
Berita kematian Joseth menyebar dengan sangat cepat. Baru tadi malam Valencia membunuhnya, pada pagi harinya sudah terdengar orang-orang menceritakan dari mulut ke mulut perihak kematian Joseth. Banyak orang bertanya-tanya penyebab kematian Joseth. Pasalnya, kondisi mayatnya amat mengenaskan, kepalanya terpisah dari badannya.
Dari hal tersebut telah bisa dijelaskan bahwa Joseth sesungguhnya telah dibunuh oleh seseorang. Akan tetapi, tidak ada orang yang tahu siapa pembunuhnya sebab sang pembunuh tidak meninggalkan jejak apa pun. Valencia terlihat cukup puas, dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Kini dia juga memegang kunci utama yang akan menghancurkan reputasi Linnea.
"Valencia, ada seseorang yang datang mencarimu," ujar teman sekelas Valencia.
"Siapa itu?" tanya Valencia.
"Itu pihak pengadilan, mereka membawa surat panggilan resmi."
Valencia bergegas keluar dari kelas, berharap panggilan kali ini adalah panggilan yang terakhir. Valencia sudah muak berurusan dengan orang-orang busuk dari pengadilan tersebut.
Di depan kelas, seorang pria ditemani beberapa orang kesatria di belakangnya membawa gulungan surat resmi pengadilan. Valencia langsung berhadapan dengan pria itu untuk mengetahui alasan dirinya dipanggil.
"Ada apa kau memanggilku? Apakah ada sesuatu yang harus aku lakukan di pengadilan nanti?"
Pria itu menatap Valencia dengan tidak ramah, tampaknya seluruh orang di pengadilan menaruh rasa benci terhadap Valencia. Namun, dia tidak peduli, dia hanya perlu mengetahui maksud kedatangan pria itu ke akademi untuk menemuinya saat ini.
"Nona Valencia Allerick, berdasarkan surat ini, hakim pengadilan mengundang Anda dalam pengadilan mengadili kasus mantan Kepala Akademi yang akan dilangsungkan empat hari dari sekarang. Jadi, saya harap Anda datang ke gedung pengadilan untuk menyelesaikan masalah yang telah Anda perbuat," paparnya menjelaskan isi surat tersebut.
"Itu saja kan? Baiklah, aku akan pergi nanti. Sekarang kau boleh angkat kaki dari sini," kata Valencia mengusir pria itu dan para kesatrianya.
"Baiklah, saya permisi dulu." Dia terlihat menggerutu marah karena diusir Valencia, tapi dia tidak mengambil hati pengusiran yang dilakukan Valencia kepada dirinya.
Valencia menghela napas panjang, tiba-tiba saja dari belakang Devina dan Rachel datang menghampirinya.
__ADS_1
"Valencia, apa yang dikatakan pihak pengadilan padamu? Mereka mengirim utusannya, bukan?" tanya Devina penasaran.
"Mereka mengundangku ke pengadilan empat hari lagi. Itu tidak penting, yang paling penting sekarang adalah mari kita pergi makan ke restoran terdekat. Aku cukup bosan dengan menu makanan di kantin," ajak Valencia bersemangat.
"Baiklah, mari kita pergi ke restoran."
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat akademi untuk mengganti suasana baru. Di sana cukup ramai pengunjung yang berdatangan. Mulai dari bangsawan kalangan bawah sampai kalangan atas karena memang harga makanan di sana tergolong cukup murah dan rasanya juga terkenal enak.
"Apakah kalian tahu alasan Kaisar masih belum juga memilih penerus berikutnya? Katanya beliau berharap Tuan Putri mewarisi takhta. Padahal masih ada Pangeran Rudolf, tapi beliau malah memilih seorang wanita menjadi pemimpin. Mau dibawa ke mana negeri ini bila wanita yang menjadi pemimpin?"
"Aku tidak paham di mana kurangnya Pangeran Rudolf. Beliau terkenal pintar, tampan, dan kuat juga. Dibandingkan Tuan Putri Devina, Pangeran Rudolf masih jauh di depan beliau."
