
Semalaman Valencia tak kunjung memejamkan mata. Rasa kantuk tidak menghampiri dirinya, seolah-olah firasat buruk semalam merupakan sebuah beban pikiran baru bagi Valencia. Sampai sekarang ia masih berpikir keras mengenai firasat yang tertuju hanya pada Davey. Namun, Valencia berupaya menyingkirkan segala bentuk kegelisahan di hatinya sebab hari ini ia akan berangkat menuju asrama akademi.
'Aku tidak tahu apa yang sedang melanda Davey, tapi semoga saja tidak ada hal buruk menimpa dirinya,' batin Valencia.
Meskipun hubungan Valencia dan Davey sedikit terbilang aneh. Akan tetapi, di lain sisi Valencia tanpa sadar mengkhawatirkan kondisi Davey. Bahkan Valencia mendoakan agar tak ada hal buruk menimpa diri Davey.
Di sela perasaannya yang kacau, beberapa orang dari istana mendatangi kediaman Valencia. Mereka membawa satu peti yang berisi gaun berwarna biru dengan motif bunga di bagian bawah gaunnya serta bertebar kilauan indah yang membuat gaunnya tampak begitu sempurna.
"Apa ini? Apakah ini gaun yang dikatakan oleh Mayerlin semalam?" tanya Valencia.
"Benar, Nona, ini adalah gaun yang terbuat dari bahan pakaian dari Kekaisaran Ergis. Nyonya Mayerlin bekerja semalaman dan tidak tidur demi menyelesaikan gaun ini."
Valencia takjub oleh kemampuan Mayerlin, meski dikerjakan dalam kurun waktu beberapa jam saja, tapi gaun tersebut dikerjakan secara sempurna tanpa ada celah kerusakan di setiap sudut gaunnya.
Valencia mengakui bahwa bahan pakaian yang dibeli Henzo di Kekaisaran Ergis memang sangat bagus. Tetapi, yang paling mengagumkan di sini ialah cara Mayerlin menyatukan jaitannya hingga menjadi sebuah gaun dengan model yang luar biasa.
"Apakah Mayerlin itu monster? Bagaimana dia bisa menyelesaikan gaun ini dalam waktu satu malam saja?" tanya Valencia keheranan.
"Anda tidak perlu heran, Nona, karena Nyonya Mayerlin mempunyai tangan yang sangat cepat dalam membuat gaun yang beliau suka. Kemarin beliau kegirangan ketika Archduke Calestine menyuruh Nyonya Mayerlin untuk membuat gaun dari bahan pakaian dari Kekaisaran Ergis."
"Ah, begitukah? Baiklah. Terima kasih karena sudah mengantar gaunnya padaku."
Orang-orang itu pun pamit undur diri dan kembali lagi ke istana. Sementara itu, di luar pintu masuk rupanya ada seorang bawahan Adarian tengah menguping pembicaraan Valencia. Dia segera buru-buru pergi melaporkan hal ini kepada Adarian.
"Apa? Archduke Calestine melakukan itu semua untuk Valencia?"
Ekspresi Adarian tak karuan, tidak ia sangka Henzo yang terkenal dingin dan kejam bisa lembut pada seorang gadis lima belas tahun. Bahkan selama ini Adarian sendiri tidak pernah mendapatkan respon yang baik dari Henzo. Namun, berbeda dengan Valencia, putrinya malah memperoleh perlakuan yang jauh lebih baik dari yang dia bayangkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka berdua bisa begitu dekat? Apakah ada sesuatu yang terjadi dan aku lewatkan?" gumam Adarian berpikir keras.
"Mungkin ini karena Nona Valencia pernah menyelamatkan Archduke Calestine dari ancaman pembunuhan," ujar bawahan Adarian yang melapor padanya.
"Tidak mungkin hanya sebatas itu saja," bantah Adarian. "Coba sekarang kau selidiki baik-baik, hubungan sejenis apa yang dimiliki Archduke Calestine dengan Valencia. Aku yakin hubungan mereka tidak sesederhana itu," lanjut Adarian memberi perintah.
"Baiklah, Yang Mulia, saya akan segera menyelidikinya."
