Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Sang Pangeran Pertama


__ADS_3

Semakin lama tatapan Valencia kian menajam, perlahan kaki Linnea bergerak mundur ke belakang secara refleks. Linita semakin tidak suka dengan Linnea, kali ini dirinya teramat geram akibat tingkah Linnea yang selalu ingin mendominasi Valencia tanpa dia menyadari siapa dia sebenarnya dan dari mana dia berasal. Di istana ini tidak ada yang memihak Linnea, bahkan para pelayan sekali pun tidak pernah menempatkan rasa kagum maupun simpati kepada Linnea. Meskipun mereka tahu seberapa bagus reputasi Linnea di tengah masyarakat Kekaisaran Alegra.


“Aku sudah cukup sabar menghadapi Anda, Nona, apa mungkin Anda tidak tahu kalau saya menyadari sedari awal bahwa Anda tengah mencoba untuk membuat Valencia terlihat rendah di hadapanku dan Kaisar? Kau mencoba memamerkan dirimu bahwa kau lebih baik dan mencoba menarik perhatianku. Tetapi, itu tidak ada gunanya, sejak awal aku dan suamiku tidak pernah menyukai kedatanganmu ke istana ini,” ucap Linita menatap rendah Linnea.


Linita memberi isyarat kepada kesatria yang sedang berdiri di pintu untuk segera masuk ke dalam. Kegeraman Linita tak lagi bisa terbendungkan, sekarang dia akan menyingkirkan Linnea dari hadapan Valencia.


“Yang Mulia, bukan begitu! Tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud lancang kepada Anda. Hanya saja saya—”


“Aku tidak mau melihat mukamu lagi, sebagai bangsawan yang tidak berpengaruh seharusnya kau lebih bisa menempatkan diri dan bersikap baik di hadapan bangsawan tingkat tinggi. Kau mungkin berpikir aku sama seperti Grand Duke yang mudah terpengah wajah polosmu, tapi sayang sekali aku akan berpihak kepada Valencia apa pun masalahnya. Mulai dari masalah perselingkuhan hingga kau yang mencoba untuk mendominasi posisi Valencia, takkan pernah aku maafkan!”


Valencia tersenyum penuh kemenangan, sedari awal dia tahu betapa bencinya Linita dan Abraham terhadap Linnea sehingga Valencia memanfaatkan momen ini untuk membuat Linnea semakin dipandang rendah oleh kedua pemimpin kekaisaran. Selain berhasil membuatnya malu, kini Valencia juga berhasil membuat Linita marah besar padanya. Kemarahan Permaisuri berarti kemarahan Kaisar juga, itu artinya Linnea sedang menyulut amarah yang paling menakutkan.


“Kalian bawa Nona Linnea keluar dari istana sekarang juga! Jangan pernah izinkan dia memasuki istana ini lagi! Wanita lancang seperti dia tidak pantas berhadapan dengan Kaisar dan Permaisuri,” perintah Linita secara tegas.


Para kesatria langsung mematuhi perintah Linita, mereka menyeret paksa Linnea keluar dari ruang penyimpanan gaun. Pada awalnya Linnea menolak keluar dari sana, tapi akibat paksaan dari kesatria akhirnya dia berhasil diseret ke luar dari istana.


‘Bagaimana rasanya, Linnea? Kau mencoba menjatuhkanku, tapi itu malah jadi bumerang untuk dirimu sendiri. Aku tidak merasa begitu kasihan, justru sebaliknya, aku sangat senang melihatmu diseret dengan wajah menyedihkan. Mari kita lihat, apa lagi yang akan kau lakukan, tapi aku yakin persoalan ini akan beredar ke dalam masyarakat luas,’ batin Valencia.


Selepas pengusiran Linnea, Valencia dan Linita kembali menikmati waktu santai mereka berdua. Mereka bersenang-senang di istana, tampaknya Linita sangat bahagia karena dia belum pernah menghabiskan waktu dengan putrinya selama ini. Jadi, Linita menganggap bahwa Valencia merupakan putrinya yang menghabiskan waktu dengannya.

