Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Luka Bakar Xeros Menghilang


__ADS_3

Di tengah malam, di mana waktu semua orang seharusnya sudah tidur, tapi ibu kota kekaisaran masih beroperasi dan ramai pengunjung. Baik itu para bangsawan sampai rakyat biasa, mereka berkeliaran ke sana kemari memasuki setiap tempat yang masih terbuka untuk mereka.


Terutama tempat makan atau restoran, biasanya tempat ini yang paling banyak dikunjungi saat malam hari. Restoran milik Leano salah satu yang masih buka sampai detik ini. Namun, sekarang di sana mulai sepi sebab sudah hampir menuju jam tutup.


"Tuan, biar saya saja yang membereskannya. Lebih baik sekarang Anda beristirahat."


Terlihat seorang pekerja Leano yang mencoba menghentikan Leano untuk melakukan pekerjaan yang menurutnya itu bukan tanggung jawab Leano sebagai pemilik restoran. Leano turun tangan langsung membereskan dapur yang berantakan.


"Tidak apa-apa, kau pulang saja karena aku akan mencoba beberapa resep baru."


"T-Tetapi, Tuan—"


"Sudah, kau pulang saja sana. Jangan larang aku untuk melakukan pekerjaan kecil seperti ini," kukuh Leano.


"Baiklah, saya akan pergi sekarang. Selamat malam, Tuan."


"Ya, selamat malam."


Akhirnya suasana restoran menjadi hening, hanya ada Leano yang sibuk berkutat di dapur. Lalu beberapa menit setelahnya, terdengar suara lonceng pintu masuk.


"Leano, apa kau masih di sini? Buatkan aku makan! Aku sangat lapar."


Suara seorang pria yang begitu familiar di pendengaran Leano tiba-tiba menyelonong masuk ke restoran. Leano terpaksa menghentikan sejenak aktivitasnya dan bergerak menemui pria tersebut.


Rupanya di depan, yang memanggil Leano adalah pria yang tadi ribut dengan Valencia di pegunungan. Raut mukanya amat kesal setelah bertemu gadis menyebalkan seperti Valencia.


"Rexid, sejak kapan kau kembali?" tanya Leano kepada pria bernama Rexid itu.


"Aku baru saja sampai di ibu kota," jawab Rexid menghela napas lelah.


"Lalu apa-apaan itu ekspresimu? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"


Rexid mengacak-acak rambutnya, tak bisa dipungkiri lagi perasaannya yang kesal bercampur marah.


"Lebih baik kau buatkan aku makanan, aku sangat lapar seharian berada di perjalanan. Nanti aku akan ceritakan padamu mengenai sosok gadis yang membuatku frustrasi."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Leano bergegas ke dapur, tidak biasanya dia melihat Rexid mengeluh frustrasi akibat seorang wanita. Leano penasaran dengan cerita sejenis apa yang disuguhkan Rexid nanti.


"Ini makananmu. Nasih goreng ayam porsi besar kesukaanmu."


Kedua mata Rexid berbinar menyaksikan nasi goreng yang menjulang cukup tinggi dengan lauk paha ayam goreng favoritnya.


"Tidak sia-sia aku datang ke restoranmu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku datang mengunjungimu."


Rexid langsung menyantap makanan yang disuguhkan Leano. Dia makan begitu lahapnya, tidak lupa Leano menghidangkan beberapa jenis makanan lain karena dia tahu seberapa gila porsi makan Rexid.


"Jadi, kau kenapa? Siapa gadis yang berani mencari masalah denganmu?" tanya Leano membuka kembali obrolan mereka.

__ADS_1


"Aku tadi bertemu gadis kecil di pegunungan dan kau tahu apa yang dia lakukan? Dia mencuri buah mangga yang sudah aku nantikan selama enam bulan ini."


"Gadis kecil? Yang mengganggumu anak kecil? Ya sudah, ikhlaskan saja buah manggamu itu untuk dia."


Rexid sontak menjeda suapannya, dia harus menyiapkan stok kesabaran untuk menceritakan kepada Leano.


