Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Perseteruan Valencia dan Ivanov


__ADS_3

"Ayam goreng?" Ivanov melirik ke arah nampan yang hanya diisi oleh tulang ayam saja. Raut muka Ivanov mendadak berubah masam, kegeraman dia rasakan sesaat menemukan makanan favoritnya dihabiskan oleh Valencia.


"Ada apa? Kenapa sepertinya kau terlihat kesal sekali?" Valencia dengan wajah polosnya masih bisa bertanya santai pada Ivanov.


"Siapa yang mengizinkan kau memakan ayam goreng itu?! Apa kau tidak tahu kalau itu adalah makanan favoritku?!" bentak Ivanov.


"Aku tidak tahu," jawab Valencia masih tidak sadar kalau sebenarnya Ivanov tengah marah besar terhadap dirinya.


Ivanov menghela napas berat sembari mengacak rambutnya. Menghadapi Valencia terbilang sangat sulit sebab gadis itu sering tidak sadar terhadap apa yang dia lakukan.


"Dengarkan aku." Ivanov menggenggam gemas kedua pundak Valencia sembari menatap marah gadis itu. "Ayam goreng itu disiapkan untukku, tapi kenapa malah kau yang menghabiskannya, hah?! Apa kau tidak pernah diajarkan untuk tidak sembarangan mengambil apa pun yang bukan milikmu?!"


Ivanov mengomeli Valencia sambil mengguncang-guncang badan Valencia. Si gadis hanya diam menyimak omelan Ivanov tanpa terucap satu pun kata maaf karena telah menghabiskan makanan favorit Ivanov.


"Ya, lalu? Kau tinggal minta lagi saja pada koki dapur istana. Kan sama saja, tidak ada bedanya."


Ivanov benar-benar naik pitam karena ulah Valencia, baru kali ini dia menemukan wanita yang super duper mengesalkan. Padahal dia sudah membayangkan akan menyantap ayam goreng itu setelah mandi. Akan tetapi, segala bayangannya sirna akibat ulah Valencia.


"Kau pikir semudah itu? Aku tidak mau tahu, kau harus mengganti ayam gorengnya! Ambil lagi ayam goreng itu di dapur istana!" bentak Ivanov.


"Tidak mau, aku mau makan malam sekarang ke ruang makan. Kaisar dan Permaisuri sudah menungguku. Kau ambil saja sendiri, lagi pula itu hanya ayam goreng saja. Tolong ikhlaskan untukku."


Valencia menolak untuk bertanggung jawab, dia memilih untuk pergi saja dari sana daripada membuat lebih banyak masalah lagi dengan Ivanov. Namun, pergelangan tangannya lebih dulu dicekal oleh Ivanov.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi dari sini? Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan! Cepat tanggung jawab sekarang!"


Valencia meronta agar Ivanov segera melepaskan dirinya, tapi kekuatan Ivanov melebihi kekuatannya. Perutnya masih terasa lapar, dia ingin buru-buru pergi ke ruang makan istana.


"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" Valencia masih berusaha meloloskan diri dari Ivanov.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak mau bertanggung jawab."

__ADS_1


Di tengah adegan tarik menarik terjadi, suatu kejadian yang menenggelamkan urat malu Ivanov terjadi. Tiba-tiba saja handuk yang ia kenakan melorot hingga menampakkan sesuatu yang tidak seharusnya dia pertunjukkan kepada orang lain, terutama perempuan. Valencia sampai dibuat tercengang, refleks gadis itu segera memalingkan wajah.


Ivanov syok bukan main, sontak ia menarik naik kembali handuknya untuk menutupi tubuhnya. Mukanya memerah sempurna, baru kali ini dia merasa dipermalukan seperti demikian.


"Ivanov, apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah memperlihatkan itu padaku? Tetapi, aku—"


"AAKKHHH, DIAM KAU!" teriak Ivanov. "Urusan kita belum selesai. Tidak hanya satu atau dua kali, tapi kau membuatku kesal berkali-kali."


Ivanov kali ini marah besar, Valencia pun memilih untuk kabur saja dari sana.


"Selamat tinggal, Ivanov! Aku pergi dulu, kau simpan saja kemarahanmu itu. Oh iya, aku sedikit menikmati tontonan darimu barusan. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi."


