Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Valencia Mencuri Buah Mangga


__ADS_3

Seuntai tanaman rambat tiba-tiba menyambar kakinya dari dalam air. Tubuh Valencia ditarik paksa hingga dirinya tercebur lalu tenggelam ke dasar telaga. Tubuhnya semakin ditarik terlalu dalam oleh tanaman tersebut. Valencia menenangkan diri sebelum akhirnya bertindak.


'Rupanya yang menarikku adalah monster rambat.'


Ya, yang menarik tubuh Valencia ke dasar telaga ialah monster rambat yang telah hidup di telaga ini selama bertahun-tahun. Biasanya mereka menyerang manusia, hanya saja karena tidak ada manusia yang berkunjung ke telaga ini, jadi dia tak punya kesempatan untuk menyerang manusia. Hingga hari ini Valencia pun datang, dia menganggap Valencia sebagai santapan makanan utama.


Lekas Valencia mengambil tindakan sebelum ia tenggelam lebih jauh lagi. Tepat sebelum tubuhnya seutuhnya dibalut rambat tersebut, Valencia menggencarkan serangan brutal. Dia memakai sihir yang menyebabkan kekacauan di telaga tersebut.


Valencia bertarung di dalam air, butuh satu serangan dahsyat yang membuat monster rambat itu hancur berkeping-keping. Permukaan air telaga bergelombang akibat serangan Valencia. Gadis itu seketika menumpahkan air telaga peri ke daratan dan membasahi sebagian tanaman yang tumbuh berdekatan dengan telaga.


Valencia bergegas kembali ke atas permukaan air, kini telaga tersebut sudah bersih dari monster rambat dan tidak akan ada manusia yang menjadi korbannya.


"Benar-benar hari yang sial! Untung saja aku bisa mengatasi mereka tanpa terkendala," gumam Valencia mengeringkan pakaiannya.


Valencia melanjutkan rencana sebelumnya yaitu memetik bunga yang tadi dia lihat yaitu bunga sara. Bunga yang hanya tumbuh dua puluh batang di dunia setiap sepuluh tahun. Beruntung dia bisa menemukan bunga tersebut dengan cepat.


"Syukurlah sebelumnya aku mencari tahu dulu keberadaan bunga sara, jadi sekarang aku bisa memetiknya untuk dijadikan krim oles penyembuh luka di wajah Xeros."


Valencia juga mengambil sedikit air telaga peri untuk dibawa pulang sebagai campuran krimnya. Kemudian gadis tersebut langsung meninggalkan telaga seusai mendapati semua yang ia butuhkan.


"Aroma manis apa ini? Arahnya dari sebelah sana."


Valencia membelokkan langkahnya ke arah lain selepas mengendus aroma manis di tengah pegunungan itu. Valencia menyusuri jalan setapak yang dipenuhi bunga di setiap bahu jalan.


"Jika aku melihat lebih dekat, tampaknya sepanjang jalan ini diisi oleh bunga yang dirawat dengan baik. Apa jangan-jangan ada orang yang merawat bunga-bunga ini?" pikir Valencia bergumam sendirian.


Setibanya di jalan yang mengarah pada sungai, Valencia pun menemukan dari mana aroma manis berasal. Aroma itu bersumber dari sebatang pohon mangga berbuah lebat. Valencia meneguk air liur seketika menyaksikan buah mangga bertumpukan di atas pohon.


"Aku tidak bisa lagi menahannya, aku akan memanjat sekarang."


Valencia memanjat ke atas pohon mangga tersebut, perutnya yang baru terisi penuh kembali lapar sesudah mencium aroma mangga.


Valencia memakan dengan lahap satu persatu buah mangga itu. Tanpa sadar, dia ternyata telah menghabiskan separuh dari buah mangganya. Hingga kala itu, datanglah seorang pria dari arah berlawanan membawa ekspresi sumringah.


"Hari ini aku akan memanen buah mangga yang aku tanam enam bulan lalu. Aku tidak sabar menikmati mangga manis yang dulu bibitnya aku bawa dari Kerajaan Karely."


Begitulah yang dia katakan, pria itu amat antusias ingin memetik buah mangga yang dia tanam dan rawat sepenuh hati. Sampai ketika ia menyaksikan pemandangan yang menyulut kemarahannya.


