Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Eksekusi


__ADS_3

Tryton terpaku, Klarybell tidak sedang berbohong soal masalah tersebut. Kematian orang tua Tryton jelas bukan bagian dari kesalahannya.


"Kau tidak membunuh orang tuaku? Aku tidak paham mengenai manipulasi ingatan yang dilakukan Yuine. Kalau begitu, tolong katakan yang sebenarnya. Kenapa orang tuaku bisa meninggal?"


Tampaknya hati Tryton kini sedang berusaha untuk menerima kenyataan yang sesungguhnya. Dia tidak lagi marah atau pun menyiratkan rasa dendam terhadap Klarybell.


"Baiklah, aku akan perlihatkan padamu ingatan tentang kematian orang tuamu."


Klarybell menyentuh kening Tryton. Sekelebat gambaran memori kematian kedua orang tuanya melintas di kepala Tryton.


"Saya mohon, tolong bunuh saya, Yang Mulia."


"Kami berdua tidak mungkin lagi berada di sisi putra kami. Rasanya sangat menyakitkan, saya mohon."


Di sana Tryton melihat jelas kedua orang tuanya yang kesakitan menahan sihir hitam yang memelintir tubuh mereka. Klarybell berada di depan mata mereka. Sedangkan Tryton kecil tengah tidak sadar di tempat tidak jauh dari keberadaan mereka.


"Yang Mulia, kami tahu bahwa tidak ada cara melepaskan belenggu sihir hitam ini. Walau begitu, saya bahagia bisa hidup sebagai rakyat Anda."


"Maka dari itu, hanya membunuh kami jalan satu-satunya agar sihir ini terlepas. Kami berdua memohon kepada Anda dengan segenap jiwa dan raga. Kami titip putra kami kepada Anda. Tolong besarkan dia sebagai penyihir yang hebat."


Tanpa tersadar, bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk mata Tryton. Klarybell tidak ingin membunuh mereka. Hanya saja keadaan memaksanya untuk membunuh kedua orang tuanya.


Perasaan Tryton kini tak tentu arah. Dia telah salah paham dan salah menaruh dendam. Klarybell adalah penyelamat hidupnya. Gadis itu tidak membunuh siapa pun. Dia hanya mengabulkan permintaan orang tuanya.


"Kau paham sekarang? Aku tidak membunuh orang tuamu. Hanya saja waktu itu adalah masa di mana aku tidak bisa mengatasi ledakan sihir hitam. Tidak hanya orang tuamu, bahkan orang tua Cetrion dan Arc juga begitu," tutur Klarybell.


"Jadi, ingatanku tentang kau yang membunuh orang tuaku itu adalah hasil manipulasi Yuine?"


Klarybell mengangguk pelan. "Ya, dia memanipulasi ingatanmu. Maafkan aku, Tryton, seharusnya sejak awal aku menjelaskan kepadamu perihal kematian orang tuamu. Maafkan aku, sungguh ... aku menyesal karena tidak mampu menuntunmu."


Tryton menangis sejadi-jadinya. Dia melakukan kesalahan besar dan melibatkan Klarybell ke jurang kematian. Padahal dia dahulu begitu mencintai gadis yang berada di depan matanya kini. Namun, dia dibutakan oleh Yuine yang memanipulasi ingatannya.


"Maaf, Bell ... aku minta maaf karena telah membuatmu menderita. Maafkan aku sudah menghancurkan benua Mihovil. Maaf, Bell ... maaf ...."

__ADS_1


Klarybell mendekap tubuh Tryton. Dia tidak marah sama sekali. Namun, ia tetap kecewa terhadap apa yang menimpa Tryton. Sekarang Klarybell harus memutar otak bagaimana menyelesaikan ini semua dengan cepat.


Selepas menemui Tryton, Klarybell pun pergi ke ruang pertemuan para penyihir. Tidak lupa ia menceritakan semuanya kepada mereka tentang apa yang dialami Tryton. Dari sinilah kegaduhan pun terjadi.


"Yang Mulia, apa pun alasannya, Tryton harus bertanggung jawab penuh terhadap kehancuran Mihovil."


"Kami tidak setuju bila Anda memaafkannya. Bayangkan, ada berapa banyak nyawa yang melayang karena ulahnya, berapa banyak keluarga yang hancur, dan berapa banyak penderitaan yang ia torehkan."


"Kami ingin Tryton dihukum mati! Bagaimana pun dia telah bersekongkol dengan Yuine."


Klarybel menghela napas panjang. Tidak bisa dihindari dan dielakkan karena perbuatan Tryton telah merugikan jutaan nyawa manusia selama lebih delapan ratus tahun ini. Maka dari itu, hukum mati ialah bentuk dari pembalasan dari nyawa yang telah hilang sekaligus penderitaan yang tiada ujung.


