
Valencia menoleh ke arah Sean, pria itu sangat berisik sampai nyaris membuat gendang telinganya pecah. Valencia memutar bola mata malas, padahal ia sedang bersiap-siap melakukan sesuatu yang sangat gila dan menggemparkan kediaman ini.
“Ada apa lagi, Sean? Aku ini sekarang sudah menjadi manusia yang super sibuk. Jadi, kau jangan menggangguku!” bentak Valencia.
“Aku mengganggumu?” Sean mengepalkan kedua tangannya, dia amat sebal akan tingkah Valencia. “Justru kau yang menggangguku! Kalau bukan karena tugas pengawasanmu, aku yakin aku sedang bersantai saat ini. Aku tidak perlu bolak-balik ke dunia manusia dan tidak perlu membuang waktuku ratusan tahun hanya untuk mencarikan wadah yang cocok untukmu. Lalu beberapa waktu lalu kau meminta mengganti wadah lagi, padahal wadah ini sudah sangat pas untuk menampung roh gilamu itu!”
Sean membuat keributan di kamar Valencia, dia tidak tahan lagi harus berada di samping Valencia sepanjang waktu. Sean mengungkapkan seluruh kekesalannya selama ini, di lubuk hati terdalam sebenarnya ia sangat ingin keluar dari zona ini. Sungguh semua ini membuatnya stres dan frustrasi, terlebih ia diwajibkan membantu mengontrol sifat Valencia. Akan tetapi, percuma saja, Valencia tidak bisa diatur sedikit pun.
“Kau itu sangat berisik!” Valencia memukul kepala Sean. “Kau sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal. Hei, memangnya aku pernah memintamu untuk membawaku masuk ke dalam tubuh gadis bermasalah ini?! Seharusnya kalau kau tidak mau repot, kau tempatkan aku di tubuh gadis bangsawan kaya raya dan disayangi kedua orang tuanya biar aku bisa lebih bersantai sedikit.”
Valencia mengomeli Sean balik, ia tak menerima begitu saja apa pun yang ditudingkan Sean kepada dirinya. Pada akhirnya, mereka malah saling adu mulut, saling tidak terima satu sama lain, dan saling menyalahkan. Tidak ada penengah di antara mereka, alhasil mereka hanya menunggu emosi salah satu di antara mereka meredam.
“Sudahlah! Berbicara denganmu tidak ada akhirnya. Aku akan pergi sekarang mengunjungi kastil dewa kedamaian. Kau jangan membuat masalah di sini dan jangan membunuh manusia biasa tanpa alasan yang jelas. Kau paham itu?!” Sean memutuskan untuk pergi meninggalkan paviliun kediaman Valencia, ia berpesan sembari menekan setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya.
“Aku membuat masalah atau tidak, itu urusanku! Sebaiknya, kau pergi sekarang sebelum aku gorok lehermu itu,” ancam Valencia.
Sean langsung menghilang dari pandangan Valencia, gadis itu selalu berpikir kalau Sean sangat mirip dengan Ivanov. Mereka berdua sama-sama temperamental dan juga sama-sama menjadi penggemar fanatik sang dewa kedamaian.
“Akhirnya, dia pergi. Saatnya aku melancarkan aksi!”
Valencia menunggu hingga tengah malam, akan lebih baik baginya beraksi tatkala seluruh orang sedang tertidur. Valencia menyelinap ke luar mansion, ia memantau semua orang dari atas langit. Tubuhnya melayang mengamati satu persatu penjagaan di mansion ini, seusai dia memastikan keadaan aman, Valencia pun turun kembali.
“Aku sudah menandai satu persatu wajah kesatria dan pelayan yang tadi memfitnahku. Aku akan mengirimkan mereka pada alam kematian pada detik ini juga lalu membuat Guilla perlahan mati di dalam kegilaan.”
Valencia beraksi memakai sihir, ia mendatangi masing-masing kamar orang-orang yang membuatnya jengkel. Mereka semua tengah tertidur lelap, takkan ada di antara mereka yang menyadari kedatangan gadis tersebut. Kemudian tanpa belas kasihan, Valencia menarik mereka semua ke luar dari asrama tempat mereka tinggal. Tubuh mereka melayang di udara lalu mengumpulkannya di satu tempat di belakang halaman mansion.
