
Pada hari berikutnya, Valencia berangkat mengunjungi istana bersama Leah — mantan pengasuh Stephen. Mereka akan membongkar seluruh kejahatan yang dilakukan Rudolf di hadapan Abraham dan Linita. Sudah saatnya mereka tahu fakta yang telah lama tersembunyi ini.
Kedatangan Valencia disambut baik, para pelayan langsung mengantarkan mereka berdua ke ruang di mana Abraham dan Linita telah menunggu kehadirannya.
"Valencia, akhirnya kau datang," ucap Linita tersenyum cerah.
"Halo, Paman, Bibi. Saya membawa seseorang bersama saya. Bolehkah saya menyuruhnya masuk?" tanya Valencia di ambang pintu.
"Baiklah, suruh orang itu masuk."
Setelah mendapatkan izin, Valencia pun memberi isyarat kepada Leah untuk segera masuk. Tatkala Leah baru melangkah masuk, alangkah terkejutnya Abraham dan Linita melihat orang yang telah lama menghilang.
"Leah? Kau Leah, bukan?" tanya Linita sontak berdiri mendekati Leah.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri." Leah mengangguk sambil memberi salam kepada mereka berdua.
"Ya ampun, Leah! Ke mana saja kau selama ini? Kau mendadak menghilang dari istana, aku pikir kau terkena masalah."
Linita menggenggam kedua tangan Leah, sudah cukup lama semenjak Stephen meninggal. Sekarang dia bertemu lagi dengan seseorang yang mengasuh Stephen.
"Saya hanya syok karena kematian Pangeran Stephen, Yang Mulia. Mohon maafkan saya karena saya pergi tanpa pamit waktu itu."
"Astaga, tidak apa-apa. Sekarang aku lega melihatmu baik-baik saja. Kemarilah, ayo duduk, ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu."
Linita menuntun Leah untuk duduk di sofa, dia bahkan menjamunya dengan baik. Valencia juga ikut duduk, dia akan memulai inti dari maksud kedatangannya kemari.
"Aku tidak tahu kalau kalian berdua saling kenal," kata Abraham membuka obrolan.
"Saya secara tidak sengaja bertemu Nyonya Leah, makanya saya bawa kemari untuk bertemu Anda berdua," balas Valencia.
"Ternyata begitu, pantas saja kalian bisa pergi ke istana berbarengan."
Kemudian suasana ruangan berubah menjadi tenang. Leah sangat gugup dan kaku, pikirannya risau memikirkan kejadian berikutnya.
"Paman, Bibi, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan di sini. Hal ini menyangkut Pangeran Rudolf," ujar Valencia memulai inti pembicaraannya.
__ADS_1
"Rudolf? Apa ada dengan dia? Apakah kau mempunyai masalah dengan Rudolf?" Abraham masih bersikap santai, sama sekali dirinya tidak mengetahui soal wajah Rudolf di balik topeng.
Tiba-tiba saja, secara mengejutkan Leah bersimpuh di hadapan Linita dan Abraham. Air matanya mulai mengalir, bibirnya bergetar seolah-olah ragu ingin mengeluarkan suaranya. Kepalanya mulai bergerak turun menyentuh lantai. Terisak mengingat rahasia yang telah dia simpan selama bertahun-tahun lama.
"Maafkan saya, Yang Mulia, maafkan saya. Tolong ampuni saya," lirih Leah.
"Leah, apa-apaan ini? Kenapa kau bersujud? Ayo cepat bangun." Linita berupaya menarik badan Leah untuk bangkit, tetapi Leah bersikukuh untuk tetap bersujud sampai dia selesai berbicara.
"Tidak, Yang Mulia. Alasan mengapa saya kemari adalah untuk mengungkapkan pembunuh Pangeran Stephen."
Deg!
Abraham dan Linita tercengang, jantung mereka berdegup tak beraturan. Sebuah masalah yang baru mereka dengar serta sebuah pembukaan dari fakta yang tersembunyi membuat mereka tidak tahu harus berucap bagaimana. Rasa kala itu ada batu besar berguling lalu menghimpit tubuh mereka.
"Pembunuh Stephen? Apa yang kau katakan? Kematian Stephen bukanlah sebuah kecelakaan belaka?" tanya Abraham berusaha tenang.
"Benar, Yang Mulia. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri pembunuh Pangeran Stephen. Orang itu mendorong Pangeran Stephen ke dalam danau, bahkan sebelum itu dia sempat membenamkan kepala Pangeran. Saya tidak berbohong, ini adalah kenyataan yang saya simpan selama ini."
"Katakan, siapa pembunuhnya? Katakan, Leah!" teriak Linita.
