
Pria itu tetap bersikeras tidak mau memberi tahu Valencia mengenai informasi apa pun tentang kelompok penyihir bayangan. Suara tawa Valencia tiba-tiba menggema di tengah penjara, menurutnya berhadapan dengan kelompok yang pernah dia musnahkan merupakan sesuatu yang amat lucu. Valencia mengibaskan rambutnya, ia sudah menduga bahwa ada kemungkinan dirinya takkan mendapatkan apa pun ketika menginterogasi pria tersebut.
“Kau pikir, kelompok penyihir bayanganmu itu bisa mengalahkanku? Hei, kau sedang melawak, ya? Tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa mengalahkanku.”
Atmosfer sekitar berubah berat, langit-langit penjara seakan runtuh menimpa tubuhnya, pria itu semakin mempertanyakan identitas Valencia. Membuat tekanan kuat seperti sekarang merupakan sesuatu yang hanya bisa dilakukan seseorang yang mempunyai sihir di dirinya.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau bukan manusia biasa?!” tanya pria itu.
“Siapa aku?” Valencia menyunggingkan senyum. “Aku Valencia Allerick, jika kau mau tahu aku manusia biasa atau bukan, kau nilai saja dengan mata kepalamu sendiri.”
Valencia menusuk jiwa si mata-mata tersebut menggunakan kilasan sihir yang tak kasat mata. Sihir itu menyebar menjadi sebuah bayangan yang hanya bisa dilihat menggunakan mata batin pria itu. Betapa terkejutnya dia menemukan bayangan Klarybell di diri Valencia, dia mengetahui pasti ciri-ciri serta rupa Klarybell dari sebuah lukisan. Kini dia pun dihadapkan dengan Klarybell langsung, penyihir agung terhebat yang telah mati delapan ratus tahun yang lalu.
“Bagaimana? Bagaimana bisa? Mustahil! Itu mustahil! Tidak mungkin hal seperti ini terjadi!” Pria itu histeris seketika, dia menolak kenyataan yang disuguhkan padanya.
“Ya, itu bisa saja terjadi, tanpa kalian sadari dan tanpa kalian ketahui, kalian telah membangunkan singa dari tidur lelapnya. Sekarang bersiaplah menerima hukuman dariku, jika aku tidak mendapatkan apa pun darimu, maka terpaksa aku harus menyiksamu.”
Valencia bangkit dari tempatnya duduk, entah hal gila apa lagi yang hendak dilakukan Valencia terhadap lawan bicaranya saat ini. Valencia tersenyum seperti orang gila, bayangan kematian pun mendatangi pria itu. Dia tidak bisa lari ke mana pun lagi, dia sudah berada di genggaman Valencia.
“Bawakan aku satu pisau dan beberapa jeruk nipis,” perintah Valencia kepada seorang kesatria.
Kesatria tersebut terlihat bingung, dia tidak langsung mematuhi perintah Valencia, melainkan dia menunjukkan reaksi mematung akibat terkejut karena perintah aneh Valencia.
“Tunggu apa lagi? Cepat bawakan pisau dan jeruk nipis,” perintah Valencia sekali lagi.
“B-Baik, Nona.” Sang kesatria bergegas memenuhi perintah Valencia, dia berlari ke luar penjara dan segera menuju dapur untuk mengambil pisau serta jeruk nipis sesuai keinginan Valencia.
Tidak butuh waktu lama, kesatria tersebut terengah-engah membawakan pisau dan jeruk nipis. Valencia memainkan pisau itu bersamaan senyum kejam yang kian menajam, pria itu terlihat gemetar ketakutan, bahkan menelan ludah saja dia tidak sanggup melakukannya.
__ADS_1
“Apa yang hendak kau lakukan, Valencia?” tanya Leano.
“Aku hanya mau bermain-main sebentar dengan mata-mata ini.”
Valencia mencengkram tangan pria itu, dia menarik jemari telunjuknya lalu menaruh bagian pisau paling tajam ke permukaan kulit si mata-mata. Perlahan Valencia menggerakkan gagang pisau tersebut, dengan kejam ia memotong jemari telunjuk kemudian memotong jari lainnya. Pria itu menjerit kesakitan, tidak sampai di sana saja. Setelah itu, Valencia mengucurkan cairan jeruk nipis ke permukaan bagian jari yang terluka.