“Hei, bangun kalian!” Valencia mengguyurkan air es ke tubuh tujuh orang pekerja di hadapannya.
Mereka pun langsung bangun dari mimpi indah, mereka masih tampak bingung dan gelagapan karena tiba-tiba diguyur air es. Ketika mereka mendapatkan kesadaran mereka seutuhnya, betapa terkejutnya mereka menemukan Valencia tepat di depan mata mereka. Valencia bahkan terlihat lebih menakutkan dari biasanya.
“N-Nona, apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda membawa saya kemari?”
Mereka semua mengajukan pertanyaan yang sama, mereka juga tanpa kesadaran diri tidak menunjukkan rasa hormat terhadap Valencia. Mereka sangat berani menatap tajam mata Valencia seolah-olah mereka tidak punya rasa takut menghadapi gadis itu.
“Kira-kira apa yang membuat kalian dikumpulkan di tempat ini? Ingatlah untuk jangan membuatku harus membantu kalian mengingatnya,” ucap Valencia.
Valencia menggenggam sebuah tongkat rotan, ia menghentakkan tongkat tersebut ke permukaan tanah hingga menimbulkan getaran hebat di sekitar lokasi mereka berdiri. Sosok Valencia di mata mereka seperti seorang iblis yang datang untuk memangsa mereka. Sungguh menakutkan, tapi mereka masih berupaya untuk menjaga kewarasan sekaligus ketenangan di diri mereka masing-masing.
__ADS_1
“Kami tidak tahu apa maksud dari perkataan Anda, Nona. Memangnya kesalahan semacam apa yang telah kami perbuat kepada Anda?”
“Kalian benar-benar tidak sadar? Padahal tadi kalian dengan bangganya membuat kesaksian palsu di hadapan Endry dan Grand Duke. Sekarang kalian malah melupakan kesalahan fatal yang telah kalian perbuat? Kalian berpikir aku ini bodoh membiarkan kalian hidup tenang selepas mengusikku?”
Entah mengapa merasakan rasa takut luar biasa saat mereka berhadapan dengan Valencia, berbeda dari rasa takut biasanya yang bisa mereka atasi dengan mudah. Akan tetapi, rasa takut tersebut seperti rasa takut akan kematian yang hampir mendatangi diri.
“Lalu apa yang akan Anda lakukan? Kami hanya berpihak kepada Nyonya Guilla saja, beliau pasti takkan membiarkan Anda jika beliau tahu apa yang telah Anda perbuat kepada kami.”
“Astaga, apakah kalian berpikir masih punya waktu untuk mengadu kepada wanita itu? Ya ampun, terharu sekali melihat kesatria dan pelayan yang berpihak padanya. Tetapi, sayang sekali, kalian bahkan tidak lagi bisa melihat matahari terbit besok.”
Valencia secara brutal menghantam kepala salah satu dari mereka menggunakan tongkat rotan yang dia pegang sedari tadi. Kepalanya langsung pecah tak berbentuk, seketika mereka syok menyaksikan pemandangan tersebut. Valencia tidak merasa bersalah atau terbebani saat menghabisi nyawa rekan mereka.
“KYAAAAA! TOLONG ….!”
Mereka pun berteriak histeris meminta pertolongan dari orang-orang yang berada di luar. Namun, seakan percuma karena Valencia telah melapisi tempat mereka berdiri kala itu dengan sihir. Tidak ada orang yang bisa melihat maupun mendengar jeritan mereka.
“Nona, ampuni kami, kami mengaku salah. Tolong beri kami satu kesempatan lagi.” Mereka sama-sama memohon untuk diampuni Valencia, tapi sudah terlambat sebab pandangan si gadis muda itu sudah terlanjur gelap oleh rasa marah.
Valencia tidak berbicara apa pun, bahkan ia tak segan-segan mempertontonkan sihirnya kepada mereka. Ekspresi mereka tidak karuan, mereka terkejut, takut, hingga kebingungan, semua itu campur aduk menjadi satu. Valencia dengan mudahnya menghancurkan tubuh mereka hanya menggunakan satu titik sihir yang dipercikkan ke tubuh salah seorang dari mereka yang tersisa.