"Apa-apaan ini?" Pria bersurai hitam dan bermata perak itu terpaku melihat banyaknya kulit mangga berserakan di atas tanah. Dia pun mendongakkan kepalanya ke atas pohon dan mendapati Valencia tengah bersantai di sana.


"Hei, kau! Apa kau yang mencuri buah manggaku?" teriaknya berselimut emosi.


Sontak Valencia melihat ke bawah. "Mencuri? Bukankah buah mangga ini tidak ada yang punya?"


"Sembarangan! Pohon mangga ini aku yang tanam sendiri! Butuh waktu enam bulan sampai pohon ini berbuah!"

__ADS_1


Valencia melompat ke bawah, dia masih tidak merasa bersalah karena mencuri milik orang lain.


"Enam bulan? Kau butuh waktu enam bulan untuk menanamnya? Bukankah pohon mangga biasa baru bisa berbuah empat sampai lima tahun?"


"Itulah kenapa kau marah padamu! Pohon mangga ini sangat unik, aku susah payah membawanya dari Kerajaan Karely. Tetapi, kau malah memakannya tanpa seizinku."


Valencia mengamati pohon mangga tersebut, dia membiarkan pria itu mengoceh sesuka hatinya.


'Aku pikir tadi aku salah, tapi ternyata benar kalau bibit mangga ini berasal dari Mihovil. Bibit mangga yang ditaburi sihir bisa tumbuh lebih cepat dari mangga pada umumnya.'


Lalu tiba-tiba saja pria itu menepuk punggung Valencia.


"Apa kau tidak mendengarku?! Kau bahkan tidak meminta maaf padaku!"


Valencia melirik tajam ke muka pria itu, dia tinggi dan mempunyai badan yang kekar. Tangannya dipenuhi bekas luka, itu menunjukkan bahwa pria itu adalah pria yang sangat kuat.


"Aku tidak tahu mangga ini punyamu, lagi pula kenapa kau menanamnya di sini?! Siapa pun akan mengira kalau pohon mangga ini tumbuh dengan sendirinya tanpa punya pemilik," balas Valencia tidak mau kalah.


"Tidak bisakah kau melihat papan di sebelah pohon itu?" tunjuk pria itu ke samping pohon mangga. "Aku sudah pasang tanda kepemilikan! Tetapi, kenapa kau tidak sadar? Matamu buta?!"


Sepasang netra Valencia membulat sempurna, dia tidak melihat tanda kepemilikannya dan baru menyadarinya sekarang.


"Tapi tetap saja ini salah kau! Siapa suruh tanam pohon mangga di pegunungan? Seharusnya kau tanam di tanahmu sendiri." Valencia masih tidak mau mengakui kesalahannya.


"Aku sudah membeli setengah tanah dari tempat ini! Lihat! Ada banyak hamparan bunga yang tumbuh subur dan terawat di sekitar tempat ini. Bunga-bunga itu aku yang tanam! Jangan berkilah lagi."


Pria itu segera membuka tasnya, dia membawa ke mana pun surat bukti pembelian tanah.


"Ini! Ini buktinya! Aku sudah membeli tanah ini sejak dua tahun yang lalu."


Lagi-lagi Valencia tercengang, ternyata pria tersebut tidaklah berbohong.


"Pantas saja ada kebun bunga di pegunungan yang jarang dikunjungi manusia," gumam Valencia. "Meski begitu, ini tetap salahmu! Aku tidak tahu kalau pohon mangga ini punyamu."


Pria itu mulai geram dengan tingkah Valencia yang dinilai kekanak-kanakan. Sepasang tangan kekar miliknya tiba-tiba menyentuh pundak Valencia.


"Dasar kau gadis sialan! Aku sudah menunggu sejak lama ingin menikmati buah mangga yang super manis ini, tapi kau malah menghancurkan impianku! Kau harus bertanggung jawab!"


Pria itu mengguncang-guncang tubuh Valencia sampai membuat si gadis pusing. Dia melakukannya supaya Valencia sadar terhadap apa yang dia lakukan.


"Bertanggung jawab apanya? Kan masih banyak buah mangga yang tertinggal di atas pohon. Aku hanya memakan setengahnya. Ikhlaskan saja untukku buah manggamu itu. Pohonnya akan kembali berbuah setelah enam bulan," tutur Valencia.


