Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Suasana Panas di Pesta


__ADS_3

Suasana semakin memanas, para tamu undangan mulai mengeluhkan ketidaknyamanan terhadap pemandangan yang mereka saksikan. Darah para pembunuh mengucur di atas lantai. Valencia beserta ketujuh Pangeran tiada ampun menghajar para pembunuh yang mencoba mengacau hingga melukai orang lain.


Tidak sedikit dari para gadis bangsawan yang pingsan mencium aroma darah. Sementara itu, dari luar istana terdengar suara pertarungan sihir Henzo dengan beberapa orang pembunuh yang telah sigap mengepung istana.


Valencia melirik ke arah Rudolf, tampaknya pria itu tidak menyangka rencananya malam ini dikacaukan kembali oleh Valencia. Dia kehilangan akal seketika melihat bagaimana cara Valencia membereskan seluruh pembunuh yang ia taruh di istana.


Kemudian Valencia melangkah mendekati Rudolf. Dia menyentuh muka Rudolf dan mengoleskan darah pembunuh itu ke pipi pria tersebut.


"Jangan pernah sesekali berpikir kalau kau bisa mengelabuiku. Ingatlah jangan melewati batasmu, kalau kau masih melakukannya maka aku akan mencabik-cabik tubuhmu," bisik Valencia.


Entah mengapa tubuh Rudolf kaku sekaligus merinding mendengar suara Valencia.


"Dan juga, insiden kematian Pangeran Stephen, aku memegang bukti kuat yang menyatakan bahwa kau adalah pembunuhnya," lanjutnya berbisik.


Rudolf tak bergeming, ancaman Valencia nyata adanya. Setelah mengatakan itu, Valencia beranjak pergi dari hadapan Rudolf sembari melayangkan senyum seringai penuh kesadisan.


Linnea gemetar ketika menatap Valencia, ia pun menunduk takut dan tak sanggup membuka suara untuk melawannya.


'Dia tahu aku yang membunuh Stephen? Kalau begitu, dia harus aku bunuh bagaimana pun caranya,' batin Rudolf menggerutu.


Valencia lalu berdiri di hadapan para tamu untuk memberi kalimat penenang.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, saat ini situasi Alegra cukup genting. Akan tetapi, saya berjanji akan melindungi Anda semua dari serangan tak terduga. Saya pastikan kalau festival kali ini berjalan tanpa ada kendala," seru Valencia.


Mendengar kata-kata Valencia yang sangat meyakinkan, mereka mulai tenang kembali. Kemudian Valencia mendekat ke arah Abraham dan Linita yang masih syok mendapati serangan dari pembunuh.


"Paman, Bibi, tenang saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan, saya akan melindungi Anda berdua. Apa pun yang terjadi, tolong tetaplah tenang. Apabila Anda ikut panik, maka para tamu juga ikut panik," tutur Valencia.


"Apakah sekarang tidak ada pembunuh lagi?" tanya Linita.


Valencia mengangguk. "Ya, sudah tidak ada. Mereka berhasil diatasi, tampaknya mereka mulai bergerak terang-terangan."


Mereka membuang napas lega bersamaan. Devina yang mengkhawatirkan kondisi Ayah dan Ibunya langsung mendekat.


"Ayah, Ibu, apakah kalian baik-baik saja?" tanya Devina cemas.


"Kami baik-baik saja, jangan cemas," jawab Abraham.

__ADS_1


"Terima kasih, Valencia, lagi-lagi kau menyelamatkan orang tuaku," ucap Devina dengan mata berkaca-kaca.


"Ini sudah kewajibanku, aku tidak bisa mengabaikan musuh yang mengincar nyawa Paman dan Bibi."


Selepasnya, Valencia memungut pisau milik pembunuh yang digunakan untuk menargetkan Abraham. Warna hitam pekat dan aroma amis menyeruak ke penciuman Valencia.


'Ini adalah racun ikan mematikan di laut benua Mihovil. Namun, ikan ini telah aku amankan dahulu dari jangkauan manusia. Jika mereka punya racun dari ikan itu, maka artinya ada seseorang yang membuka segelnya. Apa yang sedang terjadi sebenarnya di benua Mihovil?' pikir Valencia.


Lalu pesta pun dilanjutkan, meski ada situasi di mana para tamu syok akibat insiden percobaan pembunuhan. Mengandalkan sihir, Valencia memberi sepercik sihir penenang kepada para tamu supaya mereka dapat lebih santai menikmati pestanya.


