Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pengakuan Joseth


__ADS_3

Valencia seperti biasa, dia diam-diam menyelinap keluar dari akademi menggunakan sihirnya sehingga para kesatria penjaga akademi pun tidak akan memergokinya. Valencia sampai dengan aman di penjara pengadilan. Valencia mengendap-endap masuk ke dalam agar tidak ketahuan oleh para penjaga. Hingga tibalah dirinya di depan penjara tempat Joseth – mantan Kepala Akademi berada kala itu.


Kondisi tubuh Joseth tampak begitu buruk, tapi anehnya situasi di dalam penjara patut dipertanyakan. Entah mengapa penjara tempat Joseth dikurung mempunyai fasilitas cukup mewah, berbagai benda untuk hiburan ada di sana. Lalu di penjara itu juga tidak pengap karena ada ventilasi udara dan pencahayaannya terbilang bagus. Bahkan, penjaranya sangat luas, dua kali lebih luas dari penjara biasa.


“Sepertinya di sini ada diskriminasi pihak pengadilan dan perlakuan yang tak seimbang di antara para narapidana. Mereka benar-benar pandai sekali membuat penjahat satu ini merasa tidak bersalah atas kejahatan yang telah dia lakukan. Akan tetapi, karena aku sudah ada di sini, tidak ada alasan bagi mereka untuk tetap berlaku tidak adil.”


Valencia membuka pintu penjara, dia masuk untuk berhadapan langsung dengan Joseth yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Pria tua bangka itu kehilangan banyak darah akibat ulah Valencia kala itu yang memotong area sensitifnya. Tampaknya dia menerima perawatan intensif dari para dokter pengadilan.


“Hei, kau tuan bangka! Cepat bangun! Aku ingin berbicara denganmu.”


Valencia membangunkan Joseth dengan sangat kasar, gadis itu tidak peduli betapa menderitanya Joseth karena perbuatannya sendiri, yang di pikiran Valencia hanyalah segera menghabisi nyawa pria tersebut.


Setelah dibangunkan Valencia berulang kali, Joseth pun terbangun, dia sontak terkejut bukan main seketika menemukan Valencia berada di depan matanya. Gadis yang paling dia benci sekaligus gadis yang dia takuti mendadak muncul tanpa panggilan pihak pengadilan. Joseth merasakan aura menyeramkan setiap kali berhadapan dengan Valencia. Dia merasa nyawanya tengah berada di ujung tanduk dan terancam bahaya.


“Apa yang kau lakukan di sini, gadis sialan?! Apa kau meminta izin untuk masuk?” murka Joseth.


Valencia tersenyum mematikan, dia memukul kepala botak Joseth, pria tua yang tidak tahu sopan santun itu berani meninggikan suara di hadapannya. Tentu saja Valencia tidak menerima bila seorang manusia rendahan sebegitu beraninya berlaku angkuh.


“Aku tidak meminta izin, justru aku menyelinap masuk ke tempat ini. Bagaimana? Kau terkejut, bukan? Wajar saja kau terkejut. Kau pikir penjaga penjara ini bisa menghentikanku? Tidak! Tidak ada yang dapat menghentikanku!”


Joseth melirik ke arah pintu penjara, ternyata itu dirusak oleh Valencia, dia merusaknya hanya menggunakan tangan kosong.


“Berani sekali kau menyelinap ke penjara pengadilan, aku akan panggilkan para penjaga agar mereka menangkapmu,” ujar Joseth menggertak Valencia.

__ADS_1


“Panggil saja mereka, mereka tidak akan mendengarmu karena mereka sedang tertidur nyenyak di depan sana,” tantang Valencia.


Sekujur badan Joseth gemetar hebat, dia berpikir bahwa saat ini dia dihadang masalah yang lebih besar daripada menunggu hari persidangan tiba.


“Apa yang kau inginkan sekarang? Apa tujuanmu datang menemuiku?!”


Valencia berdehem seraya memperbaiki posisi berdirinya, dia duduk di samping ranjang Joseth sambil meraih cemilan yang terletak di atas meja. Valencia menyantap cemilan itu tanpa permisi, dia akan segera menuturkan tujuannya datang kemari.


“Kau meniduri anak-anak yang terlibat beasiswa, bukan? Kalau begitu, kau juga pernah tidur dengan Linnea? Seingatku anak itu tidak begitu pintar untuk mendapatkan posisi teratas di akademi. Jadi, apakah kau memanipulasi nilainya dan juga memanipulasi nilaiku? Jawab dengan jujur!” selidik Valencia.


