
Kini Arumi dan Tommy sudah di mobil dalam perjalanan pulang kerumah. Mereka sama - sama diam dan sibuk dengan isi kepala masing - masing. Sementara Tommy masih belum mengerti siapa yang tega melakukan ini kepadanya. Di dalam benaknya sungguh sangat berkecamuk dengan persepsi - persepsi yang sungguh tidak masuk di nalar pemikirannya. Dan kini pun dirinya sedang bertanya - tanya pada dirinya sendiri, apa kah ini perbuatan ibu sang kekasih? Kalau Iya apa motifnya? ataukah ada orang lain yang dendam padanya? tapi apa masalahnya sehingga orang itu dendam kepadanya karena sejauh ini dia tidak punya musuh, atau .... ah entahlah dia sendiri pun tak tau jawabannya.
Sementara Arumi hanya bisa menitikan air mata dan menangis dalam diam, dan pertanyaannya pun hampir serupa dengan sang kekasih. Hanya kebisuan dan keheningan yang menemani mereka hingga tiba di rumah sang kekasih.
Dengan senyum terpaksa, "Kamu mau mampir dulu?"
Sambil menggelengkan kepala dan menggemkan tangan kekasih seolah - seolah memberikan kekuatan, "Tidak usah lain kali saja. Kamu yang tenang dan sabar semua akan baik - baik saja dan jika ada apa - apa kamu harus yakin dan percaya aku tidak akan meninggalkanmu sedikit pun tidak akan pernah."
Arumi pun mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu, "Lalu bagaimana dengan Mama kamu? Apa kamu yakin Mama Dinda akan merestui hubungan kita secara kamu tau Mama Dinda tidak pernah menyukai ku, Mama Dinda sangat benci aku dan hingga sampai saat ini aku juga tidak tau apa masalahnya." ucapnya dengan raut wajah yang semakin sedih dan mencoba mengingat kembali sikap dingin Orang tua sang kekasih yang tidak bersahabat bahkan tidak menyukainya sama sekali.
Tommy pun mengecup punggung tangan sang kekasih, "Aku akan berusaha semampu mungkin untuk meyakinkan Mama soal hubungan kita. Jika kamu lah wanita yang layak menjadi istriku dan calon ibu untuk anak - anak kita kelak."
Arumi pun mencoba tersenyum dan memberikan semangat pada dirinya sediri, "Baiklah aku tunggu."
"Terima kasih sayang."
**************
Pagi ini di rumah mewah itu nampak heboh dengan ketidak pulangan sang anak sejak semalam dan ponselnya pun tidak aktif, dengan geram, "Kemana anak ini tidak biasanya dia tidak pulang."
Sang suamipun berusaha menenangkan, "Sabar dan tenang Mah bentar lagi juga pasti Tommy pulang."
Dengan masih geramnya dan meninggikan satu oktaf suaranya hingga menggelegar di seluruh ruangan, "Tenang bagaimana pah anak kita sejak semalam tidak pulang dan ponselnya pun hingga sekarang tidak aktif. Pah kalau anak kita kenapa - napa diluar sana bagaimana? Mama tidak mau kehilangan anak untuk yang kedua kalinya."
Deg....
Deg....
__ADS_1
Deg....
Kini sang Ayah pun ikut kalang kabut seperti sang Istri dan mulai takut dan cemas dengan kata - kata sang Istri jikakalau anak mereka benar - benar terjadi sesuatu. Tapi sebisa mungkin sang Ayah menyembunyikan kecemasannya karena bagaimana pun dirinya seorang kepala rumah tangga, suami dan juga seorang Ayah yang akan selalu memberikan kenyamanan, keamanan kepada keluarganya. Namun, pikiran, hati dan kata - kata biasanya tidaklah sejalan.
Dengan masih cemas, "Ayo lah pah berfikir bagaimana jika...." kata - kata sang Mama terjeda tatkala mendengar bunyi klakson mobil.
Dengan wajah sedikit berbinar, "Nah Pah itu pasti Tommy yang pulang," ucap sang istri tatkala mendengar bunyi klakson dari halaman rumah.
Mereka pun berjalan keluar dan melihat siapa yang datang. Namun wajah mereka sedikit kecewa karena yang datang bukanlah yang di tunggu melainkan Siska.
Siska pun segera turun dari mobil dan berjalan kearah kedua pasangan suami istri itu kemudian menyapanya.
"Pagi Om, Tante," sapa Siska seraya meraih dan mencium punggung tangan kedua pasturi itu.
