Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Valencia Mengamuk


__ADS_3

‘Kekaisaran Alegra memiliki delapan orang Pangeran dan satu orang Tuan Putri, sampai sekarang Kaisar masih belum menentukan siapa penerus takhta berikutnya. Banyak dari bangsawan yang mendukung Rudolf untuk naik takhta, tapi karena sikapnya yang tidak merakyat sehingga membuat Kaisar ragu menjadikannya sebagai Putra Mahkota serta ada banyak rumor tidak mengenakkan soal Rudolf.


Di sisi lain, ada Devina yang mempunyai jiwa kepemimpinan sejati, dia mencintai rakyat dan selalu mengatasnamakan keselamatan rakyat. Akan tetapi, karena dia seorang perempuan, dia tidak bisa naik takhta. Lalu bagaimana dengan tujuh Pangeran lainnya? Sejujurnya pemilik tubuh ini belum pernah bertemu dengan mereka. Sungguh sangat disayangkan, seharusnya Devina lah yang pantas mengemban takhta Kaisar.’


Itulah isi pikiran Valencia sepanjang jalan menuju mansion, dia mempertanyakan berbagai hal mengenai takhta Kaisar. Gadis itu pun bingung dan menganggap kelompok bangsawan hanyalah terdiri dari orang-orang bodoh saja. Mereka menutup mata serta telinga di hadapan usaha yang dilakukan Devina demi menjadi seorang pemimpin. Namun, pada akhirnya Devina tetaplah dinilai sebagai seorang wanita lemah.


“Sepertinya aku harus mengguncang kekaisaran ini segera, siapa bilang wanita tidak bisa menjadi pemimpin? Aku akan menyumpal mulut mereka yang berani merendahkan kemampuan seorang wanita,” gumam Valencia bertekad kuat.


Setibanya Valencia di mansion, dia langsung menemukan pemandangan yang mengganggu penglihatan. Dia melihat Linnea sedang mengadu sambil menangis pada Adarian, untuk adegan selanjutnya akan sama seperti biasa yang dia dapatkan.


“VALENCIA!” teriak Adarian dari ujung lorong mansion.


Valencia memutar bola mata malas, padahal dia berniat untuk beristirahat sejenak tapi dia malah dihadapkan dengan kemarahan Adarian. Valencia tahu betul seberapa sayangnya Adarian kepada Linnea, dia bahkan menganggap Linnea sebagai anaknya sendiri. Itu karena Linnea sangat pandai mengambil hati Adarian. Tetapi, Adarian melupakan sesuatu yang sangat penting yaitu dia mengabaikan putrinya demi mempedulikan gadis yang jelas bukan darah dagingnya sendiri.


“Ada apa? Apa kau mau memarahiku karena Linnea lagi?” Valencia berbicara dengan nada bicara malas.


Adarian menghampiri Valencia membawa emosi karena gadis itu telah berani membuat Linnea terusir dari istana. Valencia juga melihat Linnea sedang berdiri sambil dipeluk oleh Guilla, mereka berdua memang terlihat cocok ketika bersama.


“Apa yang sudah kau lakukan kepada Linnea? Kenapa kau mempermalukannya di hadapan Permaisuri dan Kaisar?!”


Valencia melipat kedua tangannya di dada seraya tersenyum miring. “Aku mempermalukannya? Dia yang mempermalukan dirinya sendiri. Lagi pula kenapa kau selalu saja membelanya? Kau membenciku tapi menyayangi gadis lain? Apa yang terjadi dengan otakmu?” balas Valencia.

__ADS_1


“Keterlaluan! Memangnya apa yang diperbuat Linnea padamu hingga kau harus membuatnya dipermalukan bahkan sampai diusir oleh Permaisuri.” Adarian memarahi Valencia habis-habisan sembari mengarahkan telunjuknya.


Valencia melirik Linnea dan Guilla, mereka menyunggingkan senyum licik karena berhasil membuat Adarian memarahinya. Namun, Valencia tidak merasa terusik oleh tingkah mereka, setidaknya sekarang dia punya alasan yang bagus untuk memukul Adarian.


“Memangnya apa yang dia perbuat padaku? Dia banyak melakukan dosa, tidak hanya satu dosa tapi ratusan dosa. Anggap saja itu sebagai teguran atas dosa yang dia lakukan terhadap diriku,” jawab Valencia.


