Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kabut Hutan Kematian


__ADS_3

Valencia tentu merasa familiar dengan potion, dahulu dia sering menggunakan potion setiap kali ada pertarungan. Potion merupakan cairan yang diracik menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Biasanya meracik potion adalah bagian dari pekerjaan seorang healer, mereka membuat potion yang berguna sebagai penambah sihir serta untuk menyembuhkan luka luar akibat serangan lawan.


Valencia berpikir sejenak, membuat potion di benua Solvey merupakan sebuah langkah baru demi memajukan kemampuan para kesatria sekaligus meminimkan korban akibat kemunculan portal. Selama ini mereka bekerja secara manual sehingga seringkali para kesatria kekurangan anggota penaklukkan portal sebab sebagian rekan mereka terluka parah. Pemulihan luka tanpa potion berjalan lambat, ditambah lagi tenaga dokter juga terbatas.


“Apa tujuanmu membuat potion?” tanya Valencia penasaran akan tujuan Sammy.


“Aku ingin membantu para kesatria dan rakyat Alegra mengatasi monster yang berada di dalam portal. Terkadang aku merasa tidak berguna sama sekali sebagai seorang dokter dalam mengobati para kesatria yang terluka. Tidak sedikit kesatria yang tewas pada penaklukkan portal akibat luka yang mereka terima. Akan tetapi, jika ada potion maka mereka bisa menangani luka masing-masing tanpa harus menunggu dokter turun tangan,” jelas Sammy.


“Aku paham. Selama ini kau mencoba membuat potion menggunakan bahan apa? Apakah kau punya buku panduan pembuatan potion?”


Sammy menggeleng. “Mustahil di benua Solvey ada buku panduan pembuatan potion, aku belajar sendiri dan mencoba menciptakan potion menggunakan bahan seadanya saja. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil.”


“Ya, memang mustahil ada buku panduan pembuatan potion di sini, tapi membuat potion itu sangat rumit. Bahan yang digunakan pun bukan bahan sembarangan, meski begitu tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan sebuah potion di benua ini,” tutur Valencia sambil menyantap makanannya.


“Potion, ya? Para kesatria sangat membutuhkan potion. Di benua yang tidak bergantung pada sihir ini cukup menyulitkan dalam penaklukkan portal,” sela Reibert.


Valencia mengangguk, dia berpikir bisa memanfaatkan momen ini untuk mengurangi dosanya selama menjadi penyihir dahulu.


“Kalau begitu, aku akan membantumu membuat potion tapi beri aku waktu untuk mencari bahan-bahannya.”


Mereka bertiga serentak menatap bingung Valencia, mereka tidak yakin kalau Valencia bisa membantu dalam pembuatan potion ini.


“Benarkah? Kau tidak akan membuat racun untuk membunuh orang, ‘kan?”


Yang benar saja, mereka berprasangka buruk terhadap Valencia sebab mereka tidak percaya Valencia tidak akan menyakiti orang lain seusai menyaksikan cara Valencia menyiksa mata-mata sebelumnya. Kening Valencia mengerut, tampaknya pandangan ketiga orang itu telah berubah terhadap dirinya.

__ADS_1


“Hei, aku ini tulus ingin membantu, aku tidak pernah ada niat untuk meracuni orang-orang yang tidak bersalah. Atau kalian sendiri yang mau aku racuni?” Valencia menancapkan garpu dan pisaunya ke atas meja.


Mereka bertiga sontak menunjukkan ekspresi terkejut bercampur takut, mereka menganggap bahwa Valencia satu-satunya wanita paling menakutkan di Kekaisaran Alegra.


“Tidak, bukan begitu maksudnya. Tolong jangan racuni kami,” tutur Leano.


Valencia membuang napas kasar sembari memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap.


“Tenang saja, aku serius ingin membantu dalam pembuatan potion, memang tidak semudah yang dikatakan tapi pembuatan potion ada teknik tersendiri. Bahan-bahan yang digunakan pun berbeda dari bahan pembuatan obat atau pil biasa,” papar Valencia.


