Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Tidak Menemukan Titik Terang


__ADS_3

Di hari penyelidikan itu pula, Valencia didatangi oleh Endry langsung ke paviliun kediamannya. Dia membawa beberapa orang kesatria di belakangnya, pria itu berencana untuk bertanya langsung kepada Valencia perihal segala kecurigaan yang diarahkan ke gadis itu. Pada saat Endry datang menemui Valencia, ia menemukan saudari perempuannya tengah sibuk membereskan isi kamarnya.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Endry seperti orang yang kebingungan mendapati kegiatan Valencia.


Kala itu, Valencia sedang mengibas-ngibas debu di tempat tidurnya, dia mengenakan masker dan berpakaian santai dan sedikit terbuka. Melihat kedatangan Endry, Valencia malah semakin kuat mengibaskan tempat tidurnya.


“Kau tidak bisa lihat aku sedang apa?” Valencia menanggapi kedatangan Endry dengan ketus.


“Uhukk uhukk.” Endry dan para kesatria terbatuk dan tersedak debu kamar Valencia, gadis itu kian menjadi membuat mereka tidak nyaman berada di sana.


Valencia menyeringai di balik maskernya sembari berharap Endry akan pergi dan memahami pengusiran halus yang ia isyaratkan melalui debu-debu ini. Akan tetapi, percuma saja ia berharap begitu karena otak Endry tidak akan mampu memahaminya.


“Berhentilah, sialan! Mengapa kau malah sibuk membersihkan kamarmu sendiri?! Bukankah ini adalah pekerjaan pelayan? Kenapa kau yang sibuk melakukan pekerjaan rendahan ini?!” teriak Endry.


“Endry, apa kau bercanda? Kau ini benar-benar buta rupanya. Apakah kau melihat adanya tanda-tanda keberadaan pelayan di paviliun ini?”


Endry tidak menyangkalnya, setelah ia perhatikan lagi, hanya ada Valencia seorang yang menetap di paviliun besar tersebut. Tidak heran kalau Valencia melakukan pekerjaan pelayan, dia tidak punya seseorang yang bisa dijadikan pesuruh.


“Kalau begitu, setidaknya kau berhentilah sejenak dan dengarkan maksud kedatanganku kemari. Jangan membuatku emosi!” Endry meninggikan suaranya pada Valencia, gadis itu pun terlihat kesal mendengar suara Endry yang terkesan membentaknya. Terpaksa Valencia meladeni sebentar pria yang notabenenya merupakan saudara kandung laki-laki beda Ibu.


“Dasar brengs*k! Beraninya kau meninggikan suaramu padaku. Aku tidak peduli apa pun yang ingin kau bicarakan denganku, tapi kau sekarang sedang berada di kediamanku, jadi tolong jaga sopan santunmu.”


Valencia menimpuk kepala Endry menggunakan bantalnya, ia amat kesal oleh kedatangan mendadak Endry. Sekarang terpaksa dia berhenti sejenak untuk mendengar apa yang akan dibicarakan Endry.

__ADS_1


“Kurang ajar! Jangan menimpuk kepalaku, sialan!” teriak Endry melempar bantal Valencia ke sembarang arah. “Padahal situasi mansion tengah gempar, tapi kau masih bisa bersantai di kediamanmu. Apa kau tidak punya rasa peduli sedikit pun?”


“Apa untungnya bagiku mempedulikan kalian? Mau kalian mati atau hidup, itu tidak jadi masalah untukku,” jawab Valencia.


Endry menggeram kesal mendengar penuturan Valencia yang terdengar begitu enteng serta tidak mempedulikan apa pun yang menimpa keluarga ini. Endry berupaya agar tidak tersulut amarah, dia tidak ingin melupakan tujuan utamanya menemui Valencia.


“Baiklah, terserah kau saja. Aku ke sini ingin menanyakan sesuatu padamu, aku yakin kau pasti sudah mendengar kehebohan yang terjadi di kediaman ini. Aku akan langsung menanyakannya, ada di mana kau tadi malam?”


Endry menatap penuh selidik, Valencia perlahan terkekeh melihat Endry yang terlihat yakin bahwa dirinyalah dalang di balik pembantaian tersebut. Valencia sudah menduga kalau pasti ada salah satu dari orang-orang di mansion ini yang menyadari bahwa dirinya lah yang membunuh pelayan dan kesatria itu. Namun, Valencia berencana untuk memutarbalikkan fakta.


“Tentu saja aku berdiam diri di kamarku, menurutmu ke mana lagi aku? Apa jangan-jangan kau mencurigaiku? Apa kau yakin mau mencurigaiku?”


Endry terdiam sejenak, memang tidak ditemukan saksi yang mengatakan Valencia keluar dari kamarnya, tapi entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa Valencia memang merupakan dalang di balik kekacauan yang menghadang kediaman ini.


