
Devina pulang ke istana malam itu juga diantarkan langsung oleh Valencia. Pikiran Devina masih kacau, dia sulit mencerna satu persatu masalah yang dibuat oleh Kakaknya sendiri. Untung saja Devina mempercayainya dan tidak marah terhadap penuturan Valencia.
"Ternyata malam ini aku tidak bisa lagi beristirahat dan bersantai. Kenapa masalahku tidak pernah menemukan ujungnya? Aneh sekali."
Valencia mengoceh sendirian, tak ada hentinya dia mengeluh soal waktu yang tidak berpihak padanya. Seharusnya dia sekarang sedang tidur nyenyak sambil memimpikan sesuatu yang bahagia. Namun, karena kedatangan Devina dia jadi tidak bisa tidur.
"Kau gila ya? Kau berbicara sendirian di kamar yang hanya ada kau seorang. Memangnya tidak ada orang yang bisa kau ajak berbicara?"
Jamtung Valencia seolah-olah akan copot karena ulah Sean. Padahal dia sedang fokus ke hal lain, tetapi pria itu malah menggangunya. Sekarang dia memang sering ke dunia manusia. Namun, lebih sering lagi dia menghilang tiba-tiba dan juga muncul secara tiba-tiba.
"Kau sendiri kenapa selalu muncul dari balkon. Kau muncul tidak bersuara dan selalu menyela perkataanku," omel Valencia melemparkan bantal ke wajah Sean.
"Sialan kau!" umpat Sean. "Seharusnya kau bisa lebih bersyukur karena aku masih bersedia mengunjungimu. Bagaimana kalau seandainya aku tinggalkan kau begitu saja di dunia manusia ini?"
Terdengar suara decakan dari mulut Valencia. Entah dia harus bersyukur atau terus mengumpat melihat kedatangan Sean.
"Ya sudah, tinggalkan saja aku! Lagi pula siapa yang menyuruhmu untuk memasukkan jiwaku ke tubuh Valencia? Masalahnya banyak dan tidak ada habisnya. Membuatku sakit kepala saja," balas Valencia jengkel.
"Kau yakin mau aku tinggalkan? Padahal aku membawakanmu coklat buatan alam akhirat yang kau sukai itu. Kalau begitu, aku bawa pulang lagi ke alam akhirat."
Sontak Valencia menoleh ke arah Sean, binar matanya terlihat berbeda. Gadis itu termakan bujuk rayuan dari Sean. Cukup menyogoknya dengan coklat, maka dia akan langsung menunjukkan perubahan raut muka menjadi lebih ramah.
"Berikan padaku! Kau tidak boleh menyembunyikan coklat buatan alam akhirat itu dariku. Kau harus membagi-baginya supaya aku bisa lebih semangat menghadapi hidup yang rumit ini."
Sean menggeleng-geleng, hanya Valencia seorang yang senang jika disogok makanan. Wanita itu akan melakukan apa saja demi mendapatkan makanan kesukaannya. Masih teringat jelas, waktu itu Valencia pernah menghabiskan stok coklat di kastil Davey. Untungnya dia tidak dimarahi, meski menyebalkan tapi gadis itu cukup menghibur dan meramaikan suasana senyap di kastil.
Malam itu mereka berbincang cukup banyak mengenai beberapa hal. Pembicaraan mereka berlangsung lama sekitar lebih dari dua jam. Hal yang paling berkesan sekarang ialah baik Valencia atau pun Sean tidak bertengkar seperti biasa. Mereka sudah bisa saling menerima walau terkadang ada debat kecil yang membuat mereka berseteru sebentar.
Hingga pergantian waktu dari malam menuju pagi, Valencia masih belum tidur sedikit pun. Sedangkan Sean pergi lagi kembali ke alam akhirat. Sean memang sangat sibuk semenjak Davey tidak sadarkan diri. Alam semesta akan kacau kalau dia tidak mengambil alih pekerjaan Davey.
"Tolong jangan buat aku sibuk hari ini!" seru Valencia berbicara sendirian.
Pierre menatap aneh Valencia, Nonanya itu memang sudah gila menurutnya. Berbicara sendiri sampai mengabaikan orang-orang sekitarnya.
"Nona, sarapan sudah selesai disajikan. Tolong makan dulu sarapannya," kata Pierre.
"Baiklah, tolong taruh saja di sana."
Valencia menaruh pulpennya dan mulai menyentuh sarapan yang telah dihidangkan untuknya. Sepanjang waktu sarapan, Valencia terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia berpikir soal Devina semalam yang sangat syok karena apa yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan sang Kakak yang dia hormati segenap hati.
"Nona, gawat!"
Kedatangan Luana secara tiba-tiba mengagetkan Valencia, dia berlarian ke kamar Valencia untuk melaporkan sesuatu.
"Ada apa, Luana?" tanya Valencia.
