
Betapa terkejutnya Valencia melihat ketujuh Pangeran yang dimaksud ialah pria yang selama ini berada di sisinya. Entah ekspresi seperti apa yang harus dia tunjukkan, yang jelas saat ini Valencia hanya terpaku menatap kedatangan mereka.
Penampilan mereka jauh berbeda dari biasanya, tampak lebih rapi dan tampan dengan pakaian yang dirancang khusus oleh perancang busana istana. Sepertinya tidak hanya Valencia saja yang membuat respon demikian. Seisi aula juga sama terkejutnya sebab tanpa mereka sadari rupanya mereka sering bertemu para Pangeran.
"Aku tidak habis pikir ternyata mereka adalah Pangeran. Apa kau tahu soal itu?" tanya Rachel.
Valencia menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak tahu apa pun. Tampaknya mereka memang sengaja menyembunyikan identitasnya."
Kemudian Valencia memilih berganti posisi menjadi lebih dekat dengan Henzo. Tampaknya Henzo juga sudah tahu mengenai ini sejak awal.
"Ayah, kenapa kau tidak mengatakan kepadaku kalau mereka itu Pangeran?" bisik Valencia.
"Jadi, kau tidak tahu? Aku pikir mereka sudah memberitahukan identitasnya padamu."
Valencia menghela napas panjang, dia mulai menyadari beberapa hal yang selama ini merujuk pada petunjuk identitas mereka.
'Pantas saja mereka tahu banyak soal denah istana. Etiket mereka juga sangat bagus, pengetahuan mereka mengenai kekaisaran juga tidak buruk. Ilmu pedang yang mereka gunakan lebih punya ciri khas tersendiri. Tidak heran, mengapa mereka bisa tahu lebih banyak dan terlihat mengenal baik Rudolf maupun Devina dengan baik.'
Kini kehadiran tujuh Pangeran menggemparkan istana. Tidak sedikit para gadis mencoba mendekati mereka. Leano yang alergi terhadap sentuhan wanita pun langsung menjauh dari kerumunan.
Valencia hanya menonton dari jauh sambil menertawakan para gadis yang ditolak secara terang-terangan. Jujur saja, Valencia lebih menikmati ekspresi gadis-gadis itu daripada melihat wajah tampan ketujuh Pangeran.
"Sepertinya kau senang sekali melihat orang lain dipermalukan," celetuk Devina.
"Tidakkah menurutmu ini lucu? Apakah Kaisar mengadakan pesta sebagai tempat mencari jodoh? Lagi pula mengapa mereka ditolak? Apakah pria-pria itu tidak menyukai perempuan?"
Devina menepuk keningnya, ia dan Rachel saling bertatap pandang. Mereka tidak paham lagi bagaimana caranya supaya Valencia lebih peka terhadap perasaan ketujuh Pangeran.
'Apa yang harus aku katakan sekarang? Atau mungkinkah kepalanya perlu aku pukul sesekali supaya dia sadar,' batin mereka berdua.
Kemudian di saat bersamaan, seorang pria yang tak dikenal Valencia mendekatinya. Pria itu mengenakan pakaian khas Kekaisaran Sergia.
"Halo, Nona Calestine," sapanya sambil mengulas senyum ramah.
Valencia tertegun, pria itu mirip sekali dengan seseorang yang ia temui di masa lalu. Lekas Valencia tersadar bahwa pria itu ialah Dimitri Sergia — Kaisar Kekaisaran Sergia.
"Saya haturkan salam kepada Yang Mulia Kaisar Sergia," tutur Valencia memberi salam hormat.
__ADS_1
Wajah Dimitri sungguh tampan ditambah lagi pria itu seorang Kaisar muda yang baru diangkat menjadi Kaisar satu tahun belakangan ini.
'Dia sangat mirip dengan leluhurnya, aku sampai lupa kalau mereka berdua adalah dua orang yang berbeda dengan satu garis keturunan yang sama,' batin Valencia.
Dimitri sedari tadi memperhatikan Valencia dari jauh, tetapi karena dia dikelilingi para bangsawan yang berbincang dengannya, sehingga hal itu menyulitkannya berbicara dengan Valencia. Ini merupakan waktu yang tepat bagi mereka berbicara.
"Sepertinya Anda telah sembuh sepenuhnya, Nona," kata Dimitri.
"Sudah, Yang Mulia. Saya mohon maaf karena tidak bisa menghadiri undangan makan malam waktu itu."
"Tidak perlu Anda pikirkan. Bisakah nanti setelah selesai pesta Anda meluangkan waktu untuk bertemu saya sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," ujar Dimitri.
"Baiklah, saya akan menemui Anda nanti."
Percakapan mereka berakhir begitu saja tanpa ada sesuatu yang lebih istimewa. Tanpa diketahui Valencia, sejak ia berbicara dengan Dimitri, dia telah diperhatikan oleh tujuh orang Pangeran yang menempatkan rasa penasaran terhadap apa yang mereka obrolkan.
"Apa yang kau bicarakan dengan Kaisar muda itu?" tanya Xeros mendekati Valencia.
Valencia memutar bola mata malas, kini ia dikelilingi oleh tujuh pria berbadan kekar. Entah respon seperti apa yang harus dia tunjukkan kepada mereka.