Pada hari berikutnya, acara dilanjutkan dengan pertunjukan di tepi danau. Pertunjukan teater serta tarian dari beberapa orang terpilih. Suasana sekitar sangat ramai, atmosfernya pun terasa hangat. Valencia berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi lagi.


"Kami sudah memasang sihir penghalang, kau tidak perlu khawatir lagi," ucap Frintz.


"Baguslah. Apakah di sekitar danau sudah dipastikan aman?" tanya Valencia.


"Ya, semuanya aman terkendali," jawab Leano.


Ketika Valencia berbalik badan, ia dikejutkan oleh keberadaan seorang anak laki-laki yang pernah dia temui kemarin. Anak laki-laki itu memandang penuh binar kepada Valencia.


"Nona malaikat! Apakah kau masih ingat aku?" tanyanya.


"Siapa dia?" bisik Frintz bertanya.


"Dia bocah yang aku temui kemarin," jawab Valencia berbisik balik.


Melihat Frintz berdiri terlalu dekat dengan Valencia, anak laki-laki itu langsung mendorong Frintz agar menjauh dari Valencia.


"Tidak boleh dekat-dekat dengan calon pengantinku," tekannya menatap Frintz penuh amarah.


"Hah? Calon pengantin?"


Si anak laki-laki menyulut kemarahan dari pria yang berada di sekeliling Valencia. Namun, dia tidak mempedulikannya dan hanya peduli kepada Valencia.


"Yang Mulia! Astaga, kenapa Anda suka sekali membuat saya khawatir karena Anda terus menghilang?"


Seorang pria paruh baya berlarian menghampiri anak laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Yang Mulia? Memangnya kau ini siapa?" tanya Valencia.


"Aku Kyle Oswaldo, Putra Mahkota dari Kerajaan Oswaldo," jawab anak kecil bernama Kyle itu.


"Kerajaan Oswaldo? Maksudmu kerajaan yang terkenal punya tambang permata itu?"


"Ya, meskipun Oswaldo hanyalah kerajaan dan bukan kekaisaran, tetapi kerajaanku sangat kaya."


Valencia jadi tidak heran mengapa Kyle bisa sepercaya diri itu ingin menjadikannya sebagai pengantin. Akan tetapi, sayangnya Valencia tidak tertarik dengan anak kecil.


"Ah, begitukah? Tidak heran mengapa kau terlihat menyebalkan," celetuk Leano.


"Apa kau bilang? Aku ini akan menjadi Raja di masa depan. Aku akan menjadikan Nona malaikat ini menjadi Ratu-ku!"


"Kau selalu saja menyebutnya Nona malaikat, apakah kau tahu nama asli Nona yang kau kejar ini?" tanya Frintz.


Kyle tidak langsung menjawabnya, dia sendiri kebingungan harus jawab apa sebab dia tidak tahu siapa nama Valencia.


"Namanya Valencia Calestine," sela Henzo muncul dari arah berlawanan.


Sontak Kyle ketakutan dan bersembunyi di balik badan pelayan pribadinya. Aura intimidasi dari Henzo membuat anak kecil menjadi takut berurusan dengannya.


"V-Valencia Calestine?"


"Benar, dia putriku. Kalau kau mau menjadikannya sebagai pengantinmu, maka kau harus berhadapan denganku."


"T-Tidak ...." Ketakutan yang dirasakan Kyle memuncak hingga membuat air matanya bergulir berjatuhan begitu saja.


Kyle pun menangis, pelayan pribadinya langsung menenangkan Kyle.


"Tolong maafkan kelancangan Putra Mahkota, Archduke. Beliau masih kecil," ujar pelayan pribadi Kyle.


Seusai mengatakan kata maaf, dia langsung membawa Kyle pergi menjauh dari hadapan Valencia. Tak kuasa menahan tawa, Valencia terkikik melihat ekspresi Kyle.


"Hahaha, Ayah, mengapa Ayah malah menekannya? Itu sangat lucu melihat anak kecil ketakutan setiap kali menatapmu," tutur Valencia.


"Apakah aku memang semenyeramkan itu?"

__ADS_1


"Tidak perlu ditanyakan lagi, melihat wajah Anda saja anak kecil akan langsung berlari terbirit-birit," kata Leano.


"Yang dikatakan Leano itu benar. Sebaiknya Ayah berkaca sesekali agar tahu seberapa buruknya ekspresi Ayah di mata anak kecil."


__ADS_2