"Saya baru saja mendapat kabar dari istana, katanya Nona Linnea meninggal karena bunuh diri di dalam penjara. Sekarang penjuru kekaisaran heboh mendengar berita tersebut," jelas Luana.
"Kau yakin itu?"
__ADS_1
Valencia menanggapinya secara santai karena Valencia tidak begitu mempedulikan soal kematian Linnea. Kalau dia mati, maka dia pantas mendapatkannya sebagai bentuk karma buruk atas apa yang telah dia lakukan terhadap si pemilik tubuh.
"Yakin, Nona! Saya tidak mungkin salah dengar karena saya telah memastikannya berulang kali sebelum saya melapor kepada Anda."
"Di mana jasadnya akan dikuburkan?" tanya Valencia.
"Katanya di dekat makam kedua orang tuanya. Kondisi wajahnya sangat mengerikan, jadi orang-orang kesulitan memindahkannya akibat bau busuk yang menyeruak dari luka di wajahnya. Sempat menimbulkan pertanyaan kenapa wajahnya menjadi seperti itu. Namun, lagi-lagi orang mengatakan bahwa itu adalah pembalasan untuknya."
Valencia menyunggingkan senyumnya, tiada orang yang tahu bahwa itu merupakan ulahnya sendiri.
"Aku akan pergi ke istana sekarang juga, apa kau mau ikut denganku?" tawar Valencia kepada Luana.
Senyum Luana merekah ceria. "Iya, Nona, saya akan ikut dengan Anda."
Valencia mengenakan gaun serba hitam untuk menghadiri pemakaman Linnea. Dia ke istana mengendarai kereta kuda. Sesampainya di istana, rupanya sudah banyak bangsawan yang berkumpul di dalam sana untuk melihat mayat Linnea. Mereka punya rasa penasaran yang sangat tinggi selepas ada rumor soal wajah buruk rupa Linnea menjelang kematiannya.
Di sana juga ada Rudolf, dia bertingkah seolah-olah menjadi pria yang paling sedih. Padahal dia sudah membatalkan pertunangannya dengan Linnea. Sekarang dia memanfaatkan momen tersebut demi menarik perhatian orang lain.
'Aku rasa Rudolf lebih cocok menjadi perempuan dibanding pria. Dia sangat menyebalkan dan menjijikkan,' batin Valencia menatap tajam Rudolf.
Setelah itu, Valencia pergi ke hadapan Abraham dan Linita. Mereka terlihat senang sekali menemukan Valencia berada di istana. Mereka sangat bahagia karena gadis yang menjadi salah satu sumber penderitaannya di masa lalu telah mati hari ini.
"Aku tidak menyangka dia nekat mengakhiri hidupnya sendiri."
"Makanya lain kali jangan berkelakuan seperti iblis. Lihatlah matinya menjadi mengerikan seperti ini."
"Aku dengar wajahnya itu terkena kutukan, aku juga tidak tahu pastinya."
Sementara itu, Valencia berjalan mendekat ke peti mati Linnea. Kondisinya benar-benar sangat buruk. Valencia berdiri di samping petinya sambil memandangi tubuh Linnea yang dipenuhi luka sayatan.
"Luka-luka itu mengingatkanku pada luka sayatan yang ditorehkan si pemilik tubuh ke tangannya. Sekarang bekas sayatannya mulai memudar, sudah saatnya melepas seluruh masa lalu yang masih menjerat di hati," gumam Valencia.
Selepas itu, Valencia menaruh bunga mawar hitam ke atas peti mati Linnea. Perlahan bibirnya tersenyum jahat dan puas setelah berhasil menyiksa Linnea sebelum akhirnya dia meninggal.
'Selamat jalan, Linnea. Selamat menempuh perjalanan berduri menuju neraka.'
***
Selama satu bulan ini, sudah tiga orang yang meninggal yakni Guilla, Endry, dan Linnea. Kematian mereka dianggap sebagai kematian mengerikan akibat melakukan kejahatan terhadap orang lain. Meskipun sudah mati, mereka masih dibicarakan dan digosipkan banyak orang terutama para bangsawan.
Hal ini menjadi topik hangat di setiap pertemuan para bangsawan. Mereka memang senang bergosip, khususnya para wanita bangsawan. Mereka selalu berlomba-lomba membicarakan gosip terhangat yang mereka dapatkan atau dengar dari mulut orang lain. Oleh sebab itulah, jenis berita apa pun lebih cepat menyebarnya di mulut para wanita.
Sementara itu, Valencia sedang berkumpul bersama tujuh Pangeran di paviliun kediamannya. Dia mengadakan pertemuan hari ini bukan tanpa sebab atau alasan. Sekarang ada sesuatu yang perlu dia lakukan bersama-sama.
Reibert pertama-tama mengeluarkan kertas yang berisi tulisan nama-nama orang. Kertas itu merupakan inti dari kegiatan mereka hari ini.
"Ini adalah nama dari para bangsawan yang terlibat rencana Rudolf. Mereka harus kita tangkap dan kumpulkan di satu tempat. Jangan sampai ada yang tertinggal," ujar Valencia.
