
Sebuah getaran dan sentakan dahsyat di kepala Davey mengarah pada suatu kejadian yang membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Kepalanya berdengung selama beberapa detik sampai ia menyadari bahwa Valencia kini tengah menjelajahi alam memori masa lalunya yang terkubur jauh di bawah segel perlindungannya. .
"Segel ingatan Klarybell hampir terbuka!"
Perkataan Davey barusan membuat Sean kehilangan fokus sesaat melakukan beberapa pekerjaan yang disuruh Davey.
"Apa yang baru saja Anda katakan, Yang Mulia? Segel ingatan Klarybell hampir terbuka?"
"Benar, aku harus mengunjunginya sekarang sebelum terlambat.".
Davey bergegas bangkit dari tempat duduknya, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Akan tetapi, dia bisa menahan rasa sakit mendera badannya dan mencoba bergerak senormal mungkin.
"Saat ini kondisi Anda belum pulih, jangan paksakan diri Anda untuk pergi ke dunia manusia, Yang Mulia."
Sean berupaya mencegat langkah dan niat Davey yang hendak pergi ke dunia manusia. Dia khawatir kalau kondisi Davey akan bertambah parah apabila ia memaksakan diri untuk mengunjungi Valencia.
"Aku baik-baik saja. Kau akan pergi bersamaku ke dunia manusia. Tinggalkan pekerjaanmu, kita akan berangkat menggunakan gerbang teleportasi akhirat," ucap Davey.
"Baik, Yang Mulia."
Sean tidak bisa mencegah rencana Davey, dia pun akhirnya menurut akan pergi dengan Davey mengunjungi Valencia. Kini mereka berdua menyeberangi gerbang teleportasi akhirat untuk mencapai permukaan tanah dunia manusia.
Mereka tiba dengan sangat cepat di dalam kamar asrama Valencia. Gadis itu tengah terlelap di antara mimpi buruk yang menyerangnya di alam bawah sadar. Keringat dingin pun bercucuran dari celah kening Valencia.
"Sepertinya segel memorinya hampir hancur sepenuhnya. Dia telah mendapatkan sedikit ingatannya, tapi dia masih belum sadar arti dari mimpi itu," gumam Davey.
Kemudian Davey menyentuh kepala Valencia, ada segudang kerinduan berkecamuk di pikirannya. Sekelebat rasa rindu dengan senyum dan suara sang Adik yang ia jaga penuh cinta.
"Kau tidak boleh mengingatnya, Bell. Ingatan itu, kau tidak boleh mengingatnya. Tidak masalah kau melupakan Kakak, tapi jangan pernah membuka dirimu terhadap ingatan masa lalu yang mungkin saja akan mengubahmu nanti."
"Nikmatilah hidupmu yang sekarang, carilah cinta dan kasih sayang dari mereka yang menerima keberadaanmu dengan tulus. Kakak akan mengurus semuanya, aku akan melindungimu dari jauh. Jadi, Bell, kejarlah kebahagiaan yang tidak pernah kau dapatkan selama ini."
Dari telapak tangan Davey terpancar sinar biru nan hangat. Segel yang hampir terbuka perlahan utuh kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Bell, Kakak menyayangimu."
Beberapa menit berselang, Valencia terbangun dari mimpi yang terus mengusiknya. Mimpi itu tiba-tiba memudar dan menghilang seperti pecahan debu yang lenyap di udara. Kepalanya sedikit pusing, ia buru-buru bangkit dari tempat tidur dan meneguk segelas air putih yang tersedia di atas meja di samping ranjang.
Sesaat ia membuka mata, Valencia tidak melihat tanda keberadaan Sean maupun Davey. Mereka telah kembali ke alam akhirat tepat sebelum Valencia membuka matanya. Gadis itu terjaga di tengah kesendirian, sama seperti sebelumnya dan tidak ada bedanya.
"Mimpi itu mengusikku."
Selayang pandang tersirat raut kesenduan menggurat di garis wajah Valencia. Mimpi tentang ingatan masa lalunya membuat dirinya terusik hingga menjadi sebuah beban pikiran luar biasa baginya. Akan tetapi, karena dia tidak menemukan jawaban apa pun soal mimpi itu, ia memilih untuk melepaskan ketegangan yang menghunus badannya akibat mimpi yang tiada henti menyerang tidurnya.
Tiga hari berlalu, sesuai yang dijanjikan Xeros, hari ini dia akan bertemu dua pengguna pedang Raja iblis. Dia harus menyelesaikan urusan ini sebelum melangkah ke urusan berikutnya. Namun, di saat dirinya hendak menuju ke luar gerbang utama akademi, hujan tiba-tiba saja turun dengan sangat deras.
