Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Jebakan si Pelayan


__ADS_3

Reibert telah menerima sejumlah dokumen laporan dari Valencia. Secara khusus, dia membantu Valencia untuk menyimpan barang bukti rekaman yang sebelumnya pernah didapatkan Valencia dari salah seorang kaki tangan Rudolf. Tidak hanya Reibert, Valencia juga menyebar salinan rekamannya ke beberapa orang untuk mencegah adanya manipulasi dari Rudolf.


Selama seharian ini, Reibert tidak pergi ke mana-mana. Dia sibuk mengurusi pekerjaan dari kediamannya saja. Untungnya akhir-akhir ini dia santai dikarenakan pekerjaannya mulai berkurang. Tentu saja hal ini dimanfaatkan Reibert untuk mencari bukti kejahatan dari Rudolf.


"Siapa sangka kalau Stephen dibunuh oleh Rudolf. Aku memang mencurigainya sejak awal, tetapi aku tidak percaya dia menciptakan skenario kematian Stephen saat usianya masih belasan tahun. Dia telah dibutakan oleh hasrat berkuasa," gumam Reibert.


Reibert menghela napas panjang, ingatannya masih terikat oleh ingatan tentang Stephen. Dia sosok Pangeran yang baik dan bijaksana. Tidak heran lebih banyak orang yang mendukungnya menjadi pewaris takhta dibanding Rudolf.


"Aku harus menyimpan rekamannya di tempat paling aman supaya pihak Rudolf tak bisa menemukannya."


Bersamaan kala itu, seorang pelayan wanita mengetuk pintu ruang kerja Reibert. Pelayan wanita itu bernama Dhea, dia adalah pelayan yang sebelumnya pernah hampir meracuni Valencia.


"Yang Mulia, saya membuatkan teh untuk Anda," ucap Dhea.


Pandangannya tiada henti menatap Reibert dengan tatapan yang mencoba menggoda pria itu. Namun, sayangnya Reibert bahkan tidak meliriknya sedikit pun.


"Ya, taruh saja di sana," kata Reibert tidak menatap balik Dhea.


"Baiklah, Yang Mulia."


Dhea merungut kesal, percuma saja dia memakai parfum dan mengenakan make up karena Reibert tidak mempedulikan keberadaannya.


'Sialan! Dia bahkan tidak tergoda sedikit pun dengan penampilanku,' gerutu Dhea.


Dhea keluar dari ruangan Reibert membawa rasa kecewa akibat kegagalannya merayu Reibert. Sepanjang jalan dia hanya menggerutu, impiannya menjadi Nyonya rumah seolah-olah akan kandas di tengah jalan.


'Baiklah, aku tinggal melakukan itu saja. Bagaimana pun caranya aku harus bisa menjadi penguasa di kediaman ini. Aku tinggal membuatnya merasa bertanggung jawab karena telah menghamiliku. Dengan begitu Pangeran Reibert tidak bisa menghindar untuk menikahiku.'

__ADS_1


Rencana Dhea berada di luar kewarasannya, dia sedang mencoba menggali lubang kuburnya sendiri. Tanpa disadari Dhea, sebenarnya saat ini sedang berjalan di besi panas menuju alam kematian.


Ketika Reibert sedang tidak berada di kamarnya, Dhea diam-diam menyelinap membawa sebuah lilin aroma. Lilin tersebut merupakan media perangsang yang dapat membuat Reibert lupa diri.


'Aku yakin rencanaku kali ini akan berhasil. Aku harus membuat diriku mengandung anaknya.'


Dhea menyalakan lilinnya, dia keluar setelah berhasil menemukan bahwa lilin tersebut menyala dengan sempurna. Seusai itu, Dhea buru-buru keluar dari kamar Reibert sembari menunggu waktu yang tepat menjalankan rencana intinya.


Sesaat beberapa menit, Reibert masuk ke dalam kamar. Dia merasakan ada aroma asing dari lilin yang ditaruh Dhea di ruangan tersebut. Akan tetapi, Reibert tidak tahu sama sekali kalau itu adalah lilin aroma perangsang.


"Kenapa rasanya tubuhku menjadi panas? Aneh sekali. Apa yang terjadi? Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku."


