
Valencia terkejut bukan main, siapa sangka kedua pria yang membuatnya kesal itu adalah pengendali pedang Raja iblis. Sepertinya Valencia harus mengesampingkan terlebih dahulu apa yang terjadi di antara mereka. Perlahan gadis itu menghela napas, mencoba sejenak mengatur kewarasannya.
"Kalian tidak sedang bercanda kan?" tanya Valencia menekan nada bicaranya.
"Tidak, mereka memang—"
"Kenapa kau meragukanku? Apa kau meremehkan aku?" celetuk Rexid menyela perkataan Reibert.
Sorotan mata Rexid terlihat tajam, Valencia membalas sorot matanya yang terlihat menyebalkan.
"Tidak bisakah kau sedikit santai berbicara denganku? Aku sedang serius! Dasar kau pria yang tidak jelas!"
Valencia menjawab perkataan Rexid dengan ketus. Dia langsung mengalihkan pandangannya dari Rexid. Yang benar saja ia harus berurusan dengan pria yang menyebalkan seperti Rexid.
"Kau benar-ben—"
"Valencia ...." Ivanov secara mengagetkan tersenyum sumringah, ia mematahkan perdebatan antara Valencia dan Rexid.
Sungguh, ini bukan seperti Ivanov biasa yang berwajah kaku dan sinis. Seluruh mata yang ada di ruangan tersebut menatap heran terhadap perubahan sikap Ivanov. Mereka jelas tahu bahwa Valencia bermusuhan dengan Ivanov. Akan tetapi, sekarang berbeda, Ivanov melunak di hadapan Valencia tanpa alasan yang mereka pahami.
"Kenapa kau mendekat? Menjauhlah!" Valencia melarang Ivanov untuk mendekat, ia masih belum menerima perubahan sikap Ivanov terhadap dirinya.
"Aku hanya ingin membantumu membersihkan tubuhmu. Lihat, tanganmu penuh dengan bau darah yang sangat menjijikkan."
Ivanov menjangkau tangan Valencia, ia menyeka bercak darah di tangan dan di muka Valencia menggunakan sapu tangan miliknya. Dia berperilaku layaknya seorang pelayan yang melayani Tuannya.
"Sudah, kau tidak perlu mengurusi masalah ini. Kesampingkan dulu soal masalah di antara kita. Sekarang yang terpenting aku harus membantu kalian berdua menggunakan kekuatan sihir Raja iblis sepenuhnya," tutur Valencia.
Di sela rasa sebal nan memenuhi hatinya, tiba-tiba semerbak aroma sedap dari makanan yang dihidangkan Leano menyeruak ke indera penciumannya.
"Tetapi, sebelum itu alangkah baiknya sekarang kita makan dulu, mari lanjutkan penjelasannya nanti."
Valencia bergegas menuju ke meja makan tempat Leano menghidangkan makanan. Berbagai jenis makanan mampu menggugah seleranya. Pada akhirnya, mereka memilih untuk menikmati makanan bersama sebelum mereka melangkah ke pembicaraan yang lebih serius.
Di tengah waktu santai mereka, Frintz dan Sammy menjelaskan secara detail perihal sihir yang mereka sebutkan sebelumnya. Mereka menjelaskan tanpa ada satu pun yang dilewatkan. Untung saja mereka berdua lebih cepat mengerti penjelasannya, jadi Frintz maupun Sammy tidak perlu mengulangi penjelasannya lagi.
"Nah, karena kalian berdua sudah paham, mari kita mulai ritual penggabungan dan pemindahan sihir dengan tubuh kalian."
__ADS_1
Valencia meminta Leano untuk membawa mereka ke sebuah ruang yang kosong dan lapang. Leano pun tanpa berlama-lama langsung mengantarkan mereka ke sebuah ruang bawah tanah kosong di restorannya.
Valencia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Membentuk pentagram sihir di permukaan lantai. Dia menyuruh Rexid dan Ivanov untuk berdiri di tengah pentagram tersebut. Kemudian Valencia mulai merapalkan mantra sihir yang terdengar amat rumit.
'Aku hanya perlu melakukan seperti yang sebelumnya. Tolong jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka.'
Sesuai keinginan Valencia, semuanya berjalan sempurna tanpa hambatan. Ivanov dan Rexid berhasil mendapatkan sihir Raja iblis. Kini mereka berdua sama seperti yang lain, pengendali sihir Raja iblis yang memiliki daya hancur yang sangat kuat.
"Karena urusanku di sini sudah selesai, maka aku pamit undur diri. Kalian berdua juga sebaiknya melakukan beberapa pelatihan bersama yang lain. Jangan sampai sihir yang kalian miliki sekarang malah lepas kendali," ujar Valencia hendak beranjak meninggalkan restoran.
"Tunggu dulu!" Sammy mendadak menangkap pergelangan tangan Valencia dan menahan langkahnya untuk pergi lebih jauh.
"Ada apa?" tanya Valencia berbalik badan.
"Aku tadi tidak sengaja mendengar sebuah rumor. Apakah benar kalau Grand Duke telah mengirimkan surat pertunangan resmi antara kau dan Tuan Muda dari keluarga Duke Nerio?"
