Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Tanggung Jawab


__ADS_3

Rachel menerima uluran tangan Valencia, dia lekas bangkit setelah menerima dorongan kuat dari Airin. Terlihat jelas kala itu Airin gemetar mendapati Valencia berada di hadapannya, ia tahu betul apa saja yang dilakukan Valencia semenjak baru masuk ke akademi. Betapa gilanya gadis itu dan betapa temperamentalnya ia, Airin tahu semuanya. Maka dari itu, Airin memilih untuk mundur saja bila lawannya ialah Valencia.


“Namamu Rachel, kan? Kenapa tidak kau tampar dan jambak saja rambut wanita itu? Kau bebas melakukan apa pun selagi tidak membunuhnya. Jangan lupa pukul juga tunanganmu agar dia sadar terhadap apa yang telah dia lakukan,” ujar Valencia mengompor-ngompori Rachel.


Rachel tersenyum, kali ini dia memang harus mengikuti apa yang dikatakan Valencia, kini Rachel mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Seseorang datang membelanya atas perselingkuhan yang dilakukan pertunangannya dan itu artinya setidaknya dia sekarang tidak sendirian.


“Airin, aku adalah wanita yang punya banyak kekurangan dan pria ini adalah bajing*n yang begitu mengakui dirimu. Jadi, kau ambil saja dia, aku tidak butuh lagi pria ini.”


PLAK!


Rachel mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Airin, aksinya menuai sejumlah reaksi yang tidak biasa dari para penonton. Kemudian Rachel juga melakukan hal yang sama pada Isael, perasaannya jauh lebih lega selepas menampar mereka berdua.


“Aku akan segera mengurus pembatalan pertunangan kita, daripada diduakan lebih baik aku jadi wanita single seumur hidup. Lagi pula harta Ayahku bisa menghidupiku sendirian tanpa harus punya seorang suami,” tutur Rachel terlihat jauh lebih tenang dalam menanggapi Isael.


Isael pun tercengang, jika Ibunya tahu mengenai pembatalan pertunangan ini, maka dia akan diamuk oleh sang Ibu. Rachel merupakan gadis pilihan Ibunya, dia sangat menyukai Rachel, bahkan seringkali Rachel dipanggil ke kediamannya untuk melakukan hal yang ia sukai bersama.


“Kau tidak bisa membatalkan pertunangan ini begitu saja, Rachel! Tidak bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi?” seru Isael.


Rachel menyeringai. “Kesempatan? Tidak ada lagi. Nikmati saja hidupmu dengan gadis itu.”


Rachel berlalu pergi meninggalkan Isael dan Airin, dia berhasil lepas dari hubungan yang hanya mendatangkan rasa sakit hati pada dirinya. Valencia tersenyum puas, inilah yang mesti dilakukan para wanita ketika diselingkuhi.


“Hei, Isael!” teriak Valencia. “Ganti lagi makananku! Kau sudah merusak suasana hatiku dan menghancurkan makanan yang belum aku sentuh sama sekali.”


Isael mengerutkan keningnya, tidak bisa dimengerti isi hati wanita yang sesungguhnya. Sekarang Isael tidak punya pilihan selain menuruti apa keinginan Rachel.


‘Ini semua karena wanita itu terlalu ikut campur urusanku, Rachel jadi marah dan mengancam akan membatalkan pertunangan. Aku harus cari cara agar masalah ini tidak sampai ke telinga Ibuku,’ batin Isael menggerutu.


Valencia berencana untuk meneruskan kembali menyantap makanannya, Devina sedari tadi hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan Valencia sembari bersiap untuk melayangkan serangan balik apabila Isael membuat Valencia terusik lagi. Akan tetapi, tatkala Valencia hendak menyuap makanannya, pembesar suara dari ruang Kepala Akademi bergaung di penjuru akademi.


“Kepada Valencia Allerick, diharapkan datang ke ruang Kepala Akademi sekarang juga. Sekali lagi kepada Valencia Allerick diharapkan datang ke ruang Kepala Akademi.”


Valencia berdecak sebal sambil memukul permukaan meja, kesabarannya benar-benar diuji kala itu. Alhasil, mau tidak mau Valencia harus segera berangkat ke ruang Kepala Akademi, firasatnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu terjadi di sana nanti. Kemungkinan Kepala Akademi akan membahas masalah yang diciptakan oleh Valencia sejak pertama kali masuk akademi.


“Sialan! Mereka tidak ada hentinya mengganggu waktu santaiku.” Valencia menggerutu sepanjang perjalanan menuju ke ruang Kepala Akademi.