"Tidak bisa, masalahnya gadis ini menghabiskan lebih dari setengah buah mangga yang bergelayutan di atas pohon. Terlebih lagi gadis itu bukan anak kecil sepuluh tahun melainkan gadis berusia lima belas tahun. Aku memanggilnya bocah kecil karena dia pendek," ujar Rexid.


"Dia menghabiskan lebih dari setengah?" Leano kaget bukan main, dia sampai ternganga mendengar penjelasan dari Rexid.


"Iya, lebih dari setengah. Tidakkah kau pikir gadis itu sangat gila? Aku kesal setiap kali mengingatnya."


"Apa dia seorang pengemis atau gelandangan? Tidak mungkin dia seorang bangsawan kan?"


Rexid berpikir sejenak, dia memutar otak dan mengingat-ingat kembali rupa Valencia. Menurutnya, tidak ada tanda-tanda yang menjelaskan bahwa Valencia adalah seorang pengemis atau gelandangan.


"Aku rasa dia seorang bangsawan karena pakaiannya mewah dan terlihat mahal. Lalu yang paling menarik perhatian adalah matanya. Mata berwarna hijau safir yang cerah, mata yang tidak umum dimiliki orang lain."


Dari sini Leano langsung menyadari bahwasanya gadis yang berurusan dengan Rexid ialah Valencia. Leano tidak habis pikir, kenapa gadis itu bisa pergi ke pegunungan Haleyan sendirian? Dia sangat bingung.


"Kalau itu mata hijau safir, maka sudah pasti gadis yang kau temui itu adalah Valencia Allerick."


Nama yang tidak asing di telinga Rexid, terutama nama belakang Valencia. Tidak ada orang yang tidak tahu Grand Duke Allerick di kekaisaran ini.


"Valencia Allerick? Maksudmu putri Grand Duke yang tak dianggap dan terkenal karena temperamentalnya?" tanya Rexid, dia tidak menduga kalau itu adalah Valencia.


"Benar, itu dia. Kalau itu Valencia, aku tidak terkejut ketika dia memakan sendirian semua buah mangga itu. Aku yakin kau tidak tahu kabar yang beredar di Alegra tentang Valencia. Haruskah aku ceritakan padamu?"


Leano cukup kaget mendapatkan respon seperti demikian dari Rexid. Pasalnya, pria itu hanya mementingkan petualangan saja dan tidak pernah menetap di Alegra dalam waktu yang lama. Dia juga dikenal sebagai pria yang tidak peduli terhadap gosip apa pun di Alegra. Akan tetapi, sekarang berbeda, dia menunjukkan ketertarikan terhadap Valencia.


Leano pun mulai bercerita mengenai apa saja yang dia ketahui soal apa yang dilakukan Valencia. Rexid menyimak baik-baik setiap kata yang dilontarkan. Reaksi Rexid bermacam-macam, segala reaksi campur aduk menjadi satu. Namun, yang paling menonjol ialah reaksinya yang terkejut dan tidak menyangka kalau Valencia seperti itu.


"Ah, pantas saja dia tidak mau meminta maaf padaku. Ternyata memang sifatnya yang gila," gerutu Rexid.


"Ya, dia memang seperti itu. Mau kau jungkir balik sekali pun, kalau dia tidak merasa bersalah maka dia tidak akan meminta maaf."


"Tampaknya lain kali aku harus mencari perhitungan dengannya sebagai timbal balik karena dia telah mencuri buah manggaku yang berharga."


***


Dua hari berselang, Valencia berhasil meracik krim untuk menghilangkan bekas luka di wajah Xeros. Langsung saja Valencia pergi menyerahkan krim tersebut kepada Xeros.


Valencia berencana mengantarkan krim itu ke kamar Xeros. Asrama khusus laki-laki yang terletak tidak jauh dari asrama perempuan membuat Valencia tidak perlu memakan banyak waktu untuk sampai ke kamar Xeros.


"Xeros, buka pintu balkon kamarmu."


Valencia mengetuk-ngetuk pintu balkon kamar Xeros. Kebetulan sekali Xeros tidur sendirian di kamarnya sehingga Valencia tidak perlu khawatir akan dipergoki orang lain.


