
Valencia tiada henti memandangi langit malam, salah satu hal tentang alam semesta ini yang dia sukai adalah langit malam bertabur jutaan bintang. Selain itu, ada bulan sebagai tambahan untuk memperindah hamparan luasnya langit malam.
Terbesit di pikirannya kembali tentang bagaimana kondisi benua Mihovil saat ini. Dia sangat penasaran dan ingin mengetahui apakah rekan-rekannya masih hidup sampai waktu ini. Apalagi ini sudah berlalu lebih delapan ratus tahun semenjak kematiannya. Valencia khawatir kalau mereka mengalami kesulitan saat dirinya tidak ada di sana.
"Bagaimana cara aku pergi ke benua Mihovil? Aku tidak menemukan akses masuknya. Aneh sekali, siapa yang memasang akses yang tak terlihat seperti itu?" gumam Valencia menggerutu.
Valencia membuang napas kasar, di tepi balkon ia memangku dagu sambil menyaksikan pemandangan malam yang dihiasi kunang-kunang. Ketenangan malam ini membuat perasaan Valencia terasa lebih nyaman.
"Semoga tidak ada masalah besar yang membuatku harus sibuk lagi malam ini. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan bersantai. Jadi, aku mohon, jangan ada sesuatu yang menggangguku. Tolong ya, aku harus bersantai sejenak demi memperoleh kenyamanan hidup."
Tok tok tok
Begitulah yang dia katakan sebelumnya, sekarang dia dihadapkan oleh ketukan pintu dari seorang pelayan. Valencia berdecak sebal, firasatnya mengatakan bahwa sekarang waktu santainya pasti akan terganggu.
"Masuklah," sahut Valencia.
Seorang pelayan masuk ke kamar Valencia, sepertinya ada sesuatu yang penting menghampiri Valencia saat ini.
"Ada apa? Kalau tidak ada yang penting, lebih baik besok saja. Aku mau bersantai, jangan ganggu aku."
Belum jadi si pelayan berbicara, Valencia sudah lebih dulu menyerangnya menggunakan ocehannya.
"Bukan itu, Nona. Sebenarnya Tuan Putri Devina datang mengunjungi Anda. Tampaknya ada hal mendesak yang ingin dikatakan beliau. Sekarang Tuan Putri sedang menunggu di ruang tamu, Nona," ucap si pelayan.
"Devina kemari? Tumben sekali. Baiklah, aku akan segera ke sana."
Valencia mempercepat laju langkahnya, perasaannya buruk saat mendengar Devina mengunjunginya malam-malam begini. Akan tetapi, Valencia mencoba berpikir positif sebelum tahu permasalahan yang sesungguhnya. Meski begitu, tetap saja dia tetap resah akibat Devina mengunjunginya mendadak tanpa adanya surat dan membuat janji temu.
"Devina, kenapa kau meminta ingin bertemu denganku?"
Valencia terperangah begitu menyaksikan penampilan Devina yang kusut. Mungkin dia kemari tanpa bersiap-siap terlebih dahulu.
__ADS_1
"Valencia, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepadamu. Aku tidak bisa menyimpan rahasia ini sendiri, terlalu berat untukku."
Kedua mata Devina terlihat sembab, itu pertanda bahwa dia baru saja selesai menangis.
"Apa itu?" Valencia mendudukkan diri di sofa berseberangan dengan Devina.
Devina tampak ragu-ragu ingin menceritakan rahasia yang baru saja dia dapatkan. Dia takut Valencia tidak akan mempercayai pernyataannya.
"Tadi aku mendengar sesuatu yang mengerikan."
"Hah? Apanya yang mengerikan? Tolong berceritalah dengan jelas supaya aku tahu titik permasalahannya," pinta Valencia.
Sekujur badan Devina bergetar, wajahnya pucat pasi seperti orang yang baru saja melihat hantu. Valencia dengan sabar mencoba menenangkan Devina. Dia masih belum bisa menebak alasan pasti mengapa Devina bersikap seperti demikian.
"Valencia, aku mendengar sesuatu yang sulit untuk aku percaya. Aku ingin memberi tahumu, tetapi aku bingung bagaiamana," kata Devina pikirannya kacau balau.
"Iya, aku tahu, coba sekarang kau katakan pelan-pelan. Jangan terburu-buru supaya aku paham apa yang kau maksud."