"Apa?! Bagaimana bisa Rudolf melakukan itu kepada Adiknya sendiri? Apa kau sedang mengada-ada?!"
Abraham dan Linita tidak mudah untuk percaya. Sudah diduga oleh Valencia kalau situasi ini akan terjadi. Citra baik yang dibangun Rudolf berguna di saat-saat seperti ini. Dia berhasil menguasai kepercayaan semua orang sepenuhnya.
"Ayah, Ibu, apa yang dikatakan pengasuh Leah itu benar adanya."
Devina muncul dari pintu masuk, dia menyela ke dalam obrolan menegangkan kala itu.
"Apa yang kau bicarakan, Devina? Tidak mungkin Kakakmu itu—"
"Ibu, aku mendengarnya sendiri. Aku tidak berbohong, aku mendengar langsung dari mulut Kak Rudolf."
Devina telah menyiapkan diri dan memperkuat hati untuk mengungkapkan niat terselubung sang Kakak. Dia pernah hampir dibunuh oleh Rudolf, maka dari itu kini ia tidak bisa membiarkannya mengalir begitu saja.
"Jelaskan kepadaku secara detail. Memangnya apa yang dikatakan Rudolf?" Abraham yang kehilangan akal sehat mencoba mempertahankan kewarasannya sejenak sampai semuanya terjawab.
__ADS_1
Perlahan, Devina menjelaskan semuanya kepada Abraham dan Linita. Dia menjelaskan satu persatu perkataan Rudolf yang tanpa sengaja dia dengar.
Valencia di sini hanya berperan sebagai pengamat sebelum dia masuk ke pertengahan obrolan tersebut. Linita sepertinya terlampau syok, kewarasannya pun mulai terenggut dari dirinya.
"Aku tidak bisa mempercayainya. Rudolf itu putra kita! Bagaimana dia bisa melakukan ini semua?! Sayang, katakan kepadaku, apakah ini nyata? Mustahil Rudolf—"
"Tenang, Linita!" Abraham menenangkan Linita yang menangis histeris. Dia paham kalau istrinya belum bisa menerima ini semua.
"Paman, Bibi, saya maupun Archduke dan ketujuh Pangeran, kami telah mengetahui kebusukan Pangeran Rudolf sejak lama. Bahkan, dia berniat membunuh Anda berdua, dia juga berniat membunuh Devina."
"Tidak ada alasan bagi saya berbohong di sini. Jadi, saya mohon untuk memperkuat hati Anda karena saya akan menyampaikan seluruh kejahatan Pangeran Rudolf. Tolong terima kenyataan ini perlahan sebab saya bukanlah satu-satunya orang yang mengetahui wajah asli Pangeran Rudolf," tutur Valencia.
Valencia lalu mengeluarkan sebuah alat perekam yang dia ciptakan dari kristal sihir.
"Sejumlah bukti terdapat di dalam alat ini. Silakan Anda dengar sendiri, Paman."
Valencia menyalakan hasil rekamannya. Abraham dan Linita memaksakan diri untuk tetap tegar mendengar apa yang ada di balik rekaman tersebut. Mulai dari rekaman pelayan yang menjadi kaki tangan Rudolf membunuh Stephen hingga rekaman suara Rudolf ketika menemui Linnea.
Sungguh seperti bara api yang menyala di jantung. Mereka berdua tak sanggup berkata-kata sampai akhirnya Linita tidak lagi sadarkan diri. Linita pun dibawa ke kamar, sedangkan Abraham terus mendengarkan sampai akhir.
PRANGGG!
Abraham sontak memukul meja kaca yang di hadapannya hingga menyebabkan tangannya terluka akibat pecahan sudut kaca.
"Dasar bajing*n! Selama ini aku tertipu oleh sikapnya. Meskipun dia anakku, aku tetap tidak akan mengampuninya!"
Kemurkaan Abraham terpancar jelas dari sinar matanya. Valencia berdecak salut terhadap Abraham yang seperti pemimpin sejati dan tidak berlaku timpang kepada keluarga maupun rakyatnya.
Beberapa detik berselang, terdengar suara bising dari luar istana. Seorang kesatria pun datang melaporkan situasi yang terjadi.
"Yang Mulia, maafkan saya mengganggu pembicaraan Anda, tetapi saat ini di depan ada banyak orang sedang protes. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang yang hampir dibunuh oleh Pangeran Rudolf."
Valencia tersenyum miring sembari bangkit dari posisinya.
'Sedikit lagi aku akan menemukan titik penyelesaian dari permasalahan yang terjadi di Alegra. Aku cukup puas, setidaknya aku dapat menyaksikan detik-detik kematian Rudolf.'
__ADS_1