
Valencia merekahkan senyum seringai, dia berlalu begitu saja tanpa memberikan pembalasan apa pun terhadap orang-orang itu. Para gadis yang merasa terhina hanya bisa memendam kemarahannya kepada Valencia. Bahkan, mereka tidak diberi kesempatan untuk membalas perkataan Valencia.
Sesudah itu, Valencia berganti pakaiannya yang basah. Apabila dia mengeringkan pakaiannya menggunakan sihir maka itu akan mendatangkan kecurigaan di mata Devina serta Rachel.
'Menjengkelkan sekali, tapi aku harus bersabar sampai nanti malam. Aku punya kejutan bagus untuk mereka semua,' batin Valencia menyunggingkan senyumnya.
Waktu berlalu beberapa jam seusai kejadian tersebut, kini jam menunjukkan pukul dua belas malam. Inilah waktu bagi Valencia untuk beraksi membalas perlakuan mereka tadi siang.
"Mari kita mulai pertunjukan yang amat menggembirakan."
Valencia memasang sebuah sihir, dia membentuk sihir ilusi dan meniupkannya pada kamar masing-masing gadis yang berjumlah lima orang. Mereka yang mengusik ketenangan Valencia tadi siang akan mendapatkan hukuman yang tidak diduga-duga.
"Ayo lihat seberapa jauh mereka akan bertahan melawan sihir ilusi milikku. Aku harap mereka akan mati malam ini juga," gumam Valencia tertawa seraya melayang di udara dan menatap ke arah asrama wanita.
Valencia menunggu sampai sihir ilusinya bekerja dan yang benar saja, tidak menunggu lama sampai sihir itu bekerja kepada para gadis tersebut.
"Kyaaaaa! Monster! Ada monster yang mengejarku!"
Satu persatu target Valencia telah keluar dari sarangnya. Mereka berlarian ke luar kamar untuk kabur dari kejaran monster yang merupakan sebuah ilusi menakutkan bagi mereka.
Mereka berlari sampai ke belakang akademi, tepatnya di tempat mereka menyiram Valencia tadi siang. Perlu diketahui, malam itu Valencia telah mengunci seluruh pendengaran orang sehingga takkan ada satu pun yang bisa mendengar teriakan para gadis tersebut.
"Sudah dimulai rupanya. Haruskah aku hampiri mereka sekarang?"
Valencia mendarat di hadapan kelima gadis tersebut, mereka terkejut bukan main ketika menemukan Valencia tengah melayang di udara. Mereka kehilangan kata-kata sesaat berhadapan dengan Valencia.
"Bagaimana kabar kalian? Kenapa kalian berada di luar kamar? Apa yang salah?" sapa Valencia dengan senyum lebar di bibirnya.
"K-Kau, s-siapa kau sebenarnya? Mengapa kau melayang di udara dan di belakangmu ada banyak m-monster?"
__ADS_1
Penglihatan mereka dimanipulasi oleh Valencia, saat ini mereka melihat adanya monster mengerikan mengelilingi mereka dan berdiri di belakang Valencia. Pergerakan mereka terkunci sehingga membuat mereka tidak bisa pergi ke mana pun kala itu.
"Ah, ini? Sekarang kalian sedang berada di neraka, makanya kalian melihat ada banyak monster di sini."
"N-N-Neraka?!"
Mereka syok mendengar jawaban bohong dari Valencia. Gadis itu sengaja mempermainkan mereka sebelum berlanjut ke tahap penyiksaan.
"Ya, di neraka. Kalian akan dihukum karena telah membuatku marah. Ini adalah hukuman kalian, semoga kalian menikmatinya."
Valencia menjentikkan jemarinya, bersamaan saat itu, para gadis langsung berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Mereka melihat para monster mencoba menyerang mereka. Wajah mereka perlahan mulai memanas dan gatal.
"Gatal sekali, wajahku sangat gatal. Pergi kalian, monster! Pergi kalian dari sini!"
Mereka menggaruk wajah mereka sampai berdarah-darah. Rasa gatal itu semakin menjalar ke sekujur badan. Valencia hanya berdiam diri di udara menyaksikan pertunjukan penyiksaan yang sangat menarik di matanya.
Di hari berikutnya, akademi digegerkan dengan penemuan tubuh lima orang siswi dalam kondisi mengerikan. Sekujur badan mereka dipenuhi luka cabikan yang dalam, terutama muka mereka. Kesadaran mereka sepenuhnya belum kembali seusai menerima syok dari Valencia semalam. Mungkin ketika mereka bangun nanti sisa-sisa ilusi masih melekat di penglihatan mereka.
