Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Dimulainya Festival


__ADS_3

Suasana malam itu di kediaman Grand Duke Allerick cukup menegangkan. Pasalnya, tubuh Helen melemah akibat luka yang dia terima dari kemarahan Guilla lumayan parah. Dokter pribadi keluarga tidak bisa menekan kucuran darah tiada henti dari lukanya.


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain, sekarang pergi ambil satu botol potion penyembuh! Hanya dengan itu cara menghentikan pendarahan dan menutup lukanya!" seru Adarian memberi perintah.


Adarian senantiasa menemani Helen di kala tengah kesakitan melawan goresan luka yang merenggut kesadarannya. Seorang kesatria buru-buru membawakan satu botol potion untuk Helen.


Adarian langsung membantu meminumkan potion tersebut kepada Helen. Luka di perut Helen sembuh secara sempurna. Sekarang Adarian bisa bernapas lebih lega.


"Tolong ambilkan pulpen dan kertas, aku ingin menulis surat."


Adarian melaporkan seluruh masalah yang terjadi kepada Valencia. Bagaimana pun, dia tidak bisa mengeksekusi Guilla tanpa izin dari Valencia.


Surat itu pun tiba di kediaman Archduke Calestine dalam waktu singkat. Valencia terlihat puas ketika menerima surat laporan tersebut.


"Wanita ini terperangkap di lubang yang dia gali sendiri. Dia tidak boleh mati sampai aku mengizinkannya untuk mati."


***


Tersisa satu hari lagi sebelum festival ulang tahun Kekaisaran Alegra dimulai. Reibert dan yang lain kecuali Leano, melakukan pemeriksaan secara berkala di sekitar wilayah Alegra sebab ada kemungkinan pihak musuh akan mengacaukan festival.


"Bagaimana? Kalian menemukan sesuatu?" tanya Reibert.


"Tidak, semuanya aman. Namun, aku masih khawatir kalau nanti terjadi serangan mendadak," jawab Frintz.


"Setidaknya kau harus menyediakan lebih banyak potion untuk hari esok, Sammy. Kita tidak tahu kapan para kesatria akan mengangkat pedangnya," tutur Rexid kepada Sammy.


"Tenang saja, aku dan Valencia sudah menyiapkan semua sejak awal. Stok potion sudah aman lalu tinggal persenjataan," kata Sammy.


"Senjata juga sudah aku periksa dan Valencia meminta membagikan beberapa senjata sihir. Semuanya berjalan aman terkendali," celetuk Ivanov.


"Kalau begitu, persiapan telah selesai, kita tinggal memberi perintah para kesatria berjaga di setiap sisi kekaisaran karena perwakilan dari berbagai kerajaan dan kekaisaran telah tiba di istana," imbuh Xeros.


"Kalau begitu, kita bubar sekarang. Setidaknya dengan begini kita telah memastikan keamanan orang-orang," pungkas Reibert mengakhiri pertemuan mereka.


Sementara itu, Leano tengah terbaring di atas ranjang. Suhu tubuhnya sangat tinggi, badannya tak henti-hentinya gemetar. Kemudian tidak lama setelahnya, Valencia datang ke kediaman Leano dan membawakan bubur yang dibuatkan koki di kediaman Archduke Calestine.


"Badannya sangat panas, sepertinya dia sedang demam," gumam Valencia menyentuh kening Leano.


Valencia mengecek bagian tubuh Leano yang lain, kecuali kepalanya seluruh badannya sangat dingin.


"Untung saja aku langsung kemari seusai mendapat laporan kalau Leano sedang demam. Ditambah lagi, dia tinggal sendirian di mansion sebesar ini."


Valencia sejenak keheranan, Leano tampaknya sengaja menghindari banyak orang. Selain alerginya terhadap wanita, Leano terlalu waspada kepada orang lain sehingga hal itu menyulitkannya untuk mempercayai orang-orang.


Tanpa diketahui Valencia, sesungguhnya alasan Leano menghindari orang lain ialah karena dia punya trauma masa kecil. Trauma itu dia bawa beriringan dirinya tumbuh dewasa sehingga akibat trauma itu dia jadi memiliki alergi dengan sentuhan wanita.


"Dasar anak tidak berguna! Kenapa kau harus lahir ke dunia ini?!"


"Apa kau baru saja menumpahkan makanannya? Aku sudah bilang untuk tidak membuang makanan!"


"Kau pulang tanpa membawa uang lagi? Kalau begitu, kau tidak boleh makan dan tidur hari ini!"