Di sisi lain pada hari dan waktu yang sama di paviliun kediaman Linnea, terlihat gadis itu sedang menikmati pelayanan dari para pelayan. Linnea mengenakan pakaian yang sangat cantik lalu rambutnya yang ditata rapi. Semua itu pelayan lah yang membantu dirinya.
__ADS_1
"Nona, Anda memang sangat cantik. Rambut Anda halus dan kulit Anda lembut. Saya rasa Pangeran pertama akan tertarik dengan kecantikan Anda nanti," sanjung para pelayan.
"Benarkah begitu? Aku tidak merasa diriku cantik. Aku rasa Valencia lebih cantik dariku," tutur Linnea berpura-pura rendah diri dan menolak pujian yang tertuju padanya.
"Ya, kami tidak menyangkalnya. Nona Valencia memang lebih cantik, tapi sikap beliau sangat kasar dan kami yakin tidak akan ada pria yang tertarik padanya."
Mendengar pendapat dari para pelayan, Linnea menggeram kesal di hatinya. Dia tidak mengakui bahwa Valencia jauh lebih sempurna dari dirinya.
'Tahanlah, aku harus menahan diri supaya tidak meledak. Lagi pula kami akan pergi ke akademi setelah ini, jadi aku bisa menyingkirkannya nanti di akademi,' batin Linnea tersenyum jahat.
Setelah itu, seorang pelayan datang terengah-engah masuk ke kamar Linnea. Dia membawa berita soal Valencia yang diberi hadiah yang tak terduga dari Henzo. Ekspresi para pelayan sungguh di luar dugaan, mereka tidak percaya Valencia mendapatkan perlakuan bak Tuan Putri dari Henzo. Hati Linnea semakin panas mendengar kabar tersebut, bagaimana pun ia mencoba menjatuhkan Valencia, gadis itu selalu menemukan keberuntungan lain sehingga Valencia kian menjauh di depannya.
'Sialan! Hidupnya benar-benar dikelilingi keberuntungan. Bagaimana cara dia mengenal Archduke Calestine? Tidak bisa aku biarkan. Aku harus merebut semua milik gadis itu,' gerutu Linnea.
***
Valencia telah menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan untuk di akademi nanti, barang bawaannya disimpan di ruang sihir miliknya sehingga dia tidak perlu mengangkut tas-tas besar karena dia berangkat ke akademi dengan menunggangi Black. Sebagaimana yang diketahui, Adarian tidak memberikan izin untuknya menaiki kereta kuda.
Valencia tidak peduli sama sekali dengan apa yang dilakukan Adarian, selagi itu tak mengganggu kelangsungan ketenangan dirinya, ia juga akan diam saja mengamati dari jauh. Bahkan saat ini Adarian dan Endry terang-terangan memamerkan kasih sayangnya pada Linnea. Mereka mengantarkan Linnea ke atas kereta kuda serta memberi Linnea uang saku yang jumlahnya sangat banyak.
“Sudahlah, ayo kita berangkat, Black. Tidak ada gunanya kita berlama-lama di sini,” kata Valencia menyuruh Black untuk segera memacu langkah dan pergi dari kediaman Grand Duke Allerick.
Sepanjang perjalanan, tiada ketenangan yang mewarnai langkah Valencia, setiap jalan yang dia lalui selalu diawasi oleh para mata-mata utusan Rudolf. Namun, Valencia masih bisa mengatasinya tanpa harus melumuri tangannya dengan darah.
‘Sepertinya Rudolf mulai mencurigaiku, dia menaruh mata-mata sepanjang jalan. Mungkin ia berpikir bisa mengawasiku dengan leluasa, tapi kau terlalu meremehkanku, Rudolf!’
Kemudian di perjalanan menuju tengah hutan, Valencia menemukan kereta kuda berlambang istana kekaisaran terhenti karena dihadang oleh sekawanan binatang buas. Akan tetapi, binatang buas itu bukanlah binatang buas biasa melainkan binatang buas yang telah terkontaminasi sihir sehingga membuat binatang buas itu menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Kesatria istana tampak kewalahan menghadapi binatang buas tersebut, mereka ditugaskan secara khusus untuk mengawal Devina – Tuan Putri Alegra atau lebih tepatnya putri kandung satu-satunya Abraham dan Linita.