“Kurang ajar!” Adarian hendak menampar Valencia, tapi Adarian kalah cepat dari Valencia. Pergelangan tangan Adarian berhasil ditangkap Valencia tepat sebelum tamparannya mendarat sempurna.


“Aku sudah sangat kenyang ditampar olehmu, aku tidak memerlukan lagi tamparan darimu.”


Valencia tersenyum jahat, dia meremas pergelangan tangan Adarian hingga nyaris membuatnya patah tulang. Dengan cepat Adarian menjauhkan tangannya dari Valencia, dia benar-benar salah besar telah mengusik Valencia.


“Aku ini Ayahmu sekaligus pemimpin keluarga Grand Duke Allerick. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini!”


Valencia tertunduk marah, dia marah besar sampai mengepalkan kedua tangannya dan disertai bola mata yang melotot. Urat-urat pertanda kemarahan Valencia mencuat ke luar, dia sangat mencintai makanan lalu kala itu Adarian malah sengaja menumpahkan makanannya nan berharga.


“Makananku yang berharga, makananku tumpah, makananku tidak bisa dinikmati lagi. Bajing*n! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN SIAPA PUN YANG BERANI MERUSAK MAKANANKU!”


BUGH!


Valencia melayangkan tinju kuat ke muka Adarian hingga menyebabkan pria tersebut terpental jauh ke belakang. Betapa gegernya seluruh mata yang menyorot ke arah Valencia dan Adarian, sudut mata Valencia terasa sangat panas akibat kemarahan yang memuncak.

__ADS_1


“Aku tidak akan memaafkanmu! Permaisuri telah bersusah payah menyiapkan makanan terbaik untukku, tapi lihat apa yang kau lakukan! Kau membuang makanan itu,” kata Valencia menurunkan nada suaranya.


Adarian tercengang, pukulan putrinya terasa sangat sakit, dia belum pernah melihat Valencia semarah ini. Bahkan alasan marahnya juga sepele, hal itulah yang membuat Adarian sekaligus orang-orang yang menyaksikannya tidak habis pikir. Linnea dan Guilla kehilangan kata-kata, sungguh tidak disangka Valencia lancang memukuli Ayahnya sendiri.


“Kau memukul Ayahmu hanya karena makanan?! Kau harus diaj—”


“KAU BUKAN AYAHKU, BRENGS*K!” sentak Valencia, suaranya bergaung di tengah lorong mansion. “Kau mengatasnamakan dirimu sebagai Ayahku? Apa yang sudah kau lakukan untukku selama ini? Jangan bertingkah seperti kau adalah Ayah yang baik. Ini sangat menjijikkan dan membuat perutku mual.”


Sekilas dari mata Valencia memercik api kemarahan yang sangat besar, tidak ada orang yang berani mendekatinya. Sekali pun itu Adarian, sekali pun itu Guilla maupun Linnea, mereka seolah terjebak di tengah-tengah lingkaran kematian. Apabila mereka maju satu langkah, maka mereka akan langsung bertemu dengan alam neraka.


“Apa yang kalian lakukan?! Tangkap wanita gila itu! Dia sudah mencelakai Grand Duke!” teriak Guilla kepada seluruh kesatria.


“Maaf, Nyonya, tapi kaki kami tidak bisa bergerak. Rasanya seperti ada sesuatu yang membuat kaki kami menempel di permukaan tanah.”


Setelah itu, Valencia pun melangkah mendekati Linnea, orang yang menyebabkan masalah ini terjadi ialah Linnea. Bila Linnea tidak mengadu domba antara Adarian dan Valencia, takkan pernah masalahnya menjadi runyam seperti ini.


“Ini semua salahmu! Ini karena kau, Linnea! Jangan pikir kau bisa lolos dariku sekarang, padahal aku telah memperingatimu berulang kali tapi kau malah mengabaikan peringatanku. Jadi, sekarang aku akan membuatmu sadar bahwa mencari masalah denganku merupakan kesalahan terbesar dalam hidupmu.”


Sekujur tubuh Linnea bergetar takut, ia ingin menghindar tapi kakinya tidak mau bergerak. Linnea melihat Valencia seperti sosok malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya detik itu juga.


“T-tidak! Menjauh dariku! Aku—”

__ADS_1


PLAK!


__ADS_2