"Tidak ada, hanya basa-basi saja. Lalu kalian, mengapa kalian tidak jujur padaku kalau kalian itu Pangeran Alegra?!" Valencia terlihat jengkel dengan mereka yang merahasiakan identitasnya.
Valencia menghela napas panjang, dia rasa percuma saja marah-marah kepada mereka.
"Ya sudahlah, tidak perlu dibahas lagi."
Mereka berkumpul di sekitar Valencia sehingga menyebabkan para gadis menatap iri padanya. Valencia mengabaikan segala jenis pandangan yang tertuju ke dirinya sendiri. Sekarang gadis itu hanya fokus untuk mengamati suasana sekitar.
"Nona Valencia, sepertinya Anda sangat menikmati pesta malam ini," ujar Rudolf mendekati Valencia.
Rudolf menggandeng Linnea, hubungan keduanya terlihat baik. Ekspresi Valencia berubah masam sesaat melihat dua orang yang paling dia benci berdiri di hadapannya.
"Ah, Yang Mulia, seperti yang Anda lihat. Saya cukup menikmatinya," jawab Valencia.
"Benarkah? Syukurlah Anda menikmatinya. Saya khawatir Anda tidak nyaman berada di pesta ini."
Rudolf menekan setiap nada perkataannya, rasanya sungguh ingin memukul kepalanya. Akan tetapi, Valencia berupaya menahan diri sejenak sampai waktu untuk menangkapnya datang.
__ADS_1
"Rudolf, kau semakin berani saja sekarang. Apa kau hampir kehilangan akal sehat karena pewaris takhta tak kunjung ditentukan?" celetuk Rexid sangat muak melihat topeng malaikat Rudolf.
Sekilas ekspresi Rudolf berubah, tetapi buru-buru ia perbaiki kembali ekspresinya. Valencia menilai Rudolf sebagai orang yang paling pandai memanipulasi ekspresi.
"Apakah itu yang pertama kali kau katakan kepada saudaramu setelah sekian lama tidak bertemu? Meski kita tidak sedarah, kau tetaplah Adik bagiku," balas Rudolf.
"Adik? Aku tidak sudi menjadi Adikmu. Apa kau pikir aku telah melupakan apa yang pernah kau lakukan kepadaku? Jangan pikir dengan senyum palsumu itu kau bisa menipuku lagi."
Rexid membuat mimik serius, masalah di antara mereka berdua lebih dalam rupanya dari bayangan Valencia.
"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Valencia kepada Reibert.
"Ah, itu, sebenarnya dulu Rexid pernah beberapa kali hampir terbunuh karena ulah Rudolf. Kejadiannya ketika kami baru diadopsi Kaisar, dia secara sengaja mencelakai Rexid lalu membuat Rexid dibenci oleh penghuni istana," jelas Reibert.
Valencia mengangguk paham, pantas saja Rexid tampak begitu marah. Bahkan, aura kemarahannya berbeda dari biasanya. Lalu di waktu yang sama, Abraham dan Linita pun masuk ke aula sehingga Rexid maupun Rudolf menghentikan sejenak perdebatan di antara keduanya.
"Terima kasih karena telah menyempatkan waktu Anda semua untuk menghadiri pesta pembukaan festival ulang tahun Kekaisaran Alegra. Semoga kita semua mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik lagi," seru Abraham.
Di tengah itu semua, Valencia merasakan adanya aura membunuh yang sangat kuat sedang mengarah pada Abraham. Indera penglihatannya menangkap keberadaan seorang pria berpakaian pelayan mencoba mendekat ke arah Abraham.
'Sialan! Apakah dia pikir dia bisa membunuh Kaisar tanpa terlihat olehku?!'
Valencia berlari sekencang mungkin sembari menarik sebuah balok kayu. Mendadak fokus semua orang menjadi terpecah akibat hal tersebut. Pergerakan Valencia yang cepat membuatnya tiba dengan cepat ke hadapan Abraham.
BRUAKK!
Valencia mengayunkan balok kayunya sampai menyebabkan tubuh pembunuh itu terpental jauh ke belakang. Untung saja Valencia berhasil menghajarnya tepat sebelum sebilah pisau berlumur racun dihunuskan ke tubuh Abraham.
"Lindungi Yang Mulia Kaisar! Ada ancaman pembunuhan!"
Tanpa menunggu perintah dari Valencia, para kesatria langsung bergerak melindungi Abraham dan Linita.
"Tutup pintu masuk!" seru Ivanov.
Seisi ruangan tampak syok, kebisingan pun menyapa mereka. Valencia memberi kode kepada para Pangeran untuk bergerak memencar ke setiap sisi ruang. Henzo bersama kesatrianya pergi ke luar untuk menemukan jejak para pembunuh.
"Harap tenang semuanya!" teriak Valencia menyeret pembunuh yang ia hajar tadi ke tempat yang lebih lapang. "Jangan ada yang bergerak karena terdapat banyak pembunuh di antara kita!"
__ADS_1
Valencia menjangkau sebuah garpu lalu dia bidik dan lempar ke arah kanan. Seorang pembunuh yang menyamar berhasil dilumpuhkan Valencia hanya dengan menggunakan garpu.