"Jumlahnya ada sekitar lebih empat puluh orang bangsawan. Lalu ini adalah tempat persembunyian mereka. Itu artinya kita harus berpencar," imbuh Reibert.
__ADS_1
"Ya, mereka cukup cerdas, tempat persembunyiannya terbagi dari delapan. Masing-masing kita akan menggeledah satu tempat persembunyian," timpal Sammy.
"Benar, kita menggeledah masing-masing satu tempat. Sekarang ayo kita mulai sebelum terlambat."
Mereka berpencar ke segala arah, Valencia pergi ke arah utara. Kali ini mereka menjalankan misi tanpa membawa kesatria. Jikalau itu menangkap para bangsawan maka kesatria tidak begitu diperlukan. Justru dengan pergi sendiri, mereka akan lebih mudah bergerak menggunakan sihir.
Valencia tiba di tempat persembunyian para bangsawan sangat cepat. Wajar saja, kecepatan terbang Valencia tidaklah normal. Dia langsung menggeledah tempat persembunyian para bangsawan tersebut tanpa menuju lama.
'Di sini sangat kotor dan menjijikkan, rasanya aku ingin muntah karena aromanya saling bercampur satu sama lain.'
Valencia menutup hidungnya, aroma tempat itu dipenuhi oleh alkohol, kotoran hewan, dan juga makanan basi yang tidak langsung dibuang. Lalu pemandangan yang lebih menjijikkan ialah para bangsawan yang tidur bersama para wanita bayaran.
"Baiklah, mari kita mengamuk."
Valencia memasang sihir penghalang di sekitar mansion tempat bersembunyinya beberapa orang bangsawan itu. Kemudian Valencia membabat habis tempat itu menggunakan sebuah pistol sihir. Seketika para kesatria penjaga terbangun dari tidurnya.
"Hei, siapa kau?! Apa kau penyusup?!"
Mereka mengejar Valencia, tetapi malah mereka yang dihajar balik oleh Valencia. Tidak butuh waktu lama bagi Valencia membuat mereka tidak sadarkan diri.
"Bangun kalian para bab* sialan! Tubuh kalian yang menjijikkan ini membuatku mual!" teriak Valencia memakai pengeras suara.
Mendengar kebisingan tersebut, satu persatu bangsawan berkeluaran dari kamar masing-masing. Selain itu tidak hanya satu atau dua gadis yang berada di sini. Ada lebih dari sepuluh orang gadis dan di antaranya ada yang di bawah umur. Sedangkan bangsawan yang mereka layani sudah tua semua.
"Siapa kau berani mengganggu tidur kami?!" teriak seorang bangsawan.
"Aku adalah malaikat maut yang akan menjemput kalian untuk segera berangkat ke neraka. Ayo cepat bersiap-siap, kenakan pakaian kalian karena malaikat maut tidak suka melihat laki-laki bau tanah yang telanjang."
Valencia secara sengaja meledek mereka sehingga timbullah perasaan jengkel dari para bangsawan tersebut. Mereka menggeram kesal, kemarahan mereka pun akhirnya meledak juga.
"Malaikat maut apanya?! Kau hanyalah seorang gadis kecil. Jangan coba-coba mengaku malaikat maut untuk mengerjai kami!"
"Pergi kau dari sini! Jangan sampai membuatku naik pitam karena ulahmu."
DOR!
Valencia menembakkan peluru pistol sihirnya ke segala arah sampai menembus pertahanan dinding yang sangat kokoh. Tidak berhenti sampai di situ saja, Valencia mengacak-acak semua barang-barang yang tergeletak di atas meja, lantai, dan tempat lainnya.
"Kalian kalau tidak mau mati, lebih baik ikuti arahanku," ancam Valencia sekali lagi.
Para bangsawan itu ketakutan, mereka tidak punya kekuatan lebih untuk melawan Valencia. Mereka takut peluru pistol sihirnya menembus kepala mereka sampai mati.
"Lebih baik aku buat saja mereka tidak sadarkan diri," gumam Valencia terlintas ide di kepalanya.
Kemudian Valencia mengeluarkan asap putih yang bisa digunakan untuk merenggut kesadaran orang lain. Dengan begini tidak akan ada lagi rontaan atau rengekan dari para bangsawan tersebut.
Setelah itu, Valencia mengelilingi tempat tersebut, tempatnya sangatlah luas. Mansion yang berlantai tiga ini digunakan untuk menyimpan berbagai benda berbahaya.
"Apa ini? Apakah ini narkoba?"
__ADS_1
Betapa terkejutnya Valencia menemukan satu kantong penuh bubuk putih yang disebut narkoba.
"Tampaknya mereka menjalankan bisnis pengedaran obat terlarang juga. Aku juga harus membawa ini ke istana untuk diperlihatkan dan dilaporkan tangan kepada Paman Kaisar. Aku yakin Paman akan sangat marah saat mengetahuinya."