__ADS_1


Setelah puas, Valencia pun berpamitan pulang kepada Linita dan Abraham karena dia harus melakukan beberapa hal sebelum dia mengumumkan secara resmi pembentukan kelompok kesatria wanita. Berkat izin dari Abraham, tidak akan ada seorang pun yang dapat menghalangi jalannya.


Di saat Valencia tengah berjalan di lorong istana, tanpa sengaja dia berpapasan dengan seorang pemuda yang sangat mirip dengan Abraham. Pemuda itu menatap intens Valencia, begitu juga sebaliknya, tanpa diberi tahu pun Valencia sudah tahu kalau pemuda itu adalah anak dari Abraham dan Linita. Namun, ada sesuatu yang membuat Valencia tercengang di sini, dia merasakan adanya aura tidak mengenakkan yang meliputi tubuh pria tersebut.


“Valencia Allerick memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran pertama, Rudolf Alegra.” Valencia membungkuk mengucap salam kepada sang Pangeran yang bernama Rudolf.


“Astaga, itu Anda rupanya Nona Valencia, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Anda banyak berubah setelah insiden percobaan bunuh diri itu.” Rudolf menyapa Valencia balik dengan ekspresi sumringah palsu, dia sedang menyembunyikan mimik dinginnya di hadapan Valencia.


Valencia tersenyum kesal, dia sangat tidak menyukai Rudolf meski ini merupakan pertemuan pertama mereka setelah Valencia masuk ke tubuh ini.


“Itu benar, Yang Mulia, saya telah banyak berubah berkat insiden itu,” jawab Valencia.


Rudolf masih tidak melepaskan senyumnya, dia punya maksud tertentu di balik senyum tersebut. Valencia bertingkah seperti seorang gadis polos supaya Rudolf bisa menurunkan sedikit tatapan yang mencoba memindai dirinya.


“Anggap saja ini sebagai perubahan saya menuju ke diri yang lebih baik.”


“Oh, begitukah? Saya dengar Anda juga telah berjasa banyak akhir-akhir ini. Saya menghargai Anda yang mengambil keberanian menyelamatkan kekaisaran ini dari bahaya. Sebagai seorang Pangeran, saya sangat berterima kasih kepada Anda,” tutur Rudolf.


“Anda tidak perlu berterima kasih, ini adalah kewajiban saya sebagai rakyat Kekaisaran Alegra.”

__ADS_1


Valencia pun melirik ke arah bawahan Rudolf yang berjalan di belakangnya, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan ada sesuatu yang menghalangi untuk Valencia melihat lebih jauh ke diri mereka berdua.


‘Pangeran ini mempunyai aura gela, begitu pula dengan pria yang menjadi bawahannya itu. Aku tidak menyukai mereka seolah mereka adalah ancaman besar bagi kedamaian negeri ini. Aku harus menyelidiki mereka secara diam-diam,’ pikir Valencia.


Selesai mereka saling berbasa-basi, Valencia berpamitan pergi dan meninggalkan Rudolf. Raut muka Rudolf yang tersenyum berubah dingin secara halus.


“Valencia Allerick, aku berfirasat bahwa dia akan menjadi penghambat rencanaku. Elkin, kau selidiki dia, taruh mata-mata di sekitarnya, jika dia berbuat sesuatu yang bersifat mengancam rencanaku, maka lenyapkan dia bagaimana pun caranya,” titah Rudolf kepada bawahannya.


“Baik, Yang Mulia, saya juga bisa merasakannya ada hawa lain di tubuh gadis itu,” kata Elkin – asisten pribadi Rudolf.


“Itu artinya kita tidak boleh anggap remeh gadis itu, dia bisa mengatasi portal merah dengan mudah. Melihat dan mendengar kekuatannya saja membuatku langsung yakin bahwa dia bukanlah Valencia Allerick yang dahulu aku kenal.”


Valencia melangkah menuju luar istana, Luana sebagai kesatria yang mendampingi Valencia menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikiran Valencia seusai bertemu dengan Rudolf.


“Nona, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda?” tanya Luana.


“Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan hal lain,” kilah Valencia.


Dia pun memasuki kereta kuda dengan segudang pertanyaan yang menjaring di kepalanya. Valencia jelas terganggu oleh Rudolf, dia bisa membaca raut muka Rudolf yang mencoba menyelidiki dirinya.

__ADS_1


__ADS_2