Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Perubahan Sikap Ivanov


__ADS_3

Setelah itu, Sammy tidak memberikan komentar terhadap jawaban Ivanov. Dia sudah tahu bagaimana kebiasaan Ivanov yang selalu keluar ketika dia mencari tahu sesuatu yang ia anggap penting. Apalagi hal itu punya kaitan dengan sang dewa kedamaian.


Valencia menikmati keheningan di antara keduanya. Dia berada di tengah-tengah pria yang saling mendiamkan. Sammy dan Ivanov adalah dua kutub yang berbeda. Jika Sammy bisa menutupi ketidaksukaannya terhadap sesuatu menggunakan senyumannya, maka Ivanov bukan orang yang seperti itu. Justru Ivanov terang-terangan menampakkan ekspresi tidak sukanya terhadap orang lain, termasuk Valencia.


"Tidak bisakah kau berhenti menatapku seperti menatap seorang penjahat?!" kesal Valencia.


"Kau memang penjahat, penjahat yang sudah berani mengutarakan kebenciannya terhadap dewa kedamaian," ucap Ivanov dengan muka datar.


"Dasar kau penggemar fanatik! Dewa kedamaian tidak akan pernah tahu kau hidup di dunia ini atau tidak. Dia akan tahu setelah kau memasuki alam kematian."


Emosi Ivanov tersulut akibat perkataan Valencia, gadis itu pandai sekali mencampuk adukkan amarahnya.


"Diamlah! Kau tidak tahu apa-apa soal dewa kedamaian!" sentak Ivanov.


"Aku lebih tahu soal dia." Valencia membuang muka angkuh hingga membuat Ivanov semakin terbakar emosi akibat ulahnya.


"Dasar kau bocah! Tampaknya sesekali kau perlu aku ajari cara berperilaku sopan."


Mendengar Ivanov memanggilnya bocah, Valencia ikut terpancing marah. Entah mengapa, sejak dulu dia paling benci bila dipanggil bocah. Mungkin itu efek karena jiwanya yang sudah berumur seribu tahun lebih.


"Aku bukan bocah! Kau yang bocah!"


Akhirnya, terjadilah perdebatan tidak berguna di antara keduanya. Pada awalnya, Sammy biasa saja mendengar mereka berisik. Namun, para pengunjung klinik mulai merasakan ketidaknyamanan akibat suara mereka yang meninggi dan saling bersahutan. Sammy pun terpaksa turun tangan menangani masalah tersebut.


"Kalian berdua, diamlah! Ada banyak orang yang terganggu karena suara kalian," tegur Sammy.


Mereka berdua pun terdiam, saling memalingkan wajah dan saling tak mau menyapa. Padahal Sammy berharap mereka berdua bisa lebih akrab. Akan tetapi, harapnya terlalu jauh, mereka berdua sulit untuk dibuat akrab.


Selepas itu, Sammy meninggalkan mereka berdua karena dia dipanggil oleh seorang perawat untuk menangani pasien. Tanpa sengaja, indera penglihatan Ivanov menangkap sesuatu yang cukup menggegerkan baginya.


"Bisakah kau perlihatkan padaku tangan kananmu itu?" tanya Ivanov mengajak Valencia berbicara.


"Ada apa memangnya dengan tangan kananku?" sinis Valencia.


"Sudah, jangan banyak tanya! Cepat perlihatkan saja padaku."


Valencia pun memperlihatkan tangan kanannya kepada Ivanov. Dia bisa melihat jelas tanda semanggi biru berdaun lima di punggung tangan Valencia. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati hal tersebut.


"Hei, dari mana kau mendapatkan tanda ini?" tanya Ivanov gemetar.


"Huh? Aku mendapatkannya ketika aku mengatasi kekacauan yang dibuat Raja bayangan sebelumnya."


"Raja bayangan? Maksudmu kejadian beberapa hari lalu itu? Kau mendapatkannya waktu itu? Berarti cahaya biru dan awan biru itu berasal darimu?"

__ADS_1


Valencia mengangguk pelan. "Aku rasa begitu, aku tidak tahu mengapa tanda ini bisa ada di tanganku dan aku juga tidak tahu tanda apa ini."


Ivanov melepaskan tangan Valencia, dia tertunduk sesaat menemukan jawaban dari apa yang dia cari.


'Tanda kekuatan dewa kedamaian, apa Valencia mendapatkan perlindungan dari beliau? Tetapi, mengapa? Mengapa Valencia bisa mendapatkan perlindungan begitu besar? Apa yang sebenarnya terjadi?'


Berbagai pertanyaan memasuki alam pikirnya, dia tak mampu mencerna setiap pertanyaan tersebut. Akan tetapi, satu hal yang pasti, yakni Valencia tidak pernah berbohong soal dirinya sendiri yang bertemu dewa kedamaian.


"Kau tidak berbohong soal kau bertemu dewa kedamaian, bukan?" tanya Ivanov begitu tiba-tiba.


"Tidak, aku tidak berbohong."


Valencia berpikir ada yang aneh dari Ivanov, cara dia menatap dirinya sedikit lebih lunak dari biasanya. Kemudian yang lebih mengagetkan lagi, Ivanov mendadak menggenggam kedua tangan Valencia disertai pandangan mata yang berbinar.