"Pagi." jawab mereka berdua dengan masih raut wajah yang menyedihkan. Siska yang melihat itu tanpa di tanya pasti sudah tau kalau suasana hati mereka sedang tidak baik - baik saja.
"Om dan Tante ada apa? Kenapa wajah tante seperti sedang tidak baik - baik saja?"
"Oh iya Tante lupa. mari silahkan masuk!"
Ketika mereka mau melangkah masuk, kembali bunyi klakson berbunyi, "Tut ... tut ...." Mereka serempak menoleh kebelakang. Nampaklah dari dalam mobil seorang pria yang sejak semalam mereka tunggu kepulangannya.
Dengan wajah kusut dan layu Tommy pun menjabat tangan kedua orang tuanya, "Pagi Pah, Pagi Mah." ucap Tommy seraya menjabat tangan kedua orang tuanya tanpa melirik dan menggubris keberadaan siska.
Sang Mama pun langsung memeluk sang Anak, "Syukurlah sayang kamu sudah pulang dalam keadaan baik - baik saja tanpa kurang satu apapun." ucap sang Mama seraya melerai pelukannya dari sang Anak.
Dengan wajah bersalah, "Maafkan Tommy Mah, Pah karena sudah membuat kalian khawatir. Tommy janji tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
"Ya sudah mari kita masuk kedalam. Kita cerita nya di dalam saja." ucap sang Papa seraya menepuk pundak sang Anak. Mereka pun melangkah masuk kedalam rumah.
🍓🍓🍓🍓🍓
Di kediaman Dharmawangsan.
Dengan wajah sembab dan muka menunduk dan penampilan sedikit berantakan Arumi pun berjalan masuk kedalam rumah, sang Ibu yang melihat Arumi sudah pulang pun menyambutnya dengan senyum yang merekah dibibirnya, "Aduh ... aduh anak Ibu baru pulang ya....? Bagaimana semalam, menyenangkan? Dan berapa kali mainnya?" tanya sang Ibu tanpa merasa bersalah dan berdosa.
Arumi pun mengangkat wajahnya dan melihat wanita yang telah melahirkannya kini tepat berdiri di hadapannya, dengan deraian air mata pilu, "Ibu kenapa tega melakukan ini pada Arumi? Tommy ada salah apa sama Ibu sehingga tega mengorbankan masa depan Arumi? Jawab Bu jawab?"
Sang Ibu pun mencoba setenang mungkin untuk menjawab pertanyaan sang Anak, dengan wajah tanpa salah dan dosa, "Bukan kah ini langkah awal yang baik untukmu agar kamu selalu bisa bersama Tommy tanpa harus bersusah payah berseteru dengan orang tuanya. Bukan kah kamu yang mengatakan kalau Ibunya tak menyukaimu dan tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua."
Mendengar penuturan sang Ibu yang menurutnya sungguh tidak masuk akal membuat Arumi semakin sakit dan terasa sesak di dada dengan kenyataan yang ada. Kalau ternyata benar adanya dalang di balik semua ini adalah sang Ibu yang sudah mengaturnya.
Dengan deraian air mata, "Tapi, bukan begini bu caranya. Masih banyak cara yang bisa kita lakukan demi mempertahankan hubungan Arumi dan Tommy."
"Memang banyak cara tapi Ibu rasa ini adalah cara yang paling ringkas, padat dan jelas. Coba katakan Ibu mau dengar cara apa yang bisa kamu lakukan untuk mempertahankan hubunganmu dengan Tommy agar orang tuanya mau merestuimu?Ha.... cepat katakan?" bentak sang Ibu.
Mendengar bentakan sang Ibu membuat Arumy kaget dan tak berani menatap wajah sang Ibu dan tak bisa berkata apa - apa lagi. Ini adalah kali pertama untuknya di bentak sang Ibu.
"Kenapa diam? Jawab? Ibu mau dengar alasan mu?"
Namun lagi - lagi Arumi diam seribu bahasa. Bahkan untuk berfikir jernih dan berbicara seakan - akan mulutnya kini terkunci rapat - rapat.
"Kenapa diam? Tidak bisa jawab? Sudahlah Arumi, Ibu tidak mau debat denganmu. Sekarang masuk kamar!" perintah sang Ibu. Kemudian sang Ibu pun meninggalkan Arumi yang masih diam mematung.
...🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓...
__ADS_1
...NO BULLY, TERIMA KASIH...
...🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓...