Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pernikahan Rachel


__ADS_3

Situasi Kekaisaran Alegra saat ini sudah mulai stabil. Walaupun sebelumnya sempat terjadi kericuhan akibat kelompok pemberontak yang bertahan, tetapi hal itu dapat segera diatasi. Sejujurnya, masalah ini membuat rakyat syok dan menaruh banyak curiga terhadap orang lain.


Valencia juga meringkus para bangsawan yang terlibat pemberontakan. Mereka dijatuhi hukuman mati dan seluruh keluarga mereka yang tidak terlibat malah terkena imbasnya. Pemakaman Rudolf pun diwarnai kebencian serta api kemarahan.


Sebagian rakyat biasa dan bangsawan menolak melakukan upacara pemakaman untuk Rudolf. Untungnya, kemarahan mereka mereda tatkala ketujuh Pangeran memberi pengertian. Bagaimana pun juga Rudolf ialah anak kandung dari Abraham dan Linita. Mereka ingin memberi pelayanan terakhir sebagai orang tua dari Rudolf.


"Masalahnya berakhir begitu saja tanpa ada kendala atau hambatan dari pihak lain. Sekarang Alegra aman dari pemberontak," gumam Valencia berjalan di tengah lorong istana.


Kemudian langkah Valencia terjeda di ambang pintu. Dia melihat dua orang Adik Kakak yaitu Helen dan Linita sedang bercengkrama. Linita masih terjebak kesedihan karena kematian Rudolf.


'Seburuk apa pun anakmu, dia tetaplah anakmu. Darahmu mengalir di darahnya, garis keturunannya berasal darimu. Semoga kau cepat beralih dari kesedihanmu itu.'


Di saat itu pula, seseorang menepuk pundak Valencia. Gadis itu sontak terperanjak kaget dan segera menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah Rachel yang datang bersama Devina.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Devina.


"Tidak, aku tidak sengaja lewat dan mendengar Permaisuri menangis terisak," jawab Valencia.


"Ibuku memang masih sering menangisi si brengs*k itu. Aku tidak bisa memaafkannya meski dia sudah mati."


Devina masih menaruh dendam terhadap Rudolf. Wajar saja dia merasa demikian, sudah terlampau besar kesalahan Rudolf hingga tidak sanggup untuk dimaafkan olehnya.


"Lupakan itu. Sekarang ayo kita minum teh bersama. Setidaknya kita harus menikmati waktu santai hari ini."


Rachel menarik mereka berdua ke ruang tamu, dia terlihat amat antusias. Ketiganya pun duduk menikmati secangkir teh serta cemilan yang disuguhkan para pelayan.


"Sepertinya suasana hatimu sangat bagus. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Valencia kepada Rachel.


"Inilah yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Dengar baik-baik, dua bulan lagi aku akan menikah!"


"Menikah?"


Valencia dan Devina tercengang, sulit dipercaya dengan apa yang mereka dengarkan dari Rachel.


"Ya, aku akan menikah." Rachel sangat kegirangan, ia akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang mencintai dirinya.


"Kau sungguh akan menikah? Dengan bangsawan dari Sergia itu?!"


"Bukankah terlalu cepat? Kenapa kau tidak menunggu umurmu delapan belas tahun?!"


"Aku sangat syok! Walaupun aku sudah menduga sejak awal kalau kau akan menikah lebih cepat dariku. Namun, aku masih belum bisa menerimanya."


"Tolong jelaskan cepat! Kau akan menikah di mana dan tepatnya tanggal berapa?"


Mereka berdua amat heboh dan memborbardir Rachel dengan berbagai pertanyaan. Rachel pun bingung harus bagaimana merespon pertanyaan yang tidak ada habisnya itu.

__ADS_1


"Tenanglah kalian, aku akan menjelaskan satu persatu."


Valencia dan Devina terdiam, mereka membungkam mulut lalu mendengar Rachel menjelaskan perihal pernikahannya.


"Dia mencintaiku sejak pertama kali bertemu denganku. Mendengar kabar pembatalan pertunanganku, dia sangat senang dan langsung mengirimkan undangan pertemuan. Tentu saja aku masih belum bisa melupakan masa laluku. Hanya saja, bagiku mendapatkan pria yang tulus adalah sebuah keajaiban tiada tara," jelas Rachel.


"Ya, itu adalah pilihanmu, aku dan Devina akan mendukungmu sepenuhnya," kata Valencia.


"Tetapi, seandainya saja dia menyakitimu, maka aku sendiri yang akan menghajarnya. Kau harus bahagia, Rachel. Kami berdua senantiasa mengawasi kebahagiaanmu."


Rachel terharu mendengar ucapan kedua sahabatnya.


"Terima kasih, ini semua berkat kalian yang selalu ada di sisiku."


Selepas pertemuan mereka, Valencia menyelesaikan urusannya di istana dan langsung kembali ke kediaman Archduke Calestine. Dia berencana untuk melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai.


"Nona, Anda sudah kembali? Sebaiknya sekarang Anda langsung ke kamar," ujar Pierre.


"Huh? Ke kamar? Ada apa memangnya di sana?"


"Ketujuh Pangeran menyelinap masuk dan menunggu Anda di kamar."


"Astaga."


Valencia menepuk keningnya, ia bergegas menuju kamarnya. Di sana tujuh orang pria tampan sedang menanti kehadirannya.


Ekspresi mereka seketika sumringah saat melihat Valencia. Padahal sebelumnya atmosfer di sekitar dipenuhi aura permusuhan.


"Kami ingin berbicara denganmu," ujar Ivanov memalingkan mukanya yang merona.


"Berbicara soal apa?"


Valencia mendudukkan dirinya di atas kursi kosong seraya menggerai rambutnya yang terikat.


"Ah, itu ...." Mereka terlihat ragu-ragu menyuarakan pembicaraannya.


"Valencia, jika kami semua memiliki perasaan kepadamu, kira-kira siapa yang akan kau pilih?" potong Rexid.


Valencia bingung, ia tidak paham maksud perkataan Rexid.


"Perasaan yang seperti apa?"


"Perasaan cint—"


"Oh, kalian berani menyukai putriku? Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke kamar Valencia?! Apabila kalian ingin menyukainya, maka kalian harus berhadapan denganku terlebih dahulu."

__ADS_1


Henzo tiba-tiba muncul memecah ketegangan yang ada. Seluruh keseriusan yang menumpuk di kepala pria-pria itu seketika buyar. Henzo terlihat sangat jengkel terhadap mereka.


"Ah, sial! Lebih baik kita kabur sekarang sebelum urusannya semakin panjang."


Tanpa mengucap pamit, mereka serentak menghilang dari pandangan Valencia. Henzo pun tidak membiarkannya begitu saja. Dia ikut berlari dan mengejar mereka yang kabur darinya.


"Ya ampun, aku tidak bisa memahami pikiran mereka."


Usaha mereka bertujuh tidak sampai di sana saja. Setiap saat, setiap hari, setiap waktu, mereka selalu mencoba mendekati Valencia. Terlintas niat di pikiran mereka untuk melamar gadis itu. Akan tetapi, rencana mereka selalu digagalkan oleh Henzo.


Tidak terasa akhirnya sampai di waktu di mana pesta pernikahan Rachel diadakan. Hari ini Valencia datang dengan didampingi Henzo. Dia tidak rela putrinya didampingi oleh pria selain dirinya.


"Valencia, ingatlah! Kalau ada pria yang mengajakmu menikah, tendang saja mereka."


Peringatan yang sama selalu dilontarkan Henzo kepadanya.


"Iya, Ayah. Tidak perlu khawatir soal itu."


Ramai orang datang menghadiri pesta pernikahan Rachel. Kala itu tidak sedikit mata pria yang memandang dan menatap Valencia. Di antaranya ada yang mencoba mengajak gadis itu berdansa, tetapi mereka dihalangi ketujuh Pangeran.


"Rachel, selamat atas pernikahanmu."


Valencia mendekap Rachel, ia turut bahagia menyaksikan sahabatnya menikah.


"Terima kasih, Valencia."


"Oh iya, aku ada hadiah untukmu."


Valencia menyerahkan sebuah kotak kepada Rachel. Tampak sangat mewah, bahkan dari luar saja dapat dirasakan betapa mahalnya harga hadiah tersebut.


"Bolehkah aku membukanya sekarang?" tanya Rachel antusias.


"Jangan! Kau bukalah nanti ketika—"


BRAK!


Daun-daun pintu aula pesta terbuka karena didobrak seseorang. Seluruh perhatian pun tertuju ke arah pintu masuk.


"Hei, berhenti kau, penyusup!"


Para kesatria berlarian mengejar seseorang yang dianggap sebagai penyusup. Sepersekian detik, wajah seorang pria yang tidak asing di ingatan Valencia tersorot cahaya lampu. Tubuhnya dipenuhi luka, cairan merah menetes dari lukanya. Seisi ruangan pun ketakutan dan mulai menjauhi area sekitar pintu masuk.


"Bell, akhirnya aku menemukanmu."


Kedua bola mata Valencia membulat sempurna.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau bisa ada di sini, Arc?!"


__ADS_2