Setibanya di sana, kedatangan Valencia disambut oleh beberapa orang bangsawan yang merupakan orang tua dari anak-anak yang dilukai Valencia. Mereka mengajukan protes seusai mendapati kabar mengenai anak mereka yang dilukai Valencia.


“Oh, jadi yang memanggilku kemari bukan Kepala Akademi melainkan orang tua dari anak-anak yang tidak tahu diri itu? Ck, aku pikir mereka tidak akan mengadu,” ujar Valencia berdecak sebal.


“Valencia Allerick, sebaiknya kau jaga sopan santunmu di ruangan ini.” Joseth yang merupakan Kepala Akademi langsung menegur Valencia.

__ADS_1


Valencia memutar bola mata malas, Joseth sebagai Kepala Akademi memang lebih mementingkan bangsawan yang memberi pengaruh khusus, terutama bangsawan yang menyumbangkan uang dalam jumlah besar. Ya, dia memang terkenal mata duitan sehingga apa pun kekacauan yang terjadi di akademi ini, selagi tidak mengganggu uang masuknya, maka ia tidak akan mempermasalahkannya.


Si pemilik tubuh merupakan salah satu korban dari keserakahan Joseth. Bahkan sampai sekarang pun dia masih berupaya menyudutkan Valencia demi menjaga uang sumbangan untuk tetap masuk. Ditambah lagi Valencia tidak berada di bawah lindungan nama Grand Duke Allerick sehingga membuatnya semakin berani bersikap semena-mena.


"Lalu ada apa memanggilku kemari? Jangan buang-buang waktuku untuk hal yang tidak berguna."


Valencia mendudukkan diri di atas sofa kosong sembari menyilangkan kedua kakinya lalu seenaknya mencomot cemilan yang terhidang di atas meja.


"Saya pikir Anda sangat tidak sopan, Nona. Pantas saja Anda bisa melukai putri saya, ternyata memang sifat Anda yang liar," ucap Marquess Ashly — Ayah dari Sabrina.


"Kami kemari ingin meminta tanggung jawab Anda karena sudah melukai putri kami. Seharusnya Anda sudah tahu itu, bukan? Bertanggung jawab atas segala bentuk keributan yang Anda perbuat di asrama ini. Saya harap Anda paham itu," imbuh Duke Bosen — Ayah Jania.


"Benar itu, putri saya sekarang sedang terbaring di rumah sakit akibat luka yang dia terima."


"Anda harus bertanggung jawab, Nona, putri saya sampai tidak bisa jalan akibat ulah Anda."


Mereka satu persatu menimpali perkataan Marquess Ashly dan Duke Noslen. Namun, Valencia menanggapinya dengan raut muka santai. Tidak ada kecemasan yang tergurat dan tidak ada rasa bersalah yang terlintas dari hatinya. Hanya ada rasa jengkel mengingat apa yang telah dilakukan putri mereka kepada dirinya.


"Berapa uang yang kalian butuhkan? Aku hanya perlu membayar biaya pengobatannya, bukan? Berapa pun tidak masalah, tolong sebutkan saja nominalnya."


Perkataan Valencia kali ini menyulut kemarahan semua orang. Mereka tidak membutuhkan uang melainkan tanggung jawab, tapi Valencia malah menganggap sebuah tanggung jawab berupa pemberian uang terhadap korban.


"Anda keterlaluan, Nona! Kami kemari tidak untuk mendapatkan uang dari Anda. Justru kami kemari ingin Anda bertanggung jawab!"


Valencia menghela napas panjang, manusia-manusia ini punya banyak mau. Seketika suasana hati Valencia kian memburuk, gadis itu hanya menginginkan ketenangan saja. Namun, sedetik pun ketenangan tidak bisa dia dapatkan di akademi ini.


"Lalu bagaimana caraku bertanggung jawab? Bukankah biasanya sebuah tanggung jawab juga bisa dibeli menggunakan uang?"


"Anda ini sungguh tidak diajarkan soal cara bertanggung jawab ya, Nona! Anda nyaris membuat nyawa putri saya melayang dan Anda masih menyebut soal uang?! Anda pikir saya kekurangan uang sampai harus mengemis meminta uang pertanggungjawaban kepada Anda?!" bentak Marquess Ashly naik pitam.


"Marquess Ashly, seharusnya kau ajarkan juga putrimu cara agar dia berhenti mengusik hidup orang lain."


Ekspresi Valencia berubah serius, kali ini tidak akan ada jalan keluar bagi mereka yang telah menaruh api padanya.