Valencia memutar bola mata malas, tampaknya semua orang penasaran terhadap segelintir rumor yang beredar ke telinga rakyat.
"Benar, itu yang membuatku sangat kesal sekarang. Haruskah aku hancurkan kepala pria tukang selingkuh itu? Namun, menurutku itu bukan sebuah balas dendam yang menyenangkan," jelas Valencia.
"Bagaimana rencanamu sekarang? Apabila itu surat pertunangan resmi, maka artinya kau tidak bisa lari dari pertunangan itu," tanya Frintz.
Valencia kembali mengalihkan pembicaraannya mengenai makanan. Kedua matanya berbinar ingin tahu soal hal tersebut.
"Benar, di sana ada banyak makanan lezat," jawab Frintz.
"Itu bagus! Sekarang aku punya rencana tersendiri untuk membalas si tukang selingkuh itu. Kalian lihat saja nanti dan aku pastikan mereka menuai malu karena telah berani membuatku sangat jengkel."
Valencia mengambangkan senyum menyeramkan, ia punya maksud tersembunyi dari pertanyaan barusan. Para pria itu tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya perlu mempercayai apa yang akan dilakukan Valencia nanti.
"Meski aku percaya dengannya, tapi aku rasa dia akan melakukan sesuatu yang lebih gila," ucap Leano.
"Haha, sepertinya kita punya pikiran yang sama."
***
Waktu bergulir begitu cepat setelah Valencia berhasil membangunkan sihir tujuh Raja iblis di tubuh ke tujuh pria yang ia temui. Sekarang tepat satu tahun selepas kejadian itu. Ada banyak hal yang terjadi selama ia berada di akademi. Masalah-masalah yang tidak terduga silih berganti mendatangi hidupnya.
__ADS_1
Ketujuh pengguna sihir Raja iblis berhasil menguasai segala jenis pola serangan sihir mereka dalam kurun waktu satu tahun. Tentu saja perkembangan mereka dibantu oleh Valencia. Kemudian masalah Linnea, gadis itu berhasil menaikkan kembali reputasinya di kalangan bangsawan. Dalam hal itu terdapat campur tangan dari Adarian dan Endry.
"Upacara kelulusan ... akhirnya datang juga hari di mana aku lulus dari akademi," gumam Valencia seraya berias di depan cermin besar.
Ya, hari ini merupakan hari di mana Valencia akan resmi menjadi alumni dari akademi ini. Dia hanya perlu bertahan sampai upacaranya berakhir.
"Hei, Valencia!" panggil Devina dan Rachel dari jauh. Mereka bergegas menghampiri Valencia yang hendak melangkah menuju aula kelulusan.
"Kalian sepertinya bersemangat sekali. Apakah orang tua kalian datang ke acara upacara kelulusan kali ini?" tanya Valencia.
"Ya, Ayah dan Ibuku datang," jawab Rachel.
"Aku juga. Kaisar dan Permaisuri menyempatkan waktu untuk hadir di upacara kelulusan hari ini," timpal Devina.
"Begitukah? Aku ikut senang orang tua kalian menyempatkan diri untuk datang."
Setelah itu, mereka pergi ke aula kelulusan bersama-sama. Sebelum masuk ke dalam aula, Valencia secara tidak sengaja melihat dari kejauhan kedatangan Adarian dan Endry ke akademi.
"Grand Duke datang, tapi sepertinya dia datang karena menghadiri upacara kelulusan Nona Linnea."
Begitulah yang orang lain katakan, Valencia tidak begitu mempedulikannya. Adarian dan Endry memang secara khusus datang untuk Linnea. Mereka bahkan terlihat bahagia bersama, padahal dia hanyalah seorang anak angkat, tidak lebih dari itu.
"Ya sudahlah, tidak usah mempedulikannya. Aku hanya perlu menghadiri upacara kelulusan hari ini lalu setelah itu aku bisa bebas melakukan apa saja. Aku tidak butuh seseorang untuk menghadiri upacara kelulusan kali ini," gumam Valencia.
Tatkala Valencia hendak kembali melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti lagi.
"Valencia!" Suara yang begitu familiar memanggil namanya.
Senyum Valencia mereka seketika melihat Henzo datang ke akademi.
"Paman! Apa yang Paman lakukan di sini?" tanya Valencia menghampiri Henzo.
"Tentu saja aku kemari untuk menghadiri upacara kelulusanmu. Setiap siswa membawa orang tua mereka. Aku akan menjadi orang tuamu untuk upacara kelulusanmu hari ini."
Valencia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sejujurnya, dia sangat senang, ia pikir dirinya akan sendirian dalam upacara kelulusannya. Namun, dia salah, masih ada Henzo yang bersedia menghadiri upacara kelulusannya.
"Kami juga datang, Valencia!"
__ADS_1
Valencia menoleh ke arah lain, di sana dirinya menemukan ketujuh pria yang selalu bersamanya selama satu tahun terakhir. Xeros sebagai siswa juga mengekori mereka, padahal dia di sini juga melaksanakan upacara kelulusan bersama Valencia.
"Tampaknya hari ini akan sangat ramai," kata Valencia tersenyum manis.