Setelah beberapa kali ketukan pintu, Xeros pun menyadari kedatangan Valencia. Lekas saja dia membukakan pintu balkon dan menemui gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa ada di sini? Bagaimana cara kau menaiki balkon yang ada di lantai tiga?" tanya Xeros kebingungan.


"Aku melompat dari bawah."


Sontak Xeros bergerak melihat ke bawah, dia semakin bingung karena rasanya mustahil sekali seorang manusia bisa melompat dari bawah.


"Hei, apa yang kau lakukan di sana? Cepat kemari! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," panggil Valencia.


"Apa yang mau kau tunjukkan padaku?" Xeros mendekati Valencia, dia penasaran dengan apa yang hendak diperlihatkan Valencia.


Valencia merogoh tas selempangnya, ia mengeluarkan satu botol krim dan memperlihatkan lebih dekat pada Xeros.


"Ini yang aku janjikan sebelumnya. Krim wajah yang akan menghilangkan bekas luka bakar di mukamu."


Xeros mengambil krim itu, tetapi ekspresinya terlihat ragu dengan krim yang dibuat Valencia tersebut.


"Ini bukan racun kan?"


Valencia mengerutkan bibirnya. "Bukan, apa kau pikir aku sejahat itu sampai berani meracunimu."


Xeros tidak menjawab, mimik wajah pria itu mengguratkan ekspresi yang sulit dimengerti. Valencia tiba-tiba menyadari sesuatu yang penting tentang dirinya.


"Benar juga, bagaimana pun aku ini manusia jahat. Berdasarkan apa yang aku lakukan selama ini, tidak menutup kemungkinan juga aku akan meracunimu," ucap Valencia lagi.


"Jadi, ini sungguh racun? Kau benar-benar berencana membunuhku?"


Valencia pun menggeplak punggung Xeros, entah dari mana Xeros sampai punya pemikiran seperti demikian kepada Valencia.


"Tidak mungkin! Kalau aku mau membunuhmu, seharusnya dari kemarin aku melakukannya. Ini adalah krim yang ampun menghilangkan bekas luka bakar di wajahmu. Cara pakainya yaitu dengan mengoleskan krim ini di wajahmu sebelum tidur. Lihat reaksinya nanti setelah satu malam penuh," jelas Valencia.


"Baiklah, aku akan mencoba percaya padamu. Semoga saja kau tidak meracuniku," gurau Xeros.


"Nah, bagus! Sekarang aku pergi dulu, kau ingatlah untuk mengoleskannya pada wajahmu nanti. Aku yakin luka bakarmu akan langsung sembuh dalam waktu satu malam."


Tanpa menunggu respon dari Xeros, Valencia langsung meloncat dari atas balkon ke bawah. Xeros amat syok tatkala menyaksikannya, tapi dia menghela napas lega seusai melihat Valencia berhasil mendarat dengan selamat.


"Dasar gadis aneh! Aku tidak berharap lukaku akan sembuh. Semoga saja apa yang dia katakan itu benar adanya."


Tepat seperti apa yang dikatakan Valencia, satu malam berlalu seusai Xeros mengoleskan krim wajahnya, dia mendapati mukanya bersih dari bekas luka bakar selepas bangun tidur.


"Apa? Luka bakarnya sembuh sepenuhnya. Bagaimana bisa? Aku tidak bisa mempercayai ini. Mungkinkah aku sedang bermimpi?"


Xeros meraba-raba wajahnya, dia tidak bermimpi, ini merupakan kenyataan. Kini rupa tampan berseri miliknya terpampang nyata di pantulan bayangan cermin.


Kemunculan Xeros dengan penampilan terbarunya menimbulkan kegemparan di akademi. Munculnya seorang pria tampan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya menyita perhatian semua orang, terutama siswa perempuan.


"Apakah di akademi ada murid baru? Aku melihat pria tampan berjalan di lorong akademi dan memakai seragam akademi kita."


"Hah? Apa kau serius?"

__ADS_1


"Aku serius, bahkan ketampanan pria itu setara dengan Profesor Frintz. Kira-kira siapa dia? Aku mau berkenalan dengannya nanti. Siapa tahu dia nanti menyukaiku."


__ADS_2