
Valencia memutuskan untuk mengabaikan segala jenis teriakan dari Linnea. Bahkan sampai tengah malam pun gadis itu masih meraung dan meminta para kesatria membuka kunci penjara. Akibat hal tersebut, para kesatria merasa terganggu karena Linnea tiada henti berteriak tanpa menyadari kesalahannya.
Isu miring yang terus menerus menerpa Kekaisaran Alegra dianggap sebagai suatu dongkrakan demi memajukan kehidupan masyarakat. Hal ini memperlihatkan kepada masyarakat umum, khususnya rakyat biasa, bahwa hukum kekaisaran tidaklah pandang bulu. Semuanya bisa dihukum dan diadili sesuai kasus kejahatan yang telah diperbuat.
Kemajuan hukum kekaisaran merupakan hasil dari apa yang dilakukan Valencia. Memberantas ketidakadilan, menghancurkan pihak pengadilan yang mementingkan diri sendiri, serta merombak segala kehancuran moral manusia dari paling dasar. Berkat itulah Valencia dikenal sebagai wanita berkemampuan melebihi seorang pria dan punya bakat untuk menjadi pemimpin.
"Aku telah menemukannya," ucap Reibert.
"Huh? Kau telah menemukannya? Maksudmu pengasuh Pangeran Stephen?"
Reibert mengangguk. "Benar, pengasuh Pangeran Stephen sudah aku temukan. Saat ini aku telah mengamankannya. Semoga saja Rudolf tidak tahu tentang masalah ini."
"Lalu kapan aku bisa menemuinya?" tanya Valencia.
"Kau bisa menemuinya besok. Namun, ingatlah untuk berbicara dengan pelan karena sepertinya dia masih trauma karena kematian Pangeran Stephen," kata Reibert mengingatkan.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tibalah hari esok, hari di mana Valencia akan bertemu dengan Leah — mantan pengasuh Stephen yang kabur dari istana setelah kematian misterius dari Stephen.
Keberadaan Leah saat ini adalah di salah satu ruangan yang berada di kediaman Reibert. Pada saat Valencia melihat Leah, dia cukup terkejut karena Leah terlihat sangat kurus dan sepertinya dia punya beban pikiran yang sangat berat.
"Nyonya Leah, ada seseorang yang ingin bertemu," ucap Reibert.
Leah mengangkat kepalanya, dia menatap lesu ke arah Valencia.
__ADS_1
"Siapa?" tanyanya.
"Halo, Nyonya Leah. Aku Valencia, putri angkat Archduke Calestine. Aku kemari karena ingin membicarakan sesuatu denganmu," tutur Valencia.
"Membicarakan sesuatu?"
Valencia pun mendudukkan diri berhadapan dengan Leah. Rasa frustrasi dan depresi yang bersamaan dirasakan Leah merenggut segalanya darinya.
"Benar, aku ingin berbicara tentang mendiang Pangeran Stephen."
Mendengar nama Stephen, seketika ekspresinya berubah. Leah terlihat panik, gelisah, dan ketakutan. Akan tetapi, dia berusaha untuk menahan segala perasaan yang membadai di hatinya.
"Saya tidak tahu apa-apa soal Pangeran Stephen! Jangan tanya saya, jangan tanya apa pun. Saya tidak ada hubungannya dengan Pangeran Stephen."
Persis seperti apa yang diduga Valencia, Leah memang menyimpan sesuatu yang tidak pernah dia katakan kepada siapa pun. Selama ini Leah menyimpan segalanya sendirian sehingga hal tersebut menjadikan tekanan khusus untuk dirinya.
"Anda mencari bukti? Itu artinya Anda tahu kalau Pangeran Stephen dibunuh?" Kegelisahan di diri Leah lenyap sesaat Valencia mengatakan tentang fakta pembunuhan Stephen.
"Ya, aku tahu, itulah alasanku kemari untuk menemuimu membicarakan soal kasus kematian Pangeran Stephen."
Tatapan mata Leah memancarkan kelegaan, akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa dia gunakan sebagai tempat mencurahkan segala jenis rahasia yang dia pendam selama bertahun-tahun. Leah menatap Valencia penuh keyakinan, dia percaya Valencia ialah seseorang yang bisa memegang rahasianya.