Dia baru menemukan fakta baru akhir-akhir ini, seluruh kertas ujian si pemilik tubuh ditemukan oleh Valencia di balik loker sekolah. Di sana si pemilik tubuh memperoleh nilai sempurna pada setiap mata pelajaran. Akan tetapi, anehnya mengapa Linnea yang mendapatkan posisi pertama? Padahal si pemilik tubuh jauh lebih pintar dari gadis bermuka dua itu. Oleh sebab itulah, Valencia datang kemari sekaligus untuk memastikan langsung perihal masalah tersebut.


“Benar, aku tidur dengan Linnea. Gadis itu menggodaku lebih dulu, dia akan tidur denganku asalkan aku menukar nilaimu dengan nilainya. Jadi, dia bisa mendapatkan posisi teratas di akademi berkat manipulasi nilai dariku. Aku mengatakan dengan jujur, aku tidak berbohong soal ini padamu,” jelas Joseth menjawab dengan jujur.


“Menjijikkan sekali cara dia bermain, dia sangat bodoh sampai bingung harus melakukan apa lagi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Lalu apakah dia ada menemuimu beberapa waktu lalu saat kau dipenjara?”


Joseth menganggukkan kepala. “Ada, dia pernah menemuiku satu kali.”


“Apa yang dia katakan padamu? Beri tahu aku semuanya.”


Joseth tampak ragu menceritakan kepada Valencia hal itu, tapi karena naluri takutnya lebih kuat, jadi Joseth tak kuasa menahan mulutnya supaya tidak berbicara membeberkan pembicaraannya dengan Linnea.


“Gadis itu memintaku untuk merahasiakan apa yang telah dia perbuat selama ini dan dia memintaku agar tidak membocorkan bahwa aku pernah tidur dengannya. Dia memohon supaya aku tetap menyimpan rahasia itu,” tutur Joseth.

__ADS_1


“Dia benar-benar gadis yang berani, mungkin aku harus memberikan dia bunga kematian setelah dia kembali dari rumah sakit.”


Valencia beralih bangkit dari tempat duduknya, dia telah mendapatkan apa yang ingin dia ketahui. Sekarang waktunya menuntaskan tujuan utama dia datang menemui Joseth yaitu tujuan membunuh pria perusak masa depan remaja.


“Aku sudah memberi tahu apa yang kau ingin ketahui, jadi aku mohon jangan membunuhku.”


Sebelum Valencia mengutarakan niatnya untuk membunuh, Joseth sudah lebih dulu memohon padanya. Pemandangan yang lumayan menghibur, Valencia masih belum melupakan bagaimana perlakuan Joseth terhadap si pemilik tubuh.


“Sedikit pun aku tidak pernah melupakan apa yang telah kau lakukan padaku di masa lalu. Kau menghinaku dan terus menerus menekanku untuk tetap diam terhadap perundungan yang aku dapatkan. Mungkinkah kau berpikir bahwa aku tidak mempermasalahkan itu semua?”


Joseth tersentak, dia melupakan sesuatu yang lebih penting, dirinya di masa lalu menjadi salah satu penyebab dan alasan mengapa Valencia bunuh diri. Selama di akademi, tak ada satu orang pun yang membela si pemilik tubuh, hanya ada kesendirian dan tangisan setiap dia menghadiri pembelajaran di akademi.


“Maafkan aku karena telah berbuat bodoh di masa lalu, tolong maafkan diriku. Aku akan melakukan apa saja agar kau mau memaafkanku. Tolong, Valencia … aku masih ingin hidup, tidakkah puas bagimu telah merenggut sesuatu yang paling berharga di diriku?”


Joseth bersujud di hadapan Valencia memohon kemurahan hati si gadis itu, hanya Valencia yang dia takuti saat ini karena dia tahu bahwa gadis itu tengah bersiap melayangkan pedang ke kepalanya.


“Sayang sekali, itu sangat terlambat karena orang yang kau sakiti sudah mati sejak lama,” ucap Valencia.


“Apa maksudnya itu? Kalau dia sudah mati, mustahil kau bisa berdiri di sini.” Joseth menegakkan kembali kepalanya menatap Valencia.


“Aku bukan Valencia, melainkan seorang jiwa mati yang merasuki tubuh Valencia. Aku hanya ingin menuntaskan dendamnya, salah satunya dendamnya terhadap dirimu. Tolong diterima takdir burukmu hari ini dan selamat melakukan perjalanan ke neraka.”


Valencia menarik pedangnya dan langsung menebas kepala Joseth tanpa ragu-ragu, kini kepala Joseth bergelinding di atas lantai dan tubuhnya tetap berada di atas kasur.

__ADS_1


“Salah satu orang yang paling kau benci sudah aku kirim ke neraka, semoga kau bisa melihatnya dari surga, Valencia.”


__ADS_2