
Sean tiba-tiba datang mendobrak pintu masuk kamar Valencia, suasana hatinya terlihat tidak baik setelah kembali dari kastil Davey. Melihat Davey terbaring tak berdaya seusai menyerahkan kekuatannya kepada Valencia membuat pikiran Sean tak karuan. Dia tidak bisa berpikir jernih sehingga yang dia rasakan kali ini hanyalah kemarahan menggebu-gebu di dada.
“Valencia!” teriaknya.
Valencia terpaku ketika menemukan Sean dikuasai amarah, gadis itu masih belum tahu penyebab dari kemarahan Sean. Namun, Valencia merasakan bahwasanya kemarahan Sean tertuju padanya sehingga gadis itu tetap diam sampai Sean menyampaikan maksudnya.
“Ayo kita keluar sebentar.” Sean mencekal pergelangan tangan Valencia lalu menarik paksa gadis itu untuk pergi ke luar kamar.
“Tunggu dulu, Sean! Aku sedang makan. Jangan tarik tanganku! Kau bisa berbicara di sini!” bentak Valencia kesal.
“Diam! Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu,” sentak Sean.
Tidak biasanya pria itu memperlakukan Valencia sekasar itu, yang artinya persoalan yang hendak dibicarakan Sean memang teramat penting. Namun, kelima pria yang sedari tadi bersama Valencia salah mengartikan sikap kasar Sean. Reibert dengan sigap melerai tangan Sean dari Valencia, mereka tidak tahan Valencia diperlakukan seenaknya saja.
“Hentikan! Kau tidak bisa menyeret Valencia seperti ini. Apa kau kehilangan akal sehatmu?!” murka Reibert.
Mereka menjauhkan Sean dari Valencia, tatapan mereka tak bersahabat dan penuh kejengkelan. Sean mengacak-acak rambutnya, dia sangat frustrasi karena harus menghadapi para pria itu sebelum akhirnya berbincang serius bersama Valencia.
“Ini bukan urusan kalian!” Sean meninggikan suaranya dengan nada ketus dan memandang tidak suka.
“Tentu saja ini adalah urusan kami. Kau datang dari luar dan langsung menyeret Valencia secara kasar. Kau gila ya?” balas Sammy.
Valencia menghembuskan napas panjang, sungguh merepotkan terlibat di antara persitegangan antar pria.
“Berhentilah kalian! Tidak perlu sampai bertengkar atau saling berseteru begini. Biarkan aku berbicara dengan Sean sebentar. Nanti aku akan kembali lagi selepas pembicaraannya selesai,” ujar Valencia menengahi situasi terkini.
Valencia mendorong punggung Sean untuk segera keluar dari sana, mereka berdua berbicara ujung lorong asrama yang jarang dilewati orang lain.
"Bicara sekarang! Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku yakin ini bukan persoalan sederhana."
Valencia bersikap ketus terhadap Sean, pergelangan tangannya masih merah akibat cengkraman tangan kekar Sean. Pria itu tampak lebih tempramental dari sebelumnya. Namun, Valencia masih berupaya tenang dan tidak mencari alasan untuk berkelahi.
"Dari mana kau mendapatkan tanda ini?" tanya Sean menarik kembali tangan Valencia dan menunjuk ke arah tanda semanggi biru berdaun lima.
"Jadi, ini yang membuatmu marah?" Valencia menggeleng tak percaya. "Aku juga tidak tahu dari mana aku mendapatkannya. Memangnya kau pikir aku bisa mendapatkannya begitu saja ketika aku sedang bertarung melawan makhluk menjijikkan itu?"
Sean terdiam sejenak, cukup masuk akal karena Valencia selalu berada di dalam pengawasannya. Terlebih lagi tanda itu didapatkan ketika Valencia tengah melawan Raja bayangan. Kini perlahan pikiran Sean pun tersapu bersih, dia baru bisa berpikir jernih seusai mendengar jawaban dari Valencia.
"Kau tidak melakukan sesuatu ketika aku sedang lengah kan? Maksudku, kekuatan yg baru muncul di tubuhmu itu, kau dapatkan secara kebetulan, bukan?" Sean mencoba untuk memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Ya, memangnya apa yang aku lakukan? Lagi pula kekuatan aneh ini tidak mungkin aku gunakan. Lebih baik dipendam saja di dalam diriku karena aku sudah punya sihir yang sangat kuat."
"Benar juga." Tubuh Sean mendadak meluruh ke atas lantai. "Kau punya sihir mahadahsyat, tidak masuk akal kau mencuri kekuatan orang lain," ucap Sean.
"Hah? Mencuri kekuatan orang lain? Kekuatan siapa yang aku curi?"
Kedua mata Valencia melotot menatap Sean, pria itu telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia katakan.
"Tidak, maksudku bukan begitu. Jangan salah paham," tutur Sean menenangkan Valencia agar tidak meledak.
"Jangan sembarangan menuduhku! Aku sudah sangat kuat dan tidak butuh bantuan dari kekuatan aneh seperti ini."
Valencia melipat kedua tangan di dada seraya membuang muka. Bibirnya mengerucut jengkel karena Sean menudingnya mencuri kekuatan orang lain.
Sean menepuk keningnya, jika dia salah menjawab sedikit saja mungkin kepalanya langsung melayang di tangan Valencia. Namun, untung saja Valencia tidak begitu mengambil hati apa yang dikatakan Sean.
"Oh iya, aku ingin bertanya padamu. Apa kau dulu pernah bertemu dengan Yang Mulia Davey ketika kau masih menjadi Penyihir Agung?" Tiba-tiba Sean melontarkan sebuah pertanyaan yang membingungkan Valencia.