"Aku tidak mau membesarkan anak pembawa sial sepertimu. Karena kau aku harus melewati hidup yang penuh dengan kemiskinan!"


Suara-suara itu berdengung di kepala Leano, ia dihantui ingatan di mana sang Ibu selalu menyiksanya tiada henti. Leano kecil menahan segala luka yang ditorehkan Ibunya tanpa melawan sedikit pun. Namun, sayangnya, Ibunya terlampau kejam dan seringkali nyawanya berada dalam bahaya.


"Huh? Apa dia sedang mimpi buruk?"

__ADS_1


Leano sangat gelisah mendapati ingatan masa kelamnya kembali muncul setelah sekian lama. Padahal ingatan itu telah terkubur dalam, tetapi malah timbul sesaat tubuhnya didera demam.


Valencia mengeluarkan satu botol potion yang ia racik khusus untuk menurunkan demam Leano.


"Bagaimana cara agar dia bisa meminum potionnya ketika sedang tidak sadarkan diri seperti ini?"


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak Valencia.


"Kalau begitu, aku bantu saja meminumkannya dari mulut ke mulut."


Valencia menyeruput potion itu lalu ia melakukan kontak dari bibir ke bibir. Ini seperti sebuah ciuman, tapi ciuman yang digunakan untuk membantu Leano meminum potionnya. Valencia tidak punya pikiran apa-apa selain memikirkan kesembuhan Leano. Namun, ketika bibir mereka bersentuhan, kesadaran Leano kembali.


'Bibir siapa yang menyentuhku? Eh? Valencia?!'


Begitu menyadari keberadaan Valencia, sontak Leano langsung mendorong tubuh Valencia untuk menjauh.


"Valencia, apa yang kau lakukan?!"


Wajah Leano terbakar panas, seluruh wajahnya merona merah karena ciuman tersebut.


"Ah kau sudah sadar. Memangnya apa lagi yang aku lakukan? Tentu saja menciummu," jawab Valencia tersenyum polos tak berdosa.


"M-Menciumku? Bukan begitu, m-maksudnya kenapa kau menciumku? Apa kau tidak tahu kalau itu ciuman pertamaku?!"


Leano terlihat syok sekali atas apa yang telah diperbuat Valencia. Sebaliknya, Valencia merasa itu tidak ada masalah sama sekali.


"Aku tidak tahu itu, tetapi aku menciummu karena aku membantu untuk meminumkan potion pereda demam. Jadi, bagaimana kondisi tubuhmu sekarang? Seharusnya potion itu sudah mulai bekerja."


Leano mulai merasakan kesejukan di tubuhnya. Potion itu bekerja lebih cepat, demam Leano pun perlahan menurun.


Valencia menempelkan lagi telapak tangannya di dahi Leano. Tidak dia rasakan sensasi panas seperti sebelumnya.


"Ini bukan demam, aku hanya kepanasan saja makanya mukaku memerah. Jangan salah paham!" elak Leano tersipu malu.


"Salam paham apanya? Ya sudah, aku pergi dulu. Aku membawakanmu bubur, jangan lupa dimakan. Tidak seru kalau kau demam ketika festival dilaksanakan besok."


Valencia segera menghilang dari hadapan Leano, gadis itu terburu-buru sekali berpamitan pergi dari kediaman Leano. Pria itu terpaku melihat Valencia, entah bagaimana kala itu jantungnya tak berhenti berdebar-debar.


Leano menyentuh bibirnya, perasaannya menjadi tidak karuan.


'Dasar gadis polos! Bisa-bisanya dia menciumku begitu saja. Apakah dia tidak sadar kalau dia akan membuatku semakin jatuh cinta? Sial! Pikiranku jadi kacau.'


Leano berusaha mengontrol perasaannya, Valencia membuatnya menjadi lebih gila. Gadis yang tidak mengerti apa-apa soal cinta malah menarik pria lain untuk mencintainya. Itu merupakan sesuatu yang unik dari diri Valencia.


"Harus bagaimana aku menanggapinya ketika aku bertemu dengannya besok? Haruskah aku melupakan apa yang terjadi hari ini? Ya, aku harus melupakannya karena aku tidak mau bersikap canggung di hadapannya," gumam Leano tak bisa mengalihkan pikirannya dari Valencia.


Pada hari berikutnya, lebih tepatnya di waktu pelaksanaan festival, pembukaan acaranya diawali dengan sebuah pesta di istana kekaisaran. Dengan mengundang beberapa orang penting serta perwakilan dari sejumlah kerajaan dan kekaisaran membuat pesta malam ini terasa lebih ramai dari biasanya.