"Apa itu yang kau maksud setengah?" Pria itu menunjuk lagi ke atas pohon mangganya. Hanya tersisa beberapa buah lagi yang bergelantungan di ranting.


"Memang setengah, setengah lebih sedikit."

__ADS_1


Pria itu membuang napas kasar, dia bingung harus bagaimana lagi cara menghadapi Valencia.


"Terima ini, anggap saja aku membeli buah manggamu." Valencia menyerahkan satu kantong koin emas untuk mengganti rugi buah mangga yang ia makan.


"Aku tidak butuh uang!" ketus pria itu.


"Lalu apa yang kau butuhkan? Apa mungkin kau butuh ciuman dariku?" canda Valencia.


Pria itu memutar bola mata malas, dia memandang jijik Valencia.


"Ciuman? Kau gila ya? Kenapa aku butuh ciuman dari bocah kecil berusia sepuluh tahun?" jawabnya seraya tersenyum miring.


Valencia merasa tertohok karena dikatakan sebagai bocah kecil berusia sepuluh tahun. Raut mukanya seketika berubah masam.


"Jangan sebut aku bocah kecil! Aku sudah berumur lima belas tahun. Sangat menjengkelkan!"


Valencia mengomeli pria itu, dia kesal karena dianggap sebagai bocah. Meski badannya yang sekarang memang sangat kecil, tapi bukan berarti ia rela diejek sebagai bocah kecil.


"Hahaha, lima belas tahun tapi sependek ini?" Pria itu terkekeh, perutnya geli mendengar usia Valencia sebenarnya. "Tetap saja kau masih lebih muda dariku. Aku tiga tahun lebih tua darimu. Cepat panggil aku Kakak," lanjutnya mengejek.


"Baiklah, Pak tua."


Pria itu tidak bisa berkata-kata seusai mendengar Valencia memanggilnya sebagai Pak tua. Rasanya seperti sebilah anak panah menghunus dadanya. Dia terlihat begitu kesal, Valencia sungguh membuatnya kehilangan akal sehat.


"Pak tua? Aku tidak setua itu untuk kau panggil Pak tua! Tutup mulutmu sebelum aku menutupnya langsung."


Ekspresi muka Valencia benar-benar membuat emosi. Dia menatap datar pria itu, ekspresi masamnya berubah dengan sangat cepat.


"Tidak mau, Pak tua. Aku akan terus memanggilmu sebagai Pak tua." Valencia membuang muka, dia memasang raut angkuh di hadapan pria itu.


"Beraninya kau! Akan aku patahkan tulangmu," gertaknya menangkap pergelangan tangan Valencia.


"Kyaaa!" jerit Valencia tiba-tiba. "Pria tua ini akan membunuhku, tolong aku!"


Spontan pria itu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Valencia. Dia terkejut mendengar Valencia mendadak berteriak.


Valencia tersenyum licik, dia langsung kabur dari hadapan pria itu.


"Hahaha, kau tertipu! Aku akan kabur sekarang. Lain kali jangan seperti itu lagi kepada wanita lain," seru Valencia bergegas kabur dari pandangan pria tersebut.


"Hei, jangan kabur! Kau harus bertanggung jawab! Dasar pencuri!"


Pria itu tidak menyerah begitu saja, dia mengejar Valencia untuk meminta pertanggungjawaban atas pencurian yang dilakukan Valencia. Dia mengejar gadis itu dengan kecepatan maksimal. Berharap ia bisa menangkapnya lalu membuat Valencia menyesali perbuatannya.


"Ayo tangkap aku kalau kau bisa! Tidak ada orang yang bisa mengimbangi kecepatan berlariku," tantang Valencia menjulurkan lidah mengejek si pria tersebut.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Valencia, ia memang sangat cepat. Dia berhasil mengelabui pria itu dan menghilang dari jangkauan pandang si pria.


"Sial! Aku kehilangan jejaknya. Awas saja kalau bertemu denganku nanti. Aku akan membuatnya menyesal karena telah mencuri buah manggaku yang berharga," gumamnya memutuskan untuk kembali lagi memetik buah mangga yang tersisa.


__ADS_2