongan orang - orang itu Kirana terus saja menangis dan meronta minta di turunkan dan di bawa pulang kerumah kedua orang tuanya, namun orang - orang seperti tuli dengan ucapan Kirana. Kirana pun mengerahkan seluruh tenaganya mulai dari memukulnya, meninjunya, mecubitnya, dan menggigitnya tapi orang - orang itu kebal dengan serangan Kirana berharap orang - orang itu akan menurunkannya lalu membebaskankannya dengan begitu Kirana bisa pulang kerumahnya dan bertemu dengan orang tuanya.


Di depan pintu kini mak lampir berdiri siap menyambut cucu kesayangannya hasil rampasan dari Nabila.


"Hallo cucu kesayangan." ucap sang Nenek sambil menyambut tubuh mungil Kirana dari sang penguntil. Setelah Kirana di serahkan Si penguntil pun pergi.

__ADS_1


"Hallo cucu oma."


"Anda siapa?" tanya Kirana sambil mata berkaca - kaca.


Mak Lampir pun mengusap air mata Kirana dengan tangan yang satunya, "Cup ... cup ... sayang anak pintar nggak boleh nangis ya."


Sambil terus menangis dan mengalungkan tangannya di leher Mak Lampir, "Nyonya antar Kirana pulang ke Bunda. Kirana kangen Bunda."


"Kirana sayang jangan bawa - bawa Bunda mu di saat kita bersama. Oma sangat membenci Bunda mu."


"Kenapa Nyonya membenci Bunda? Bunda kan orang baik, Bunda juga tidak nakal."


Mak Lampir pun mengalihkan pembicaraan, "Sayang pasti kamu capek kan bagaimana kalau Oma antar kamu kekamar mu?"


Tanpa meminta persetujuan Mak Lampir pun segera membawa Kirana kekamar yang memang sudah disiapkan jauh hari sebelum penculikan itu di laksanakan.


.


.


.


Kirana pun melototkan matanya melihat pemandangan yang tersaji kamar yang sangat luas, mewah dan megah dengan tempat tidur yang sangat besar dan luas.


Kesedihan yang baru saja menimpanya kini sirna seketika tatkala melihat kemewahan dari isi kamar yang di suguhkan oleh tuan ramah. Melihat kekaguman di wajah sang cucu walau tidak di ungkapkan dengan kata - kata namun raut wajah kesedihan sudah tak nampak lagi dan itu membuat hati Mak lampir senang dan bahagia dan berjanji besok atau lusa akan memanjakan selau cucu satu - satunya itu.


Mak Lampir pun berjalan mendekat, sambil merangkul pundak sang cucu, "Bagaimana apa kamu menyukainya?"


"Sangat suka Nyonya."


Sambil tersenyum, "Ini belum seberapa. Oma juga menyiapkan 10 baby sister wanita yang siap membantu mu untuk mengurus semua memenuhi kebutuhanmu."


Sambil menoleh ke arah Mak Lampir, "Sungguh Oma?"


"Tentu sayang."

__ADS_1


...Kirana pun kini sudah beristirahat dan sudah berada di alam mimpi....


Sambil mengusap kepala sang cucu yang kini tengah tertidur pulas, "Maafkan aku Kirana tapi nenek harus melakukannya." ucal sang Nenek kemudian mengecup kening sang Cucu.


...🍏🍏🍏🍏🍏🍏...


Di rumah sakit Nabila masih saja menangis dan belum bisa menguasai dirinya.


"Kirana .... Kirana ...."


"Cinta Kirana baik - baik saja, Percaya denganku!"


Sambil menyakiti dirinya sendiri, "Jika aku hati - hati mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi."


Adrian pun menenangkannya, "Cinta sudah dong, kamu harus kuat dan sabar. Berdoa lah banyak - banyak agar Kiran segera kembali." dan terpaksa memberikan suntikan penenang agar sang istri berhenti menangis dan mengamuk.


...🍩🍩🍩🍩🍩🍩...


"Tumben kamu kerumah ku Dinda, Ada apa?" tanya Mama Siska dikala siang itu.


"Saya kesini hanya ingin memintaa maaf sepertinya perjodohan ini tidak bisa kita lanjutkan lagi."


Mama Siska yang mendengar penuturan mama Dinda,"Tunggu ... tunggu ... tunggu. Kamu sedang tidak bercanda kan?


"Maafkan aku jeng,"


Sambil berdiri, "Maaf... maaf emange kata maaf bisa membuat segala kembali seperti dulu lagi?"


Sammbil mengangkat wajahnya, "Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku."


Mama Siska pun menatap wajah mama dinda dengan seksama, "Kamu mau tau?" ucap Arumi.


...🍟🍟🍟🍟🍟🍟...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...🍟🍟🍟🍟🍟🍟...


__ADS_2