"Memangnya apa yang dilakukan putri saya kepada Anda?! Putri saya tidak mung—"


"Tidak hanya putrimu saja tapi putri kalian semua, mereka telah merundungku selama berada di akademi, jadi bagaimana aku meminta tanggung jawab atas semua yang dilakukan mereka?" potong Valencia.


"Tidak mungkin juga putri kami merundung Anda, tapi jika itu memang terjadi, tidak sepantasnya Anda membalasnya dengan melukai putri kami," balas Duke Noslen diangguki yang lain.


"Lalu bagaimana cara aku membalas mereka? Katakan padaku, wahai bangsawan terhina."

__ADS_1


Mereka tersentak sesaat Valencia menatap mereka dengan pandangan mematikan dan penuh aura permusuhan. Seketika mereka kehilangan fokus untuk menjawab perkataan Valencia.


"Merundung apanya? Itu hanyalah candaan anak-anak saja. Tidak ada perundungan di akademi ini. Nona Valencia Allerick hanya terlalu menanggapi serius semua itu. Bukankah begitu?"


Joseth tiba-tiba masuk ke pembicaraan mereka, dia mencoba menekan Valencia seperti apa yang dia lakukan dahulu. Akan tetapi, Joseth salah menyalakan sumbu permusuhan di antara mereka. Valencia yang saat ini bukanlah Valencia yang sebenarnya. Mungkin sebentar lagi dia akan menemukan ajalnya jika salah mengambil sikap.


"Ah iya, itu benar. Hanyalah sekedar gurauan anak-anak saja dan tidak bisa ditanggapi secara serius."


"Bagaimana tanggapan Anda, Nona? Putri kami terbukti tidak bersalah."


Valencia terkekeh, suara tawanya terdengar mengerikan.


"Baiklah, aku juga akan berpikir seperti itu. Apa yang aku lakukan kepada putri kalian hanyalah sekedar permainan anak-anak. Jadi, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Kalian juga tidak butuh uang, kan?"


Mereka naik darah atas kata-kata balasan Valencia. Mereka menganggap Valencia terlalu menyepelekan nyawa orang lain.


"Tidak bisa begitu, putri kami hampir kehilangan nyawa dan Anda tidak bisa menganggapnya sama dengan permainan anak-anak," protes mereka bersama-sama.


"Aku dulu juga hampir kehilangan nyawa karena putri kalian merundungku, jadi impas kan? Tidak ada yang perlu dibahas lagi," ucap Valencia.


"Anda benar-benar—"


Perdebatan mereka berhenti sejenak ketika seseorang yang begitu familiar masuk ke ruangan. Sontak mereka menunjukkan ekspresi yang tidak biasa.


"Tuan Arian, apa yang membawa Anda kemari?" Joseth langsung berdiri menyambut kedatangan pria bernama Arian tersebut.


Arian si pria berwajah dingin, begitulah kesan pertama Valencia melihatnya. Tetapi, Valencia masih belum tahu siapa identitas Arian sebenarnya.


"Sebagai sekretaris pribadi Archduke Calestine, saya membawa sebuah pesan dari beliau."


Ah, ternyata Arian merupakan sekretaris pribadi Henzo. Kantong matanya yang tebal dan mimik wajahnya menunjukkan bahwa dia tertekan bekerja di bawah Henzo.


"Pesan dari Archduke? Pesan apa yang ingin beliau sampaikan?"


Arian mengeluarkan sebuah kertas, dia membuka gulungan kertas tersebut dan bersiap membacakan isinya.


"Halo manusia rendahan, aku menulis ini agar kalian sadar. Putri kalian telah merundung Valencia, sebaiknya kalian sekarang pulang dan jangan mengganggu Valencia lagi. Apabila kalian masih mengusiknya, maka jangan salahkan aku bila tulang kalian patah, bola mata kalian hilang, dan urat leher kalian putus. Aku akan membunuh kalian semua, termasuk Kepala Akademi si anj*ng serakah."


Arian menyimpan kembali gulungan kertasnya. Pesan dari Henzo membuat bulu kuduk semua orang merinding. Tidak disangka dia mengirim sekretaris pribadinya hanya untuk membela Valencia sampai sebegitunya.


"Sekian pesan dari Archduke Calestine, saya harap Anda semua tidak membuat kecerobohan dengan mengusik Nona Valencia. Perlu kalian ketahui, Nona Valencia sangat dilindungi oleh Archduke Calestine.

__ADS_1


Lalu beliau juga mengatakan bahwa beliau memiliki bukti kuat terhadap perundingan yang dilakukan putri Anda sekalian terhadap Nona Valencia. Archduke akan langsung memprosesnya jika kalian menolak untuk berdamai," tutur Arian panjang lebar.


__ADS_2