Mereka tercengang, Valencia bertingkah seperti seseorang yang paham betul soal pembuatan potion. Valencia memberi penjelasan singkat perihal potion karena dahulu dia pernah belajar cara membuat potion yang benar. Gadis itu mempunyai bakat yang melimpah, selain seorang penyihir, dia pernah belajar menjadi seorang dokter, pemusik, cendekiawan, dan pandai dalam seni.


“Bagaimana kau bisa terlihat begitu paham soal potion?” Sammy melontarkan pertanyaan disertai ekspresi wajah tegas dan penuh penasaran.


“Bagaimana cara aku menjawabnya? Aku—”


“Ada apa?” tanya Reibert.


Kesatria tersebut mengatur irama napasnya sebelum menjawab. “Komandan, Anda harus ke luar sekarang. Di tengah ibu kota muncul kabut hitam dan dari atas langit ada kilatan cahaya seperti petir. Langit ibu kota berubah gelap, di sisi lain langit juga terlihat lubang seperti pusaran air yang sangat dalam. Kami tidak tahu itu apa, tapi banyak kesatria dan penduduk yang mendadak hilang di tengah kabut itu.”


Alangkah tercengung mereka sesaat mendapatkan laporan genting dari kesatria itu. Sontak mereka berempat langsung bergegas ke luar mansion untuk memastikan situasi terkini di ibu kota. Dan benar, sesuai laporannya memang ada kabut hitam yang menyelimuti ibu kota. Tidak hanya orang-orang saja yang menghilang, bahkan rumah serta gedung yang ada di ibu kota juga lenyap ditelan kabut.


“Apa-apaan situasi ini? Mengapa semuanya mendadak hilang ditelan kabut?”


Mereka berempat tidak habis pikir dengan apa yang sedang mereka saksikan, Valencia pun mematung cukup lama memikirkan kabut tersebut.

__ADS_1


‘Kabut dari hutan kematian! Tidak salah lagi, ini memang kabut dari hutan kematian di dunia para makhluk magis.’ Valencia mendongak ke atas langit, dia melihat lubang yang tampak seperti pusaran air. ‘Itu dia! Tempat keluarnya yaitu di lubang itu. Tetapi, siapa sebenarnya yang membuka segel hutan kematian? Aku memberikan segel paling kuat, namun tetap saja mudah ditembus.’


Valencia buru-buru mendekat ke arah kabut tersebut, dia ingin memeriksa kabut itu secara langsung.


“Valencia, jangan ke sana! Berbahaya!” teriak Reibert.


“Kalian tunggu saja di sana dan jangan ikuti aku! Ada sesuatu yang harus aku pastikan,” sahut Valencia.


Valencia berdiri di tengah jalan yang hampir disapu oleh kabut tersebut, dia mengarahkan pedangnya ke depan dan menyentuh kabut itu. Pedangnya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam kabut, halilintar bergemuruh di angkasa menyambar tepat ke depan badannya.


“MENJAUH DARI SANA, VALENCIA!” teriak ketiga pria yang mengkhawatirkannya, mereka berdiri di sisi lain tempat yang belum dijangkau kabut.


“SIAPA PUN ITU DI ANTARA KALIAN BERTIGA! LEKAS PERGI KE ISTANA LALU AMANKAN KAISAR DAN PERMAISURI! KABUT INI TAKKAN BISA DITANGANI MANUSIA BIASA!” seru Valencia serius.


“Lalu bagaimana denganmu?”


“CEPAT! LAKUKAN SAJA SESUAI PERINTAHKU!”


Di antara mereka bertiga, Leano memilih untuk pergi ke istana untuk mengamankan Abraham dan Linita. Dari arah lain, kabutnya berdatangan menerpa seluruh isi kekaisaran, di sini Valencia tampak bingung sekali cara mengatasi situasi ini tanpa harus menggunakan sihir.


‘Aku harus mencari cara untuk melenyapkan kabut ini. Kabut dari hutan kematian menyerap apa saja yang dilewatinya. Aku harus cepat sebelum semuanya terlambat,’ batin Valencia.


“KYAAAA! TOLONG!”


Valencia mendengar satu demi satu suara jeritan minta tolong dari orang-orang yang mencoba kabur dari kabut tersebut.

__ADS_1


“Reibert, Sammy! Kalian bantulah evakuasi seluruh orang yang berada di sekitar. Aku akan tetap di sini menahan kabutnya.”


__ADS_2