“Apa kau benar-benar bukan dalangnya? Lagi pula mana mungkin pelaku akan menjawab jujur. Kalau begitu, aku akan membuktikannya sendiri, aku masih yakin kau adalah orang yang berada di balik insiden pembantaian ini!”


‘Dasar para manusia bodoh!’ hardik Valencia dalam hati.


Adarian turut serta menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, hingga kini mereka tidak kunjung menemukan titik terang perihal dalang pembantaian itu. Valencia menyaksikan segalanya dari balik layar sembari menikmati segelas cokelat panas. Dia cukup puas karena berhasil mengacaukan situasi kediaman Grand Duke Allerick.


Sementara itu, kondisi Guilla terbilang sangat memprihatinkan, dia menerima syok yang lumayan berat sehingga dia terus menerus berteriak. Bayangan mayat-mayat yang bergelantungan itu menghantui pikirannya sepanjang waktu. Tidak ada yang bisa mengatasi kondisi Guilla tersebut dan pada akhirnya mereka hanya bisa berpasrah seraya menunggu keajaiban.


Kemudian di sore hari pada hari yang sama, sebuah kabar tidak mengenakkan menerpa pendengaran penjuru kekaisaran. Kedua orang tua Linnea dikabarkan mengalami kecelakaan, mereka berdua jatuh masuk ke dalam jurang yang sangat terjal dan tidak bisa dijangkau oleh orang lain sehingga mereka berdua dinyatakan meninggal dunia. Pasalnya, mustahil seorang manusia selamat dari kedalaman jurang yang tidak diketahui tersebut.

__ADS_1


Belum selesai satu kehebohan saja, kini kehebohan lain ikut menimpali, kabarnya Linnea sangat terpukul menerima berita itu. Kondisi Linnea yang baru saja pulih dari luka yang sebelumnya membuat semua orang merasa iba terhadap gadis itu. Keluarga mereka bangkrut, lalu hari ini Linnea harus menerima kabar buruk yang menyebabkannya menjadi seorang yatim piatu.


“Kedua orang tua Linnea meninggal? Ternyata si tua bangka mata duitan itu mati lebih cepat dari yang aku bayangkan,” gumam Valencia.


***


Di hari berikutnya, muncullah berita yang menggemparkan Valencia, kala itu ia mendapati Adarian membawa Linnea ke kediaman. Valencia yang penasaran langsung mengecek langsung kira-kira apa yang tengah direncanakan Adarian dengan membawa Linnea pulang. Lalu tanpa sengaja Valencia berpapasan dengan Helen di pertengahan lorong menuju kediaman utama.


Mereka berdua saling menatap dengan tidak ramah, Valencia bahkan melewati Helen begitu saja tanpa menyapanya.


“Valencia, apa kau tidak akan menyapa Ibumu? Tampaknya kau semakin kurang ajar sekarang,” tegur Helen.


Valencia berbalik badan, sedikit senyum membentuk garis lengkung di bibir Valencia, ia masih tidak habis pikir isi pikiran sang Ibu sampai harus menegurnya seperti saat itu.


“Menyapa Ibuku? Memangnya kau Ibuku? Seorang Ibu yang baik tidak akan pernah tega mengabaikan anaknya. Jadi, berhentilah bersikap seperti kau Ibu yang baik untukku,” balas Valencia menohok.


Helen merasa tersinggung oleh balasan Valencia, bagaimana pun itu merupakan fakta yang sebenarnya terjadi. Helen tidak membantahnya, dia memang mengabaikan Valencia seolah gadis itu bukanlah anaknya. Rasa benci dan marah Helen terhadap Valencia masih membara di dada, maka dari itu Valencia memutuskan untuk tidak pernah menyapa Helen lagi.


“Perhatikan tutur katamu, Valencia! Aku adalah Ibu yang melahirkanmu,” ucap Helen lagi.


“Aku tidak peduli, terserah kau saja mau bilang apa.” Valencia memacu langkahnya meninggalkan Helen bersama para pelayan pribadinya.


Sesampainya di depan ruangan Adarian, Valencia cuma berdiri di depan pintu dan tidak masuk ke dalam. Dia tidak sudi menginjakkan kakinya di ruang kerja Adarian, ia juga tak sudi harus mengirup udara yang sama di satu tempat bersama Adarian. Itulah sebab mengapa Valencia memilih menguping dari luar.

__ADS_1


Beberapa menit berselang, akhirnya Adarian angkat bicara, suasana di dalam ruang tersebut teramat serius. Valencia pun memasang telinga baik-baik, ia berupaya menyimak pembicaraan mereka dan menyadapnya menggunakan sihir.


“Baiklah, sebagaimana yang diketahui oleh kalian semua, orang tua Linnea telah meninggal kemarin. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengangkat Linnea menjadi anakku dan mulai hari ini dia akan menggunakan nama belakang Allerick serta dia juga akan tinggal di kediaman ini bersama kita.”


__ADS_2