"Sebenarnya, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau Pangeran Rudolf adalah orang yang membunuh Pangeran Stephen. Akan tetapi, saya tidak bisa melakukan apa-apa karena saya tidak punya kekuatan melawan Pangeran Rudolf."
__ADS_1
"Hari itu saya melihat dengan sangat jelas, Pangeran Rudolf membenamkan kepala Pangeran Stephen ke dalam danau. Padahal Pangeran Stephen sudah memohon untuk dilepaskan. Namun, Pangeran Rudolf tidak membiarkannya begitu saja."
"Ketika nyawa Pangeran Stephen berada di ambang kematian. Pangeran Rudolf langsung mendorong Pangeran Stephen ke dalam danau. Yang mana kondisinya kala itu beliau sudah lemah tak berdaya. Saya telat satu langkah menyelamatkan Pangeran Stephen."
"Semenjak saat itu, saya dihantui rasa bersalah, terutama kepada Kaisar dan Permaisuri. Saya ingin mengungkapkan kasus kejahatan Pangeran Rudolf. Sayangnya, saya tidak punya kekuatan melakukannya. Saya yakin baik Kaisar maupun Permaisuri tidak akan mempercayai ucapan saya. Terlebih lagi, Pangeran Rudolf sangat pandai memanipulasi orang lain," jelas Leah detail.
Penjelasan Leah mudah dipahami oleh Valencia dan Reibert. Mereka syok begitu mengetahui bahwa Rudolf tidak hanya sekedar mendorong Stephen ke danau. Sebelum itu, dia membenamkan kepala Stephen sampai membuat anak itu sekarat. Sungguh kejam, tidak bisa dibayangkan betapa kotornya hati Rudolf.
"Nyonya, apakah kau mau mengakui semua yang kau saksikan itu di hadapan Kaisar dan Permaisuri?" tanya Valencia.
"Mengakui? Saya tidak seberani itu, Nona. Saya takut malah menjadi bumerang kepada diri saya. Apalagi reputasi Pangeran Rudolf sangat bagus di kekaisaran ini."
"Ada aku, aku sendiri yang akan mejaminnya karena aku orang yang tidak terikat pandangan masyarakat. Seandainya Nyonya setuju mengaku di hadapan Kaisar, maka saya akan melindungi Anda apa pun yang terjadi. Saya juga telah menyiapkan bukti lain demi menjerumuskan Pangeran Rudolf ke balik jeruji besi."
Valencia terus berusaha meyakinkan diri Leah untuk tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dirinya. Segala keraguan di diri Leah ditepis kuat oleh Valencia.
"Benarkah Anda akan melindungi saya, Nona? Sejujurnya hidup saya sangat kacau setelah kematian Pangeran Rudolf. Saya selalu dihantui perasaan bersalah dan rasa tidak tenang karena telah menyembunyikan hal ini dari Kaisar maupun Permaisuri."
Bulir-bulir air mata Leah berjatuhan membasahi pipi. Terlihat jelas bahwa Leah sebenarnya tulus menyayangi Stephen. Hanya karena ambisi yang membutakan Rudolf hingga menjadikan Stephen sebagai korban, Leah menjadi kesulitan menangani hidupnya sendiri.
Lalu Valencia datang membawa ketenangan serta kelapangan dada bagi diri Leah. Dengan begini Leah tidak lagi perlu menyimpan rahasia sebesar itu seorang diri.
"Aku paham perasaanmu, Nyonya, kau adalah orang yang mengasuh Pangeran Stephen. Kau pasti tahu makanan kesukannya, kebiasaannya, dan hal-hal yang beliau benci. Maka dari itu, aku memutuskan membantumu. Tenang saja, lagi pula di belakang saya ada Archduke Calestine."
__ADS_1
Leah menghapus air matanya, dia telah membuat keputusan yang tepat dengan melibatkan Valencia ke dalam rahasianya. Sekarang hanya menunggu waktu sampai Leah siap secara sepenuhnya untuk mengungkapkan semuanya.
"Baiklah, terima kasih, Nona. Saya benar-benar berterima kasih kepada Anda. Dengan begini saya bisa sedikit lebih tenang karena Anda telah berjanji akan melindungi saya. Demi Pangeran Stephen saya akan mengungkap semuanya kepada Kaisar dan Permaisuri."