Menjelang pesta diadakan, Valencia berjalan-jalan sejenak di sekitar daerah istana untuk mengecek keamanan sekaligus mengecek apakah ada jebakan tersembunyi atau tidak. Untungnya saja, segalanya berjalan aman terkendali.


Ketika Valencia berjalan di salah satu danau yang akan menjadi tempat diadakannya pertunjukan di esok hari, penglihatan Valencia tanpa sengaja menangkap pemandangan seorang anak kecil laki-laki terjebak di atas pohon.


"Apa yang dilakukan bocah itu di atas pohon?"


Valencia lekas mendekati pohon tersebut, pas sekali kala itu tubuh anak laki-laki itu terjatuh. Valencia langsung menyambut tubuhnya di bawah.


"Hei bocah, apa kau baik-baik saja?" tanya Valencia.

__ADS_1


Anak laki-laki itu terlihat syok, dia hampir saja terluka parah akibat kebodohannya sendiri.


"Wah, malaikat. Apakah kau seorang malaikat?"


Anak laki-laki itu terkesima melihat Valencia, kedua bola matanya berbinar menatap wajah Valencia.


"Malaikat? Otakmu terbentur ya? Aku ini manusia," ketus Valencia menurunkan tubuh anak laki-laki itu.


"Benarkah? Tetapi, aku melihatmu seperti malaikat. Kau sangat cantik dan kau bahkan datang menyelamatkanku. Apakah ini takdir?"


Valencia tidak paham isi kepala bocah yang baru saja dia selamatkan. Pupil mata Valencia bergerak memindai penampilan anak laki-laki itu. Apabila dilihat dari pakaiannya, tampaknya dia bukanlah anak dari orang biasa.


"Takdir apanya? Jangan berbicara yang aneh-aneh. Kau hanya anak kecil yang usianya jauh di bawahku," balas Valencia semakin ketus.


"Tidak masalah, cinta tidak memandang umur."


Valencia tidak tahan menghadapi anak laki-laki itu, ia pun menghilang dalam sekejap dari hadapannya. Bertepatan saat itu, seorang pria datang menghampiri si anak laki-laki.


"Yang Mulia, dari mana saja Anda? Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan diri Anda," ucap pria itu.


"Aku tadi pergi bermain sebentar karena aku bosan. Ayo sekarang kita pergi, aku harus segera bersiap-siap ke istana."


Datanglah waktu di mana pesta dimulai, para bangsawan pun berdatangan membawa penampilan terbaik mereka. Para gadis bangsawan yang masih belum menikah menjadikan tempat ini sebagai tempat di mana mereka bisa menemukan pria idaman untuk mereka incar.


Valencia menjadikan Henzo sebagai pendampingnya di pesta kali ini. Penampilan Valencia yang bersinar menjadi sorot utama di pandangan seluruh pria.


"Valencia!" seru Rachel menghampiri Valencia.


"Ternyata kau sudah datang," ujar Valencia.


"Ya, aku sudah datang sedari tadi. Wah, aku salah fokus dengan gaunmu. Aku yakin harganya pasti sangat mahal."


"Aku tidak tahu, Archduke membelikannya untukku."


Di sela percakapan mereka, sebuah pembicaraan antar para bangsawan di aula pesta menyita perhatian Valencia.


"Aku dengar ketujuh Pangeran akan hadir hari ini."


"Hah? Apa kau bercanda? Tujuh Pangeran yang tidak pernah menampakkan dirinya di hadapan publik akan hadir di pesta? Aku sulit mempercayainya."


"Iya, tetapi aku mendengarnya dari kesatria istana. Aku harap itu bukan rumor semata."


Valencia nyaris melupakan soal tujuh Pangeran yang diisukan tak pernah memperkenalkan diri mereka secara nyata di depan rakyat. Cukup membuatnya penasaran, dia jadi berharap mereka benar-benar datang.


"Sepengetahuanku, ketujuh Pangeran itu bukan anak kandung Kaisar," ujar Rachel tiba-tiba.


"Apakah mereka anak adopsi Kaisar?" tanya Valencia.


Rachel mengangguk. "Benar, mereka diadopsi Kaisar di panti asuhan yang hancur akibat monster yang keluar dari portal."


Lalu di saat yang sama, daun pintu masuk menuju aula terbuka lebar.


"Ketujuh Pangeran memasuki ruangan."


Sontak seisi ruangan memusatkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Begitu pula dengan Valencia yang sangat penasaran akan rupa para Pangeran.


"Huh? Yang benar saja?! Mereka bertujuh itu Pangeran?!"

__ADS_1


__ADS_2