"Hujan ... itu tidak masalah, aku akan tetap pergi menerobos hujan."
Valencia dengan semangat menggebu-gebu ia berjalan di bawah rintik hujan. Dia terlihat girang sekali bermain hujan, tidak peduli terhadap riasan tipis di wajahnya atau pun gaun selutut yang membalut tubuh mungilnya.
Satu persatu dari pria yang berjanji bertemu Valencia telah sampai di restoran Leano. Restoran hari ini sengaja tutup agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.
"Kalian datang lebih cepat dari dugaanku," ujar Leano mempersiapkan hidangan makan yang sangat banyak.
"Hei, kau lupa? Hari ini Valencia kemari lalu ada Rexid juga. Mereka berdua selera makannya sangat gila. Apabila aku tidak menyiapkan makanan lebih banyak, aku khawatir mereka tidak akan kenyang," tutur Leano.
"Ah, benar juga. Hari ini ada Valencia dan Rexid, mereka berdua adalah penggila makanan."
Di saat bersamaan Ivanov tiba di restoran, ia mengatup payungnya dan mendudukkan diri idi antara mereka. Bola mata Ivanov tiada henti berputar mengendar ke setiap sudut ruang restoran.
"Kalian bilang hari ini ada Valencia, di mana dia? Aku tidak melihatnya," kata Ivanov rupanya mencari keberadaan Valencia.
"Dia memang akan datang, tapi tampaknya dia masih di dalam perjalanan," jawab Sammy.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau sangat membenci Valencia? Mengapa kau tiba-tiba bersikap aneh begini?" celetuk Reibert bertanya.
Semua orang yang berada di sana sama-sama menaruh rasa penasaran terhadap hal tersebut. Mereka masih belum tahu alasan Ivanov sekarang memperlakukan Valencia secara berbeda.
__ADS_1
Ivanov berdehem lalu memalingkan wajahnya. "Itu rahasia, ada sesuatu yang terjadi di antara kami."
Setelah itu, Rexid pun datang, sekujur badannya basah akibat air hujan. Dia tidak memakai payung atau mantel, dia lebih suka seperti ini karena dapat lebih bebas bergerak di bawah hujan.
"Hujan sialan! Padahal aku kira hari ini akan cerah, tapi ternyata malah hujan begini," gerutu Rexid.
"Tangkap ini!" Frintz melemparkan handuk kering ke arah Rexid. "Pakai itu untuk mengeringkan badanmu."
Rexid menyambut lemparan Frintz, ia langsung menggunakan handuk tersebut untuk mengeringkan badannya.
"Sebenarnya ada apa kalian memintaku untuk bertemu?" tanya Rexid.
Sammy menghela napas panjang. "Kau tidak membaca surat yang aku kirim sebelumnya? Aku mengatakan kalau hari ini kau akan bertemu Valencia."
"Sebagai salah satu pengguna pedang Raja iblis, kalian berdua harus bertemu Valencia. Dia akan menggabungkan kekuatan Raja iblis di pedang itu. Jadi, nanti kalian nanti bisa menggunakan sihir seperti kami," imbuh Leano.
Leano memercikkan segelintir cahaya dari telapak tangannya. Rexid dan Ivanov menatap tidak percaya terhadap apa yang mereka lihat.
"Itu sihir?"
Di sela keterpakuan mereka, pintu masuk restoran terbuka menandakan seseorang akan segera masuk. Ternyata itu adalah Valencia, ia datang dengan raut muka kesal dan tangan kanannya menyeret seorang pria yang berlumuran darah.
"Dasar Pangeran bajing*n! Beraninya dia tiada henti mengirimi seseorang untuk membunuhku. Lain kali jika aku bertemu dengannya, aku akan putar lehernya sampai putus."
Valencia mengomel sendirian seusai berhadapan dengan pembunuh yang menghadang jalannya. Valencia mengarahkan pandangannya kepada seluruh orang yang berada di sana.
"Oh, kalian sudah datang?!" Ekspresi Valencia berganti sumringah, tapi ekspresinya luntur ketika menemukan Ivanov dan Rexid di sana. "Kenapa kalian berdua ada di sini?!" tanya Valencia tak menyangka.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa alasanmu memanggilku kemari?! Dasar kau pencuri mangga!" balas Rexid.
"Aku tidak mencuri manggamu! Bisakah kalian jelaskan mengapa dua orang ini ada di sini?"
"Valencia, mereka berdua adalah pengguna pedang Raja iblis," ujar Xeros.
__ADS_1
"Ehh? Apa?!"