"Baiklah, mari kita lakukan itu. Hukuman mati untuk Tryton," ucap Klarybell memberi keputusan akhir.


Sebenarnya Klarybell berat hati memutuskan hukuman mati untuk Tryton. Namun, mau tidak mau dia harus melakukannya.


Semenjak putusan eksekusi tersebut, Klarybell jadi sering bersikap murung di kamarnya. Perasaannya sangat mengganjal, hatinya penuh kebingungan. Apa daya, tidak ada hal yang bisa dia lakukan untuk meringankan hukuman Tryton.


"Tryton, kami ingin berbicara."


Tryton mengangkat wajahnya. Tiada lagi rasa ingin hidup tersisa di binar matanya.


"Apa kalian kemari ingin mengatakan bahwa aku akan dieksekusi?" terka Tryton tepat sasaran.


"Rupanya kau sudah tahu," kata Cetrion.


"Tentu saja. Sudah jelas kesalahanku tidak termaafkan. Lagi pula aku juga tidak mau lagi hidup di dunia ini. Lebih baik aku mati dieksekusi. Setidaknya dengan begini beban Klarybell akan sedikit diringankan."


Tryton tersenyum penuh kepedihan.


"Lalu apakah kalian tahu? Sejujurnya, aku sangat mencintai Klarybell. Aku melihatnya bukan sebagai rekan, tetapi sebagai lawan jenis. Menjadi miliknya adalah salah satu keinginanku. Namun, tampaknya semua itu berakhir di sini," lanjut Tryton mengungkapkan perasaannya.


Pengakuan yang cukup mengejutkan bagi Arc dan Cetrion. Mereka tanpa sadar sama-sama memiliki perasaan terhadap satu gadis.

__ADS_1


"Kau mencintainya?"


Tryton mengangguk pelan. "Kalian berdua juga kan? Kalian melihat Klarybell sebagai seorang gadis. Aku tahu itu, kita menyukai gadis yang sama. Sekarang malah bertambah lagi tujuh orang pria di sisinya."


"Oleh sebab itu, bisakah kalian menyampaikan perkataanku kepada Bell? Katakan padanya untuk menerima putusan eksekusiku. Aku tidak keberatan untuk dieksekusi dan aku ingin menebus segala kesalahanku terhadap rakyat Mihovil," pungkas Tryton.


Pembicaraan mereka berakhir sampai di sana saja. Sesuai keinginan Tryton, mereka berdua langsung menyampaikan pesan Tryton kepada Klarybell. Syukurnya, Klarybell dapat menerima pesannya dengan baik.


Tibalah di hari eksekusi, ramai orang yang menyaksikan jalannya eksekusi Tryton. Di benua Mihovil, cara eksekusi matinya sedikit berbeda. Di sini para penyihir menggunakan sihir untuk melenyapkan tubuh target eksekusi.


"Yang Mulia, sebelum eksekusi dilakukan, Tryton ingin bertemu dengan Anda," ujar seorang bawahan Klarybell.


"Baiklah, aku akan segera menemuinya."


Klarybell pergi ke belakang panggung eksekusi. Di sana ada Tryton terikat borgol sihir. Raut muka Tryton penuh ketenangan, ia tak terlihat cemas maupun takut.


"Tryton, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Klarybell.


Tryton tiba-tiba memeluk Klarybell. "Aku hanya ingin mengatakan, dari lebih delapan ratus tahun lalu sampai detik ini, kau masih menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai. Maka Bell, aku berharap kau bisa hidup bahagia."


"Aku beruntung dipertemukan wanita sepertimu. Kau membuatku tergila-gila setiap detiknya dan kau membuatku lupa akan dunia. Bell, jangan lupakan keberadaanku. Dan terima kasih karena telah memberiku hidup yang lebih baik," tutur Tryton.


Bersamaan saat itu, lonceng eksekusi berbunyi. Klarybell tidak sempat merespon pernyataan cinta Tryton. Sekarang dia hanya diam memahami lebih dalam perihal perkataan laki-laki itu.


"Bell, ternyata kau di sini. Ayo cepat, eksekusinya akan segera dilaksanakan," kata Reibert menarik pergelangan tangan Klarybell.


"Bersabarlah. Eksekusinya masih beberapa detik lagi."


Di depan panggung eksekusi, seluruh orang menyoraki Tryton. Teriakan mereka penuh kemarahan serta dendam mendalam.


Menjelang sihir selesai dirapalkan, sepintas Klarybell menyaksikan senyum terakhir milik Tryton. Senyuman itu mempunyai makna mendalam. Sampailah ketika Tryton lenyap bersamaan ledakan sihir, satu tetes air mata turun dari sudut mata Klarybell.


'Tryton, terima kasih karena telah mencintaiku.'

__ADS_1


__ADS_2