"Maafkan aku, Valencia! Aku minta maaf karena telah bersikap kurang ajar padamu. Akhirnya, aku percaya sekarang bahwa kau pernah bertemu dewa kedamaian. Kau adalah anak dewa! Bersediakah kau bekerja untuk kuil?"


"Ehh? Apa yang kau katakan?"


Valencia kebingungan, sifat keras kepala Ivanov berubah dalam sekejap. Pria itu bahkan lebih ramah dari sebelumnya. Valencia bingung harus menanggapinya bagaimana. Selama ini dia dan Ivanov tidak pernah akrab lalu sekarang malah sebaliknya.


"Bekerjalah di kuil denganku, kau adalah anak dewa. Aku mohon, terimalah permohonan aku ini," pinta Ivanov.


"Kau sudah gila ya?! Bekerja di kuil? Aku tidak mau. Aku ingin bebas, jangan paksa aku bekerja di tempat itu."


Valencia langsung menolak permintaan Ivanov, menurutnya agak sedikit aneh kalau dirinya bekerja di tempat yang mengagumi dewa kedamaian sedangkan dirinya pernah memukul dewa kedamaian itu sendiri.


Ivanov tidak menyerah ketika Valencia menolaknya, kini dia bahkan mencoba mengekang pergerakan Valencia. Dikarenakan tidak nyaman, Valencia mencoba kabur dari Ivanov. Dia lupa kalau telapak kakinya sedang terluka hingga menyebabkan dirinya tersungkur ke atas lantai.


"Valencia!"


Ivanov bergegas menggendong Valencia dan membawanya kembali ke atas ranjang rawat.


"Maafkan aku." Untuk ke sekian kalinya Ivanov meminta maaf padanya.


"Tolong jangan paksa aku bekerja di kuil, aku hanya ingin menjadi kesatria saja," tutur Valencia merungut kesal.


"Kalau begitu, biarkan aku menjadi pelayanmu!"


"Tidak! Kau tidak boleh menjadi pelayanku! Sangat aneh melihat musuhku tiba-tiba berubah baik. Menjauhlah dariku, kau membuatku merinding."


Ivanov yang tidak pernah terlihat tersenyum kini menunjukkan senyum yang bahagia dia hadapan Valencia. Semakin dia mencoba bersikap ramah, semakin pula Valencia merasakan keanehan.


Di sela kehebohan mereka berdua, Sammy masuk ke dalam ruangan. Ia langsung mendapati pemandangan yang cukup mengganggu pandangannya.

__ADS_1


"Ivanov, apa yang sedang kau coba lakukan pada Valencia?"


Sammy tersenyum jengkel, Ivanov terlihat tengah memeluk erat Valencia. Ekspresi ramah Ivanov seketika luntur, dia menatap masam kedatangan Sammy.


"Tidak ada, aku hanya sedang memohon kepada Valencia untuk menjadikanku sebagai pelayan pribadinya."


Lekas Sammy mendekati Ivanov. "Apa? Kau ternyata sudah gila. Tidak boleh seorang pria menjadi pelayan pribadi Valencia! Lebih baik sekarang kau lepaskan pelukanmu itu dari Valencia! Cepat lepaskan."


Sammy menarik Ivanov untuk segera mejauh dari Valencia. Dia tidak terima Valencia disentuh oleh pria lain.


"Kau tidak berhak melarangku! Aku hanya mau menjadi pelayan Valencia."


"Ada apa denganmu? Apakah kepalamu terbentur sesuatu? Cepat jauhkan tanganmu dari Valencia sekarang juga!"


"Aku bilang tidak tetap tidak!"


Valencia mulai muak mendengar dan menyaksikan pertengkaran kedua pria tersebut.


"Bisakah kalian berhenti sekarang?! Aku mau kembali ke akademi! Kalau mau bertengkar tolong jangan di hadapanku," lerai Valencia.


Mereka pun berakhir diam, suasana menjadi hening sejenak.


"Biar aku yang mengantarmu ke akademi," tawar Sammy.


"Tidak! Biar aku saja," timpal Ivanov.


"Aku yang akan mengantar Valencia! Sekarang sebaiknya kau kembali ke kuil saja," usir Sammy.


"Aku yang akan mengantarnya, lagi pula jalan pulangku searah dengan Valencia."


"Kau benar—"


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan membuat pertengkaran di antara mereka berdua terhenti.


"Dokter, ada pasien yang harus Anda tangani sekarang," ujar si perawat.


"Pasien? Baiklah, aku ke sana sekarang juga."


Ivanov menatap penuh kemenangan, Sammy hanya mengerutkan bibirnya sebab kesal dengan Ivanov yang menang darinya.


"Sana kau urus saja pekerjaanmu, biar Valencia aku yang antar ke akademi."


Sammy menghembuskan napas berat, sangat sulit mengikhlaskan pria itu pergi bersama Valencia.

__ADS_1


"Valencia, kalau pria ini berani mencari masalah denganmu, kau katakan saja padaku. Paham? Biar aku yang memberinya pelajaran," kata Sammy.


"Baiklah, sekarang kau pergilah bekerja. Aku akan pulang bersama Ivanov."


__ADS_2