“Kalian tidak akan bisa lari dari sini dan juga takkan ada orang yang mendengar teriakan kalian. Ini adalah hukuman bagi manusia yang tidak tahu diri seperti kalian, seharusnya sejak awal kalian menghormatiku sebagai Tuan kalian. Sekarang bagaimana rasanya menikmati kematian? Aku harap kalian segera berkumpul di neraka yang sama.”
“Oke, Guilla, mari kita lihat ekspresimu ketika kau menemukan seluruh mayat ini bergelantungan di langit-langit kamarmu.”
Persis seperti yang dikatakan Valencia, kebetulan pada malam itu Guilla tengah tidur sendirian di kamarnya karena malam ini Adarian mempunyai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi, ini adalah kesempatan emas bagi Valencia melancarkan aksi balas dendamnya. Valencia membawa seluruh potongan mayat tersebut ke kamar Guilla lalu menggantung mayat-mayat itu di atas langit-langit kamar Guilla sehingga ketika wanita itu membuka matanya, maka pemandangan mengerikan itulah yang pertama kali dia temukan nanti.
‘Selamat berbahagia, Guilla. Hidupmu aku pastikan selalu dihantui oleh arwah dari bawahanmu yang setia ini. Jangan heran karena ini merupakan bagian dari balas dendam pertamaku, semoga saja kau menikmatinya.’
***
Di keesokan paginya, Guilla terbangun di saat para pelayan belum mengunjungi kamarnya. Pada mulanya, ia masih belum sadar sepenuhnya kalau ada mayat yang bergelantungan di langit-langit kamar. Kemudian tatkala ia mengambil kesadaran penuh, barulah dia sadar bahwa saat ini Guilla sedang dihadapkan dengan potongan mayat manusia.
“KYAAAAA …!” Guilla memekik kencang hingga suara pekikannya memecah di penjuru mansion.
Sontak seluruh penghuni mansion dikejutkan oleh teriakan Guilla, para kesatria dan pelayan bergegas menuju ke kamar Guilla untuk memastikan apa yang tengah terjadi. Ketika baru saja mereka menyingkap pintu masuk, aroma anyir dari darah manusia langsung menyeruak masuk ke indera penciuman mereka. Betapa syoknya mereka kala itu menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri mayat yang bergelantungan tersebut.
Pelayan wanita berhamburan menjauh dari kamar Guilla, mereka tidak sanggup melihat pemandangan sadis yang tidak biasa tersebut. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mual dan muntah. Para kesatria terpaksa memberanikan diri masuk lebih dalam ke kamar Guilla, mereka menemukan Guilla terpaku syok di atas tempat tidurnya. Dia tak mengerjap sedikit pun, suaranya tertahan karena saking terkejutnya dia.
__ADS_1
“Cepat bawa Nyonya Guilla keluar!” Para kesatria berlarian ke sana kemari untuk mengurusi masalah tersebut.
Guilla dibawa keluar dari kamarnya dan segera dipanggilkan dokter untuk memeriksa kondisinya. Seketika kediaman Grand Duke Allerick diterpa badai besar, berita mengenai ditemukannya mayat pelayan dak kesatria mansion di kamar Guilla menjadi topik utama gosip hari ini.
Adarian yang mendapatkan kabar perihal hal tersebut terpaksa kembali ke kediaman dan menunda sejenak pekerjaannya. Adarian nampak begitu mencemaskan kondisi mental Guilla, wanita yang ia cintai menerima pukulan dahsyat dari kejadian ini.
“Bagaiman kondisi Guilla? Apakah dia baik-baik saja?” Setibanya di mansion utama, Adarian langsung memacu langkahnya menuju paviliun kediaman Guilla. Dia menanyakan keadaan Guilla dengan muka yang tak kuasa menahan rasa khawatir luar biasa nen menghantam perasaannya.
“Nyonya Guilla sangat syok, Yang Mulia, beliau sekarang tertidur setelah saya memberinya obat penenang. Sebelumnya beliau terus menerus berteriak, tampaknya penemuan mayat di kamar Nyonya Guilla berpengaruh pada kondisi mentalnya,” jelas seorang dokter.