Menggunakan kecepatan tinggi, Valencia memacu langkah kakinya meninggalkan Ivanov yang sedang emosi akibat kelakuannya. Tentu saja Ivanov tidak diam begitu saja di tempat menyaksikan gadis itu berlari pergi. Lekas saja Ivanov memakai pakaiannya dan mengejar Valencia yang kabur menuju istana utama.


"Tunggu! Jangan kabur kau!"


Terjadilah adegan kejar-kejaran di tengah lorong istana yang masih diisi oleh para pelayan dan kesatria. Mereka tampak keheranan menyaksikan Valencia dikejar oleh Ivanov.


"Sialan! Kenapa lari pria itu kencang sekali? Padahal tadi dia menggunakan waktunya untuk memakai baju terlebih dahulu. Tetapi, ajaib sekali dia masih bisa menyusulku," gumam Valencia.


"Berhentilah mengejarku! Apa kau marah karena handukmu yang terlepas? Tapi, itu bukan salahku! Aku tidak pernah memintamu melepaskan handukmu." seru Valencia.


"Tutup mulutmu! Kau sudah banyak melakukan kesalahan padaku!" teriak Ivanov.


Sampailah pada waktu di mana Valencia berhasil tiba di ruang makan istana. Seluruh orang telah berkumpul di ruang makan menanti dirinya. Namun, dia malah datang dalam kondisi yang tidak karuan. Rupanya kala itu juga ada Reibert, Leano, dan Sammy.


"Ada apa? Apa yang mengejarmu, Valencia?" tanya Leano.


"Tolong selamatkan aku! Aku dikejar orang gila!"


"Orang gila?"

__ADS_1


Valencia langsung bersembunyi di balik badan Reibert yang kebetulan saat itu sedang berdiri. Tidak lama setelahnya, Ivanov berhasil menyusul Valencia.


"Ivanov, apa yang kau lakukan di sini? Mungkinkah orang gila yang dimaksud Valencia itu kau?" tanya Sammy.


"Hah? Orang gila? Di mana dia? Dia yang gila, bukan aku! Valencia menyelinap ke kamarku dan menghabiskan semua ayam gorengku."


Valencia pun dari belakang punggung Reibert menjawab, "Itu salahmu sendiri yang membiarkan kamarmu terkunci. Aku pikir tidak ada orang di sana, jadi aku makan saja ayam gorengnya."


"Bagaimana aku bisa mengunci kamarnya sedangkan para pelayan hendak mengantarkan makanan ke kamarku? Kau jangan berdalih lagi!"


"Aku tidak berdalih! Ini salahmu, bukan salahku!"


"Wanita sialan! Cepat kau kemari, aku akan memberimu pelajaran."


"Tidak! Aku tidak mau!"


Seisi ruang makan hanya berperan sebagai penonton perdebatan mereka yang tidak berguna. Valencia yang enggan bertanggung jawab serta Ivanov yang temperamental. Mereka berdua berlawanan sekali mempertahankan emosi masing-masing.


"Diamlah kalian berdua!" teriak Linita sambil menancapkan pisau makannya ke atas meja makan. "Sekarang waktunya untuk makan, bukan waktu untuk saling bersitegang!"


Keheningan menerpa ruang makan, baru kali ini Valencia menyaksikan kemarahan Linita. Abraham yang duduk berdekatan dengan Linita seketika berkeringat dingin. Dia tahu seberapa menakutkannya Linita jika dia marah.


"Ivanov, Valencia, sebaiknya kalian duduk sekarang. Mari kita makan dulu, nanti selesaikan lagi urusan kalian," tutur Abraham.


"B-Baiklah."


Valencia langsung patuh, ia mendudukkan diri kursi kosong di samping Leano. Bola matanya perlahan mengedar, tidak dia temukan Henzo di antara mereka.


"Leano, apa kau melihat ada Paman tampan di sini tadi?" tanya Valencia berbisik.


"Paman tampan? Maksudmu, Archduke Calestine? Beliau masih ada di istana. Tetapi, biasanya Archduke tidak pernah makan malam, makanya sekarang beliau tidak ada di ruang makan," jelas Leano.

__ADS_1


"Oh begitu, aku kira Paman tampan sudah pulang lebih dulu."


Valencia melanjutkan kembali aktivitas makannya. Berlarian di sepanjang lorong istana lumayan menguras tenaga sehingga membuat rasa lapar kian merajalela di perutnya.


__ADS_2