
Ivanov marah besar kepada Valencia, hatinya panas membara seperti api. Ivanov merupakan pendeta yang paling menghormati sekaligus menjaga ketaatannya menyembah dewa kedamaian sehingga tatkala dirinya mendengar doa Valencia, dia pun tak kuasa menahan amarahnya. Sedangkan Valencia berdiri di depannya dengan ekspresi polos serta wajah tak berdosa. Valencia tidak peduli dengan kemarahan Ivanov sebab dia merasa bahwa dia tidak salah dalam mengirim doa kepada Davey.
"Ternyata kau penggemarnya Davey, aku memang mengumpati dewa sialan itu. Jadi, menyingkir dari jalanku sebelum aku membuatmu menyesal karena berani menghalangiku," gertak Valencia tidak kalah garang.
Valencia tidak menunggu respon Ivanov, gadis itu pun bergerak cepat melalui Ivanov dan berencana keluar dari ruangan berdoa segera.
"Tunggu dulu! Aku belum selesai berbicara denganmu!" teriak Ivanov berusaha mengejar Valencia.
Akan tetapi, ketika Ivanov tiba di luar ruangan, dia kehilangan jejak Valencia. Bahkan dia tidak melihat tanda keberadaan Valencia. Padahal mereka tidak jauh berselisih jarak, tapi gadis itu menghilang seperti hantu.
"Ke mana dia? Aku yakin dia lari ke arah sini. Aneh sekali, dia menghilang begitu cepat seperti angin," gumam Ivanov.
Valencia berhasil kabur dari Ivanov menggunakan sihir teleportasi. Dia kabur ke depan gerbang utama, sekarang dia bisa pulang dengan tenang tanpa adanya gangguan dari Ivanov.
"Aku tidak mau berurusan dengan pria merepotkan itu lagi. Dia sangat aneh dan blak-blakkan saat berbicara," gerutu Valencia mendengus kesal ketika mengingat perlakuan Ivanov yang terkesan kurang ajar.
Valencia mengarahkan langkah ke pemukiman yang tidak jauh terletak dari tempatnya berpijak. Valencia berencana untuk mencari restoran pengisi perut karena dia tidak bisa menahan laparnya lagi sampai ke ibu kota sebab jarak dari daerahnya kini berada sangat jauh dari ibu kota Alegra.
"Hah? Tempat apa ini? Kenapa sangat kumuh dan tidak terurus?"
Alangkah kagetnya Valencia saat dia tiba di daerah pemukiman, yang dia temukan hanyalah bangunan rumah yang tidak layak huni serta pada penduduk yang tampak tidak memiliki harapan hidup lagi. Mereka lemas, tatapan mereka dipenuhi keputusasaan, dan tubuh mereka juga kurus. Valencia sangat miris ketika menyaksikan pemandangan yang berada di luar dugaannya.
"Di sini sangat kering, apa tidak ada air yang mengalir? Seluruh tumbuhan mati kekeringan, ada banyak tangisan anak kecil yang saling bersahutan. Sebenarnya di mana daerah ini? Mengapa kondisinya begitu memprihatinkan?"
__ADS_1
Valencia melangkah semakin dalam, dia berjalan di tengah rintihan tangisan orang-orang yang kelaparan. Kemudian tiba-tiba saja seorang anak kecil berlarian ke arahnya seraya menangis histeris.
"Nona, apakah Anda seorang bangsawan? Jika Anda seorang bangsawan, tolong bantu sembuhkan Ibu dan Ayah saya."
Anak kecil itu menarik gaun Valencia, mendengar kata bangsawan itu pun semua orang mulai mengerumuni Valencia.
"Benarkah Anda seorang bangsawan?"
"Tolong kami, Nona, berikan kami sedikit makanan dan air minum untuk anak saya."
"Kami memohon kepada Anda, Nona, berikan sedikit makanan dan air minum. Mohon kemurahan hati Anda, anak saya terus menangis karena saya tidak punya stok makanan dan air bersih."
Valencia kebingungan, dia kembali mengedarkan pandangan dan berpikir bahwa penduduk di sana tampak seperti mayat hidup. Mereka kurus dan kurang gizi, bahkan Valencia tidak merasakan adanya tanda aliran air menuju desa tersebut.