“Ayah, Ayah harus segera menemukan orang yang sudah membuat Ibu sampai seperti ini! Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah membuat Ibu menderita syok berat,” ujar Endry menggeram murka.
“Tenanglah, Endry, sekarang kau hanya perlu mengawasi Ibumu saja dan biar aku yang bertindak sendiri mencari tahu dalang dari kekacauan ini.”
Seusai memastikan kondisi Guilla, Adarian pun buru-buru keluar untuk mengambil alih penyelidikan yang sedang dilakukan oleh para kesatria. Endry tetap berada di kamar Guilla, ia mengawasi Guilla dengan ketat karena khawatir pembunuh itu masih berlalu lalang di kediaman ini.
“Tuan Muda, ada sesuatu yang ingin saya laporkan kepada Anda.” Kesatria pribadi Endry tiba-tiba masuk dan berbisik di samping telinga Endry.
“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Endry.
“Ini terkait dengan mayat yang ditemukan di kamar Nyonya Guilla. Bisakah Anda ikut dengan saya sebentar? Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Anda.”
Mendengar hal itu pun Endry langsung mengikuti si kesatria tersebut, mereka berdua pergi ke ruangan yang menaruh mayat yang ditemukan sebelumnya. Kesatria itu membuka kain penutuh muka para mayat dan memperlihatkan secara jelas wajah seluruh mayat itu.
“Tuan Muda, ada sesuatu yang janggal di sini. Semua mayat pelayan dan kesatria yang Anda lihat saat ini adalah orang-orang yang sebelumnya terlibat dengan Nona Valencia. Apa Anda ingat kemarin ketika Nyonya Guilla terjatuh di tangga? Mereka merupakan orang yang memberi kesaksian soal kronologi terjatuhnya Nyonya,” jelas sang kesatria.
Dari sini Endry langsung sadar, dia mengerti ke mana maksud pembicaraan kali ini. Pikirannya seketika tertuju kepada Valencia, ia yakin bahwa Valencia ada andil di dalam pembunuhan para pelayan dan kesatria tersebut.
“Maksudmu, Valencia adalah pelakunya? Memang kemarin dia sempat mengancam mereka, tapi aku tidak yakin dia bisa membunuh orang sesadis ini. Namun, juga tidak menutup kemungkinan Valencia yang melakukannya.”
“Tetapi, Tuan Muda, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya. Kalau memang benar Nona Valencia yang membunuh mereka, lalu bagaimana caranya beliau menggantung para mayat itu di langit-langit kamar Nyonya?”
Endry berpikir sejenak, itulah satu-satunya menjadi kejanggalan di kasus ini.
“Ini janggal, padahal aku menaruh banyak kesatria menjaga pintu masuk kamar Ibu, lalu bagaimana caranya pembunuh itu menggantung semua mayat itu? Terlebih lagi, tidak ditemukan jejak apa pun mengenai keberadaan si pembunuh. Tidak mungkin pembunuh itu membantai pelayan dan kesatria itu di kamar Ibuku, tapi di mana dia melakukannya? Tidak ada jejak darah atau pun jejak kaki orang lain yang menyusup ke kediaman ini,” gumam Endry berpikir keras.
“Itulah kejanggalannya, Tuan Muda, tapi aneh sekali karena orang-orang ini merupakan orang yang pernah berurusan dengan Nona Valencia.”
__ADS_1
Di tengah kebingungan serta kegemparan yang terjadi, Valencia malah asik sendiri menikmati waktu luang di kamarnya. Baru kali ini ia mendapatkan waktu santai terbaik setelah melewati beberapa masalah. Ditambah lagi dia harus bersiap berangkat ke akademi dalam waktu dua hari lagi, jadi ia mesti memaksimalkan waktu santainya kali ini.
“Manusia-manusia hina itu akan bingung dan semakin tenggelam dalam kebingungan. Mereka mencurigaiku tapi logika mereka juga tidak bisa dimainkan untuk menemukan kejanggalan yang terjadi saat ini. Betapa malangnya nasib kalian,” kata Valencia seraya tersenyum seringai.