"Sangat mengerikan, aku melihat muka mereka penuh bekas luka dalam karena tercabik kuku mereka sendiri."
"Kira-kira apa yang membuat mereka sampai seperti itu? Aku dengar kemarin mereka mencari masalah dengan Valencia."
"Mungkinkah ini semua berkaitan dengan Valencia? Namun, tidak mungkin juga Valencia melakukan hal segila ini."
"Bisa jadi itu balasan untuk mereka yang sudah mengganggu orang lain. Sebaiknya lain kali kita jangan mengusik Valencia lagi. Aku khawatir kita juga akan bernasib sama seperti mereka."
Desas-desus tentang Valencia selalu saja terdengar di setiap sudut akademi. Bahkan kejadian yang kelima siswi tersebut juga dikaitkan dengan Valencia. Memang gadis itu pelakunya, tapi tak ada yang mengetahui secara pasti bagaimana cara Valencia melakukannya.
"Kenapa mereka tidak berhenti menggosip tentangmu? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sekarang sedang mencoba untuk memfitnah orang yang tidak salah?!"
__ADS_1
Di balik sifat tenang Valencia, ada dua teman dekat yang sedari tadi menggerutu dan menggeram kesal mendengar rumor buruk yang terus menghantui Valencia.
"Biarkan saja mereka berkata apa, aku tidak peduli. Selagi mereka tidak menggangguku langsung, ya itu tidak masalah," ucap Valencia.
"Tidak bisa begitu! Mereka harus diberi pelajaran," kata Devina bermaksud untuk menghampiri mereka satu persatu.
Kemudian tangan Devina ditahan oleh Valencia, dia tidak mau mereka terbawa emosi akibat masalah yang dia ciptakan tersebut.
"Jangan! Kau jangan habiskan waktu untuk meladeni mereka. Lebih baik kita pergi ke kantin sekarang sebelum kehabisan makanan."
Valencia menarik mereka berdua untuk pergi ke kantin bersamanya. Di sela petugas medis dan kesatria sibuk berlalu lalang di akademi, Valencia malah menghabiskan waktunya dengan menikmati makanan enak di kantin akademi. Sebagai dalang utama, Valencia bersikap santai seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa tadi malam.
***
Di sisi lain, pada waktu dan hari yang sama tepatnya di kuil dewa kedamaian. Ivanov tengah sibuk mengotak atik seluruh buku di perpustakaan kuil. Ada beberapa hal yang mengganjal di kepalanya.
"Ini dia! Aku menemukannya."
Sesudah mencari selama beberapa waktu, akhirnya Ivanov menemukan sesuatu yang dia maksud. Di dalam sebuah buku bersampul biru gelap, dia menemukan penjelasan mengenai apa yang dia lihat ketika terjadinya penyerangan oleh Raja bayangan.
"Lambang kekuatan dewa kedamaian mempunyai warna yang menarik. Warna biru muda layaknya air yang mengalir lembut serta penuh dengan aura alami dari alam. Kekuatan tersebut dapat menyapu habis setiap kejahatan yang singgah ke muka bumi. Kekuatan suci yang hanya dimiliki dewa kedamaian sebagai penjaga keamanan alam semesta."
Ivanov terhening di dalam sunyi, hanya dia seorang yang berkunjung ke perpustakaan kuil saat itu. Dia menutup kembali bukunya, ia telah menemukan apa yang dia cari.
"Aku telah memastikannya, kekuatan yang waktu itu adalah kekuatan dewa kedamaian. Kekuatan yang bertanda semanggi biru berdaun lima, siapakah yang menggunakannya? Tidak ada tanda-tanda keberadaan dewa, lalu apakah kekuatan itu dipakai seorang manusia? Bagaimana bisa?"
Ivanov berpikir keras, dia tidak sengaja melihat kekuatan Davey di langit kekaisaran. Kekuatan yang mulai merambah menyapu sudut kekaisaran dari sihir hitam. Ivanov menyaksikan itu semua dengan sangat jelas.
"Lalu mengapa hanya aku saja yang waktu itu tidak terpengaruh? Semua orang di kekaisaran dipengaruhi kekuatan jahat. Aku seakan mendapatkan perlindungan dari sebuah kekuatan tak terduga."
__ADS_1