Mereka terdiam dan saling bertukar pandang, raut muka mereka menyimpan ribuan kesedihan yang mendalam.
"Nona, di sini adalah desa Sanori, desa ini berada di bawah wilayah kepemimpinan Count Terino. Desa ini dijarah habis-habisan oleh Count Terino, beliau menyumbat air sungai dan dibuat sebuah bendungan supaya air jernih tidak mengalir ke desa ini lagi. Seperti yang Anda, itulah penyebab mengapa desa ini kering seperti dampak musim kemarau. Desa ini terpencil, kami tidak punya akses untuk keluar dari desa," jelas seorang pria tua.
"Situasinya sudah separah ini dan kenapa kalian tidak melapor kepada pihak istana? Kalian bisa memperoleh keadilan jika kalian melaporkannya kepada Kaisar untuk segera ditindaklanjuti," ucap Valencia.
"Kami sudah mengirim surat kepada Kaisar, tapi sayangnya tidak ada balasan dari Kaisar. Bahkan ketika kami mencoba keluar dari sini, Count Terano langsung memerintahkan para kesatria untuk membawa kami kembali. Kami tidak punya kekuatan untuk melawan bangsawan."
Valencia menghela napas panjang, permasalahan ini cukup rumit karena melibatkan keserakahan bangsawan. Padahal perutnya sedang lapar, tapi dia malah tersesat di desa yang penuh masalah.
__ADS_1
"Apakah ada alasan khusus mengapa Count Terano terlihat ingin sekali menghancurkan desa ini? Bisakah kalian memberi tahuku apa yang kalian ketahui?" tanya Valencia.
"Count Terano ingin mengusir kami dari desa ini karena beliau bermaksud menjadikan desa ini sebagai kasino. Tetapi, kami menolak berapa pun uang yang dia berikan, kami menolak untuk pergi dari desa. Alhasil Count Terano berbuat seperti ini hingga mengorbankan nyawa banyak orang. Dulunya Desa Sanori sangat makmur, tapi karena keserakahan Count Terano kami menjadi tersiksa."
Valencia paham permasalahannya secara garis besar, desa nan makmur berubah menjadi desa yang memprihatinkan seperti ini. Valencia juga menduga bahwa surat yang mereka kirim ke istana tidak sampai ke tangan Kaisar melainkan sampai ke tangan Count Terano.
"Kyaaaa...! Lepaskan aku! Aku tidak mau pergi dengan kalian." Terdengar suara pekikan seorang gadis yang bersumber tidak jauh dari tempat semua orang berkumpul.
Sontak Valencia bergerak pergi melihat apa yang sedang terjadi di sana. Rupanya ada tiga orang kesatria yang mencoba menyeret seorang gadis desa tersebut.
"Mereka datang lagi, ini adalah gadis yang ke tiga belas yang mereka bawa," ujar seorang warga.
Valencia refleks menoleh. "Untuk apa mereka membawa para gadis? Dan kalian tidak mencegahnya?"
Mereka serentak menggeleng, Valencia yang tidak tahan menyaksikan itu semua akhirnya bergerak mendekati para kesatria tersebut.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara Valencia menarik fokus ketiga kesatria itu, Valencia langsung menarik tangan gadis yang hendak mereka bawa. Gadis itu disuruh mundur ke belakang agar tidak mengganggu aksi dirinya yang berniat menghabisi ketiga kesatria itu sekaligus.
"Ahh, ternyata seorang bangsawan, apa yang dilakukan bangsawan di sini? Tempat ini adalah wilayah kekuasaan Count Terano, jadi Anda sebaiknya segera pergi dari sini sebelum kami menghabisi nyawa Anda," gertak salah seorang kesatria.
Valencia menyeringai, ingin rasanya dia tertawa kala itu juga. Di mata Valencia ketiga kesatria itu tidak lebih dari sekedar lalat yang berisik mengganggu pendengaran.
__ADS_1
"Kalian sedang mengancamku? Mengapa itu terdengar seperti lelucon?" ledek Valencia sambil memungut pedang berkarat yang tergeletak di dekat kakinya. "Tugas kesatria itu untuk melindungi masyarakat, tapi sampah seperti kalian malah mengotori tugas suci dari seorang kesatria."