"Bertemu Davey? Aku rasa tidak pernah. Aku baru pertama kali bertemu dengannya setelah aku mati."
Melihat respon Valencia, Sean menghelakan napas berat, gadis itu tidak tahu apa-apa soal Davey. Percuma saja dia bertanya padanya sebab Valencia jarang memperhatikan orang sekitarnya. Akan tetapi, tampaknya Valencia memang belum pernah betemu Davey.
Sontak Sean menatap serius Valencia yang sedang berpikir keras perihal di mana dirinya pernah bertemu dengan Davey.
"Itu artinya kau pernah bertemu beliau! Coba pikir-pikir lagi di mana kau bertemu dengan beliau."
Sean mengguncang-guncang pundak Valencia, dia mendesak Valencia untuk mengingat pertemuannya dengan Davey.
"Hentikan! Kepalaku pusing karena kau mengguncang tubuhku," teriak Valencia kesal. "Aku tidak bisa mengingatnya, hanya wajahnya saja yang familiar. Mungkin aku memang tidak pernah bertemu dengan Davey dahulu."
Sean mengguratkan raut kecewa, kemarahannya telah meredam sekarang.
"Atau mungkinkah aku bertemu Davey di kehidupan pertama?" terka Valencia tiba-tiba.
"Kau ingat kehidupan pertamamu?" Sean menatap Valencia penuh harap.
Valencia tercengang. "Hahaha, mustahil aku punya kehidupan pertama. Kau jangan membuatku tertawa."
Valencia terkekeh, Sean salah menaruh harap pada gadis itu. Kini Sean harus mencari tahu semuanya sendiri. Dia memutuskan untuk pergi ke belahan dunia yang mungkin mengetahui kisah kehidupan pertama Valencia dan Davey.
__ADS_1
"Kau mau ke mana?" tanya Valencia saat melihat Sean beranjak pergi dari hadapannya.
"Ada tempat yang ingin aku kunjungi. Nanti aku akan menemuimu lagi dan juga maafkan aku telah bersikap kasar padamu."
Sean langsung menghilang dari jarak pandang mata Valencia. Gadis itu kembali terpaku, ini pertama kalinya Sean mengucapkan kata maaf setelah berbuat salah padanya.
"Rupanya dia punya sedikit rasa manusiawi, aku pikir dia akan terus berlaku kurang ajar dan tidak pernah meminta maaf padaku," gumam Valencia.
Kemudian Valencia melangkah pergi ke kamarnya. Dia berencana untuk melanjutkan menyantap makanan yang dihidangkan oleh Leano. Untung saja mereka melupakan pertanyaan dan kecurigaan yang terakhir kali mereka lontarkan terhadap Valencia. Dengan begini Valencia tidak perlu berbohong untuk mengelabui mereka.
Akademi hari ini cukup ribut dikarenakan sebagian bangunan asrama hancur lebur akibat pertarungan semalam. Dikarenakan tidak ada orang yang mengingat masalah tersebut, jadi mereka membuat asumsi bermacam-macam. Akan tetapi, Reibert selaku Komandan kesatria, dia mencoba menjelaskan kepada semua orang bahwa ada kejadian tak terduga ketika semua orang tengah tertidur.
Tidak hanya akademi, bahkan setiap sudut kekaisaran didera kehancuran. Kaisar, Permaisuri, dan Henzo pun tak kalah bingung sehingga Reibert mau tidak mau mesti menjelaskan kejadian sejujurnya kepada mereka. Namun, Reibert tidak memberi tahu mereka mengenai sihir yang kini mereka miliki.
Segalanya berjalan sesuai kehendak, tak ada kecurigaan khusus dari orang-orang. Walaupun masih ada sebagian yang mempertanyakan ulang semuanya.
"Hei, mau sampai kapan kalian akan mengawalku? Seharusnya kalian pergi saja! Aku sudah bilang kalau aku tidak apa-apa!"
Valencia saat ini sedang muak, kelima pria yang sebelumnya telah membantunya malah mengikuti ke mana pun dia pergi. Sekarang Valencia menjadi pusat utama di akademi. Para gadis tiada henti memperhatikan mereka.
"Kami hanya khawatir kau dikejar lagi oleh kesatria pengadilan. Bukankah masalah pengadilan itu masih belum selesai sampai sekarang?" jawab Sammy.
Valencia menjeda langkah sembari memutar tubuh ke belakang menghadap mereka satu persatu.
"Aku bisa mengatasi mereka. Aku tidak butuh bantuan kalian. Lebih baik kalian pergi sekarang, aku tidak tahan melihat mata gadis-gadis yang memperhatikan kalian sepanjang jalan," jengkel Valencia.
"Apa kau sedang cemburu?" tanya Leano semakin membuat Valencia jengkel.
"Cemburu? Untuk apa? Aku risih! Aku sangat risih! Cepat kalian pergi dari sini. Aku mau menemui Devina dan Rachel. Jangan membuatku tamba kesal!"
Valencia mendorong tubuh mereka menjauh darinya, dia ingin berjalan sendirian tanpa harus ada yang mengawasi.
"Baiklah, kami akan pergi sekarang. Kau tidak perlu mendorong sampai sebegitunya," ucap Frintz.
"Bagus!" Valencia menghentikan pergerakannya. "Pergilah sekarang, aku ingin bersenang-senang tanpa kalian. Wajah tampan kalian sungguh mengganggu," kata Valencia tersenyum polos.
"Kau mengakui kami tampan?"
"Iya iya, kalian sangat tampan. Kalian lelaki paling tampan di dunia."
__ADS_1