"Tampaknya Tuan Putri sedang bermimpi menjadi Kaisar. Seharusnya beliau sadar diri bahwasanya wanita tidak akan bisa naik sebagai pemimpin."
Mereka tidak berhenti berceloteh tentang hinaan mereka terhadap Devina. Valencia tidak tahan lagi mendengar, dia mencoba melirik ke arah Devina. Temannya itu langsung tertunduk lesu akibat hinaan dari wanita bangsawan yang dia dengar.
Mereka asing bergosip dan bergunjing ria di depan orangnya langsung. Sungguh, mereka sangat membuat Valencia naik pitam.
"Mereka perlu aku beri pelajaran."
Ketika Valencia hendak berdiri dari tempat duduknya, Devina menahannya sambil menggelengkan kepala.
"Tolong jangan membuat keributan dan merepotkan dirimu masuk ke dalam masalahku. Mereka benar, aku tidak tahu malu sekali mengharapkan posisi pewaris takhta. Aku hanya seorang wanita, mustahil bagiku menjadi pemimpin," tutur Devina.
"Itu tidak benar, kau tidak boleh menyerah pada mimpimu. Bukankah selama ini kau telah berusaha keras? Tidak ada batasan untuk menjadi seorang pemimpin!" tegas Rachel mencoba membangkitkan lagi tekad Devina.
__ADS_1
Valencia menyentuh punggung tangan Devina, gadis itu hanya butuh dorongan dari orang-orang yang mendukungnya. Selama ini dia sering sekali mendengar bangsawan bergosip tentang dirinya yang terang-terangan menentang pemikiran soal wanita tidak bisa menjadi seorang pemimpin.
"Devina, dengarkan aku, menjadi pemimpin tidak ada hubungannya dengan pria atau wanita. Selama kau punya tekad dan kekuatan mencintai rakyat, maka kau bisa menjadi pemimpin. Terlepas dari siapa dirimu, terlepas dari pria dan wanita, kau bisa menjadi pemimpin dari sebuah kekaisaran. Percayalah padaku, oke?"
Valencia kembali menyemangatinya, dia perlahan bangkit melupakan perkataan orang lain. Devina beruntung memiliki teman yang mendukung mimpinya. Dia pikir sebelumnya Valencia dan Rachel akan menertawakan mimpinya. Akan tetapi, rupanya malah sebaliknya, mereka mendukung sepenuhnya.
"Ya, aku paham." Devina mengangguk, dia telah menemukan kembali semangat yang menghilang dari dirinya.
"Kalau begitu, kalian berdua tunggu di sini. Aku akan memberikan mereka pelajaran agar tidak bergosip sembarangan."
Valencia beralih dari tempat duduknya, dia lekas menuju ke meja tempat berkumpulnya para wanita bangsawan.
"Kalian tidak punya pekerjaan lain selain menggosipkan orang lain?" celetuk Valencia memukul meja mereka.
Mereka seketika terkejut dengan kedatangan Valencia. Gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam percakapan mereka perihal Devina.
"Anda Nona Valencia Allerick, bukan? Anda tidak bisa ikut campur ke dalam pembicaraan kami begitu saja," ujar salah seorang dari mereka.
"Aku ikut campur karena kalian telah menghina temanku. Jadi, kalian tidak bisa melarangku untuk tidak ikut campur," balas Valencia berwajah masam.
"Nona, tolong pergi dari sini sekarang juga dan jangan membuat masalah. Anda terlalu banyak membuat masalah di hidup orang lain."
Mereka mencoba mengusir Valencia, tapi gadis itu menolak untuk pergi. Valencia pun mendudukkan diri di kursi kosong di dekat mereka. Dia merogoh begitu saja cemilan yang ditaruh di meja makan mereka.
"Kalian tahu? Aku paling benci melihat wanita yang seperti kalian. Beban suami dan hanya pandai berkomentar saja. Berbeda dengan wanita yang bekerja sebagai pemimpin, mereka punya kekayaan tersendiri dan tidak bergantung pada suami. Tidakkah menurut kalian itu keren? Ah, aku lupa, ambisi kalian kan hanya menjadi beban suami dan tidak lebih dari itu."
__ADS_1