Dada Reibert terasa sesak, pikirannya berputar-putar. Sebuah perasaan aneh menyelubungi diri Reibert. Rasa panas kian membakar Reibert dan membuatnya nyaris kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Sepersekian detik berlalu ketika aroma lilin perangsangnya bereaksi, Valencia tiba-tiba saja datang dari balkon kamar Reibert. Gadis itu mengendus aroma yang menyengat di kamar Reibert.


"Sepertinya ada seseorang yang menaruh lilin aroma untuk merangsang Reibert."


"Reibert, apa yang terjadi padamu? Apa kau terkena pengaruh lilin itu?"


Valencia menegur Reibert yang tertunduk lemas di tepi ranjang. Merasakan tangan Valencia yang menepuk pundaknya, gairah Reibert semakin bangkit membara. Dia mengangkat kepalanya lalu menyorot Valencia menggunakan tatapan seperti hewan buas yang hendak menerkam.


"Apa kau—"


Reibert tiba-tiba menarik pergelangan tangan Valencia dan membawa tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Suhu tubuh Reibert terasa amat panas. Tanpa berbicara apa pun, Reibert mencium bibir Valencia.


'Sepertinya dia terkena efek dari lilin itu, tidak bisa dibiarkan terus seperti ini.

__ADS_1


Valencia pun memukul tengkuk Reibert dan membuat pria itu tidak sadarkan diri. Lekas Valencia melompat turun dari ranjang lalu membantu Reibert memperbaiki posisi tidurnya.


"Bajing*n mana yang berani menaruh lilin aroma perangsang di kamar Reibert?!" gerutu Valencia diburu kemarahan.


Valencia duduk di kursi kosong samping ranjang Reibert. Suara langkah kaki yang mengendap-endap terdengar menuju kamar Reibert. Firasat Valencia mengatakan bahwa ada seorang wanita yang sedang menuju kamar dan kemungkinan itu adalah pelaku yang membuat Reibert seperti ini.


Dhea yang kegirangan masuk begitu saja ke kamar Reibert. Lalu darahnya berdesir hebat saat mendapati Valencia tengah berada di kamar yang sama dengan Reibert.


Seketika aura membunuh menusuk diri Dhea. Valencia mengarahkan tatapan tajam ke arah Dhea. Perlahan sudut bibir Valencia terangkat, dia mengenal baik Dhea yakni pelayan yang pernah mencoba meracuninya.


"Apa yang Anda lakukan di sini, Nona?" tanya Dhea berusaha bersikap santai.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di kamar Reibert mengenakan pakaian terbuka seperti itu? Apa jangan-jangan kau mencoba menggoda Reibert untuk menidurimu?" tuding Valencia tepat sasaran.


Dhea terperanjat kaget, kedua mata Valencia bersinar memancarkan emosi tidak biasa. Valencia masih belum melupakan apa yang telah dilakukan Dhea terhadapnya.


"I-Itu, s-saya ... saya hanya—"


"Hanya apa? Hanya menaruh lilin aroma dengan perangsang yang kuat? Aku mengerti sekarang. Kau mencoba memiliki Reibert dengan cara yang sangat kotor. Kali ini kau tidak akan lolos dari jebakan kematian."


Valencia bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan pelan mendekati Dhea yang membatu takut di ambang pintu.


"Dhea, aku belum melupakan apa yang kau lakukan waktu itu. Aku berniat melepaskanmu, tetapi siapa sangka kau malah membuat kesalahan fatal dan menggali lorong menuju neraka," tekan Valencia.


Dhea tidak sanggup menatap mata Valencia, wanita itu tertunduk dengan perasaan takut campur aduk. Valencia tidak akan memberikan pengampunan terhadap apa yang diperbuatnya.


"Tolong maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda atau pun melakukan hal kotor kepada Pangeran Reibert. Tolong ampuni saya, saya tidak pernah berniat menjebak Pangeran Reibert."

__ADS_1


Dhea bersujud di bawah kaki Valencia, tiada rasa bersalah sedikit pun yang terlintas di kepalanya.


'Aku yakin wanita ini akan memaafkanku, dia tidak punya bukti kuat menghukumku. Nanti aku tinggal adukan saja kepada Pangeran kalau dia mencoba merundungku,' pikir Dhea licik.


__ADS_2