“Menyingkirlah kalian dari sana! Biar aku yang mengurus binatang buas itu!” seru Valencia.
Para kesatria seketika merasa lega melihat kedatangan Valencia, tanpa berlama-lama mereka langsung menepi dan membuka jalan untuk Valencia. Gadis itu mengeluarkan pedangnya, dia menerjang ke tengah kawanan binatang buas. Hanya butuh sejumlah serangan saja, Valencia berhasil menyapu bersih semua binatang buas tersebut.
‘Mereka menjadi gila karena sihir yang menodai kesadaran mereka. Para pembunuh itu mempunyai berbagai cara untuk membunuh keturunan Kaisar dan Permaisuri.’
Valencia melompat turun dari punggung Black, ia menghampiri para kesatria yang tampak kelelahan.
__ADS_1
“Apakah ada yang terluka di antara kalian?” tanya Valencia.
“Tidak, Nona. Syukurlah Anda di sini, kalau tidak mungkin kami sudah mati diterkam binatang buas itu. Terima kasih, Nona,” ucap mereka.
“Tidak masalah, aku hanya kebetulan lewat. Jadi, siapa yang kalian kawal di kereta kuda ini?” Valencia masih belum tahu kalau kala itu ada Devina di dalam kereta kudanya.
“Kami mengawal Tuan Putri Devina ke akademi. Beliau juga memasuki akademi yang sama seperti Anda.”
Valencia melirik ke arah jendela kereta kuda, Devina seperti sedang bersembunyi dari dirinya. Tatapan Valencia nan tajam membuat jantung Devina nyaris copot karena saking kencang degupannya.
“Dia melihat kemari, Valencia melihatku. Apa yang harus aku lakukan? Dia sangat keren. Benar yang diceritakan Ibu, Valencia berubah drastis dan sekarang dia berada dekat denganku,” gumam Devina.
Gadis yang sangat mirip dengan Linita itu mulai mengagumi Valencia semenjak reputasi Valencia sebagai wanita tangguh melonjak di tengah masyarakat luas. Diam-diam ia mengikuti setiap kabar yang memberitakan Valencia. Sebagai seorang wanita yang bercita-cita menjadi Kaisar, sosok Valencia menjadi sosok yang ingin ia jadikan panutan di antara pemikiran orang-orang yang menganggap wanita tidak pantas menjadi seorang pemimpin.
“Tuan Putri, apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda bersembunyi? Padahal sebelumnya saya lihat Anda juga ikut mengayunkan pedang pada binatang buas yang menghadang barusan.”
Devina terperanjat kaget melihat Valencia menegurnya di dalam kereta, ia nyaris tidak bisa mengendalikan ekspresinya sendiri.
“Ah, itu … saya hanya berusaha melindungi diri,” kilah Devina tersenyum kaku.
“Begitu rupanya, tapi sekarang mereka sudah saya bunuh. Anda boleh keluar karena sepertinya kereta kuda Anda rusak parah.”
“Baiklah.”
Devina pun turun dari kereta kuda, persis seperti yang dirumorkan, Devina mengenakan pakaian seperti pria. Dia tidak pernah mengenakan gaun karena posisinya sebagai Tuan Putri selalu direndahkan orang lain, jadi ia memutuskan untuk memakai pakaian laki-laki.
“Kereta kudanya rusak parah, kita tidak akan bisa mengantarkan Tuan Putri tepat waktu ke akademi. Apa yang harus kita lakukan?” Para kesatria diterpa kebingungan, mereka tidak menemukan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi.
“Bagaimana kalau kalian menyerahkan Tuan Putri padaku? Aku akan memberi izin Tuan Putri menunggangi kuda denganku. Apa kalian keberatan?”
Valencia berbaik hati menawarkan diri membawa Devina bersamanya ke akademi. Raut muka para kesatria seketika berubah sumringah.
“Apakah itu tidak akan merepotkan Anda, Nona?” tanya Devina tidak enak hati.
“Tidak, justru saya dengan senang hati akan memberi Anda tumpangan.”
Pada akhirnya, mau tidak mau Devina harus menerimanya, dia pun naik ke atas kuda yang sama dengan Valencia. Mereka menuju ke akademi bersama-sama menggunakan kecepatan maksimal.
__ADS_1