"Aku tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraan Kakakku, Rudolf. Dia mengatakan secara lantang kalau dia akan melakukan pemberontakan besar-besaran. Katakan padaku! Ini tidak mungkin benar kan? Aku bahkan mendengar kalau dia pernah mencoba mencelakai Ayah dan Ibu. Apakah Kakakku bercanda saat mengatakannya? Aku sungguh takut sekarang, Valencia."
"Hah? Apa?"
Valencia terkejut bukan main, dia tidak bisa mengendalikan ekspresi terkejutnya saat ini. Devina lebih dulu tahu sebelum dia memberi tahukannya. Sekarang Valencia harus mencari cara menjelaskan kepada Devina mengenai hal tersebut.
"Kau pasti tidak percaya kan? Aku tahu kau tidak akan mempercayainya, tapi aku mendengarnya langsung dengan telingaku sendiri."
"Tidak, Devina, aku percaya kalau Rudolf menyimpan niat tersembunyi."
Valencia pada akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya kepada Devina. Ini dia lakukan supaya Devina bisa menyiapkan perasaannya dari sekarang.
"Kau mempercayainya?"
__ADS_1
Valencia menganggukkan kepalanya. "Ada sesuatu yang juga ingin aku ungkapkan kepadamu. Tetapi, aku mohon kau harus menyiapkan hati mendengarnya. Terserah kau nanti akan marah kepadaku atau tidak, tapi ini harus aku ceritakan."
Devina mendengar Valencia dengan seksama, dia berusaha menyimak sebaik mungkin supaya tidak ada sesuatu yang terlewatkan olehnya. Valencia menyiapkan hati untuk menerima kemarahan Devina.
"Katakan saja, jangan ada yang ditutupi lagi dariku."
Valencia menggenggam tangan Devina, ini dia lakukan sebagai permintaan maaf darinya.
"Aku sudah tahu soal Rudolf yang akan memberontak. Kau tahu? Berbagai masalah yang menimpamu, Paman Kaisar, dan Bibi Permaisuri adalah bagian dari rencananya. Dia mencoba membunuh kedua orang tuamu. Devina, Rudolf bukanlah manusia baik hati seperti yang diketahui orang-orang."
"Semua orang tertipu karena keelokan sampul depannya. Tanpa orang ketahui, dia adalah manusia yang akan menerkam siapa saja demi memenuhi keinginannya. Maafkan aku sudah menyembunyikan ini darimu, tetapi aku tidak bermaksud sama sekali. Maafkan aku, Devina," jelas Valencia meminta maaf.
Devina terpaku, sepersekian detik dia menangis sejadi-jadinya. Perasaannya tak karuan, ditambah lagi penjelasan dari Valencia membuatnya semakin kacau. Dia bahkan dari istana menunggangi kuda sendirian demi menceritakan masalah ini kepada Valencia. Lalu yang dia dapati ternyata jauh lebih besar lagi.
"Kenapa dia melakukan itu? Memangnya apa salah kami kepada dia? Apakah Ayah, Ibu, dan aku pernah berbuat dosa yang menyakiti hatinya? Aku tidak mengerti," lirih Devina.
"Dia punya ambisi besar menguasai benua ini, tidak hanya itu saja. Ambisi itu telah muncul sejak Rudolf kecil. Dia iri kepada Stephen yang mendapatkan perhatian lebih daripada dirinya."
Devina baru menyadari sesuatu, isak tangisnya berhenti sejenak.
"Mungkinkah Kak Rudolf membunuh Kakakku, Stephen?! Tenggelamnya Kakakku di danau adalah insiden yang sangat aneh," terka Devina.
"Aku akan katakan yang sejujurnya padamu. Rudolf memanglah dalang dari kematiannya Pangeran Stephen. Aku tidak berbicara tanpa bukti, aku memegang bukti penting untuk menjerumuskan Rudolf ke penjara atas tuduhan pembunuhan tersebut. Sekarang bisakah kau melakukan beberapa hal untukku?"
Devina mengusap air matanya yang masih terjatuh membasahi wajahnya.
"Apa itu? Katakan saja, Valencia."
"Kau harus tetap diam dan bersikap seperti biasa di istana. Jangan melakukan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan dari Rudolf. Jangan sampai dia tahu kalau kau tahu rahasianya. Paham?"
Devina langsung mengangguk tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ya, aku paham."