“ARRRRGGHHHHH!” Pekikan kesakitan pria itu bergaung di penjara mansion. Seluruh mata yang menyaksikan penyiksaan Valencia membuat mereka merasa mual sekaligus ngeri.
“Hahaha, rasakan itu! Inilah akibatnya jika kalian kelompok penyihir bayangan rendahan berani menentangku! Tidak ada kata ampun bagi siapa pun yang mengusik ketenanganku!”
Suara tawa Valencia terdengar sadis, melihat pria itu menggeliat dan terus meringis menahan sakit menjadi kepuasan tersendiri baginya. Reibert, Leano, dan Sammy tidak bisa berbuat apa pun kala itu, mereka hanya menjadi penonton atas kekejaman yang dilakukan Valencia.
“Melihat Valencia seperti ini aku jadi teringat seseorang yang sama gilanya dengannya,” kata Sammy.
“Ya, kau benar, aku juga teringat seseorang,” ujar Leano menelan saliva.
“Archduke Calestine. Tampaknya kita sekarang kedatangan perempuan yang mirip dengannya,” gumam Reibert menepuk pelan keningnya.
Beberapa menit berselang, pria itu mati perlahan akibat penyiksaan yang dia terima dari Valencia. Dia kehilangan banyak darah serta kehilang sejumlah anggota tubuh, Valencia tanpa ampun memberinya siksaan demi siksaan.
“Dia sudah mati?” Valencia menginjak kepala jasad mata-mata itu. “Siapa yang mengizinkanmu mati? Aku belum memberimu izin pergi ke neraka! Bangun kau! Bangun!” Valencia menginjak kepala pria itu berkali-kali hingga nyaris hancur.
“Sudah, Valencia! Hentikan!” Leano melerai kegilaan Valencia, dia pun membawa Valencia mundur ke belakang.
“Mati tanpa izin dariku, sama saja dengan menentang kehendak dewa.” Valencia mengibaskan rambut panjangnya, dia pun berlalu pergi meninggalkan jasad mata-mata itu di dalam penjara.
“Kalian bereskan sisanya,” titah Reibert kepada bawahannya.
__ADS_1
Valencia masih merasa jengkel, dia tidak mendapatkan apa pun walau telah menyiksa mata-mata itu sampai mati. Kejengkelan Valencia terus berlanjut, ketiga pria yang senantiasa bersamanya sedari tadi tidak bisa berbuat banyak.
“Usaikan saja kejengkelanmu itu, mari kita selidiki lagi nanti,” tutur Sammy.
“Tidak bisa, ini sangat mengganggu pikiranku. Mereka akan terus melakukan hal gila demi melenyapkan orang-orang yang menghambat tujuan mereka.”
Di sela kejengkelan Valencia, matanya menangkap Sammy tengah memasukkan beberapa jari mata-mata tadi ke dalam toples kaca.
“Mau kau apakah jari-jari itu?” tanya Valencia.
“Aku ingin melakukan penelitian, rencananya aku juga akan membawa jasad para mata-mata itu ke laboratoriumku.”
Sammy terlihat dipenuhi hasrat untuk meneliti tubuh manusia, Valencia tidak keberatan akan hal tersebut.
“Memangnya penelitian sejenis apa yang hendak kau lakukan?”
“Kau tidak perlu menanyakan penelitian apa yang dia lakukan. Asal kau tahu, dia ini maniak penelitian aneh, dia selalu melakukan penelitian yang sulit dimengerti manusia. Terkadang juga dia menjadikan pelayannya sebagai kelinci percobaan,” celetuk Leano.
Leano menghidangkan makanan buatannya di atas meja, kejengkelan Valencia lenyap sesaat dirinya melihat adanya makanan di depan matanya kini.
“Meskipun penelitianku dicap aneh, sebetulnya ada sesuatu yang sejak dahulu ingin aku buat yaitu obat yang bisa memperkuat stamina kesatria sekaligus obat yang dapat menyembuhkan luka dengan cepat layaknya sihir.”
Tujuan Sammy menarik perhatian Valencia tiba-tiba, siapa sangka jika ada manusia dari benua Solvey berusaha keras membuat obat yang biasa digunakan di benua Mihovil dengan berbekal pengetahuan yang minim soal sihir.
“Maksudmu, kau ingin membuat potion?”
Sontak Sammy melirik Valencia. “Ya, potion! Di benua Mihovil semua orang menyebutnya potion.”
__ADS_1